Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 10: Hasil Akhir

Hari kelulusan adalah parade kepura-puraan. Semua orang memakai toga dengan tawa lebar, berfoto di bawah terik matahari, padahal di dalam hati kami semua tahu bahwa ini adalah hari kematian bagi masa remaja kami yang singkat.

Aku berdiri di tengah kerumunan, memegang ijazah yang masih terasa hangat. Hani dan Rian sudah menghilang entah ke mana, sibuk berfoto dengan keluarga masing-masing. Di saku togaku, amplop biru dari Pak Ikbal terasa sangat berat, seolah isinya bukan sekadar kertas, melainkan seluruh masa depanku.

Aku mencari-cari sosok berkemeja putih itu. Namun, meja di depan kelas sudah kosong. Ruang guru sudah sepi. Pak Ikbal benar-benar sudah pergi lebih awal, sesuai ucapannya.

Aku berjalan menuju taman belakang, duduk di bangku kayu tempat kami biasa mengobrol. Dengan tangan gemetar, aku membuka amplop itu.

Isinya adalah sebuah kartu pos dari Milan dengan gambar katedral tua yang indah. Di baliknya, ada tulisan tangan yang sangat rapi—tulisan yang biasanya mengoreksi angka-angka burukku.

“Anjas, nilai mutlak adalah tentang kejujuran pada diri sendiri. Saya sudah jujur pada perasaan saya, dan itulah alasan saya harus pergi. Karena jika saya tetap di sana, saya hanya akan menghambat langkahmu untuk menjadi dewasa.

Kejar duniamu. Jadilah apapun yang kamu inginkan. Dan jika suatu saat garis hidup kita bersinggungan lagi di titik yang tepat—saat kamu bukan lagi variabel di bawah lindungan saya—mari kita selesaikan persamaan yang tertunda ini.

I’ll be waiting at the intersection. - Ikbal.”

Di bawah tulisan itu, terdapat sebuah alamat kantor di Jakarta dan satu nomor telepon.

Aku menangis sesenggukan di bawah pohon mahoni, membiarkan air mata jatuh di atas kartu pos itu. Manis, tapi rasanya sangat perih. Dia memberiku kebebasan, tapi dia juga menanamkan benih harapan yang membuatku tidak akan pernah bisa melihat laki-laki lain dengan cara yang sama.

***

Lima Tahun Kemudian.

Stasiun kereta Jakarta sore itu sangat padat. Aku berdiri di sana dengan kemeja flanel dan tas laptop, baru saja pulang dari kantor baruku sebagai analis data. Ya, aku benar-benar jatuh cinta pada matematika berkat dia.

Aku melirik jam tangan perak di pergelangan tanganku—hadiah fountain pen itu sudah kupensiunkan di meja kerja, digantikan oleh jam tangan ini. Aku menarik nafas panjang, menatap papan keberangkatan.

Tiba-tiba, indra penciumanku menangkap sesuatu.

Aroma bergamot. Aroma sandalwood.

Wangi yang tidak pernah berubah selama lima tahun. Wangi yang sudah terkunci di dalam laci memoriku yang paling dalam.

Aku membeku. Seluruh sistem sarafku bereaksi lebih cepat daripada logikaku. Aku menoleh perlahan ke arah pintu keluar stasiun. Di sana, di antara kerumunan manusia yang terburu-buru, seorang laki-laki berdiri tegak.

Dia memakai setelan jas hitam yang sangat sempurna. Rambutnya sedikit lebih panjang, wajahnya lebih matang, tapi tatapan matanya... tatapan yang sama yang menatapku di barisan belakang kelas 12.

Dia tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana, menatapku dari kejauhan dengan senyum tipis yang sangat familier. Senyum yang seolah berkata, “Akhirnya kamu sampai di titik temu ini.”

Aku terdiam, kaki ku terpaku di lantai stasiun. Ada celah kecil di depanku. Sebuah pilihan. Aku bisa saja terus berjalan menuju kereta dan menganggap ini hanya bayangan masa lalu. Atau, aku bisa melangkah ke arahnya dan menyelesaikan persamaan yang sudah tertunda selama lima tahun.

Pak Ikbal—tidak, Ikbal—mengangkat tangannya. Bukan untuk mengacak rambutku kali ini. Dia hanya membuka telapak tangannya, menungguku untuk datang.

Air mataku jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena sedih. Aku mengambil langkah pertama. Lalu kedua. Lalu aku berlari.

Dunia mungkin punya banyak variabel yang tidak pasti, tapi sore ini, di bawah langit Jakarta yang mendung, aku tahu satu hal dengan pasti:

Hasil akhir dari pencarianku... ada di genggaman tangannya.

Komentar