Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 2: Persamaan yang Membingungkan

Seminggu sejak insiden acak rambut itu, hidupku resmi berubah jadi neraka yang wangi sandalwood.

Aku sudah mencoba segala cara untuk kembali menjadi manusia kasat mata. Aku datang lebih pagi, pulang lebih telat, bahkan aku mencoba menumpuk buku-buku paket setinggi mungkin di atas meja supaya wajahku tersembunyi. Tapi masalahnya, Pak Ikbal itu seperti radar pencari panas. Setinggi apa pun benteng buku yang kubangun, matanya selalu berhasil menemukan celah untuk menatapku.

“Anjas,” suaranya memotong keheningan kelas yang sedang fokus mengerjakan soal turunan.

Aku tersentak, pulpenku tergelincir dan mencoret kertas ujian dengan garis hitam panjang yang jelek. Aku tidak mendongak, tapi aku tahu dia sedang berjalan ke arahku. Sial.

“Ya, Pak?” sahutku tetap menunduk, pura-pura sangat sibuk menghitung 2 + 2.

“Kamu salah di langkah ketiga,” katanya. Dia sekarang sudah berdiri tepat di belakangku. Aku bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya yang hanya berjarak beberapa senti. “Fungsinya harus diturunkan dulu, bukan langsung disubstitusi. Sini, Bapak tunjukkan.”

Sebelum aku sempat protes, dia membungkuk. Satu tangannya bertumpu di sandaran kursiku, mengurungku dalam ruang sempit yang tiba-tiba saja kekurangan oksigen. Tangannya yang lain meraih pulpen dari jemariku yang kaku.

Sentuhan itu singkat, hanya gesekan antara kulit jari telunjuknya dan punggung tanganku, tapi rasanya seperti aku baru saja memegang kabel listrik tegangan tinggi yang sedang korsleting.

“Lihat ini,” bisiknya. Suaranya rendah, bergetar di dekat leherku. Aku bisa mencium aroma kopinya yang pahit bercampur dengan wangi maskulin yang sudah mulai menghantuiku setiap malam. “Jangan terlalu tegang. Matematika itu seperti perasaan, Anjas. Kalau kamu terlalu memaksa, hasilnya pasti tidak logis.”

Aku hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Perasaan? Sejak kapan guru matematika bahas perasaan di tengah soal turunan?

Begitu dia menjauh, aku langsung menghirup napas sebanyak-banyaknya seolah baru saja selamat dari tenggelam. Di barisan depan, Anita menoleh ke arahku dengan tatapan iri yang bisa membunuh, sementara Ben menatapku dengan mata menyipit penuh kebencian. Aku tahu, setelah ini aku pasti bakal kena masalah.

***

“Sumpah demi apa pun, Njas! Kamu harus jujur sama aku!”

Hani menggebrak meja kantin tepat saat aku baru saja menyuap bakso pertamaku. Rian di sebelahnya hanya menggeleng-geleng sambil menyeruput es teh.

“Apaan sih, Han?” tanyaku sambil mengunyah dengan malas.

“Pak Ikbal! Dia itu jelas-jelas punya preferensi!” Hani berbisik dengan nada yang sangat tidak berbisik. “Tadi pas mau ke toilet, aku gak sengaja ngintip kelas kamu dan lihat dia nunduk di kursimu. Posisi kalian itu... oh my god! Itu namanya posisi kabedon versi duduk! Aku hampir saja pingsan di tempat!”

“Dia cuma benerin soal matematika, Han. Jangan mulai deh,” belaku, meski wajahku mulai terasa panas.

“Benerin soal matematika nggak perlu sampai nempel kayak perangko, Njas,” Rian menimpali, kali ini wajahnya serius. “Benar kata Hani, Pak Ikbal itu kayaknya lebih sering patroli di meja belakang daripada di depan. Padahal si Anita di depan sudah sampai buka kancing kemeja satu biji biar dapet perhatian, tapi dicuekin.”

“Mungkin karena aku paling bego di kelas,” jawabku asal.

“Atau mungkin karena kamu adalah muse-nya!” Hani memekik girang. “Njas, dengerin aku. Sebagai pakar hubungan antar-lelaki, aku bisa mencium bau-bau... Ereksi Hati. Pak Ikbal itu punya aura dominan, dan kamu itu... kamu itu tipe submissive yang minta diacak-acak rambutnya!”

“HANI! JAGA MULUTMU!” aku berteriak, membuat seisi kantin menoleh.

Hani tertawa puas, sementara aku hanya bisa menyembunyikan wajah di balik mangkok bakso. Aku benci fakta bahwa apa yang Hani katakan—meski dengan bahasa yang sangat absurd—mulai terasa masuk akal di kepalaku.

***

Pulang sekolah, hujan turun dengan derasnya. Tipe hujan yang membuatmu ingin tidur di bawah selimut, bukan berdiri di depan gerbang sekolah menunggu angkot yang tidak kunjung lewat.

Aku berdiri sendirian di bawah kanopi sekolah yang bocor di beberapa titik. Rian dan Hani sudah pulang duluan karena mereka dijemput. Sialan memang punya teman yang kaya.

Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depanku. Kaca jendelanya turun perlahan, menampakkan sosok yang paling ingin kuhindari hari ini. Pak Ikbal. Dia tidak pakai kacamata sekarang, rambutnya sedikit berantakan, membuatnya terlihat lima tahun lebih muda.

“Belum pulang, Anjas?” tanya Pak Ikbal.

“Belum, Pak. Lagi nunggu angkot.”

“Angkot tidak akan lewat di jam begini saat hujan deras. Banjir di depan,” katanya sambil membuka kunci pintu mobil. “Masuklah. Bapak antar.”

“Eh, nggak usah Pak! Saya... saya suka hujan-hujanan kok!” jawabku panik. Bohong banget.
Pak Ikbal menaikkan sebelah alisnya, menatap seragamku yang mulai lembab. “Jangan membantah guru, Anjas. Secara probabilitas, kamu akan sakit sebelum sampai rumah. Masuk sekarang.”

Nada bicaranya tidak menerima penolakan. Dengan kaki gemetar dan jantung yang berdegup melampaui batas wajar, aku membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang.

Interior mobilnya sangat rapi. Wanginya sama persis dengan wangi tubuhnya, tapi kali ini lebih pekat karena ruangannya tertutup. Pak Ikbal menjalankan mobilnya dengan tenang. Tidak ada suara radio, hanya suara rintik hujan yang menghantam atap mobil.

“Anjas,” dia memanggil namaku tanpa melepaskan pandangan dari jalanan.

“Ya, Pak?”

“Kenapa kamu selalu terlihat takut kalau saya mendekat?”

Pertanyaan itu telak menghantam ulu hatiku. Aku meremas tali tasku. “Saya nggak takut, Pak. Cuma... saya memang nggak suka jadi pusat perhatian.”

Pak Ikbal tersenyum tipis. Sangat tipis. “Kamu tahu? Di dalam matematika, ada yang namanya titik fokus. Meskipun letaknya tersembunyi atau di paling belakang, titik itulah yang menentukan arah kurva.”

Dia menoleh sekilas ke arahku, menatapku tepat di mata saat mobil berhenti di lampu merah. “Jangan mencoba bersembunyi dari saya. Karena sejauh apa pun kamu mundur ke belakang kelas, saya akan selalu menemukan kamu.”

Aku bersumpah, di detik itu, aku mendengar suara pertahanan jati diriku runtuh seperti bangunan tua yang diterjang gempa.
War is over. I'm dead.


Komentar