Hujan di Dago Atas turun lebih lebat malam itu, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti deretan pohon pinus. Rudi Wijaya mengemudikan motor tuanya dengan tangan yang masih gemetar. Di dalam tas olahraganya, bukan lagi perlengkapan gym yang ia bawa, melainkan rasa takut yang mencekik. Ia tiba di sebuah gudang tua milik keluarga Andi—sebuah bangunan industrial yang tersembunyi di balik rimbunnya semak belukar, jauh dari pemukiman.
Baru saja ia melangkah masuk, suara besi yang bergeser menutup di belakangnya terdengar seperti vonis mati. Ruangan itu luas, dingin, dan hanya diterangi oleh beberapa lampu sorot yang dipasang di pilar beton. Di tengah ruangan, Andi sudah menunggu di atas sofa kulit bekas, ditemani Rian, Dika, dan satu sosok baru yang membuat nyali Rudi makin menciut: Fajar. Pria itu tingginya melampaui Rudi, seorang powerlifter dengan badan yang sangat lebar dan tatapan yang buas.
"Tepat waktu, Mas Rudi. Aku suka disiplin militermu," sapa Andi dengan nada meremehkan. "Lepas semua pakaianmu. Taruh di pojokan. Aku mau lihat rongsokanmu itu di bawah lampu terang."
Rudi berdiri mematung di tengah ruangan. Di bawah tatapan empat pasang mata yang lapar akan dominasi, ia mulai menanggalkan kaus ketatnya, memperlihatkan dada bidang yang lebar dan otot latissimus yang membentuk huruf V sempurna. Namun, saat ia menurunkan celananya, udara dingin gudang langsung menusuk kulitnya yang telanjang bulat. Kontol raksasanya yang sepanjang 20 cm itu menggantung pasrah, sebuah pemandangan yang kontras dengan otot paha dan betisnya yang kokoh.
"Lihat itu, Jar. Gede banget, kan? Tapi nggak bisa berdiri. Kayak punya meriam tapi sumbunya basah," ejek Dika sambil mendekat.
Fajar maju, langkah kakinya terasa berat. Ia memutari tubuh Rudi seolah sedang memeriksa ternak. Tangan besarnya yang kasar mencengkeram bokong Rudi yang keras karena otot, lalu dengan kasar menarik kontol lemas Rudi ke depan. "Gila, tebel banget. Sayang cuma jadi sampah. Sini, berlutut!"
Fajar tidak meminta, ia menekan kepala Rudi ke bawah hingga lutut pria berotot itu menghantam lantai beton yang kasar. Sesi malam itu dimulai dengan verbal humiliation yang panjang. Mereka berdiri mengelilingi Rudi yang telanjang, melontarkan kata-kata kotor tentang kegagalannya sebagai laki-laki, tentang bagaimana istrinya pasti meninggal dalam keadaan tidak puas karena memiliki suami impoten.
"Ayo, Rian. Mulai mainannya. Aku mau dengar dia merintih," perintah Andi.
Rian mengeluarkan sebuah tas kecil berisi peralatan CBT. Ia mulai memasang cincin besi yang dingin pada pangkal kontol Rudi. Karena alat vital Rudi sangat besar meski lemas, Rian harus memaksanya masuk dengan kasar, membuat kulit sensitif Rudi terjepit. Tidak berhenti di situ, Rian mengambil sebuah penggaris kayu tebal.
PLAK!
Suara hantaman kayu pada daging lemas itu menggema di gudang. Rudi tersentak, tubuhnya menegang hebat, urat-urat di lehernya menonjol menahan perih.
"Diem! Jangan gerak, Mas. Makin kamu tegang, makin asik kita pukul," ancam Rian. Ia mulai memukul batang dan buah zakar Rudi secara ritmis. Rudi hanya bisa mengerang, kepalanya menunduk dalam, keringat dingin mulai membanjiri tubuh gym-rat-nya. Setiap pukulan membuat alat vitalnya yang panjang itu terayun-ayun menyedihkan. Dika ikut bergabung, ia menggunakan jarinya untuk menjepit ujung kemaluan Rudi dengan kencang, memutar-mutarnya seolah sedang mencoba menghidupkan mesin yang sudah mati.
"Aduh, masih lemas aja ya? Padahal sudah dipukul sampai merah begini," ejek Dika.
Setelah puas menyiksa bagian depan, Andi memberi isyarat pada Fajar. "Jar, giliranmu. Tunjukkan pada instruktur kita ini gimana rasanya dipakai sama laki-laki yang benar-benar berfungsi."
Rudi dipaksa merangkak dalam posisi tabletop. Fajar berdiri di belakangnya. Perbedaan ukuran mereka membuat Rudi terlihat kecil untuk pertama kalinya. Fajar melumuri tangannya dengan pelumas murahan, lalu tanpa peringatan, ia menusukkan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang anal Rudi yang masih sangat rapat.
"Aaakh!" Rudi berteriak, wajahnya mencium beton dingin.
"Sstt... jangan berisik, Mas Purnawirawan. Nikmati aja penghinaan ini," bisik Andi yang kini duduk tepat di depan wajah Rudi, memaksa Rudi untuk melihat bagaimana Andi mempermainkan dirinya sendiri.
Fajar tidak memberikan waktu untuk adaptasi. Ia segera mengeluarkan kejantanannya yang keras dan besar, lalu menghujamkan dirinya masuk ke dalam tubuh Rudi. Rasa sakit yang luar biasa membuat otot-otot punggung Rudi berkedut hebat. Fajar memegang pinggul Rudi dengan cengkeraman yang meninggalkan bekas memar biru, lalu mulai melakukan hentakan-hentakan kasar yang tak kenal ampun.
Setiap kali tubuh besar Rudi terdorong ke depan akibat tujahan Fajar, kontol 20 cm-nya yang lemas itu terpukul-pukul ke lantai beton, menambah rasa perih dan malu yang tak terhingga. Rian dan Dika tidak tinggal diam; mereka berdiri di sisi kiri dan kanan Rudi, bergantian menampar wajah dan dada Rudi, memastikan pria itu tidak sedetik pun merasa nyaman.
"Lihat mukanya! Tentara kita jadi budak!" teriak Dika sambil tertawa puas.
Sesi itu berlangsung sangat lama. Fajar tidak berhenti sampai ia benar-benar merasa puas. Ia mengaduk-aduk isi perut Rudi dengan kasar hingga Rudi merasa ingin pingsan. Akhirnya, dengan satu tujahan terakhir yang sangat dalam, Fajar mengerang keras dan mengeluarkan seluruh cairannya ke dalam tubuh Rudi.
Rudi ambruk, nafasnya tersengal-sengal di lantai gudang yang kotor. Tapi mereka belum selesai. Andi berdiri, mendekati Rudi yang sudah tak berdaya. Ia menarik rambut Rudi agar pria itu mendongak.
"Belum selesai, Mas. Kamu belum bersih. Sini," ucap Andi.
Andi memaksa Rudi untuk membersihkan badan Fajar menggunakan mulutnya, sebuah tindakan submisif yang menghancurkan sisa-sisa harga diri Rudi. Setelah itu, Andi kembali melakukan aksi watersports-nya, kali ini ia mengarahkan air seninya tepat ke arah lubang belakang Rudi yang masih terbuka dan lebam, membiarkan cairan hangat itu bercampur dengan sisa-sisa kekejaman Fajar.
"Besok kita lanjut lagi. Aku punya ide buat mendandani kamu sedikit lebih cantik, Mas," kata Andi sambil menyeka tangannya. "Pakai bajumu, dan ingat, jangan telat latihan besok pagi di gym. Kami mau lihat kamu melayani klien dengan lubang yang perih."
Mereka meninggalkan Rudi sendirian di tengah gudang yang gelap. Rudi mencoba berdiri, namun kakinya lemas. Ia merasakan cairan-cairan itu mengalir turun di pahanya yang berotot. Ia menatap kontol besarnya yang masih menggantung diam, membenci kenyataan bahwa tubuh sekuat ini kini hanyalah sebuah wadah pembuangan bagi Andi dan kelompoknya.
Komentar
Posting Komentar