Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

2.3 Jebakan di Balik Rak Buku

⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

Lantai tiga gedung perpustakaan SMA Merdeka adalah zona mati setelah bel pulang sekolah berbunyi. Udara di sini berbau kertas tua, debu tipis yang menari di sela cahaya matahari yang menembus celah jendela, dan keheningan yang menyesakkan. Asep berdiri di depan pintu gudang referensi dengan kunci di tangan yang terasa berat.

"Kenapa diam di situ? Takut saya 'jajah' di dalam?"

Asep hampir melompat saat suara Arka muncul tepat di belakang telinganya. Arka sudah berganti pakaian; kaos basketnya dilapisi jaket almamater biru OSIS yang kaku, membuatnya terlihat kembali seperti ‘Prince of Bandung’ yang berwibawa.

"Enggak lucu. Lagian ngapain sih harus gue yang bantu? Anggota OSIS lo kan banyak, Arka," protes Asep sambil memutar kunci pintu.

"Mereka sibuk urus class meeting. Dan lagipula," Arka melangkah masuk melewati Asep, sengaja menyenggol bahunya pelan, "saya butuh orang yang jujur dan nggak bakalan histeris cuma karena saya keringetan. Kamu orangnya."

Gudang itu sempit, penuh dengan tumpukan majalah sekolah dari tahun 90-an dan buku paket yang sudah tidak terpakai. Asep segera menyibukkan diri, mengambil tumpukan buku di pojok ruangan untuk dipindahkan ke rak. Ia ingin urusan ini cepat selesai agar bisa segera ke cafe.

"Sep," panggil Arka. Dia tidak sedang bekerja, malah duduk santai di pinggir meja kayu panjang, memperhatikan Asep.

"Apa lagi?"

"Kenapa kamu pindah ke Bandung?"

Gerakan tangan Asep terhenti sejenak. "Bukan urusan lo."

"Gara-gara cowok itu, ya? Si kapten basket dari Jakarta yang fotonya pernah masuk menfess sekolah lama kamu?"

Kalimat itu bagaikan siraman air es. Asep berbalik, matanya yang biasanya terlihat malas kini menajam. "Lo... lo dapet informasi dari mana? Lo mata-matain gue?"

Arka tidak bergeming. Ia hanya memutar-mutar pulpen di jarinya dengan tenang. "Saya Ketua OSIS, Asep. Data siswa pindahan itu ada di tangan saya sebelum kamu bahkan menginjakkan kaki di kelas. Saya cuma penasaran, apa yang bikin cowok pinter kayak kamu milih jadi 'hoream' dan sembunyi di balik meja bar kakaknya."

Asep melangkah mendekat, rasa muak mulai naik ke tenggorokannya. "Denger ya, Pieter. Lo mungkin punya segalanya di sekolah ini. Lo punya jabatan, lo punya penggemar, lo punya akses. Tapi lo nggak punya hak buat gali-gali sampah di masa lalu gue."

Arka ikut berdiri. Perbedaan tinggi mereka terasa sangat nyata di ruangan sesempit itu. Namun, alih-alih membalas dengan kemarahan, Arka justru mengulurkan tangan, merapikan kerah seragam Asep yang sedikit berantakan dengan gerakan yang sangat pelan—hampir terasa seperti belaian.

"Saya nggak lagi gali sampah, Sep. Saya cuma mau mastiin kalau 'wilayah' saya aman dari pengaruh orang-orang brengsek itu," bisik Arka, suaranya kini dalam dan serius. "Mulai hari ini, kalau ada yang bikin kamu merasa harus sembunyi lagi, kasih tahu saya. Saya nggak suka milik saya diganggu."

"Milik lo?" Asep tertawa hambar, meski jantungnya berdegup tidak keruan. "Gue bukan tanah jajahan, Kompeni."

"Belum," balas Arka dengan senyum miring yang terlihat sangat berbahaya. "Tapi progresnya lumayan bagus untuk hari pertama."

Arka kemudian berjalan keluar gudang, meninggalkan Asep sendirian di antara debu dan tumpukan buku tua. Asep menyentuh kerah bajunya, tempat jari Arka baru saja berada. Aroma parfum si kompeni seolah tertinggal di sana, mencekik paru-parunya lebih efektif daripada debu gudang mana pun.

╰┈➤

Komentar