Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 3: Gangguan Dari Luar

Duniaku mungkin sudah runtuh di dalam mobil Pak Ikbal kemarin, tapi dunia nyata di SMA Negeri 1 tetap berjalan dengan segala kebrengsekannya.

Ada satu hukum tidak tertulis di sekolah ini: Jangan pernah menjadi berbeda. Dan sialnya, dijemput oleh guru paling tampan se-provinsi saat hujan badai adalah definisi dari ‘sangat berbeda’. Aku yakin ada mata-mata yang melihatku masuk ke SUV hitam itu kemarin, dan hari ini, aku harus membayar harganya.

"Woi, anak emas!"

Aku baru saja hendak meletakkan tasku di meja saat sebuah tendangan menghantam kaki kursiku hingga bergeser kasar. Ben berdiri di sana, dikelilingi dua kroconya yang tertawa hambar. Ben ini tipe cowok yang merasa ganteng karena punya motor ninja dan rajin ke gym, tapi otaknya mungkin seukuran kuaci yang sudah kadaluarsa.

"Apaan sih, Ben? Masih pagi," gumamku, mencoba mengabaikannya.

"Gaya lo selangit sekarang ya, Njas? Mentang-mentang sering dapet 'privat' sama guru baru itu," Ben mencondongkan tubuhnya, tangannya mencengkeram pinggiran mejaku. "Lo ngasih apaan ke Pak Ikbal sampe dia sebegitunya sama lo? Lo jual diri? Kasih paha lo?"

Darahku mendidih. Aku ingin membalas, tapi lidahku kelu. Sinisme yang biasanya jadi senjataku mendadak macet saat berhadapan dengan agresi fisik seperti ini.

"Anjas itu pinter, Ben. Nggak kayak lo yang mindahin jawaban aja salah," sebuah suara menyelamatkanku. Rian, yang kebetulan lewat, berdiri di ambang pintu, menatap Ben dengan tatapan menantang.

"Pinter atau... 'pinter' di tempat lain?" Ben tertawa sinis, lalu dengan sengaja dia menyenggol tumpukan buku di mejaku hingga berserakan di lantai. "Hati-hati, Njas. Guru modelan gitu biasanya cuma mau main-main. Jangan sampe lo baper terus nangis di pojokan."

Mereka pergi sambil tertawa-tawa. Aku berlutut untuk memunguti bukuku, merasakan dadaku sesak bukan karena takut, tapi karena merasa sangat kecil.

***

Kejadian di kelas tadi hanya pembuka. Puncaknya terjadi di kantin.

Hani sedang sibuk menceritakan teori barunya tentang ‘Tatapan Mata Predatory’ Pak Ikbal saat Ben dan kawan-kawannya lewat membawa nampan bakso yang uapnya masih mengepul.

BRAK!

"Ups, sori. Licin," ucap Ben tanpa nada penyesalan sedikit pun.

Kuah bakso yang panas itu tumpah tepat di bagian depan seragamku. Panasnya langsung menembus kain kemeja, membakar kulit perutku. Aku terlonjak kaget, mencoba membersihkannya dengan tisu seadanya, tapi noda kuning berlemak itu sudah terlanjur melebar dengan sukses.

"BEN! LO APA-APAAN SIH?!" Hani berteriak, wajahnya sudah merah padam siap meledak.

"Gue bilang sori, kan? Manja banget jadi cowok," Ben memutar bola matanya dan pergi begitu saja.

Aku terdiam, menatap noda di seragamku. Ada perasaan malu yang luar biasa yang menjalar di hatiku. Kenapa aku harus sesial ini? Kenapa aku tidak bisa sekeren Pak Ikbal atau seberani Rian? Aku merasa seperti sampah yang tidak sengaja terinjak.

"Njas, ayo ke UKS atau ke toilet, bersihin dulu," ajak Rian prihatin.

"Nggak usah, aku ke koperasi aja beli seragam baru kalau ada. Kalian duluan aja," kataku sambil berjalan cepat meninggalkan kantin, mengabaikan panggilan Hani.

***

Aku tidak ke koperasi. Aku malah berakhir di lorong sepi dekat laboratorium, mencoba menggosok noda itu dengan air di wastafel luar. Hasilnya? Bajuku malah basah kuyup dan makin transparan. Benar-benar hari yang buruk.

"Anjas?"

Aku membeku. Suara itu. Bariton yang tenang namun menuntut perhatian.

Aku menoleh perlahan. Pak Ikbal berdiri di sana, memegang beberapa map laporan. Matanya langsung tertuju pada seragamku yang basah dan berantakan. Kerutan kecil muncul di keningnya—sebuah tanda bahwa sang dewa matematika sedang tidak senang.

"Kamu kenapa?" tanyanya, melangkah mendekat.

"Nggak apa-apa, Pak. Cuma... kecelakaan kecil di kantin," jawabku sambil mencoba menutupi bagian depanku dengan tangan.

Pak Ikbal tidak bicara lagi. Dia meletakkan mapnya di atas wastafel, lalu tiba-tiba tangannya bergerak menuju kerah bajuku. Aku menahan napas. Dia tidak mengacak rambutku kali ini. Dia memeriksa kain kemejaku yang basah.

"Kulitmu merah," suaranya mendadak berubah dingin. "Itu kuah panas, kan?"

"Cuma dikit kok, Pak..."

"Siapa?" potongnya tajam. Matanya menatapku lurus, tidak membiarkanku lari. "Siapa yang melakukannya?"

"Nggak tahu, Pak. Tadi ramai di kantin..." aku mencoba berbohong, tapi Pak Ikbal seolah bisa melihat lewat pori-pori kulitku bahwa aku sedang tidak jujur.

Dia menghembuskan napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Tiba-tiba, dia mulai melepas kacing tangannya, lalu... dia mulai membuka kancing depan kemeja putihnya sendiri.

"P-pak?! Bapak mau ngapain?!" aku panik setengah mati. Ini sekolah! Ini lorong umum! Walau aku tidak akan menolak, tapi ini sangat tidak sesuai dengan protokol interaksi guru dan murid di lingkungan sekolah.

Pak Ikbal tidak peduli. Dia membuka dua kancing teratasnya, lalu melepas kemeja putihnya yang sempurna itu—menampilkan kaos dalam hitam ketat yang mencetak bentuk tubuhnya dengan sangat... ah, sudahlah. Aku tidak sanggup mendeskripsikannya tanpa pingsan di tempat.

"Pakai ini," dia menyodorkan kemejanya padaku. "Seragammu basah dan baunya akan mengganggu konsentrasimu di kelas nanti."

"Tapi Bapak gimana?" tanyaku bego.

"Saya punya kaos cadangan di loker ruang guru. Lagipula, saya masih pakai kaos dalam," dia menyampirkan kemejanya di bahuku. Wanginya—aroma surga itu—langsung membungkus tubuhku. "Pakai, Anjas. Dan satu lagi..."

Dia mendekat, berbisik tepat di samping pelipisku.

"Besok, jangan biarkan orang lain menginjakmu hanya karena kamu diam. Di matematika, angka nol memang tidak punya nilai, tapi tanpa nol, satu juta tidak akan pernah ada. Kamu mengerti?"

Dia menepuk bahuku sekali—kali ini dengan tekanan yang memberi kekuatan—lalu pergi meninggalkanku yang berdiri mematung memeluk kemeja harumnya.

Aku melihat ke arah kelas. Ben mungkin menang di ronde ini, tapi aku baru saja menyadari sesuatu: Aku punya senjata rahasia yang bahkan tidak bisa Ben beli dengan motor ninjanya.

Aku mencium kerah kemeja Pak Ikbal yang kupakai. Ya, I’m definitely going to die like a man in this war. Kalau memang harus hancur, biarkan aku setidaknya menyambutnya dengan gayaku sendiri.

Komentar