Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

04 THE OPEN AIR DISGRACE

Setelah malam yang menyiksa di gudang keluarga Andi, Rudi sampai di rumahnya—sebuah rumah tua yang rapi namun dingin di daerah Dago Atas—saat jam menunjukkan pukul tiga pagi. Tubuhnya yang biasanya terasa ringan dan bertenaga kini terasa seperti beban ribuan ton. Setiap langkah yang diambilnya memicu rasa perih yang menusuk di pangkal paha dan lubang anusnya yang berdenyut hebat akibat tujahan brutal Fajar.

Di dalam kamar mandi yang hanya diterangi lampu neon pucat, Rudi menanggalkan seluruh pakaiannya yang terasa kotor. Ia berdiri di depan cermin setinggi badan. Pemandangan di depannya adalah sebuah paradoks yang menyedihkan. Dada bidangnya masih membusung gagah, otot deltoid-nya bulat sempurna, dan urat-urat di lengannya masih menandakan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun, saat ia memutar tubuhnya dan membungkuk sedikit untuk melihat pantulan lubang anusnya lewat cermin di bawah, harga dirinya runtuh total.

Lubang yang biasanya tertutup rapat itu kini tampak memerah, membengkak, dan masih sedikit menganga—sebuah jejak nyata dari invasi tanpa ampun Fajar. Sisa-sisa cairan milik pria itu masih mengalir pelan, bercampur dengan bercak kemerahan yang membasahi paha sawo matangnya yang berotot. Rudi menyentuh pinggiran lubangnya dengan jari yang gemetar, dan rasa perih langsung membuatnya merintih. Di depan matanya, kontol 20 cm-nya yang lemas itu terombang-ambing menyedihkan, seolah-olah mengejeknya: Badan sebesar ini, tapi hanya menjadi lubang pembuangan bagi anak-anak muda.

Rudi memejamkan mata erat-erat, air mata jatuh mengenai otot dadanya yang tebal. Ia merasa seperti barang rongsokan yang dibungkus emas. Ia menyiram tubuhnya dengan air dingin, mencoba menghapus jejak Andi dan kelompoknya, tapi ia tahu, bau hinaan itu sudah meresap sampai ke tulang.


Esok paginya, jam 8 tepat, Rudi sudah berada di gym miliknya. Sesuai perintah Andi, ia harus tetap bekerja. Ia mengenakan celana legging kompresi hitam di bawah celana pendeknya untuk menahan bengkak di lubangnya agar ia bisa berjalan dengan tegak. Namun, setiap gerakan squat saat memberi instruksi pada klien lain terasa seperti disayat sembilu.

Pukul 10 pagi, Andi, Rian, dan Dika masuk ke gym dengan gaya bos besar. Mereka tidak datang untuk latihan. Mereka datang untuk menonton ‘mainan’ mereka bekerja.

"Pagi, Instruktur Rudi!" teriak Andi sengaja agar didengar klien lain. "Gimana? Masih bisa jalan tegak? Padahal tadi malam kan habis dapat 'beban tambahan' dari Fajar."

Rudi hanya bisa menunduk, mencoba fokus pada treadmill yang sedang ia periksa. "Andi, tolong... ada klien lain di sini."

"Oh, justru itu serunya," bisik Andi sambil mendekat, lalu dengan sengaja menepuk bokong Rudi dengan keras. PLAK! Rudi tersentak, rasa sakitnya menjalar sampai ke ubun-ubun. "Ikut kami ke ruang kantor sekarang. Rian punya mainan baru yang mau dicoba. Dan oh ya... Dika, kunci pintu depan. Pasang tanda 'Tutup 1 Jam'."

Rudi dipaksa masuk ke kantor kecilnya sendiri. Di ruangan yang penuh dengan sertifikat kebugaran dan foto-foto prestasinya dulu, ia kembali dipaksa telanjang. Kali ini, Rian mengeluarkan sebuah ball stretcher berbahan baja berat dan beberapa klip puting yang dihubungkan dengan rantai.

"Aset gede begini harus dikasih beban, Mas. Biar makin menjuntai," ejek Rian.

Rian memasang ball stretcher itu pada buah zakar Rudi yang besar. Berat baja itu menarik kantong zakar Rudi ke bawah, memberikan rasa tegang yang konstan dan menyakitkan. Kemudian, Dika memasang klip pada puting Rudi yang tebal, menarik rantainya hingga punggung Rudi dipaksa tegak lurus.

"Ayo, merangkak melingkari meja kantormu ini, Mas. Dan ingat, setiap kali rantai ini aku tarik, kamu harus bilang: 'Saya budak impoten yang tidak berguna'," perintah Andi sambil duduk di kursi kebesaran Rudi, kakinya diangkat ke atas meja.

Rudi mulai merangkak. Berat baja di bawah sana membuat kontol lemasnya terseret di lantai kayu kantornya yang kasar. Setiap kali ia bergerak, gesekan itu menimbulkan rasa perih yang luar biasa.

"Bilang!" bentak Andi sambil menarik rantai puting Rudi.

"Sa... saya budak impoten yang tidak berguna," ucap Rudi parau. Suaranya yang berat kini terdengar pecah.

"Kurang keras! Mana suara tentaranya?" Dika menendang paha Rudi dari samping.

Rudi berteriak lebih keras, mengulangi kalimat hinaan itu berkali-kali sambil terus merangkak melingkari mejanya sendiri. Sesi ini berlangsung tanpa henti selama 45 menit. Rian sesekali menginjak kontol lemas Rudi yang terseret di lantai, tertawa setiap kali melihat kepala penis Rudi yang besar itu tertekan beton.

Sebagai puncaknya, Andi memerintahkan Rudi untuk berdiri bersandar di dinding. Ia menyuruh Dika mengambil lakban hitam besar. Andi kemudian melilitkan lakban itu ke seluruh tubuh Rudi—melilit dadanya, lengannya, dan yang paling menghinakan, ia melilitkan lakban itu di pangkal kontol lemas Rudi, menariknya ke arah perut agar benda besar itu "terpajang" dengan jelas namun tetap tak berdaya.

"Lihat ini, sebuah patung hidup," puji Andi sambil menyulut rokok. Ia dengan sengaja meniupkan asap rokok ke wajah Rudi, lalu mematikan ujung rokok yang masih panas tepat di atas otot pectoral Rudi yang bidang.

Rudi melenguh, tubuhnya gemetar hebat menahan panas dan perih, tapi ia tidak bisa melawan karena tangan dan kakinya juga mulai diikat dengan sisa lakban. Ia dibiarkan berdiri di sana, menjadi tontonan bagi mereka bertiga.

"Nanti malam Fajar datang lagi ke gudang. Dia bilang dia belum puas sama lubang pelacur ini," kata Andi sambil mengelus pipi Rudi yang penuh keringat. "Siapkan dirimu, Mas. Karena malam ini, kita nggak cuma pakai lubang belakangmu, tapi kita bakal mulai sesi public exposure di area parkir gudang."

Andi CS keluar dari kantor, meninggalkan Rudi yang terikat lakban, telanjang, dengan beban berat yang menarik buah zakarnya. Di dalam kesunyian kantornya, Rudi hanya bisa menatap foto dirinya saat memenangkan kompetisi binaraga lima tahun lalu—sebuah kenangan tentang pria yang kini telah hancur total di tangan pemuda-pemuda sadis ini.

Komentar