Sudah dua minggu berlalu sejak insiden ‘tangan kena tinta’ di ruangan Damar.
Bagi Rafa, dua minggu ini adalah misi stealth mode. Setiap kali ada tiket permintaan bantuan IT dari lantai 12, Rafa akan melakukan segala cara untuk menghindar. Dia akan pura-pura sakit perut, pura-pura sedang sibuk crimping kabel LAN di gudang berdebu, atau bahkan menyogok Mas Bayu dengan nasi padang komplit lauk tunjang supaya seniornya itu yang naik ke atas.
"Lo kenapa sih, Raf? Musuhan sama orang lantai 12?" tanya Mas Bayu suatu siang, mulutnya penuh nasi dan kuah gulai. "Padahal Pak Damar orangnya enak lho. Nggak cerewet. Cuma ya... mukanya emang agak serem kalau diem."
"Bukan musuhan, Mas. Cuma... segan aja. Aura bapak-bapak di sana berat banget," kilah Rafa sambil mengaduk es teh manisnya dengan gelisah.
Rafa tidak bisa bilang alasan sebenarnya: Bahwa setiap malam, sebelum tidur, bayangan lengan berurat dan suara ngebass Damar menghantuinya. Rafa takut. Takut kalau dia kembali ke ruangan itu, pertahanannya akan runtuh. Dia takut tangannya ‘gatal’ ingin menyentuh, dan boom—selamat datang skandal pelecehan seksual dan pemecatan tidak hormat.
Tapi, takdir—dan Mbak Sarah—punya rencana lain.
"Rafa! Sini deh bentar!"
Suara Mbak Sarah memanggil dari arah pantry lantai 12 saat Rafa kebetulan sedang mengecek mesin kopi otomatis yang rusak (tugas yang sebenarnya di luar job desk IT, tapi karena Rafa bisa segalanya, dia jadi tumbal).
Rafa menoleh waspada. Mbak Sarah sedang berdiri sambil memegang mug keramik cantik, matanya menyipit penuh selidik.
"Kenapa, Mbak?"
"Kamu tuh dicariin Pak Damar tahu nggak," bisik Sarah, suaranya sengaja direndahkan tapi nadanya penuh antusiasme gosip.
"Hah? Dicariin kenapa? Printernya rusak lagi?" Rafa merasa darahnya surut dari wajah.
Sarah menggeleng, senyum misterius terukir di bibir merahnya. "Enggak. Kemarin Mas Bayu yang naik benerin proyektor. Terus Pak Damar nanya, 'Si Rafa mana? Kok nggak kelihatan?' Gitu katanya."
Sarah maju selangkah, menyudutkan Rafa ke meja pantry. "Jujur sama Mbak. Kamu bikin salah apa? Atau... kamu bikin kesan apa sampai Pak Bos yang biasanya dingin itu nanyain staff magang kayak kamu?"
"Nggak bikin apa-apa, Mbak! Sumpah!" Rafa mengangkat dua jari membentuk huruf V. "Saya cuma benerin printer sekali doang."
"Hmm... mencurigakan," Sarah mengetuk-ngetuk dagunya. "Soalnya Pak Damar itu jarang peduli siapa yang ngerjain teknisnya. Asal beres ya udah. Tapi ini dia nanyain nama. Specific person."
Sebelum Rafa sempat membela diri lagi, pintu pantry terbuka.
Dan masuklah sang objek pembicaraan.
Damar Aryasaty melangkah masuk membawa gelas kopi kosongnya. Dia mengenakan kemeja biru dongker yang pas badan hari ini, membuat kulit sawo matangnya terlihat semakin menyala. Jasnya sudah dilepas, disampirkan di lengan kiri, sementara dasinya sudah longgar di leher.
Rafa merasa oksigen di pantry yang sempit itu tersedot habis.
"Eh, Pak Damar," sapa Sarah dengan nada manis yang berubah 180 derajat.
Damar mengangguk sopan pada Sarah, lalu matanya menangkap sosok Rafa yang berdiri kaku di pojok dekat kulkas. Mata elang itu melebar sedikit, ada kilatan yang sulit diartikan di sana. Kaget? Senang? Tertarik?
"Rafa," sapa Damar. Suaranya mengisi ruangan kecil itu dengan resonansi yang berat.
"Si-siang, Pak," jawab Rafa, menunduk sedikit, matanya terpaku pada sepatu kulit Damar yang mengkilap.
"Lama nggak kelihatan. Bayu terus yang naik akhir-akhir ini," ujar Damar sambil berjalan menuju dispenser air panas. Dia berdiri di sebelah Rafa.
Jaraknya terlalu dekat.
Rafa bisa mencium wanginya lagi. Kali ini bukan cuma wangi parfum mahal, tapi ada sedikit bau keringat samar—bau feromon laki-laki alpha yang lelah bekerja setengah hari. Dan sialnya, bagi Rafa, bau itu jauh lebih menggairahkan daripada parfum manapun.
"Iya, Pak. Mas Bayu... lagi rajin," jawab Rafa asal, otaknya blank.
Damar menuangkan air panas ke gelasnya, lalu menoleh ke Rafa. "Kebetulan kamu di sini. Laptop saya agak aneh dari kemarin. Touchpad-nya sering nggak respon. Bisa tolong cek sebentar di ruangan saya?"
Rafa menelan ludah. Ini dia. Jebakan batman.
"Sekarang, Pak?"
"Kalau kamu nggak sibuk," Damar menatapnya lurus. Ada sedikit keraguan di mata pria dewasa itu. Seolah dia takut ditolak. "Saya traktir makan siang deh kalau bisa benerin."
Sarah di belakang Damar melotot ke arah Rafa sambil memberi kode 'Iya-in bego!' tanpa suara.
"Bisa, Pak. Bisa banget," jawab Rafa pasrah.
Kembali ke ruangan itu. Ruangan yang menjadi ground zero dari segala fantasi terliar Rafa dua minggu ini.
Damar duduk di kursi kerjanya yang besar, sementara Rafa berdiri di sampingnya, membungkuk sedikit untuk memeriksa laptop yang ada di meja.
Posisi ini sangat menyiksa.
Damar tidak pindah tempat. Dia tetap duduk di kursinya, memutar kursi itu sedikit menghadap Rafa. Akibatnya, paha Damar yang tebal terbungkus celana bahan hanya berjarak beberapa inci dari kaki Rafa. Dan wajah Rafa sejajar dengan dada Damar saat dia membungkuk.
"Gimana? Rusak hardware-nya kah?" tanya Damar.
Rafa mencoba fokus ke layar. Kursornya memang bergerak patah-patah. "Kayaknya driver-nya perlu di-update, Pak. Atau sensitivitasnya keubah. Sebentar saya cek setting-nya."
Tangan Rafa bergerak di atas touchpad. Dia sangat berhati-hati agar sikunya tidak menyenggol lengan Damar yang diletakkan di sandaran tangan kursi.
Suasana hening. Hanya terdengar suara AC dan detak jam dinding. Rafa bisa merasakan tatapan Damar yang tidak lepas darinya. Tatapan itu terasa panas di kulit pipi Rafa.
"Rafa," panggil Damar pelan.
"Ya, Pak?" Rafa menoleh sedikit, masih tidak berani kontak mata lama-lama.
"Saya... ada salah ngomong ya waktu itu?"
Pertanyaan itu membuat jari Rafa berhenti bergerak. Dia menoleh sepenuhnya sekarang, kaget. Wajah Damar terlihat serius, ada guratan gelisah di keningnya.
"Maksud Bapak?"
Damar menghela napas, tangannya memainkan pulpen di meja. Gestur kecil yang menunjukkan kegugupan. "Kamu kayaknya... menghindar dari saya. Tiap saya panggil IT, selalu Bayu yang datang. Pas ketemu di lift minggu lalu, kamu pura-pura main HP."
Rafa ternganga. Ternyata si Bapak notice!
"Saya pikir mungkin saya terlalu galak, atau... ya, orang tua kayak saya mungkin ngebosenin atau bikin nggak nyaman anak muda kayak kamu," lanjut Damar dengan senyum kecut. "Apalagi denger gosip-gosip nggak enak tentang saya di kantor."
Hati Rafa mencelos. Oh my God. Pria maskulin segede kulkas dua pintu ini insecure? Dia pikir Rafa menghindar karena dia tua dan membosankan? Padahal Rafa menghindar karena takut menerkamnya!
Rawr.
"Bukan, Pak! Bukan gitu!" Rafa spontan menyangkal, suaranya agak naik satu oktaf.
Damar menatapnya, menunggu penjelasan.
"Saya... saya nggak pernah dengerin gosip kok," dusta Rafa demi perdamaian dan ketertiban dunia. "Dan Bapak nggak ngebosenin. Bapak... keren. Berwibawa."
Muka Rafa memanas setelah mengucapkan kata-kata itu. Cheesy banget bjir.
Tapi efeknya instan. Wajah Damar cerah seketika. Senyumnya melebar, menampilkan deretan gigi yang rapi. Mata elangnya menyipit senang.
"Syukurlah kalau gitu," kata Damar, nadanya terdengar lega luar biasa. "Saya kira saya udah jadi public enemy buat anak-anak magang."
Damar tertawa kecil, lalu tanpa peringatan, dia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat ke arah laptop—dan ke arah Rafa—untuk melihat layar.
"Jadi ini masalahnya di mana?" tunjuk Damar ke layar.
Jarak mereka nol. Bahu kekar Damar menempel telak di lengan atas Rafa.
Srett.
Dunia Rafa berhenti berputar.
Sentuhan kulit. Meskipun terhalang kemeja Rafa yang tipis, panas tubuh Damar menembus masuk. Dan sialnya, lengan kemeja Damar yang digulung membuat kulit lengan bawahnya yang berbulu halus itu bergesekan langsung dengan punggung tangan Rafa yang sedang memegang mouse.
Satu detik.
Dua detik.
Rafa merasakan sensasi setrum menjalar dari punggung tangannya ke seluruh tubuh.
Sementara itu, di bawah sana, di balik celana bahan Damar yang ketat... sesuatu terjadi.
Damar tiba-tiba berhenti bicara. Tubuhnya menegang. Dia merasakan aliran darah yang tidak wajar, deras, ke selangkangannya. Cepat. Agresif. Tanpa ada pemicu visual porno, tanpa ada pikiran kotor. Hanya karena lengannya bersentuhan dengan tangan anak IT ini.
Itu bukan ereksi biasa. Itu adalah raging boner. ‘Adik berbulunya’ yang selama ini tidur nyenyak, tiba-tiba bangun dengan amarah penuh, berdenyut keras, menuntut ruang di celana dalamnya yang mendadak terasa sempit.
Tiga detik.
Empat detik.
Wajah Damar berubah merah padam. Dia bingung, panik, dan malu setengah mati. Kenapa ini? Kenapa sekarang saat sedang di kantor? Kenapa sama cowok lucu nan menggemaskan ini?
Rafa, yang sadar hitungan mundurnya hampir habis, langsung menarik tangannya secepat kilat seperti tersengat listrik.
"S-sudah beres, Pak!" seru Rafa panik. Dia mundur dua langkah besar sampai punggungnya menabrak lemari arsip.
Damar masih terpaku di kursinya, satu tangannya reflek menutupi area selangkangannya di bawah meja. Nafasnya sedikit memburu. Matanya menatap Rafa dengan campuran kebingungan dan... hasrat yang asing dan tidak masuk logika.
"Ka-kamu... udah?" tanya Damar, suaranya terdengar parau dan jauh lebih berat dari biasanya.
Rafa melihatnya. Rafa melihat jakun Damar naik turun. Dia melihat butiran keringat muncul di pelipis pria itu. Dan meskipun terhalang meja, Rafa tahu kutukannya bekerja.
Ini bencana! Damar Aryasaty, duda keren idaman kantor, ternyata bereaksi terhadap laki-laki.
"U-udah, Pak. Saya permisi dulu. Masih ada kerjaan di bawah!" Rafa tidak menunggu jawaban. Dia berbalik dan kabur dari ruangan itu, meninggalkan Damar yang masih bergulat dengan ‘masalah’ hardware di bawah meja kerjanya.
Begitu pintu tertutup, Damar menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, mengerang frustrasi. Di bawah sana, ‘si jantan’ miliknya masih berdiri tegak, berkedut-kedut nyeri minta dibebaskan.
"Gila..." desis Damar pelan, menatap tangannya yang tadi bersentuhan dengan Rafa. "Gue kenapa?"
Dan yang lebih parah, Damar sadar satu hal: Dia tidak jijik. Dia justru merasa... hidup kembali.
Komentar
Posting Komentar