⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹
Suara mesin kopi espresso yang menderu pelan bersahutan dengan denting sendok yang beradu dengan cangkir keramik. Di balik meja bar kayu jati yang sudah mulai memudar warnanya, Asep Amsterdam berdiri dengan punggung tegak namun tatapan mata yang seolah kosong menembus kaca jendela besar di depannya.
Di luar, langit Dago Atas mulai berubah warna menjadi jingga yang pekat, tipikal sore di Bandung yang selalu berhasil membuat orang-orang ingin menulis puisi atau minimal mengunggah foto senja di Instagram dengan caption melankolis. Tapi tidak bagi Asep. Baginya, senja hanyalah penanda bahwa shift sorenya baru saja dimulai dan tulang punggungnya harus bersiap untuk kerja keras.
Asep membetulkan letak topi seragam hitamnya yang sedikit miring, menyembunyikan beberapa helai rambut yang membandel.
"Sep, itu meja nomor empat pesen Bajigur Latte dua, gulanya dikit aja katanya. Takut diabetes pas liat tagihan, kali," celetuk sebuah suara berat dari arah dapur.
Agus Den Haag, atau yang lebih akrab dipanggil Aa Agus, muncul sambil menyampirkan serbet di bahunya. Kakaknya itu tampak kontras dengan suasana kafe yang berusaha terlihat 'Eropa'. Agus memakai jaket varsity kebanggaannya, lengkap dengan aroma minyak telon dan asap knalpot motor yang masih menempel samar.
"Hoream, Aa. Suruh ambil sendiri aja napa ke sini," gumam Asep pelan, tapi tangannya tetap bergerak lincah menakar bubuk kopi. Meskipun mulutnya mengeluh, gerakannya presisi. Itu masalah utama Asep; dia terlalu rajin untuk ukuran orang yang mengaku malas.
"Heh, maneh teh Assistant Manager, bukan patung selamat datang!" Aa Agus tertawa, menepuk bahu adiknya keras-keras sampai Asep hampir tumpah menuangkan susu. "Lagian tumben amat jam segini udah lemes. Biasanya semangat kalau liat si Tia dandan heboh nungguin si ‘itu'.
Asep memutar bola matanya—sebuah gerakan refleks yang sudah jadi ciri khasnya. "Tia mah emang rada kurang kerjaan, A. Tiap ada bule nyasar dikit dikira pangeran. Padahal palingan juga turis yang dompetnya tipis."
"Tapi yang satu ini dompetnya nggak tipis, Sep. Malah mungkin bisa beli nih kafe kalau dia mau," Aa Agus nyengir, lalu melirik ke arah pintu masuk yang baru saja berdenting karena didorong seseorang.
Asep tidak menoleh. Dia sibuk menggambar pola latte art yang setengah hati—hanya garis-garis abstrak yang lebih mirip benang kusut daripada bentuk hati. Namun, bulu kuduknya meremang saat merasakan perubahan atmosfer di dalam kafe. Kebisingan pengunjung lain mendadak turun satu oktaf, digantikan oleh bisik-bisik tertahan yang menyebalkan di telinga Asep.
Aroma parfum maskulin yang berat, mahal, dan sangat 'bukan aroma Dago' mulai menyeruak, menutupi wangi kopi yang biasanya mendominasi ruangan.
"Sep," bisik Aa Agus, kali ini suaranya terdengar lebih waspada tapi ada nada geli di sana. "Si Tuan Tanah datang. Siapkan senyum palsu terbaikmu."
Asep menghela napas panjang, meletakkan cangkir di atas nampan dengan sedikit dentuman. Dia tahu siapa yang datang tanpa harus melihat. Hanya ada satu orang di Bandung ini yang punya aura se-intimidatif itu dan sekaligus membuat Asep ingin segera pulang ke rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.
Komentar
Posting Komentar