Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 1: Variabel Tak Diketahui

SMA Negeri 1—atau yang sering kami sebut sebagai ‘penjara berkedok edukasi’—pagi ini terasa lebih berisik dari biasanya. Padahal, matahari baru saja mengintip malu-malu di balik pohon mahoni depan gerbang, tapi level desibel di koridor sudah menyamai pasar kaget hari Minggu.

Aku berjalan dengan langkah terseret, menyampirkan tas punggung yang isinya hanya satu buku catatan dan dua novel yang sudah kubaca ulang lima kali. Hidupku sebagai siswa kelas 12 sebenarnya cukup simpel: datang, duduk, diam, pura-pura paham logaritma, lalu pulang. Aku adalah variabel statis. Tidak menarik, tidak berubah, dan sebisa mungkin tidak ingin ditemukan dalam persamaan mana pun.

“ANJAAAAAS!”

Suara cempreng yang sanggup memecahkan kaca jendela laboratorium itu hanya milik satu orang. Hani. Dia berlari ke arahku dengan rambut kuncir kuda yang bergoyang heboh, disusul Rian yang berjalan santai di belakangnya sambil mengunyah permen karet dengan gaya sok keren.

“Apa?” tanyaku malas saat mereka berdua mencegatku di dekat mading.

“Kamu sudah dengar, kan? Guru matematika baru kita!” Hani mencengkeram bahuku, matanya berbinar seperti habis melihat diskon kosmetik 90%. “Sumpah, Njas! Aku tadi nggak sengaja lewat ruang guru, dan aku lihat dia lagi minum kopi. Demi apa... tangannya pas pegang cangkir itu, urat-uratnya... ahhh! Aku merasa rahimku mendadak melakukan backflip!”

Aku memutar bola mata. “Hani, tolong ya. Ini masih jam tujuh pagi. Simpan fantasi liarmu itu buat nanti jam istirahat.”

Rian terkekeh, menepuk pundakku. “Tapi serius, Njas. Cowok-cowok di kelas sebelah juga sudah mulai panas. Katanya guru baru ini tipe-tipe yang bikin populasi jomblo di sekolah ini makin depresi karena standar cewek-cewek langsung naik setinggi langit.”

“Palingan juga kayak Pak Bambang versi lebih muda sedikit,” gumamku sambil mulai berjalan lagi menuju kelasku di ujung bangunan. “Paling banter juga pakai kacamata tebal, kemeja kegedean, dan bau minyak kayu putih.”

“Oh, kamu salah besar, Anjas sayang,” Hani berbisik dramatis di telingaku. “Dia itu... beda. Kayak keluar dari majalah luar negeri yang sering kamu baca di perpustakaan itu lho. Apa namanya? Fogue? Atau apa lah itu.”

Aku tidak menggubris mereka. Aku terus berjalan menuju kelasku, kelas yang letaknya paling pojok, dekat gudang, tempat para murid yang tidak dianggap biasanya berkumpul. Di sekolah ini, posisi kelas menentukan kasta. Dan kelasku? Kami adalah kasta ‘Ada dan Tiada’.

***

Begitu masuk kelas, suasana di dalam jauh lebih parah. Teman-teman sekelasku, terutama para siswi, sedang sibuk berdandan. Anita di barisan depan bahkan sudah mengeluarkan cermin besar dan mulai memoleskan lip tint yang warnanya merah membara, seolah dia sedang bersiap untuk kencan pertama, bukan pelajaran matematika.

Aku menghela nafas, berjalan menuju kursi paling belakang. Keuntungan duduk sendirian adalah tidak ada yang akan mengomentari wajah bantalmu atau bau keringatmu setelah naik angkot. Aku memasang earphone, memutar lagu indie dengan distorsi gitar yang cukup keras untuk menelan suara tawa genit di sekitarku.

Namun, ketenangan itu terusik saat bel berbunyi.

Suasana mendadak senyap saat pintu kelas terbuka. Kepala Sekolah masuk dengan senyum lebar yang terlihat dipaksakan, disusul oleh seorang laki-laki di belakangnya.

Waktu seolah melambat. Lagu di earphone-ku masih berputar, tapi mataku tidak bisa beralih dari sosok itu.

Laki-laki itu tidak memakai kemeja kegedean. Dia memakai kemeja putih slim-fit yang lengan panjangnya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawah yang... yah, harus kuakui, deskripsi Hani soal urat-urat itu tidak berlebihan. Bahunya lebar, posturnya tegak, dan wajahnya...

Sial.

Dia benar-benar seperti versi lokal dari Pietro Boselli yang pernah kulihat viral di internet. Matanya tajam tapi teduh, rahangnya sekeras pahatan marmer, dan ada aura intelek yang memancar setiap kali dia menggerakkan tubuhnya. Dia tidak tampak seperti guru. Dia tampak seperti seseorang yang seharusnya sedang berada di atas panggung runway di Milan, bukan di depan papan tulis yang penuh noda kapur.

“Selamat pagi, anak-anak,” suara Kepala Sekolah memecah lamunan massal kami. “Sesuai janji Bapak, hari ini kalian akan memulai pelajaran matematika dengan guru baru. Silakan, Pak Ikbal.”

Laki-laki itu melangkah maju. Dia tidak tersenyum berlebihan. Dia hanya mengangguk tipis, sebuah gerakan simpel yang entah mengapa membuat suasana di kelas mendadak terasa lebih panas sepuluh derajat.

“Nama saya Ikbal Bastian. Usia dua puluh tiga tahun,” suaranya berat, jenis bariton yang bisa kamu rasakan getarannya di dada. “Mulai hari ini, saya akan bertanggung jawab atas angka-angka yang biasanya kalian benci. Saya harap kita bisa bekerja sama.”

“Pak! Sudah punya pacar belum?!” Anita berteriak tanpa malu.

Pak Ikbal hanya terkekeh pendek. Suara tawa itu... renyah sekali. “Saya masih single, tapi saya di sini untuk mengajar matematika, bukan mengajar cara mencari pacar.”

Seisi kelas bersorak. Aku hanya bisa terdiam, mencoba menormalkan detak jantungku yang mendadak berantakan. Ada sesuatu tentang caranya berdiri, caranya memandang ruangan ini, yang membuatku merasa... tidak nyaman. Dalam artian yang sangat aneh.

Kepala Sekolah tiba-tiba sudah menghilang, atau aku saja yang tidak sadar dia telah berpamitan sebelumnya. Belum jam delapan dan fokusku sudah berceceran di lantai.

“Karena ini hari pertama,” Pak Ikbal melanjutkan, matanya menyapu seluruh kelas hingga akhirnya berhenti tepat di mataku. Aku tersentak, refleks menunduk. “Saya ingin mengenal kalian satu per satu. Dan karena saya suka memulai sesuatu dari yang paling sulit, kita mulai perkenalan dari barisan paling belakang.”

Deg.

Duniaku runtuh saat itu juga. Semua orang menoleh ke arahku. Ben, si tukang bully yang duduk beberapa meja di depan, menatapku dengan seringai mengejek.

Langkah kaki Pak Ikbal mulai terdengar. Tap. Tap. Tap. Semakin dekat.

Wanginya mulai tercium. Bukan wangi parfum murah yang menyengat, tapi aroma bergamot yang segar bercampur dengan sandalwood yang hangat. Wangi yang sangat... maskulin. Wangi yang menurutku hanya ada di surga.

Dia berhenti tepat di samping mejaku. Aku bisa melihat pantulan diriku di sepatu kulitnya yang mengilat.

“Jadi?” suaranya terdengar sangat dekat di telingaku, membuat bulu kudukku meremang. “Siapa namamu?”

Aku mendongak pelan, berusaha terlihat setenang mungkin meski tanganku di bawah meja sudah gemetar hebat. “Anjas, Pak.”

Dia tidak langsung pergi. Dia justru menumpukan satu tangannya di pinggiran mejaku, menunduk sedikit hingga wajah kami hanya berjarak beberapa jengkal. “Hanya Anjas? Tidak ada nama panjang?”

“Hanya Anjas,” kataku, lebih tegas dari sebelumnya, meski di dalam hati aku sedang menjerit histeris.

Pak Ikbal terdiam sejenak, menatapku dengan cara yang sangat intens, seolah dia sedang memecahkan teka-teki paling rumit di dunia. Lalu, tanpa diduga, tangannya terangkat.

Aku memejamkan mata, mengira dia akan mengambil buku atau melakukan sesuatu yang formal. Tapi sebaliknya, aku merasakan telapak tangannya yang besar dan hangat mendarat di atas kepalaku. Dia mengacak rambutku pelan, sebuah gerakan yang sangat tidak profesional, sangat santai, tapi sanggup membuat seluruh sistem saraf di tubuhku meledak.

“Oke, Anjas. Senang bertemu denganmu,” ucapnya dengan nada yang hanya bisa kudengar.

Dia menarik tangannya, meninggalkan sensasi panas yang menjalar dari ubun-ubunku ke seluruh tubuh. Saat dia berjalan kembali ke depan, aku baru menyadari satu hal.

Inner gay-ku yang selama ini kupikir sudah mati karena bosan dengan hidup, sekarang sedang berdiri dan melakukan tepuk tangan paling meriah di dalam dadaku.

Aku melirik ke arah luar jendela, melihat sepasang cicak yang—untungnya—tidak sedang melakukan hal aneh hari ini. Tapi tetap saja, aku tahu hidupku setelah detik ini tidak akan pernah sama lagi.

Matematika yang tadinya hanya soal angka, kini baru saja berubah menjadi variabel yang sangat berbahaya. Dan variabel itu bernama Pak Ikbal.

***

Cerita sedikit, guys! Ini sebenarnya remake dari tulisan lamaku dengan judul ‘Guruku Tampan Sekali’. Dulu aku posting di akun lamaku (sekarang sudah aku hapus karena dulu aku berniat tobat. He-he). Waktu itu aku pakai nama pena xxminho. Mungkin kalian pembaca sepuh ada yang pernah nemu akunku dulu? (Narsis banget, ya? Wkwkwkwk.)

Sekarang aku mau coba tulis ulang dengan tema dan alur sedikit berbeda.

Mungkin nanti bisa aku sekalian post di sini juga versi originalnya, kalau kalian tertarik. Asal kalian tahan saja membaca tulisan halu anak SMP. Xixixi.

Fun fact : saat itu aku menulisnya tepat saat aku sedang falling in love sama salah satu guru di sekolahku.

Komentar