Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 1: Hello World!

Menjadi seorang fresh graduate di Jakarta itu keras. Saingan ribuan, gaji UMR yang kadang cuma numpang lewat, dan kemacetan yang bisa bikin tua di jalan. Tapi bagi Rafael Winata, atau yang akrab dipanggil Rafa, semua itu belum seberapa dibandingkan dengan ‘bencana’ yang menempel pada dirinya sejak pubertas.

Rafa bukan superhero. Dia juga bukan mutan dari komik Marvel. Dia cuma cowok keturunan Tionghoa berusia 23 tahun dengan wajah yang sering dibilang ‘aset perusahaan’—kulit putih bersih tanpa pori-pori, mata sipit yang ramah, dan tubuh ramping namun padat berisi hasil lari pagi rutin keliling kompleks. Secara visual, Rafa adalah definisi boyfriend material kelas premium.

Masalahnya cuma satu: tangannya.

Lebih tepatnya, kulitnya.

Rafa punya kondisi aneh yang tidak terdaftar di jurnal medis manapun. Jika kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit laki-laki lain yang memiliki ketertarikan sesama jenis (gay atau biseksual), maka laki-laki itu akan mengalami ereksi instan. Keras. Seketika. Tidak peduli situasi, tidak peduli tempat. Menabrak segala norma kesopanan.

Dan kalau sentuhan itu bertahan lebih dari lima detik? Yah, mari kita bilang laki-laki malang itu akan mengalami ‘pelepasan’ tanpa perlu disentuh bagian vitalnya.

Kutukan—atau bakat laknat—ini membuat Rafa hidup seperti buronan. Dia menghindari jabat tangan, selalu memakai kemeja lengan panjang, dan anti naik KRL di jam sibuk. Baginya, mengetahui orientasi seksual orang lain secara paksa itu bukan anugerah, melainkan teror.

"Woy, Raf! Bengong aja lo!"

Lamunan Rafa buyar. Dia tersentak di kursi kerjanya yang nyaman di ruangan IT. Ruangan itu dingin, penuh dengan dengungan server dan aroma kopi sachet. Di depannya, monitor menampilkan barisan coding yang belum selesai dia periksa.

"Kenapa, Mas?" Rafa menoleh, mendapati seniornya, Mas Bayu, melempar gulungan kabel LAN ke mejanya.

"Tuh, si Riko Marketing teriak-teriak lagi. Katanya PC-nya kena santet," Mas Bayu terkekeh sambil menyeruput kopinya. "Lo aja yang turun ya. Gue mau remote server di lantai 5."

Rafa menghela nafas panjang. "Riko lagi? Perasaan baru minggu lalu gue bersihin PC-nya dari malware judi slot."

"Kali ini kayaknya bukan judi, tapi 'lendir'. Biasalah, waktu Indonesia ‘berolahraga’," Mas Bayu mengedipkan mata jenaka.

Rafa mendengus, tapi tetap berdiri. Dia merapikan kemeja birunya, memastikan lengan kemejanya terkancing rapat sampai pergelangan tangan. Dia juga mengecek saku celananya, memastikan sapu tangan selalu ada—senjata utamanya kalau terpaksa harus memegang sesuatu yang baru dipegang orang lain.

"Oke, gue turun. Doain gue nggak ngegeprek kepalanya pakai keyboard."


Lantai Divisi Marketing selalu berisik. Suara telepon berdering, tawa staf yang lagi gosip, dan suara Riko yang paling dominan.

"Nah! Ini dia penyelamat gue! Dokter Rafa!"

Riko, cowok bertubuh gempal dengan kacamata tebal yang selalu melorot, melambai heboh dari kubikelnya. Layar PC-nya menampilkan layar biru kematian alias Blue Screen of Death, tapi Rafa bisa melihat sisa-sisa pop-up iklan wanita berpakaian minim di sudut layar yang belum sempat tertutup sempurna.

"Lo buka apaan lagi sih, Ko?" Rafa bertanya dengan nada datar, tangannya bersedekap di dada. Dia sengaja berdiri agak jauh, menjaga jarak aman sekitar satu meter.

"Sumpah, Raf! Gue cuma mau cari referensi desain poster buat kampanye bulan depan. Terus gue klik link yang dikasih temen, eh malah keluar beginian. PC gue langsung kejang-kejang," Riko membela diri, meski keringat dingin jelas mengalir di pelipisnya.

Rafa memutar bola matanya. "Referensi desain di situs streaming ilegal? Kreatif banget lo."

Tanpa banyak bicara lagi, Rafa mendekat. Dengan hati-hati, dia menarik kursi Riko menggunakan ujung sepatu pantofelnya, lalu duduk. Dia mengeluarkan tisu basah antiseptik dari saku, mengelap mouse dan keyboard bekas tangan Riko yang berminyak (mungkin bekas gorengan, atau entahlah bekas apa, Rafa tidak mau membayangkan), baru mulai bekerja.

Jari-jari lentik Rafa menari lincah di atas keyboard. Wajahnya serius, alisnya sedikit berkerut. Aura geeky tapi ganteng itu membuat beberapa staf marketing wanita di kubikel sebelah curi-curi pandang. Rafa tahu dia sedang diperhatikan, tapi dia tidak peduli. Fokusnya hanya satu: selesaikan ini, lalu kabur kembali ke gua IT.

"Raf, lo wangi banget sih hari ini. Pake parfum apaan?" Riko tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, mendekatkan hidungnya ke bahu Rafa.

"Eits!" Rafa reflek menghindar, badannya membanting ke kiri sampai kursi beroda itu hampir terbalik. Jantungnya berdegup kencang. "Jangan deket-deket, Ko. Gue lagi flu. Nanti lo ketularan."

"Elah, sombong amat. Gue cuma mau nyium dikit," Riko cemberut, lalu tangannya bergerak hendak menepuk pundak Rafa. "Santai aja kali, bro."

Mata Rafa membelalak melihat tangan Riko yang melayang ke arah bahunya. Bahaya. Rafa tidak tahu apakah Riko ini straight murni atau ada belok-beloknya. Kalau Riko ternyata closeted gay dan Rafa tidak sengaja tersentuh... bisa terjadi tragedi ereksi massal di tengah lantai Marketing.

"Stop!" Rafa mengangkat tangannya, menahan gerakan Riko tanpa menyentuhnya. "Udah kelar. PC lo udah bersih. Jangan buka link aneh-aneh lagi atau gue laporin ke HR buat potong gaji."

Rafa berdiri cepat, mengemasi tisu bekasnya, dan buru-buru melangkah pergi sebelum Riko sempat protes atau mencoba menyentuhnya lagi sebagai tanda terima kasih.

"Galak banget sih, si ganteng itu," gumam Riko sambil garuk-garuk kepala, menatap punggung Rafa yang menjauh.


Baru saja Rafa menginjakkan kaki kembali di ruangan IT dan hendak menyalakan Spotify, telepon di mejanya berdering.

"Halo, IT Support, dengan Rafa disini," jawabnya dengan nada profesional yang sudah terlatih.

"Rafa, ini Sarah dari lantai 12. Bisa naik sekarang nggak?"

Suara di seberang sana terdengar renyah, manja, tapi mengandung perintah mutlak. Sarah adalah sekretaris para direksi dan manajer senior. Wanita yang memegang kunci rahasia seluruh kantor. Kalau Sarah menelepon, artinya masalah serius. Atau dia cuma bosan.

"Ada masalah apa ya, Mbak Sarah?"

"Ini lho, printer di ruangan Pak Damar ngadat lagi. Padahal baru beli bulan lalu. Bapak mau nge-print dokumen kontrak penting buat meeting nanti sore. Kamu bisa cekin nggak? Mas Bayu lagi sibuk katanya."

Dug.

Jantung Rafa berhenti sesaat mendengar nama itu.

Pak Damar. Damar Aryasaty.

Senior Manager Operasional yang baru dipindahkan dari cabang Surabaya tiga bulan lalu. Rafa belum pernah bertemu langsung dengannya secara face-to-face. Dia hanya pernah melihat sosok itu dari jauh saat town hall meeting, berdiri di podium dengan wibawa yang membuat satu ruangan hening.

Gosip tentang Damar sudah menyebar bahkan sebelum orangnya datang. Duda keren, dingin, galak, perfeksionis, dan yang paling santer terdengar: 'barang antik' yang dikembalikan mantan istrinya karena dianggap ‘rusak’. Mandul.

"Halo? Rafa? Masih idup kan lo?" suara Sarah menyadarkan Rafa.

"Eh, iya Mbak. Siap. Saya naik sekarang."

Rafa menutup telepon dan menarik napas panjang. Lantai 12 adalah zone danger. Isinya para eksekutif pria dengan setelan mahal. Rafa harus ekstra hati-hati. Dia merapikan rambutnya di pantulan layar monitor yang mati, memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya.

"Oke, Raf. Cuma benerin printer. Masuk, colok, test print, keluar. Jangan nyentuh apapun selain mesin. Jangan nyentuh orangnya. You can do this!"


Lift berdenting halus saat pintu terbuka di lantai 12. Atmosfer disini berbeda total dengan lantai Marketing atau IT. Lantainya dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Udaranya lebih dingin, dan wanginya... wangi uang. Aroma pengharum ruangan mahal bercampur dengan bau kertas baru.

Rafa berjalan menuju meja resepsionis di depan deretan ruangan kaca. Sarah sedang duduk di sana, sibuk meniup kuku-kukunya yang baru saja dipulas kutek warna merah marun.

"Mbak Sarah," sapa Rafa sopan.

Sarah mendongak. Matanya yang tajam menyapu penampilan Rafa dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu tersenyum puas. "Ah, my favorite IT boy. Akhirnya dateng juga. Masuk aja langsung, Raf. Bapak ada di dalem kok."

"Bapak... nggak lagi meeting?" tanya Rafa ragu.

"Enggak, lagi baca laporan doang. Udah sana, kasian beliau udah ngomel-ngomel dari tadi printernya paper jam," Sarah mengibaskan tangannya, mengusir Rafa secara halus.

Rafa mengangguk kaku. Dia berjalan menuju pintu kayu jati besar dengan papan nama perak bertuliskan DAMAR ARYASATY – SENIOR MANAGER.

Tok. Tok.

"Masuk."

Suara itu.

Suara itu menembus pintu kayu yang tebal dan langsung menghantam gendang telinga Rafa. Rendah, berat, dan berwibawa. Jenis suara basso profondo yang bisa membuat lantai bergetar sedikit. Bulu kuduk Rafa meremang. Bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menjalar di tulang belakangnya.

Rafa memutar gagang pintu dan mendorongnya pelan. "Permisi, Pak. Saya dari IT."

Pemandangan di balik pintu itu membuat Rafa terpaku sejenak.

Ruangan itu luas, dengan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta. Sinar matahari sore yang keemasan menembus masuk, menyinari sosok pria yang sedang berdiri di samping meja kerjanya.

Damar Aryasaty sedang tidak duduk di kursi kebesarannya. Dia berdiri, bersandar pinggul di tepi meja kerjanya yang besar, sambil memegang lembaran dokumen.

Yawla, orang ini gede banget!

Itu pikiran pertama yang melintas di otak Rafa yang mendadak short circuit ringan.

Tinggi badannya jelas di atas 180 cm. Kemeja putih kerjanya pas membalut tubuh bagian atas yang lebar dan tebal. Dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dada yang sawo matang dan sekilas bayangan bulu dada yang mengintip malu-malu. Lengan kemejanya digulung asal-asalan sampai siku, dan di sanalah letak kelemahan Rafa: lengan bawah yang kokoh, dihiasi urat-urat menonjol yang maskulin, serta mulia bulu-bulu halus yang terlihat jantan tertimpa sinar matahari.

Damar menoleh. Wajahnya... astaga!

Rafa sering melihat cowok ganteng. Dia sendiri ganteng dari lahir. Tapi Damar berada di level yang berbeda. Dia bukan ‘cantik’ atau ‘imut’. Dia tampan dengan cara yang primitif. Rahang tegas yang ditumbuhi stubble tipis karena mungkin lupa cukur pagi ini, hidung mancung yang kokoh, dan mata elang yang dinaungi alis tebal. Kulitnya gelap eksotis, tipe kulit yang sepertinya sering terbakar matahari tapi justru membuatnya terlihat semakin hot.

"Oh, dari IT ya?" Damar meletakkan dokumennya. Dia menegakkan tubuhnya, dan Rafa merasa ruangan itu mendadak jadi sempit.

"I-iya, Pak," jawab Rafa, suaranya sedikit tercekat. Dia berdehem pelan untuk menormalkan suaranya. "Katanya printer bapak bermasalah?"

"Iya," Damar berjalan mendekat.

Gerakannya tenang, tidak terburu-buru, seperti predator yang tahu mangsanya tidak bisa lari. Aroma maskulin langsung menyergap hidung Rafa saat Damar berhenti dua langkah di depannya. Wangi kayu cendana, sedikit tobacco, dan aroma musk alami tubuh laki-laki dewasa. Wangi yang sopan, tapi memabukkan.

"Tadi saya mau nge-print draft kontrak, tapi bunyinya kretek-kretek terus berhenti. Ada lampu merah kedip-kedip di situ," Damar menunjuk mesin printer besar di sudut ruangan dengan dagunya.

"Boleh saya cek, Pak?" Rafa berusaha setengah mati untuk tidak menatap dada bidang Damar yang kini berada tepat di eye-level matanya.

"Silakan. Maaf ya ngerepotin. Saya gaptek kalau urusan beginian," Damar tersenyum tipis.

Senyum itu. Senyum bapak-bapak ramah yang sialnya justru membuat lutut Rafa lemas. Shit, he's a DILF. A certified DILF.

Rafa buru-buru berjongkok di depan printer, bersyukur bisa menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah memerah. Dia membuka penutup mesin, mencoba fokus pada roller kertas yang macet alih-alih pada sosok pria yang berdiri menjulang di belakangnya.

"Gimana? Parah rusaknya?" tanya Damar.

Rafa bisa merasakan hawa hangat tubuh Damar mendekat. Pria itu ikut membungkuk sedikit, meletakkan satu tangannya di sandaran kursi kerja di sebelah Rafa untuk menumpu berat badan.

"Cuma... cuma paper jam biasa kok, Pak. Kayaknya ada staples yang nyangkut di roller-nya," jawab Rafa sambil merogoh ke dalam mesin dengan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar.

"Hati-hati, tangannya kejepit," suara Damar terdengar begitu dekat di telinga kiri Rafa. Hembusan nafas hangatnya menyapu tengkuk Rafa yang terekspos karena rambut pendeknya.

Rafa menahan napas. Ya Tuhan, dahsyat sekali cobaanmu hari ini!

Dia menarik kertas yang kusut dari dalam mesin, lalu menemukan biang keroknya: sebuah klip kertas kecil yang bengkok.

"Ini, Pak. Udah ketemu," Rafa berdiri sambil menunjukkan klip itu.

Gerakan Rafa terlalu cepat. Dia tidak sadar kalau Damar masih berdiri sangat dekat di belakangnya. Saat Rafa berbalik badan, jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa sentimeter.

Mata Rafa terkunci pada bibir Damar yang tebal dan agak gelap—tanda perokok pasif atau penikmat kopi hitam. Dia bisa melihat pori-pori kulit Damar, tekstur bekas cukuran di dagunya, dan tahi lalat kecil di lehernya yang menggoda.

"Wah, hebat. Cepet banget," puji Damar tulus, matanya menatap mata Rafa. Ada kilatan apresiasi di sana.

Rafa mundur selangkah dengan kikuk, punggungnya menabrak meja printer. "S-sudah tugas saya, Pak."

"Siapa namamu?" tanya Damar. Dia mengulurkan tangan kanannya yang besar. Telapak tangannya terlihat lebar, kasar, dan hangat. Tangan seorang pekerja keras, bukan tangan manajer yang cuma duduk tanda tangan dokumen.

"Rafa, Pak. Rafael."

Rafa menatap tangan yang terulur itu dengan horor.

Ini momen penentuan. Etika kantor mengharuskan dia menjabat tangan atasan. Menolak jabat tangan bisa dianggap tidak sopan, apalagi Damar adalah manajer senior. Tapi...

Kalau Damar straight, aman.

Tapi kalau Damar... sesuatu yang lain?

Kalau Rafa menyentuh kulit itu, dan ternyata Damar punya ketertarikan pada pria, ‘adik’ Damar yang konon katanya mandul itu akan langsung bangun di dalam celana bahan hitam yang ketat itu. Dan Rafa akan menjadi saksi hidup kebangkitan monster itu.

"Rafa?" Damar memiringkan kepalanya, bingung kenapa tangannya dibiarkan menggantung di udara.

Otak Rafa berputar cepat. Pikir, Raf! Pikir secara logika!

"Maaf, Pak!" Rafa menunjukkan kedua telapak tangannya yang kotor terkena tinta hitam dari cartridge printer yang tadi dia betulkan (padahal tintanya cuma sedikit di ujung jari telunjuk). "Tangan saya kotor kena tinta. Takut tangan Bapak kotor nanti."

Damar menarik tangannya kembali, lalu tertawa kecil. Tawa yang berat dan renyah. "Ah, nggak apa-apa. Saya yang lupa kalau kamu habis benerin mesin. Makasih ya, Rafa."

"Sama-sama, Pak. Saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa telepon aja lagi," Rafa membungkuk sedikit, lalu berbalik dan berjalan cepat—hampir setengah berlari—menuju pintu keluar.

"Tunggu, Rafa," panggil Damar.

Rafa membeku di ambang pintu. "Ya, Pak?"

Damar mengambil sebotol hand sanitizer dari mejanya. "Ini. Bersihin dulu tintanya sebelum turun. Nanti nempel di tombol lift."

Dia melemparkan botol kecil itu ke arah Rafa.

Dengan refleks yang terlatih dari hobi badminton di akhir pekan, Rafa menangkap botol itu di udara.

"Makasih, Pak."

Rafa keluar dari ruangan itu dan menutup pintu dengan cepat. Dia bersandar di dinding koridor, dadanya naik turun seolah baru saja lari maraton. Keringat dingin membasahi punggung kemejanya.

Dia menatap botol hand sanitizer di tangannya. Botol bekas pegangan Damar. Masih terasa hangat sisa suhu tubuh pria itu.

Rafa mendekatkan botol itu ke hidungnya. Samar-samar, wangi wood dan tobacco milik Damar masih tertinggal di sana.

"Gila," bisik Rafa pada dirinya sendiri. "Gue bisa mati muda kalau tiap hari harus ke ruangan itu."

Tapi jauh di lubuk hatinya, Rafa tahu satu hal yang menakutkan: Dia ingin masuk ke ruangan itu lagi. Dia ingin tahu... apakah kutukannya akan bekerja pada pria sementereng Damar Aryasaty?

Dan fantasi liar mulai merayap di benak Rafa: Bagaimana jadinya jika pria sesempurna itu bereaksi terhadap sentuhannya? Bagaimana rupa ‘monster’ yang dituduh mandul itu jika terbangun penuh amarah di balik resleting celana mahalnya?

Rafa menggeleng kuat-kuat, berusaha mengusir pikiran kotor itu, lalu melangkah gontai menuju lift.

Hari pertama ‘pertemuan’ sudah selesai. Tapi Rafa punya firasat, ini baru awal dari kekacauan sistem pertahanannya.

Komentar