Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Bagian 1

Asap rokok kretek mengepul tipis dari bibir Rambu, matanya menyipit mengawasi lalu lalang mobil di depan gerbang kantor. Seragam satpamnya terasa sedikit gerah di tubuhnya yang kekar. Jam dinding pos satpam menunjukkan hampir pukul lima sore. Sebentar lagi giliran jaga malam akan datang menggantikannya.

Pikirannya melayang pada kejadian beberapa hari lalu di toilet. Senyum tipis tak bisa dicegahnya mengingat ekspresi kaget bercampur malu di wajah si anak kantoran, Yudha. Ukuran kejantanannya memang di atas rata-rata, bahkan membuat sebagian wanita yang pernah dekat dengannya lari terbirit-birit. Tapi si bocah ingusan itu justru terlihat… tertarik.

Rambu menghela napas. Hidup memang penuh kejutan. Dulu, setiap kencan selalu berakhir dengan penolakan halus tapi menusuk. "Terlalu besar," atau "Aku tidak sanggup," selalu menjadi alasan klise yang membuatnya merasa seperti monster. Sekarang, ada anak muda tampan yang justru mengagumi ‘senjatanya’ itu. Sungguh ironis.

Perhatiannya teralih saat mobil mewah berhenti tepat di depan pos. Yudha keluar dari pintu kemudi, kemeja mahalnya tampak licin dan tanpa cela. Rambutnya yang ditata rapi membuatnya semakin mirip bintang film Korea. Rambu mengamati gerak-gerik pemuda itu. Ada aura polos dan rapuh yang entah kenapa justru menggelitik sisi gelap dalam dirinya.

Yudha menyapanya dengan senyum sopan, lalu menyerahkan bungkusan makanan melalui kaca pos.

"Titipan buat Mas Rambu," katanya dengan suara lembut. Rambu hanya mengangguk singkat, mengambil bungkusan itu tanpa menatap mata Yudha terlalu lama. Ada sesuatu di mata pemuda itu yang membuatnya sedikit tidak nyaman, seperti tatapan penuh harap seekor anak anjing.

Setelah mobil Yudha menghilang di tikungan, Rambu membuka bungkusan itu. Nasi goreng kambing, salah satu makanan favoritnya. Di atas nasi itu, tergeletak selembar kertas kecil bertuliskan, "Semoga suka, Mas." Lagi-lagi, Rambu hanya bisa menghela napas. Suapan demi suapan nasi goreng itu terasa hambar.

Beberapa hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Yudha selalu menyapanya, kadang menitipkan makanan, bahkan sesekali memberikan satu porsi makan siangnya. Rambu tidak menolak. Lumayan, bisa menghemat uang makan. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia tahu ada maksud tersembunyi di balik semua perhatian itu.

Suatu malam, telepon genggam butut Rambu berdering. Nama Yudha tertera di layar. Hasil kegigihan anak itu sedikit meluluhkan Rambu yang akhirnya bersedia bertukar nomor. Dengan malas, diangkatnya panggilan itu. Suara panik Yudha terdengar di seberang sana. Mobilnya mogok di tengah jalan. Tanpa banyak bicara, Rambu pergi ke sana membawa beberapa peralatan seadanya. Toh, dia juga baru selesai jaga dan tempat tinggalnya juga searah dengan posisi Yudha, pikirnya.

Setelah mobilnya diperbaiki, Yudha berterima kasih dan mengajak Rambu mampir ke apartemennya dengan sangat memelas hingga satpam itu tidak tega dan menurutinya setelah menitipkan motor di salah satu kenalannya.

Di dalam mobil Yudha yang wangi dan bersih, keheningan terasa canggung. Yudha sesekali meliriknya, mencoba membuka percakapan sambil menyetir. Tentang betapa sepinya dia tinggal sendirian, tentang bagaimana dia sering merasa bingung dan ingin ada seseorang yang bisa membimbingnya. Rambu mendengarkan dalam diam, otaknya mulai mereka-reka arah pembicaraan ini.

Instingnya yang terlatih selama bertahun-tahun di jalanan dan kerasnya hidup membuatnya dengan cepat menangkap sinyal-sinyal yang dipancarkan Yudha. Ada kerinduan yang tersembunyi, sebuah keinginan untuk dikendalikan, untuk menyerahkan diri. Rambu merasakan otoritas yang selama ini tidak pernah ia miliki atas orang lain kini terpampang nyata di depannya.

Tiba-tiba, Rambu menyuruh Yudha berhenti mendadak di pinggir jalan yang sepi. "Turun," katanya singkat, tanpa menatap Yudha.

"Ke-kenapa, Mas?" tanya Yudha dengan nada bingung.

"Beli martabak. Di sana," Rambu menunjuk gerobak martabak di seberang jalan. "Tapi lepas kemeja sama sepatu lo."

Yudha terdiam sejenak, menatap Rambu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada rasa malu, tapi juga ada secercah harapan di matanya. Tanpa membantah, perlahan Yudha membuka kancing kemejanya, melipatnya dengan hati-hati, lalu melepaskan sepatu kulit mahalnya. Dia keluar dari mobil hanya dengan celana bahan dan kaus tipis.

Angin malam menerpa kulit Yudha, membuatnya sedikit menggigil. Dia berjalan menyeberang jalan dengan tatapan tertunduk. Rambu memperhatikannya dari dalam mobil, seringai tipis menghiasi wajahnya yang keras. Ada sensasi aneh yang menjalari tubuhnya melihat pemuda tampan itu menuruti perintahnya tanpa perlawanan.

Saat Yudha kembali dengan sebungkus martabak, Rambu sudah menyandarkan kursi mobilnya, menikmati rokoknya. "Lama," komentarnya datar.

"Maaf, mas.. tadi antri."

Yudha menyerahkan martabak itu tanpa berani menatap mata Rambu. Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, tubuhnya terlihat ringkih dan rentan. Rambu merasakan kuasa yang membuncah dalam dirinya. Kekuatan untuk membuat orang lain melakukan apa yang dia inginkan, hanya dengan satu perintah.

Malam itu, di apartemen Yudha yang mewah dan sunyi, Rambu mulai melihat Yudha bukan lagi sebagai individu dengan perasaan dan keinginan, melainkan sebagai objek untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang kekuasaan. Dia tidak melihat ketakutan atau keraguan di mata Yudha sebagai tanda bahaya, melainkan sebagai bukti kepatuhan yang memuaskan egonya.

Kekuatan itu seperti candu, membutakannya pada kenyataan bahwa di balik tatapan penuh harap itu, ada jiwa yang mungkin akan terluka. Rambu hanya fokus pada kuasa yang kini ada di tangannya, sebuah kuasa yang selama ini terasa begitu jauh dan mustahil untuk diraih oleh seorang satpam lulusan SMK seperti dirinya. Dan malam itu, permainan baru saja dimulai.

Komentar