Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Bagian 4

Pagi itu, Yudha duduk di balik kemudi mobilnya dengan wajah pucat dan mata yang berusaha ia sembunyikan dari tatapan Rambu. Suasana di dalam mobil terasa dingin dan tegang, hanya diisi oleh suara desahan AC dan deru mesin mobil yang membelah lalu lintas pagi. Rambu duduk di kursi penumpang, tatapannya lurus ke depan, seolah kejadian subuh tadi hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.

Yudha sesekali melirik Rambu melalui kaca spion, mencoba membaca ekspresi wajah satpam itu. Namun, yang ia temukan hanyalah ketenangan yang dingin, membuat hatinya semakin mencelos. Rasa malu, sakit, dan ketakutan bercampur aduk menjadi satu, membuatnya merasa seperti sampah yang tidak berharga.

"Nanti Mas turun di pertigaan sana aja ya," kata Rambu tiba-tiba, memecah keheningan yang menyesakkan. Ia menunjuk sebuah perempatan yang berjarak beberapa blok dari gedung kantor mereka.

Yudha hanya mengangguk tanpa bersuara, menuruti permintaan itu tanpa bertanya. Ia mengerti. Rambu, dengan posisinya sebagai satpam, mungkin lebih rentan terlihat bersama dirinya di area kantor. Reputasi Rambu sebagai sosok yang disegani (atau mungkin ditakuti) mungkin akan tercoreng jika ada yang melihat mereka datang bersama.

Mobil terus melaju dalam diam. Yudha merasakan setiap detik perjalanan ini begitu menyiksa. Ia ingin bertanya, ingin marah, ingin menangis, tapi tenggorokannya terasa tercekat. Apa yang terjadi semalam terasa begitu nyata dan brutal, merenggut sebagian dari dirinya.

Tiba di pertigaan yang dimaksud, Yudha menghentikan mobil di tepi jalan. Rambu membuka pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sebelum keluar, ia menoleh sekilas ke arah Yudha, tatapannya datar dan tanpa emosi.

"Jangan bilang siapa-siapa," ujarnya singkat, lebih seperti ancaman daripada permintaan.

Yudha hanya bisa mengangguk lemah, menatap kepergian Rambu yang berjalan menjauh menuju arah kantor. Tubuh tegap satpam itu menghilang di antara kerumunan pejalan kaki. Yudha terdiam di dalam mobilnya, mencengkeram erat kemudi. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Pagi ini, ia berangkat ke kantor bukan sebagai seorang karyawan, melainkan sebagai korban dari kekuasaan yang membutakan. Dan ia harus menghadapi hari itu dengan luka yang menganga di hati dan tubuhnya.

Kalimat itu berputar-putar di benak Rambu sepanjang hari. Toh itu memang keinginannya sendiri. Aku hanya berusaha mewujudkannya saja. Sebuah pembenaran yang ia genggam erat untuk meredam sedikit rasa bersalah yang sesekali menyelinap. Yudha menginginkannya, bukan? Fantasi aneh tentang rasa sakit dan penghinaan itu berasal dari benak pemuda itu sendiri. Rambu hanya memberikan apa yang diminta. Begitulah ia meyakinkan dirinya.

Saat jam kantor usai dan sebagian besar karyawan telah pulang, Rambu mengirim pesan singkat kepada Yudha. Isinya singkat dan jelas: Gudang belakang, sekarang.

Rambu sudah menunggu di sana, di antara tumpukan kardus bekas dan peralatan kantor yang jarang terpakai. Udara pengap dan berbau debu. Cahaya rembulan yang samar menembus jendela kecil di atas, menciptakan suasana remang-remang yang terasa intim sekaligus mengancam.

Tidak lama kemudian, sosok Yudha muncul di ambang pintu, tampak ragu dan tegang. Matanya menghindari tatapan Rambu.

"Sini," perintah Rambu tanpa basa-basi, suaranya rendah dan serak.

Yudha berjalan mendekat dengan langkah pelan. Ia tahu apa yang akan terjadi. Rasa takut dan malu kembali menyeruak dalam dirinya, bercampur dengan sedikit rasa penasaran yang aneh.

Rambu menatap Yudha dari atas ke bawah, menilai tubuh pemuda itu. "Ingat aturan semalam?" tanyanya, nada suaranya mengandung dominasi yang tak terbantahkan.
Yudha mengangguk pelan, menelan ludah.

"Lo nggak boleh sentuh gue pakai tangan atau anggota tubuh lain tanpa izin," lanjut Rambu, menunjuk Yudha dengan tatapan tajam. "Cuma boleh bilang 'ya, mas', 'terima kasih, mas', atau..." Rambu menjeda, seringai tipis bermain di bibirnya, "...'enak, mas'."

Yudha kembali mengangguk, hatinya berdebar kencang. Ia merasa dirinya semakin terperosok dalam permainan yang berbahaya ini. Namun, ada bagian dirinya yang entah mengapa tidak bisa menolak.

Rambu memberi isyarat dengan dagunya, menyuruh Yudha mendekat. Malam itu, di gudang belakang kantor yang sunyi dan gelap, rantai kekuasaan kembali ditegakkan. Rambu siap untuk menodai tubuh mulus itu sekali lagi, dan Yudha, dengan segala luka dan keinginannya yang terpendam, sekali lagi harus menuruti setiap perintahnya. Kegelapan gudang menjadi saksi bisu atas permainan yang semakin rumit dan mengancam untuk menghancurkan keduanya.

Komentar