Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Bagian 3

Rambu mengernyitkan dahi. "Inspirasi lo?" tanyanya dengan nada skeptis, sambil mengamati punggung telanjang Yudha yang masih bergetar halus. "Maksud lo?"

Yudha tampak semakin malu. Dia menunduk dalam-dalam, jari-jarinya saling meremas. "A-anu, Mas... mungkin... Mas mau lihat?" suaranya nyaris tak terdengar.

Rambu mengangkat alis, tertarik dengan rasa ingin tahu yang baru muncul. "Lihat apa?"

Dengan ragu-ragu, Yudha meraih remote televisi yang tergeletak di meja. Layar besar di dinding menyala, menampilkan menu utama sebuah aplikasi streaming. Yudha dengan cepat mencari sesuatu, lalu memutar sebuah video.

Awalnya, hanya terlihat adegan biasa. Namun, dalam hitungan detik, Rambu menyadari bahwa ini adalah film dewasa. Bukan adegan romantis biasa, melainkan sesuatu yang jauh lebih ekstrem. Seorang lelaki berkulit putih diikat di sebuah ruangan gelap. Suara bentakan dan umpatan terdengar jelas. Kemudian, adegan demi adegan memperlihatkan penghinaan verbal, sentuhan paksa di area pribadi, dan ekspresi kesakitan di wajah lelaki itu yang bercampur dengan... kenikmatan?

Rambu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Wajah polos dan lugu Yudha ternyata menyimpan fantasi yang begitu gelap dan kompleks. Dia menatap Yudha yang kini juga sedang menonton layar televisi dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada rasa malu, tapi juga ada semacam kerinduan yang terpancar dari matanya.

"Gila..." gumam Rambu tanpa sadar. Dia tidak pernah menyangka akan melihat hal seperti ini. Dunia yang benar-benar asing baginya. Namun, di saat yang sama, ada semacam ketertarikan yang aneh muncul dalam dirinya. Ide untuk mengeksplorasi fantasi tersembunyi Yudha ini terasa... menantang. Dan mungkin, menyenangkan.

Setelah video itu selesai, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Yudha buru-buru mematikan televisi dan kembali menunduk.

"Jadi... ini yang lo mau?" tanya Rambu, suaranya kini lebih lembut, mencoba mencerna apa yang baru saja dilihatnya.
Yudha mengangguk pelan tanpa menatapnya.

Malam itu, setelah Yudha membersihkan sisa air kencingnya dengan perasaan terhina, Rambu menyuruhnya tidur di tempat tidurnya. Tempat tidur besar dengan seprai sutra yang terasa dingin di kulit telanjang mereka. Rambu sendiri merasa penasaran sebesar apa kepatuhan anak ini. Sebuah ide jahil muncul di benaknya.

"Kita tidur di sini," kata Rambu datar, berbaring telentang tanpa mengenakan sehelai benang pun. Kejantanannya yang tebal terkulai lemas di antara testis yang sama-sama besar dan tampak penuh. Yudha juga telanjang, berbaring kaku di sampingnya. "Tapi dengar baik-baik. Lo nggak boleh sentuh gue sedikit pun tanpa izin. Sekali lo berani, gue nggak akan segan-segan ngelakuin hal yang lebih buruk dari tadi."

Yudha menelan ludah, merasakan jantungnya berdebar kencang. Tidur telanjang di samping Rambu, dengan larangan untuk menyentuhnya, terasa seperti siksaan yang lain. Namun, dia hanya bisa mengangguk patuh.

"Iya, mas."

Rambu memejamkan matanya, pura-pura tidur. Dia bisa merasakan pergerakan kecil di sampingnya, napas Yudha yang tidak teratur. Ada ketegangan yang memenuhi udara di antara mereka. Rambu menunggu, ingin melihat seberapa besar keinginan Yudha untuk menyentuhnya, dan seberapa besar pula rasa takutnya untuk melanggar perintah.

Malam itu terasa panjang dan penuh gejolak yang terpendam. Yudha berbaring kaku, berusaha menahan setiap dorongan dalam dirinya. Sementara Rambu, di sisi lain, menikmati kendali yang ia miliki sepenuhnya atas tubuh dan keinginan pemuda di sampingnya. Kekuatan itu benar-benar memabukkan, dan ia semakin tenggelam dalam permainannya yang berbahaya.

Subuh menyapa dengan rembesan cahaya abu-abu dari celah gorden. Rambu mengerjap, merasakan denyutan berat di antara selangkangannya. Ereksi pagi ini terasa lebih kuat dari biasanya, memaksa matanya untuk terbuka sepenuhnya.

Di sampingnya, Yudha masih terlelap dalam posisi setengah telungkup. Satu kakinya menekuk ke atas, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang polos dan tanpa pertahanan. Tanpa sadar, mata Rambu terpaku pada lubang pantat Yudha yang tersembunyi sebagian. Kulitnya putih kemerahan, tanpa bulu, tampak begitu lembut dan menggoda.

Pandangannya beralih ke bawah, ke kejantanan Yudha yang kini berdenyut pelan, tertekuk di antara kedua testisnya. Entah mengapa, pemandangan polos Yudha justru semakin memicu hasratnya. Sebuah ide liar dan impulsif tiba-tiba menyeruak dalam benaknya.

Tanpa suara, Rambu bangkit dari tempat tidur. Langkahnya hati-hati menuju nakas, tempat ia melihat seutas tali semalam. Mungkin tali yang digunakan Yudha untuk... fantasinya. Diambilnya tali itu, lalu dengan cepat dan efisien, ia mengikat kedua pergelangan tangan Yudha di palang atas ranjang. Pemuda itu menggeliat kecil dalam tidurnya, tapi tidak terbangun.

Rambu kembali ke sisi ranjang, menatap tubuh Yudha yang kini terentang pasrah. Hasratnya sudah di ubun-ubun, bercampur dengan dominasi yang semalam ia nikmati. Tanpa ragu, ia menjilat telapak tangannya, membasahi kejantanannya yang terasa semakin panas dan berdenyut.

Dengan satu gerakan pasti, Rambu menekan masuk ke dalam tubuh Yudha yang masih tertidur lelap. Tidak ada kelembutan, hanya dorongan kasar yang bertujuan untuk membangunkannya dengan rasa sakit yang tak terduga.

Yudha tersentak kaget, matanya terbuka lebar dengan ekspresi bingung dan kesakitan. Erangan tertahan lolos dari bibirnya saat merasakan invasi tiba-tiba dan menyakitkan di tubuhnya. Ia mencoba bergerak, namun kedua tangannya terikat kuat di atas kepala.

"M-mas Rambu..a-ah.."

Rambu menatap wajah kaget Yudha dengan tatapan dingin dan tanpa penyesalan. Ia terus memaksakan masuk, mengabaikan ringisan kesakitan yang mulai terdengar. Baginya, ini adalah kelanjutan dari permainan semalam, sebuah demonstrasi kekuasaan tanpa batas.

"Bangun, bocah," bisik Rambu dengan suara serak di telinga Yudha. "Sekarang lo benar-benar milik gue."

Air mata mulai mengalir di pipi Yudha, rasa sakit dan terkejut bercampur menjadi satu. Ia meronta-ronta mencoba melepaskan diri, namun ikatan tali itu terlalu kuat. Pagi yang seharusnya tenang itu berubah menjadi mimpi buruk yang nyata baginya.

"Pe-pelan, mas.. sakit.. a-ah, mas.."

Sementara itu, Rambu terus bergerak, menikmati sensasi kekuasaan yang ia rasakan. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang ia timbulkan, atau trauma yang mungkin membekas di benak Yudha. Baginya, pemuda itu hanyalah objek untuk memuaskan hasrat dan egonya yang mulai tak terkendali. Kekuatan itu benar-benar telah membutakannya, merenggut rasa kemanusiaan dan empati dalam dirinya.

Komentar