Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

1.2 Wilayah Teritorial yang Terancam

⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

Denting lonceng di atas pintu kayu De Amsterdam masih menyisakan getaran halus saat sosok itu melangkah masuk. Tia, yang tadinya sibuk memoles kuku di pojok kasir, mendadak tegak seolah baru saja disengat listrik. Matanya berbinar, tangannya otomatis merapikan poni yang sebenarnya sudah rapi.

    "Sep, Sep! Si Kompeni, Sep! Cepat, muka kamu jangan kayak orang mau tahlilan gitu!" bisik Tia dengan nada tertahan, hampir menyerupai desisan ular.

    Asep tidak menggubris. Dia tetap menunduk, pura-pura sangat sibuk membersihkan sisa bubuk kopi di portafilter dengan kuas kecil, seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. Namun, suara langkah sepatu loafers mahal yang beradu dengan lantai kayu itu semakin jelas, berhenti tepat di depan bar yang dijaga Asep.

    "Selamat sore, Assistant Manager," suara itu berat, halus, dan punya penekanan yang menyebalkan pada setiap suku katanya.

    Asep menghela napas, meletakkan kuasnya perlahan, lalu mengangkat wajah. Di hadapannya berdiri Pieter Arka van der Heijden. Tubuh tingginya membuat Asep harus sedikit mendongak—hal yang selalu ia benci. Arka mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung asal sampai siku, menampakkan kulitnya yang putih pucat namun kemerahan karena suhu Bandung yang sedang tidak menentu.

    "Pesanan standar atau mau bikin susah saya lagi hari ini, Pieter?" Asep bertanya tanpa basa-basi. Suaranya datar, sekering kerupuk yang lupa ditutup kalengnya.

    Arka tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan kedua siku di atas meja bar, sedikit mencondongkan tubuh hingga jarak mereka hanya terhalang mesin kopi. "Galak banget. Padahal saya ke sini mau menyejukkan hati, tapi malah kena semprot pejuang Sunda Empire."

    "Nama saya Asep. Bukan pejuang," potong Asep cepat.

    "Saya tahu. Asep Amsterdam," Arka tersenyum kecil, jenis senyum yang membuat para siswi di sekolah mereka rela mengantri hanya untuk disapa, tapi bagi Asep, itu adalah senyum 'tuan tanah' yang baru saja menemukan tanah subur untuk dijajah. "Saya mau kopi yang... special. Kayak suasana hati saya sekarang."

    "Nggak ada di menu. Pilih yang ada aja atau silakan cari kafe lain di Braga," balas Asep ketus.

    Tia yang mendengar itu hampir saja menjatuhkan ponselnya. Dia memberikan kode keras pada Asep untuk lebih sopan, tapi Asep justru memberikan eye roll andalannya.

    Arka tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti dengkuran kucing besar yang puas. "Oke, oke. Buatkan saya Double Ristretto, tapi susunya jangan kepanasan. Saya nggak mau lidah saya terbakar sebelum sempat ngobrol panjang sama kamu nanti malam di grup kelas."

    Asep terhenti saat hendak mengambil cangkir. "Ngapain kamu ngajak ngobrol di grup? Kita nggak seakrab itu."

    Arka mengetukkan jarinya di atas meja kayu, matanya mengunci pandangan Asep dengan intensitas yang tidak main-main. "Memang belum. Tapi saya tipe orang yang gigih, Sep. Kamu tahu itu, kan?"

── .✦

Komentar