Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

1.3 Jejak Kincir Angin dan Aroma Kayu Manis

 ⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

Asep bekerja dengan presisi yang kaku. Dia menuangkan susu yang sudah di-steam dengan suhu tepat 65 derajat—tidak kurang, tidak lebih—ke atas sloki double ristretto. Tidak ada hiasan bunga atau hati. Hanya lapisan putih tebal yang menutup cairan hitam pekat di bawahnya.

    Ia meletakkan cangkir itu di depan Arka tanpa suara.

    "Silakan, Tuan Tanah," ucap Asep pendek.

    Arka menyesap kopinya perlahan. Matanya tidak lepas dari wajah Asep, seolah sedang membaca sebuah peta rahasia yang tersembunyi di balik raut wajah lelah cowok di depannya itu. "Pas. Pahitnya pas, hangatnya juga pas. Kamu emang paling tahu cara menjinakkan lidah saya, Sep."

    "Habisin, terus pulang. Udah mau gelap, jalanan Dago licin kalau gerimis," usir Asep halus, meski tangannya sibuk mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih mengkilap.

    Arka terkekeh, lalu bangkit dari kursi tinggi bar. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah dan meletakkannya di atas meja. Sebelum berbalik, ia mencondongkan tubuh, berbisik cukup dekat sehingga Asep bisa mencium aroma parfumnya.

    "Jangan terlalu rajin, nanti cepat tua. Lagian, besok kamu butuh tenaga ekstra buat simulasi ujian di sekolah, kan? Sampai ketemu di koridor, Asep."

    Arka melambai sekilas pada Aa Agus yang membalas dengan jempol dari kejauhan, lalu melangkah keluar. Begitu pintu tertutup, Asep baru menyadari ada sesuatu yang tertinggal di bawah lembaran uang tadi.

    Sebuah pembatas buku kecil dari kayu tipis dengan ukiran kincir angin sederhana. Di baliknya, ada tulisan tangan yang rapi dan tegas: 'Hoream itu pilihan, tapi kalau diajak kerja kelompok bareng saya besok, itu takdir. Jangan telat.'

    "Cih, takdir gigi lu nempel di aspal," maki Asep pelan, tapi jarinya tanpa sadar mengusap permukaan kayu pembatas buku itu.

    Tia tiba-tiba muncul di sampingnya, matanya menyipit penuh selidik. "Cie, dapet surat cinta dari penjajah ya? Bagi-bagi dong infonya, dia besok mau jemput kamu nggak?"

    "Berisik, Tia! Sana cuci piring, mumpung lagi sepi!" Asep memasukkan pembatas buku itu ke saku celananya dengan gerakan cepat, seolah takut ketahuan.

    Di luar, lampu-lampu jalan Dago Atas mulai menyala satu per satu, membiaskan cahaya kuning di atas aspal yang mulai basah oleh rintik hujan. Asep menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Dia benci perasaan ini. Perasaan di mana dinding ‘hoream’ yang dia bangun selama setahun di Bandung mulai terasa retak, hanya karena satu orang yang punya senyum terlalu simetris dan hobi memanggil namanya dengan nada mengejek.

    Besok adalah hari Senin. Dan di SMA mereka, Arka bukan lagi pelanggan kafe yang bisa dia usir seenaknya. Di sana, Arka adalah matahari, dan Asep hanyalah salah satu planet yang dipaksa berputar di orbitnya.

╰┈➤


Komentar