Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

1.1 Material dan Keringat

    Rumah besar bergaya minimalis itu terasa terlalu luas untuk Bayu sendirian. Sejak Kakaknya berangkat kuliah ke luar kota, praktis hanya Bayu yang menghuni lantai dua. Ayah dan Bundanya? Jangan ditanya. Bisnis keluarga membuat mereka lebih sering terlihat di layar ponsel atau pulang saat Bayu sudah terlelap.

    Pagi itu, suara bising mesin pemotong keramik dan hantaman palu memecah kesunyian yang biasanya Bayu nikmati. Dia menyibak gorden kamar di lantai atas, mengintip ke arah halaman belakang yang kini sudah berantakan dengan tumpukan pasir, semen, dan tumpukan kayu. Proyek gudang tambahan itu baru berjalan tiga hari, tapi Bayu sudah mulai merasa ada yang berbeda dengan detak jantungnya tiap kali dia melihat ke bawah.

    Dari ketinggian ini, dia punya sudut pandang sempurna. Di bawah kanopi sementara yang terbuat dari terpal biru, tiga pria sedang sibuk. Bayu tidak bisa melepaskan pandangannya. Di sana ada Pak Budi yang sedang mengaduk semen—tubuhnya yang besar dan berbulu lebat terlihat sangat kokoh, urat-urat di lengannya menonjol setiap kali sekop itu menghujam bak semen.

    Lalu ada Dimas, yang sedang memindahkan batu bata. Dia hanya memakai kaos kutang putih yang sudah berubah warna jadi kekuningan karena keringat, memperlihatkan otot lengannya yang liat. Setiap kali Dimas membungkuk, celana jeans belelnya melorot, memamerkan karet celana dalam yang basah dan pinggul yang atletis.

    Terakhir, yang paling membuat tenggorokan Bayu kering adalah si jangkung Agung. Pria itu sedang memasang rangka kayu di bagian atas. Dia bertelanjang dada, memperlihatkan punggung lebar yang dipenuhi peluh, mengkilap terpapar sinar matahari pagi. Otot perutnya kotak-kotak keras, dan tiap kali dia bergerak, celana jeansnya seolah nyangkut di pangkal pantatnya yang padat.

    Bayu meremas pinggiran gorden. Ada rasa panas yang menjalar dari perut bawahnya menuju selangkangan. Dia tahu ini salah, tapi melihat pemandangan maskulin yang begitu kasar dan mentah di bawah sana membuat kontolnya yang masih terbungkus celana abu-abu sekolah mulai menegang. Dia belum pernah melihat pria-pria ‘asli’ seperti mereka sedekat ini. Aroma keringat, debu, dan kejantanan mereka seolah menembus kaca jendela kamarnya.

    Bayu menelan ludah. Dia butuh alasan untuk turun. Dia perlu melihat mereka lebih dekat.

Komentar