Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 3: Glitch in the System

Jarum jam di dinding menunjuk angka 9 malam. Kantor sudah sepi, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan sentral yang mulai dimatikan satu per satu.

Rafa mengemasi tas ranselnya dengan buru-buru. Hari ini dia lembur karena harus maintenance server yang mendadak down gara-gara—siapa lagi kalau bukan—Riko yang mencolokkan flashdisk bervirus yang dia bawa dari rumah.

"Sialan emang si Riko. Besok gue iket kabel LAN di lehernya," gerutu Rafa sambil mematikan lampu ruangan IT.

Dia berjalan cepat menuju lift, berharap bisa segera sampai di kosan, mandi air dingin, dan melupakan bayangan Damar yang seminggu ini makin sering muncul di mimpinya. Sejak kejadian di ruangan itu, Rafa sebisa mungkin menghindar. Dia takut. Takut khilaf, takut ketahuan, takut... kurang ajar dan meminta lebih.

Ting.

Pintu lift terbuka.

Rafa melangkah masuk tanpa melihat, matanya sibuk membalas chat ibunya.

"Malam, Rafa."

Rafa nyaris melempar ponselnya ke udara.

Di sudut lift, berdiri tegak dengan aura dominan yang memenuhi kotak besi itu, adalah Damar Aryasaty.

Pria itu terlihat berantakan—dalam artian yang sangat seksi. Jasnya sudah dilepas dan disampirkan di lengan. Dasi sudah hilang entah ke mana. Kemeja putihnya kusut di bagian pinggang, dan dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan leher yang berkilau keringat tipis. Dia baru saja selesai meeting maraton dengan direksi pusat.

"Eh... Ma-malam, Pak," jawab Rafa gagap. Dia reflek mundur, menempelkan punggungnya ke dinding lift yang paling jauh dari Damar.

Damar tersenyum tipis, tapi matanya terlihat lelah. "Lembur juga?"

"Iya, Pak. Server down."

"Sama. Saya juga down," canda Damar garing, mencoba mencairkan suasana.

Pintu lift tertutup. Kotak besi itu mulai bergerak turun dari lantai 12.

Hening.

Hanya ada suara dengungan mesin lift dan napas mereka berdua. Di ruang sekecil ini, wangi tubuh Damar terasa sepuluh kali lipat lebih kuat. Wangi musk maskulin yang bercampur feromon lelah, menusuk indra penciuman Rafa, membuat kepalanya sedikit pening karena gairah yang tidak diinginkan.

Rafa melirik diam-diam. Damar sedang memijat pelipisnya dengan mata terpejam. Urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas. Damn, he's gorgeous.

Tiba-tiba...

DGGG! DRRRRRRRRTTT!

Lift berguncang hebat seolah dihantam raksasa dari luar. Lampu di langit-langit berkedip liar sebelum mati total.

Gelap gulita.

Lalu sunyi. Mesin lift mati. Mereka menggantung di antara lantai 8 dan 7.

"Pak Damar?" suara Rafa terdengar panik di kegelapan.

"Tenang, Raf. Kayaknya power failure atau tali sling-nya macet," suara Damar terdengar tenang, tipikal pemimpin, meski Rafa bisa mendengar nada waspada di sana.

Cahaya remang-remang muncul saat Damar menyalakan senter dari ponselnya. Wajahnya tersorot cahaya dari bawah, menciptakan bayangan tajam yang membuatnya terlihat makin tegas.

"Sinyal mati," gumam Damar mengecek ponselnya. "Tombol darurat juga nggak nyala."

Udara di dalam lift mulai terasa panas karena AC mati. Oksigen menipis.

"Kita... kita bakal lama di sini, Pak?" tanya Rafa, mulai merasa sesak. Bukan cuma karena panik, tapi karena dia sadar dia terkurung berdua dengan objek fantasinya di tempat sempit yang gelap. Skenario buruk terbaik sejauh ini.

"Saya nggak tahu. Harusnya genset nyala sebentar lagi. Kamu jangan panik ya, nanti oksigen cepet habis," Damar melangkah mendekat, niatnya ingin menenangkan anak muda itu.

"Ja-jangan deket-deket, Pak!" seru Rafa spontan.

Damar berhenti. "Kenapa? Kamu klaustrofobia?"

"Enggak, saya cuma..." Saya cuma nggak mau bikin Bapak muncrat di celana!

Tiba-tiba, lift itu kembali berguncang. Kali ini lebih parah. Kotak besi itu merosot turun drastis beberapa meter—seperti jatuh bebas—sebelum rem darurat mencengkeram rel dengan bunyi decit logam yang mengiris telinga.

SCREECH!

"AAKH!" Rafa terhuyung ke depan karena gaya gravitasi.

"Rafa!"

Damar, dengan refleks seorang pelindung, menerjang maju. Dia kehilangan keseimbangan karena guncangan itu, kakinya tergelincir di lantai lift yang licin.

Bruk.

Tubuh besar Damar menabrak tubuh Rafa, menjepitnya ke dinding lift.

Tangan kiri Damar mencengkeram railing besi di belakang kepala Rafa untuk menahan bobot tubuhnya, sementara tangan kanannya—secara naluriah—mencengkram pinggang Rafa agar anak itu tidak jatuh.

Dan Rafa, karena panik, reflek mencengkram lengan bawah Damar yang telanjang (kemejanya digulung) dengan kedua tangannya yang berkeringat.

Kulit ketemu kulit.

Telapak tangan Rafa menempel erat pada kulit lengan Damar yang panas, berbulu, dan keras.

Dada bidang Damar menempel telak di dada Rafa.

Paha tebal Damar menyisip di antara kedua kaki Rafa.

Satu detik.

"Kamu nggak apa-apa?" napas Damar memburu, menerpa wajah Rafa. Jarak mereka hanya satu inci.

Dua detik.

Rafa tidak bisa menjawab. Otaknya menjerit LEPASIN ATAU DIA CROT DI CELANA!, tapi tubuhnya membeku. Sensasi tubuh besar Damar yang menindihnya begitu luar biasa. Panas, kokoh, dan... keras.

Tiga detik.

Damar mengerang tertahan.

Di bawah sana, di himpitan paha mereka, ‘monster’ itu bangun lagi. Kali ini bukan sekadar bangun. Dia mengamuk. Ereksi itu datang begitu cepat dan menyakitkan, langsung sekeras batu, menekan selangkangan Rafa melalui lapisan celana bahan.

"Sialan..." desis Damar, matanya terbelalak menatap Rafa dalam kegelapan remang. Dia bingung. Kenapa? Kenapa rasanya senikmat ini cuma dengan memeluk anak ini?

Empat detik.

Rafa sadar batas waktunya habis. Tapi dia tidak bisa bergerak. Guncangan lift masih terasa, dan cengkeraman Damar di pinggangnya terlalu kuat.

"Pak... lepas-in..." cicit Rafa lemah.

Lima detik.

Kutukan aktif.

Mata Damar melebar sempurna, pupilnya mengecil.

Bukan gairah biasa yang dia rasakan. Tapi sebuah gelombang kejut kenikmatan yang tidak masuk akal, yang menghantam langsung ke pusat saraf nikmatnya di selangkangan.

Tanpa gesekan. Tanpa kocokan.

Hanya murni reaksi biologis yang dipaksa keluar oleh sihir aneh Rafa.

"Raf... nnghh!"

Damar mendongak, lehernya menegang, urat-uratnya menonjol. Dia mencengkeram pinggang Rafa semakin erat, seolah menyalurkan rasa nikmat yang menyiksa itu.

Rafa bisa merasakan semuanya.

Dia merasakan tubuh besar itu menegang kaku seperti busur panah yang ditarik maksimal. Dia merasakan denyutan keras di paha bagian dalamnya.

Dan kemudian... pelepasan itu terjadi.

Damar menyentak kuat, pinggulnya reflek menekan ke depan—ke arah Rafa—saat cairan hangat itu menyembur deras di dalam celana dalam mahalnya. Banyak. Sangat banyak. Terlalu banyak. Seolah dia sudah menahannya bertahun-tahun.

"Fffuck... aahh..." erangan rendah dan dalam lolos dari tenggorokan Damar. Suara pria dewasa yang kalah total.

Lutut Damar lemas seketika. Tubuhnya yang besar merosot, bertumpu sepenuhnya pada Rafa yang masih terhimpit di dinding. Napas Damar tersengal-sengal, berat dan putus-putus, persis di telinga Rafa.

Keheningan kembali menyelimuti lift yang gelap itu. Tapi kali ini, hening yang berbeda. Hening yang penuh dengan aroma maskulin yang kini bercampur dengan bau khas sperma yang samar tapi tajam di ruang tertutup.

Rafa gemetar hebat. Dia baru saja membuat bosnya—seorang manajer senior yang terhormat—orgasme dan basah di celana cuma gara-gara pegangan tangan saat lift macet.

Damar masih menyandarkan dahinya di bahu Rafa, belum sanggup mengangkat wajah. Dia syok. Hancur. Malu. Tapi tubuhnya masih berkedut-kedut sisa kenikmatan tadi.

"Pak..." panggil Rafa pelan, takut setengah mati. Takut dipukul. Takut dipecat dengan tidak hormat karena pelecehan seksual.

Damar mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya basah oleh keringat. Dia menatap Rafa dengan pandangan yang sulit dijelaskan—campuran antara ketakutan, kebingungan, dan... ketagihan.

"Saya..." suara Damar parau, pecah. "Saya kenapa...?"

Dia menunduk, melihat celana bagian depannya yang kini basah dan menjiplak jelas bentuk kejantanannya yang masih tebal meski sudah keluar. Noda gelap itu terlihat kontras di celana abu-abunya.

Belum sempat Rafa menjawab atau membuat alasan, lampu lift tiba-tiba menyala terang benderang.

Mesin berdengung kembali. Lift bergerak turun perlahan menuju lantai dasar.

Mereka berdua terpaku.

Cahaya terang itu mengekspos segalanya. Wajah Rafa yang merah padam dan berantakan. Wajah Damar yang messy dengan bibir sedikit bengkak karena digigit sendiri saat menahan desahan. Dan tentu saja, noda besar di celana Pak Manajer.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai dasar. Di depan sana, ada satpam dan teknisi gedung yang sudah siap dengan linggis.

"Pak Damar! Mas Rafa! Bapak nggak apa-apa?!" teriak Pak Satpam khawatir.

Rafa dan Damar saling tatap. Detik itu, mereka tahu hidup mereka nggak akan pernah sama lagi.

Komentar