Dengan satu anggukan singkat, Yudha mulai melepaskan pakaiannya. Kemeja mahalnya tergeletak begitu saja di lantai gudang yang kotor, disusul celana bahan yang juga jatuh tanpa lipatan. Di bawah rembulan samar, tubuh telanjang Yudha terlihat begitu kontras dengan latar belakang gudang yang suram.
Rambu mengamati setiap gerakan Yudha dengan tatapan datar. Setelah pemuda itu benar-benar telanjang, Rambu mengulurkan tangannya. Jemarinya yang kasar dan sedikit kapalan, hasil dari bertahun-tahun bekerja keras dan memegang benda-benda kasar, mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh Yudha. Sentuhannya tidak lembut, lebih seperti sedang menyapu debu dari dokumen yang dianggap tidak terlalu penting. Ia menyentuh dada bidang Yudha, perutnya yang rata, lalu turun ke pinggul dan paha tanpa ekspresi berarti.
"Permainan kita kali ini," kata Rambu dengan suara berat, sambil menarik kursi plastik butut ke tengah ruangan. "Namanya tes daya tahan."
Ia menyuruh Yudha telungkup di pahanya yang terasa keras dan berotot. Posisi itu membuat pantat Yudha terangkat, memperlihatkan lekuknya yang mulus dan putih. Rambu duduk dengan kedua kaki terbuka sedikit, menahan beban tubuh Yudha.
"Sekarang," lanjut Rambu, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Gue akan tampar pantat lo. Keras. Lo harus hitung setiap tamparan dengan benar. Kalau salah hitung, kita mulai dari awal."
Tanpa menunggu jawaban, telapak tangan Rambu mendarat dengan keras di salah satu sisi pantat Yudha. Suara tamparan yang nyaring bergema di gudang yang sunyi.
"Satu," ucap Yudha tertahan, merasakan perih yang menjalar di kulitnya.
Rambu kembali mengangkat tangannya dan menampar sisi pantat yang lain dengan kekuatan yang sama.
"Dua," desis Yudha, giginya mengatup menahan sakit.
Tamparan demi tamparan mendarat di bokong Yudha. Suara kulit bertemu kulit yang keras terus menggema. Yudha berusaha fokus menghitung, menahan rasa perih yang semakin membakar. Setiap tamparan terasa seperti hinaan, namun ia tidak berani salah hitung. Ia tahu konsekuensinya. Mereka akan mulai dari awal, dan itu berarti lebih banyak rasa sakit.
Rambu terus melakukannya tanpa ampun, menguji batas ketahanan fisik dan mental Yudha. Ekspresi wajahnya datar, tanpa menunjukkan emosi apa pun. Ia benar-benar memperlakukan tubuh Yudha seperti objek dalam permainannya, tanpa mempedulikan rasa sakit dan harga diri yang sedang diinjak-injak. Di gudang yang remang-remang itu, Yudha terus menghitung dalam hati, berusaha bertahan di bawah setiap pukulan yang mendarat. Tes daya tahan yang sadis baru saja dimulai.
Setelah tamparan ke seratus mendarat dengan bunyi yang memekakkan telinga di gudang yang sunyi, tubuh Yudha benar-benar lemas. Ia terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat berusaha menghirup udara sebanyak mungkin. Wajahnya penuh dengan butiran keringat yang mengkilap samar di bawah cahaya rembulan. Mulutnya terbuka sedikit, dan tanpa bisa ia tahan, setetes liur lolos dan jatuh membasahi lantai gudang yang berdebu.
Otot-otot di pantatnya terasa panas dan berdenyut nyeri. Setiap tamparan yang mendarat terasa seperti cambukan api yang membakar kulitnya. Ia sudah kehilangan hitungan berkali-kali di dalam benaknya, namun entah bagaimana, ia berhasil memaksakan diri untuk terus menyebutkan angka demi angka. Harga dirinya yang sudah terkoyak semakin terasa perih setiap kali telapak tangan kasar Rambu menghantam tubuhnya.
Rambu menghentikan aksinya, menarik tangannya dari pantat Yudha yang kini memerah dan membengkak. Ia mengamati pemandangan di depannya dengan tatapan dingin. Yudha terkapar di pahanya, tubuhnya bergetar hebat. Keringat membasahi rambutnya yang menempel di dahi. Napasnya terdengar berat dan tersengal-sengal.
"Seratus," ucap Yudha lirih, suaranya parau dan hampir tidak terdengar. Ada nada keputusasaan yang mendalam dalam ucapannya.
Rambu tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Yudha, seolah sedang menilai seberapa besar daya tahan pemuda itu. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan atau empati di matanya. Ia hanya melihat sebuah objek yang telah berhasil melewati ujiannya.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian bagi Yudha, Rambu akhirnya bersuara. "Bagus." Nada suaranya datar, tanpa pujian atau penghargaan. "Lo lulus tes pertama."
Yudha tidak merespons. Ia terlalu lelah, terlalu sakit, dan terlalu terhina untuk sekadar menggerakkan tubuhnya. Air mata diam-diam mengalir dari sudut matanya, membasahi pahanya Rambu.
Rambu menurunkan Yudha dari pangkuannya dengan kasar. Tubuh pemuda itu terhuyung dan hampir jatuh sebelum akhirnya bisa menahan diri dengan kedua tangannya di lantai yang dingin. Ia terengah-engah, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
"Sekarang," kata Rambu lagi, suaranya kembali memerintah. "Berdiri."
Dengan susah payah, Yudha mencoba menegakkan tubuhnya yang terasa remuk. Setiap ototnya terasa sakit, dan kulit pantatnya terasa seperti terbakar. Namun, ia tahu ia harus menurut. Ia tidak punya pilihan lain. Di bawah tatapan dingin Rambu, ia berdiri dengan goyah, telanjang dan terhina di tengah gudang yang gelap. Permainan belum berakhir. Ia tahu itu. Dan rasa sakit yang ia rasakan baru permulaan.
Komentar
Posting Komentar