Hujan bulan Januari di Bandung selalu punya cara untuk membuat segalanya terasa lebih lembap dan menyesakkan. Di dalam Rudi’s Private Gym, sebuah ruko dua lantai di sudut Dago yang mulai sepi, aroma keringat bercampur pembersih lantai menyengat indra penciuman. Rudi Wijaya berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri. Tubuhnya adalah sebuah mahakarya disiplin militer dan dedikasi pada angkat beban; dada bidang yang tebalnya melampaui rata-rata pria, otot bahu yang bulat seperti batuan granit, dan lengan yang urat-uratnya menonjol seperti akar pohon tua.
Dia baru saja menyelesaikan sesi heavy deadlift. Kaus tanpa lengan yang ia kenakan basah kuyup, mencetak jelas lekuk six-pack di perutnya yang masih kencang di usia kepala empat. Rudi menghela napas panjang. Secara fisik, dia adalah definisi dari kejantanan yang mengintimidasi. Namun, setiap kali matanya turun ke arah selangkangan celana pendek lari yang ia kenakan, hatinya mencelos. Di balik kain tipis itu, terdapat beban seberat 20 sentimeter yang hanya menjadi onggokan daging tak berguna. Sebuah rongsokan saraf akibat kecelakaan motor delapan tahun silam yang merenggut harga dirinya sebagai laki-laki.
"Mas Rudi, kok melamun? Lagi mikirin beban hidup atau beban apa nih?"
Suara itu membuyarkan lamunan Rudi. Andi Pratama berdiri di ambang pintu area free weight, menyandarkan tubuh atletisnya yang dibalut jaket brand ternama. Di belakangnya, Rian dan Dika mengekor sambil tertawa kecil. Andi adalah klien eksklusif Rudi—anak orang kaya yang membayar mahal untuk sesi latihan pribadi, tapi lebih sering datang untuk sekadar pamer atau mencari perhatian.
"Hujan, Ndi. Jadi agak malas beres-beres," jawab Rudi singkat, suaranya berat dan berwibawa, sisa-sisa nada komandan saat masih aktif di militer.
"Nggak usah diberesin sekarang, Mas. Kita juga mau latihan santai aja. Eh, tapi Mas... aku dengar dari anak-anak di tempat kopi, Mas Rudi ini katanya 'aset' tersembunyinya luar biasa, ya? Di loker tadi pagi, Dika nggak sengaja lihat pas Mas lagi ganti celana." Andi berjalan mendekat, matanya menatap tajam ke arah selangkangan Rudi dengan senyum yang sulit diartikan.
Rudi menegang. Jantungnya berdegup kencang. "Maksudmu apa? Jangan bicara sembarangan."
"Halah, Mas. Santai aja," sela Dika yang berperawakan lebih kurus tapi punya sorot mata jahat. "Gede banget, Mas. Sumpah, gue baru lihat yang segitu biarpun lagi lemas. Tapi kok... kayak diam aja ya dari tadi? Padahal di sini banyak majalah dewasa di meja depan."
Wajah sawo matang Rudi memerah. Dia mencoba mempertahankan martabatnya. "Itu urusan saya. Sekarang kalau mau latihan, ganti baju. Kalau nggak, saya mau tutup."
Andi tertawa, tawa yang terdengar sangat merendahkan. Dia mengeluarkan ponselnya, memutar sebuah video pendek. Di layar itu, terlihat punggung Rudi yang kokoh saat sedang mandi di pancuran gym minggu lalu. Kamera itu tersembunyi, mengambil sudut dari bawah yang memperlihatkan dengan sangat jelas alat kelamin Rudi yang luar biasa panjang dan tebal, menjuntai tak berdaya di antara paha berototnya, bahkan ketika air dingin menyiramnya—sama sekali tidak ada tanda-tanda ereksi atau reaksi saraf sedikit pun.
"Mas Rudi tahu nggak? Aku sudah perhatikan Mas selama sebulan. Mas nggak pernah ngaceng, kan? Bahkan kalau ada cewek-cewek seksi latihan squat di depan mata Mas," bisik Andi, kini sudah berdiri tepat di depan dada Rudi, membuat perbedaan tinggi badan mereka terlihat jelas karena Rudi sedikit lebih tinggi. "Aku penasaran, lalu aku tanya-tanya ke orang dalam di rumah sakit spesialis saraf tempat Mas terapi tahun lalu. Dan tebak apa? Aku punya salinan digital rekam medismu, Mas. Total Impotence."
Dunia seolah runtuh bagi Rudi. Rahasia yang ia jaga lebih ketat dari nyawanya sendiri kini ada di tangan anak muda ingusan ini. "Andi, hapus itu. Jangan lancang kamu!" Rudi mencoba mencengkram kerah jaket Andi, tapi Rian dan Dika dengan cepat berdiri di sampingnya.
"Eits, jangan main kasar, Mas," ancam Rian. "Sekali klik, video ini masuk ke grup komunitas gym se-Bandung. 'Rudi Wijaya, Instruktur Gym Berotot dengan Kontol Raksasa yang Mati Total'. Bayangkan malunya, Mas. Bekas tentara, badan kayak Hercules, tapi bawahnya cuma hiasan."
Rudi melemaskan tangannya. Dia gemetar, bukan karena takut secara fisik—dia bisa saja menghajar ketiganya dengan mudah—tapi karena rasa malu yang melumpuhkan mentalnya. Kehancuran reputasinya adalah kematian baginya.
"Apa mau kalian? Uang?" tanya Rudi parau, nyaris berbisik.
Andi tersenyum puas. Dia tahu dia sudah menang. "Sederhana. Aku ingin lihat secara langsung. Aku ingin tahu rasanya punya 'mainan' sebesar ini yang nggak bisa melawan. Buka celanamu, Mas. Sekarang. Di sini. Di tengah gym milikmu sendiri."
Hujan semakin deras di luar, mengaburkan suara isak tertahan dari dada bidang Rudi. Dengan tangan yang sangat gemetar, Rudi menurunkan celana pendeknya. Otot pahanya yang kokoh terlihat tegang, kontras dengan apa yang kemudian terungkap sepenuhnya. Alat kelaminnya yang panjang, urat-uratnya terlihat meski dalam keadaan lemas total, menjuntai pasrah.
Andi berjongkok di depan Rudi, sementara Rian dan Dika mulai mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam. Andi mengulurkan tangan, menyentuh ujung kemaluan Rudi dengan kasar, memutar-mutarnya seperti sedang mempermainkan benda mati.
"Gila... panjang banget. Tapi beneran kayak karet, ya?" Andi mengejek sambil menariknya dengan keras hingga Rudi mengaduh pelan. "Ayo, Mas. Coba bangunin. Katanya pelatih hebat. Masak ngontrol burung sendiri nggak bisa?"
"Nggak bisa, Andi... tolong, jangan begini..." Rudi memohon, matanya menatap langit-langit, mencoba menahan air mata yang mulai jatuh di pipi brewoknya.
"Jangan menangis dulu, Mas. Ini baru pemanasan," kata Andi sambil berdiri kembali. Dia memberi isyarat pada Rian dan Dika. "Bawa dia ke ruang loker. Kita buat sesi latihan pribadi yang sebenarnya. Malam ini, Mas Rudi bukan lagi instruktur. Mas cuma onggokan daging gede yang bakal kita pakai sampai puas."
Di ruang loker yang sempit dan remang, penghinaan itu berlanjut tanpa ampun. Rudi dipaksa berlutut di lantai yang dingin. Posisinya sangat merendahkan: seorang pria raksasa berotot yang berlutut di kaki pria yang lebih muda. Dika mulai melepaskan ikat pinggangnya, sementara Rian sudah sibuk menarik rambut pendek Rudi agar wajahnya mendongak.
"Ayo, buka mulutmu. Karena bagian bawahmu sudah mati, setidaknya lubang di wajahmu ini masih bisa berguna, kan?" perintah Rian.
Rudi menggeleng, tapi Andi menekan pundak berotot Rudi dengan kakinya, menginjak otot trapezius-nya dengan sepatu. "Buka, atau video ini menyebar sekarang juga ke mantan istrimu yang masih punya keluarga di sini. Kamu mau mereka tahu kamu jadi sampah seperti ini?"
Rudi menyerah. Dia membuka mulutnya. Sepanjang satu jam berikutnya, ruang loker itu hanya diisi oleh suara kulit yang beradu, suara hinaan verbal yang menyayat hati, dan bunyi gesekan kasar. Mereka tidak peduli pada rasa sakit Rudi. Rian dengan sengaja menjentik dan memukul-mukul kontol lemas Rudi yang panjang itu setiap kali dia merasa kurang puas, menertawakan bagaimana benda besar itu hanya terombang-ambing tanpa daya seperti ekor binatang.
"Lihat ini, Ndi! Gede banget tapi pasrah dipukul-pukul," tawa Dika sambil memberikan tamparan keras ke arah testis Rudi. Rudi melenguh kesakitan, tubuhnya yang penuh otot menegang hebat, namun bagian bawahnya tetap saja lemas, seolah-olah sudah terpisah dari tubuhnya.
Andi ambil giliran terakhir. Dia berdiri di depan Rudi yang sudah bersimbah air liur dan keringat, wajahnya yang gagah kini terlihat hancur total. Andi mengeluarkan urinnya tepat ke arah wajah dan dada bidang Rudi, sebuah penghinaan watersports pertama yang membuat Rudi tersedak.
"Bersihkan dirimu, Anjing," ucap Andi dingin setelah mereka puas. "Besok malam, jam 8. Datang ke gudang belakang jalan Dago. Bawa kunci gym ini. Mulai sekarang, tempat ini milik kami, dan kamu... kamu adalah properti pribadiku. Kalau tidak datang, kamu tahu konsekuensinya."
Ketiga pria muda itu pergi sambil tertawa-tawa, meninggalkan Rudi yang bersandar di loker besi dalam keadaan telanjang bulat, basah, dan hancur. Dia melihat ke arah cermin loker yang retak. Dia masih melihat pria berotot yang kuat, tapi di dalam dirinya, Rudi Wijaya sudah mati. Dia hanyalah sebuah wadah besar yang kini menjadi milik Andi.
Komentar
Posting Komentar