⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹
Asep terpaksa mengambil rute memutar melewati koridor terbuka yang bersisian langsung dengan lapangan basket indoor. Sialnya, pintu besar lapangan itu terbuka lebar, memuntahkan aroma keringat, decit sepatu karet di atas parket, dan suara pantulan bola yang ritmis.
"Sep, liat tuh! Si Kompeni kalau lagi keringetan gitu malah makin kayak pangeran ya, bukan kayak penjajah," bisik Tia sambil menyikut lengan Asep.
Asep melirik sekilas. Di tengah lapangan, Arka sedang memimpin drill pemanasan. Dia hanya mengenakan jersey basket tanpa lengan warna biru navy yang kontras dengan kulit putih pucatnya. Rambutnya yang biasanya rapi kini basah, berantakan, dan beberapa helai menempel di dahi. Saat Arka melompat untuk melakukan lay-up, otot lengannya terlihat kencang, dan bola masuk ke ring dengan suara swish yang bersih.
"Biasa aja. Capek itu mah, bukan keren," gumam Asep, meski matanya sempat tertahan satu detik lebih lama pada sosok tinggi itu.
Baru saja Asep hendak melangkah pergi, sebuah peluit ditiup nyaring. Langkahnya terhenti karena tiba-tiba sebuah bola basket meluncur cepat ke arahnya. Bukan karena salah sasaran, tapi karena arahnya terlalu presisi menuju dada Asep.
Hap.
Refleks Asep yang terlatih menangani pesanan di jam sibuk kafe menyelamatkannya. Dia menangkap bola itu tepat sebelum menghantam wajahnya.
"Bagus, Reflex yang oke, Amsterdam!" seru Arka dari tengah lapangan. Dia berjalan santai mendekat, mengabaikan anggota timnya yang mulai berbisik-bisik.
Arka berhenti tepat di pembatas lapangan, hanya berjarak dua meter dari Asep. Dia mengatur napasnya yang memburu, membuat dadanya naik turun dengan cara yang bagi orang lain mungkin terlihat seksi, tapi bagi Asep terlihat seperti ancaman.
"Balikin bolanya, Sep. Atau kamu mau ikut latihan bareng saya?" Arka mengulas senyum miring, menantang.
Asep menatap bola di tangannya, lalu menatap Arka dengan tatapan malas yang paling tajam. "Gak minat. Ambil sendiri sini kalau mau, Kompeni."
Asep melepaskan bola itu ke lantai, membiarkannya memantul-mantul menjauh dari jangkauan Arka. Dia tidak memberikan bola itu ke tangan Arka, sebuah tindakan 'pemberontakan' kecil yang membuat suasana lapangan mendadak hening.
Arka tidak marah. Sebaliknya, dia malah tertawa pendek, lalu melompati pagar pembatas lapangan dengan satu gerakan tangkas, mendarat tepat di depan Asep. Bau keringat yang bercampur parfum maskulinnya kini menyerang indra penciuman Asep.
"Jangan galak-galak. Inget kan jadwal piket perpus pulang sekolah nanti? Saya yang pegang kuncinya," bisik Arka, cukup pelan agar hanya Asep yang dengar. Dia kemudian menepuk bahu Asep dengan tangan yang sedikit basah oleh keringat, sengaja meninggalkan jejak di seragam bersih Asep. "Jangan kabur, atau saya jemput ke kelas kamu pakai mikrofon OSIS."
Asep terpaku di tempatnya, menatap bahunya yang kini sedikit basah. Dia ingin memaki, tapi Arka sudah berbalik pergi sambil menangkap bola basketnya kembali dengan satu tangan, seolah-olah dia baru saja memenangkan babak pertama dari sebuah pertandingan yang Asep sendiri tidak tahu kapan dimulainya.
"Sep... lo barusan ditandain secara de facto di depan anak-anak basket," Tia bergumam ngeri sekaligus takjub.
Asep hanya bisa menggeram rendah. "Ini bukan ditandain, Ti. Ini Agresi Militer terselubung! Gue baru aja kena invasi tanpa pernyataan perang."
── .✦
Komentar
Posting Komentar