Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Bagian 6

"Sekarang," suara Rambu kembali memecah kesunyian gudang, dingin dan tanpa kompromi, "waktunya tes kepatuhan."

Yudha yang masih terengah-engah dan tubuhnya terasa perih di setiap sentuhan, menatap Rambu dengan mata sayu. Ia tidak tahu ujian kepatuhan seperti apa lagi yang akan ia hadapi. Rasa takut kembali mencengkeram hatinya.

Rambu berjalan mendekat, berhenti tepat di hadapan Yudha yang berdiri telanjang dan rapuh. Tatapannya merendahkan, seolah Yudha adalah makhluk kecil yang tidak berdaya di bawah telapak kakinya.

"Lo lihat sepatu boot gue di sana?" Rambu menunjuk dengan dagunya ke arah sepatu kulit hitamnya yang tergeletak di sudut gudang.

Yudha mengikuti arah pandang Rambu. "Ya, Mas," jawabnya lirih, suaranya masih serak.

"Ambil," perintah Rambu singkat.

Dengan langkah tertatih, Yudha berjalan menuju sepatu boot itu. Setiap gerakan kecil pun terasa menyakitkan di tubuhnya. Ia mengambil salah satu sepatu boot dan kembali menghadap Rambu.

"Sekarang," lanjut Rambu, nada suaranya semakin memerintah, "cium solnya."

Yudha terdiam sejenak, menatap sepatu boot berdebu di tangannya. Rasa jijik dan harga dirinya kembali bergejolak. Ini semakin merendahkan. Namun, ia ingat aturan yang ditetapkan Rambu. Ia tidak boleh membantah.

Perlahan, Yudha menunduk dan mendekatkan sol sepatu boot itu ke bibirnya. Bau debu dan kulit yang menguap terasa menusuk hidungnya. Dengan berat hati, ia mengecup permukaan sol yang kotor itu.

"Sekali lagi," titah Rambu.

Yudha kembali mencium sol sepatu itu, kali ini dengan sedikit lebih lama. Rasa terhina semakin menggerogoti dirinya.

"Sekarang," kata Rambu lagi, kali ini dengan nada yang lebih mengancam, "gue mau lo menjilat seluruh permukaan sol sepatu ini sampai bersih. Nggak boleh ada debu yang tersisa. Mengerti?"

Yudha menelan ludah dengan susah payah. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ini sudah di luar batas. Namun, ia tidak berani menolak. Ia tahu konsekuensinya akan lebih buruk.

"Ya, mas."

Dengan tangan gemetar, ia memegang sepatu boot itu dan mulai menjilat permukaannya yang kasar dan berdebu. Rasa jijik bercampur dengan rasa sakit di tubuhnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata yang ingin tumpah.

Rambu berdiri tegak di depannya, mengawasi setiap gerakan Yudha dengan tatapan dingin. Ia menikmati pemandangan pemuda tampan yang kini merendahkan dirinya di hadapannya. Kekuasaan itu terasa begitu nyata dan memuaskan.

Di gudang yang gelap dan sunyi itu, Yudha terus menjilat sol sepatu boot Rambu, menelan rasa pahit dan terhina dalam diam. Tes kepatuhan ini terasa lebih menyakitkan daripada tamparan-tamparan sebelumnya. Bukan hanya fisik, tapi juga mental dan harga dirinya yang hancur berkeping-keping. Dan Rambu, denganAuthority yang ia genggam erat, terus menguji batas kepasrahan Yudha, semakin jauh tersesat dalam labirin kekuasaannya sendiri.

Setelah Yudha selesai menjilati sol sepatu boot Rambu hingga tampak mengkilap di beberapa bagian yang terkena air liurnya, Rambu mengambil sepatu yang satunya.

"Sekarang, sepatu yang ini," katanya sambil melemparkan sepatu boot kedua ke arah Yudha. Sepatu itu mendarat dengan bunyi gedebuk di lantai beton yang dingin.

Yudha meraih sepatu itu dengan tangan gemetar. Bau debu dan keringat dari kaki Rambu menusuk hidungnya. Ia kembali menatap Rambu, mencari sedikit saja tanda belas kasihan di wajah satpam itu, namun yang ia temukan hanyalah tatapan kosong dan tanpa emosi.

"Lakukan yang sama," perintah Rambu datar.

"Ya, mas."

Dengan helaan napas yang berat, Yudha kembali menunduk dan mulai menjilati sol sepatu boot kedua. Rasa mual bercampur dengan rasa terhina semakin kuat. Ia merasa seperti binatang peliharaan yang sedang menjilat kaki tuannya. Setiap gerakan lidahnya terasa begitu menyakitkan bagi harga dirinya.

Rambu hanya berdiri mengawasinya, sesekali menguap kecil tanda bosan. Baginya, ini hanyalah sebuah permainan, sebuah demonstrasi kekuasaan yang membuktikan bahwa Yudha benar-benar berada di bawah kendalinya. Ia tidak melihat air mata yang diam-diam mengalir di pipi Yudha, atau getaran hebat di tubuh pemuda itu. Kekuatan telah membutakannya pada rasa kemanusiaan.

Setelah selesai dengan sepatu kedua, Yudha terkapar lemas di lantai gudang yang dingin. Tubuhnya terasa remuk, dan rasa jijik memenuhi mulutnya. Ia tidak sanggup lagi menatap wajah Rambu.

"Bilang apa?"

"Terima kasih, mas." Yudha mencicit.
"Berdiri," perintah Rambu lagi, suaranya kali ini terdengar sedikit tidak sabar.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Yudha berusaha menegakkan tubuhnya. Ia berdiri terhuyung-huyung, telanjang dan kotor di hadapan Rambu.

"Tes kepatuhan selanjutnya," kata Rambu sambil menyeringai tipis. Ia mengambil kunci kantor dari sakunya dan mengulurkannya kepada Yudha. "Gue mau lo keluar dari gudang ini, telanjang seperti ini, dan lo harus jalan sampai pos satpam di depan. Lo nggak boleh menutupi tubuh lo dengan alasan apapun. Kalau ada yang lihat, itu urusan lo. Mengerti?"

Mata Yudha membelalak kaget. Rasa malu dan ketakutan kembali menyeruak dalam dirinya. Keluar dari gudang dalam keadaan telanjang? Bagaimana jika ada yang melihatnya? Reputasinya, pekerjaannya... semuanya bisa hancur dalam semalam.

"Ta-tapi, Mas..." Yudha mencoba memprotes dengan suara gemetar.

"Mengerti?" Rambu mengulang pertanyaannya dengan nada yang lebih mengancam, matanya menyipit tajam.

Yudha menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu ia tidak punya pilihan lain. Di bawah tatapan dingin Rambu, ia hanya bisa mengangguk lemah.

"Ya, mas, mengerti."

Rambu tersenyum puas. "Bagus. Sekarang pergi."

Dengan langkah berat dan penuh keraguan, Yudha mulai berjalan menuju pintu gudang. Setiap langkah terasa begitu berat dan memalukan. Ia bisa merasakan angin malam yang dingin menerpa kulit telanjangnya. Jantungnya berdebar kencang membayangkan tatapan jijik atau terkejut dari orang-orang yang mungkin melihatnya.

Saat ia membuka pintu gudang dan melangkah keluar ke kegelapan malam, Yudha merasa dirinya benar-benar telah kehilangan segalanya. Harga dirinya, kehormatannya... semuanya telah direnggut oleh permainan keji Rambu. Dan di dalam gudang yang sunyi, Rambu tersenyum dingin, menikmati kendali penuh yang kini ia miliki atas diri Yudha. Tes kepatuhan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Komentar