Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Bagian 2: Masuk Lebih Dalam

Tiga hari telah berlalu sejak malam jahanam di gubuk itu, dan Arman merasa seolah-olah ia sedang berjalan di atas lapisan kaca yang retak. Setiap kali ia melangkah keluar dari mess mandor, kulitnya meremang, merasa ribuan pasang mata kuli sedang menguliti seragam hijaunya yang rapi.

Siang itu, matahari Kalimantan sedang galak-galaknya. Arman berdiri di tepi blok piringan sawit, mencoba mempertahankan postur tegapnya. Ia memegang papan jalan dengan tangan yang sedikit gemetar, berpura-pura memeriksa hasil panen.

"Heh! Sodik! Itu brondolan masih banyak yang tercecer! Kau mau kerja atau mau main tanah?" teriak Arman. Suaranya masih menggelegar, namun ada nada sumbang di sana—sebuah kepura-puraan yang hanya diketahui oleh beberapa orang.

Sodik, kuli baru bertubuh tambun dengan otot lengan yang besar, berhenti sejenak. Ia tidak menunduk ketakutan seperti biasanya. Malah, ia menyeringai lebar, menatap Arman dari ujung kaki hingga ke bagian selangkangan yang terbungkus celana kain ketat.

"Maaf, Pak Mandor. Nanti saya bersihkan... sedalam-dalamnya," sahut Sodik dengan penekanan yang menjijikkan. Ia kemudian tertawa kecil ke arah Gani, kuli pendiam di sebelahnya yang sedang mengasah egrek.

Arman memalingkan muka, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa mual. Baru saja ia hendak berjalan menjauh, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang ia kenal sebagai milik Jaka masuk.

'Gudang belakang. 15 menit lagi. Jangan sampai kami yang jemput ke mess, Bos. Oh, bawa botol minummu sendiri, biar nggak serak nanti.'

Darah seolah surut dari wajah Arman. Ia melirik ke arah truk pengangkut yang sedang diisi. Di sana, Jaka sedang bersandar pada badan truk, memandangnya sambil memainkan korek api gas. Jaka mengangkat dua jarinya—isyarat bahwa ada 'tamu' tambahan untuknya hari ini.

Arman menelan ludah yang terasa pahit. Ia tahu siapa yang dimaksud. Sodik dan Gani sudah pasti termasuk dalam daftar malam ini. Rasa perih di anusnya yang baru saja mulai reda seakan berdenyut kembali, mengingatkan pada tusukan kasar jari Jaka.

Dengan langkah gontai dan kepala yang mulai pening karena tekanan mental, Arman berjalan menuju motor trailnya. Ia harus pergi ke sana. Ia tidak punya pilihan. Setiap putaran roda motornya di atas tanah merah itu terasa seperti hitung mundur menuju kehancurannya yang lebih dalam.

Pikirannya kalut; membayangkan bagaimana tubuhnya yang kekar dan dihormati itu akan kembali ditekuk, dipamerkan, dan digunakan oleh orang-orang yang selama ini ia injak harga dirinya.

𓂺 𓂺 𓂺 𓂺 𓂺


Motor trail Arman berhenti tepat di depan gubuk tua itu. Debu merah yang ia tinggalkan belum juga turun saat ia mematikan mesin. Hening. Hanya ada suara gesekan pelepah sawit yang tertiup angin sore dan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang hingga ke pangkal leher.

Arman menarik napas panjang, mencoba membusungkan dada untuk terakhir kalinya sebelum ia harus menanggalkan martabatnya. Ia melangkah masuk.

Begitu pintu terbuka, bau keringat jantan yang menyengat dan aroma tembakau murah langsung menyergap indranya. Di dalam, Jaka sedang duduk santai di atas tumpukan karung, sementara Bahrul dan Dedi berdiri menyandar pada pilar kayu. Namun, mata Arman langsung tertuju pada dua sosok tambahan di sudut ruangan yang gelap.

Sodik, si kuli tambun dengan lengan sebesar paha pria dewasa, dan Gani yang kurus namun memiliki tatapan mata yang lapar.

"Telat dua menit, Bos," celetuk Jaka tanpa melihat jam. Ia bangkit, membuang puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya perlahan. "Tamu kita sudah nggak sabar mau kenalan sama Mandor paling gagah se-Kalimantan ini."

Arman mematung. "Kalian bilang cuma kalian bertiga..."

"Rencana berubah," potong Bahrul sambil melangkah maju, menutup pintu gubuk dan menguncinya dengan gerendel besi yang berkarat. Suara klik itu terdengar seperti vonis mati bagi Arman. "Makin ramai, makin seru, kan? Lagian Sodik sama Gani ini pengagum berat otot-ototmu itu, Man."

Gani melangkah mendekat, tangannya yang kotor meraba kain seragam Arman di bagian bahu. "Bagus bahannya... pasti mahal," bisiknya dengan suara serak yang membuat bulu kuduk Arman berdiri.

"Buka," perintah Jaka pendek. Ia sudah memegang ponselnya, siap merekam. "Atau mau saya kirim potongan video kemarin ke grup mandor sekarang juga? Biar besok satu perkebunan tahu kalau bos mereka suka dikangkangi kuli."

Arman mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya memuncak, tapi rasa takut akan kehancuran kariernya jauh lebih besar. Dengan tangan gemetar, ia mulai membuka kancing seragam hijaunya. Satu per satu.

"Cepetan! Jangan manja!" bentak Sodik. Pria tambun itu maju dan membantu merobek kaos dalam Arman hingga menampakkan dada bidangnya yang berbulu halus.

Arman hanya bisa pasrah saat celananya ditarik paksa ke bawah, disusul celana dalamnya yang dilempar sembarang arah oleh Dedi. Kini, ia berdiri telanjang bulat di tengah kepungan lima orang bawahannya. Sinar matahari sore yang masuk lewat celah papan kayu menyorot tubuh kekarnya yang nampak berkilat karena keringat dingin.

"Liat tuh, barangnya makin mengkerut," ejek Dedi sambil tertawa. "Padahal badannya kayak raksasa."

"Sabar, Ded. Nanti juga kita bikin dia sibuk," sahut Jaka sambil mengarahkan kamera ponselnya tepat ke arah selangkangan Arman. "Ayo, Bos. Jangan berdiri terus kayak patung. Naik ke atas meja itu. Tunjukkan apa yang paling kita suka dari kamu."

Arman menatap meja kayu panjang yang permukaannya kasar dan penuh noda itu. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dan kali ini, ia tak hanya menghadapi tiga orang, tapi lima pasang tangan yang siap menjamah dan menghancurkannya lebih dalam.

𓂺 𓂺 𓂺 𓂺 𓂺


Papan kayu meja tua itu terasa kasar dan dingin saat kulit telanjang Arman bersentuhan dengannya. Di bawah sorot lampu ponsel yang sengaja diletakkan Jaka di sudut meja, otot-otot punggung Arman yang berlekuk nampak berkilat karena keringat ketakutan.

"Naik! Jangan kayak perawan mau disunat!" bentak Sodik. Tangan tambunnya yang kasar mendarat telak di pantat Arman, sebuah tamparan keras yang meninggalkan bekas kemerahan instan di kulit tan sang mandor.

Arman meringis, giginya bergeletuk. Ia merangkak naik ke atas meja, memposisikan dirinya nungging dengan kedua tangan bertumpu di depan. Kepalanya tertunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu yang tak tertahankan.

"Nah, begini kan enak liatnya. Coba liat nih, Dik, Gan... aset perusahaan kita," ejek Jaka sambil mengitari meja seperti singa yang mengincar mangsa. Ia menepuk-nepuk pantat Arman yang bulat dan padat dengan telapak tangannya. "Liat nih lubangnya, masih merah bekas yang kemarin ya, Man?"

Gani, si kuli pendiam, melangkah maju. Ia menarik rambut Arman agar sang mandor mendongak, memaksa mata Arman menatap deretan kuli yang selama ini ia maki-maki. "Ternyata mandor kita ini kalau telanjang nggak ada harganya ya? Cuma onggokan daging yang siap dipake," bisik Gani serak. Ia kemudian meludahi lubang anus Arman yang rapat dan berbulu halus, membiarkan cairan kental itu mengalir turun ke arah buah zakarnya.

"Ayo, pamerin dikit lagi. Lebarin pake tanganmu sendiri, Man. Biar Sodik sama Gani liat seberapa siap lubangmu itu," perintah Jaka dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Dengan tangan gemetar, Arman terpaksa meraih kedua belah pantatnya sendiri. Ia menariknya ke samping, mengekspos bagian paling pribadinya yang kini nampak berdenyut karena tegang. Hinaan verbal terus menghujani dirinya—kata-kata kotor tentang betapa murah tubuhnya, betapa ia sebenarnya menikmati diperlakukan seperti pelacur oleh para kuli, hingga sebutan-sebutan merendahkan yang membuat ego Arman hancur berkeping-keping.

"Duh, liat tuh... bergetar lubangnya. Takut apa pengen, Man?" Dedi menimpali sambil tertawa cabul. Ia mendekat, lalu dengan sengaja menggesekkan kejantanannya yang masih terbungkus celana kerja ke arah lubang Arman yang terbuka. "Sabar ya, Bos. Kita main yang di depan dulu sebelum yang di belakang dijebol lagi."

Sodik yang sudah tidak sabar mulai membuka ritsleting celananya. Sebuah kejantanan yang tebal dan berwarna gelap menyembul keluar. Ia memegang kepala Arman, memaksanya untuk tetap nungging namun memutar lehernya ke samping.

"Liat ini, Man. Ini yang bakal masuk ke mulutmu sebentar lagi. Jangan sampai kena gigi ya, atau video itu langsung viral," ancam Sodik sambil mengarahkan kepalanya yang besar itu tepat ke depan wajah Arman yang sudah basah oleh air mata dan keringat.

Arman memejamkan mata, merasakan aroma maskulin yang tajam dan kotor dari tubuh Sodik. Ia tahu, setelah pameran memalukan di atas meja ini, sesi yang lebih brutal akan segera dimulai. Ia bukan lagi manusia di mata mereka; ia hanyalah sebuah lubang dan sebuah mulut yang bisa digunakan kapan saja.

𓂺 𓂺 𓂺 𓂺 𓂺


"Cukup pamerannya. Sekarang waktunya kau kerja, Bos," Jaka menyeringai, lalu memberikan isyarat dagu pada Bahrul dan Sodik.

Tanpa peringatan, kedua kuli itu mencengkeram lengan Arman dan menyeret tubuh kekarnya turun dari meja. Kulit perut dan paha Arman bergesekan kasar dengan pinggiran kayu meja yang tajam hingga memerah, sebelum kakinya membentur lantai tanah yang kotor. Mereka tidak membiarkannya berdiri. Bahrul menekan pundak Arman dengan lututnya, memaksa sang mandor dalam posisi jongkok yang menghinakan di tengah lingkaran mereka.

"Buka mulutmu, Anjing. Jangan buat kami paksa," desis Sodik. Pria tambun itu sudah berdiri tepat di depan wajah Arman, memegang kejantanannya yang tebal, gelap, dan berurat.

Arman menggeleng lemah, air mata mulai menetes membasahi pipinya yang kasar. "T-tolong... jangan..."

PLAK!

Tamparan keras dari telapak tangan Jaka mendarat telak di pipi kanan Arman, membuat kepalanya tersentak ke samping. "Nggak ada tolong-menolong di sini! Buka!"

Sodik tidak menunggu lagi. Ia menjambak rambut cepak Arman, menarik kepalanya ke belakang, dan langsung menghujamkan senjatanya ke dalam mulut Arman. Glek. Arman tersedak seketika. Batang besar itu merojok jauh hingga menyentuh pangkal tenggorokannya. Rasa mual yang hebat menghantam ulu hatinya, memicu refleks muntah yang membuat wajahnya membiru dan matanya melotot kearah langit-langit gubuk yang gelap.

Belum sempat Arman bernapas, Sodik menariknya keluar hanya untuk menghujamkannya kembali lebih dalam. Suara slurp-slurp yang basah memenuhi ruangan, bercampur dengan rintihan teredam dari tenggorokan Arman.

"Liat nih, Mandor kesayangan kantor pusat lagi ngulum kontol kuli sawit!" seru Dedi sambil tertawa puas.

Begitu Sodik mencapai puncaknya, ia mengerang kasar dan menyemburkan cairan kentalnya langsung ke dalam kerongkongan Arman. Arman mencoba memalingkan wajah, tapi cengkeraman di rambutnya terlalu kuat. "Telen! Sampai habis!" bentak Sodik. Arman terpaksa menelan cairan asin dan amis itu dengan susah payah, jakunnya naik turun dalam gerakan yang menjijikkan.

Belum kering bibirnya, Gani sudah menggantikan posisi Sodik. Lalu Bahrul. Lalu Dedi. Satu per satu, mereka merojok mulut Arman tanpa belas kasihan. Setiap kali Arman tersedak atau hampir muntah, sebuah tamparan atau jambakan kasar akan memaksanya kembali fokus. Mulutnya terasa kebas, rahangnya pegal luar biasa, dan wajahnya sudah basah kuyup oleh campuran air mata, ludah, dan sperma yang berceceran.

Terakhir, Jaka melangkah maju. Ia membiarkan Arman yang sudah lemas dan gemetar itu menatap kejantannya yang paling besar di antara mereka. Jaka memaksanya melakukan deepthroat hingga Arman terkencing karena tekanan mental dan fisik yang berlebihan.

"Telen semuanya, Man. Jangan ada yang sisa di lantai," perintah Jaka dingin setelah ia melepaskan muatannya di dalam mulut Arman yang sudah penuh.

Arman berlutut lemas, kedua tangannya bertumpu di lantai tanah yang kini becek. Ia menelan sisa-sisa sperma kelima bawahannya itu dengan pandangan kosong. Harga dirinya tidak hanya hancur; itu sudah lumat, terkubur di bawah lantai gubuk ini bersama setiap tetes cairan yang ia telan.

𓂺 𓂺 𓂺 𓂺 𓂺


Arman masih berlutut, tubuh kekarnya bergetar hebat dengan sisa-sisa cairan amis yang masih menempel di sudut bibir dan dagunya. Dunianya serasa berputar. Bau tanah gubuk yang lembap bercampur dengan aroma tubuh lima laki-laki di sekelilingnya menjadi parfum kehancuran yang harus ia hirup dalam-dalam.

Jaka mengambil ponselnya dengan santai. Ia memutar hasil rekaman tadi—suara Arman yang tersedak, suara tamparan, hingga visual saat Mandor besar itu dipaksa menelan sisa kejantanan mereka. Suara digital itu terdengar begitu jernih, mengiris sisa-sisa kewarasan Arman.

"Bagus kan videonya, Man? Estetik," bisik Jaka sambil menunjukkan layar ponsel tepat di depan mata Arman yang merah dan sembab. "Ini kalau sampai ke grup keluarga atau manajer area, kira-kira karirmu masih selamat nggak ya?"

Arman hanya bisa menunduk, membiarkan rambut cepaknya dijambak pelan oleh Jaka. "J-jangan... tolong hapus..."

"Hapus?" Sodik tertawa menggelegar, perut tambunnya berguncang. "Enak saja. Ini investasi kami, Bos. Ini jaminan supaya kau tetap jadi 'anjing' yang penurut."

Jaka mematikan layar ponselnya, lalu menatap Arman dengan tatapan predator. "Dengar. Aku nggak mau kau cuma jadi budak di gubuk ini. Aku mau kau merasa terhina setiap detik, bahkan saat kau sedang memaki kuli-kuli di lapangan."

Jaka menjeda kalimatnya, memberikan isyarat pada Dedi untuk mengambil seragam Arman yang tercecer di lantai. "Mulai besok pagi, saat kau pakai seragam mandormu yang gagah itu... aku melarangmu pakai celana dalam. Telanjang bulat di balik celana kainmu."

Mata Arman membelalak. "Apa? T-tapi..."

"Nggak ada tapi-tapi!" bentak Bahrul sambil menendang paha Arman. "Setiap kali kami lewat di dekatmu, kami akan periksa. Kalau aku lihat ada karet kolor yang nyembul di pinggangmu, atau pas aku remas pantatmu ada kain penghalang... video ini langsung meluncur ke pusat. Paham?!"

Arman membayangkan dirinya berjalan di tengah perkebunan, berinteraksi dengan staf kantor, namun di balik celananya, kejantanannya berayun bebas dan anusnya yang perih langsung bersentuhan dengan kain kasar celana kerjanya. Sebuah pengingat permanen bahwa ia adalah milik mereka.

"Jawab!" Jaka menekan kepala Arman hingga hampir mencium lantai.

"I-iya... faham. Besok... saya nggak pakai celana dalam," sahut Arman pelan, hampir tak terdengar.

"Bagus. Sekarang bersihkan dirimu pakai baju itu, lalu pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran dan minta ronde kedua," usir Jaka.

Arman meraih seragamnya dengan tangan gemetar. Ia berpakaian dengan terburu-buru, merasakan sensasi menjijikkan dari cairan yang mengering di tubuhnya yang kini tertutup kain. Begitu ia keluar dan menghidupkan motor trailnya, ia bisa mendengar tawa kemenangan kelima kuli itu pecah di dalam gubuk.

Malam itu, Arman pulang dengan identitas yang sudah cacat. Besok, ia harus berdiri di bawah terik matahari, memegang tongkat komando mandor, sementara di balik celananya, ia dibiarkan telanjang—siap untuk diperiksa dan dilecehkan kapan saja oleh bawahannya sendiri.


Komentar