Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 4: Hardware Conflict

Pintu lift terbuka lebar. Cahaya lobi yang terang benderang terasa menyilaukan, seolah menelanjangi dosa yang baru saja terjadi di dalam kotak besi itu.

"Pak Damar! Mas Rafa!"

Pak Satpam dan dua teknisi gedung bergegas mendekat. Wajah mereka panik, tapi kepanikan mereka tidak sebanding dengan horor yang dirasakan Rafa.

Mata Rafa langsung tertuju ke selangkangan Damar. Noda basah itu melebar, gelap, dan sangat visible di celana bahan abu-abu muda yang dikenakan Damar. Kalau satpam melihat itu, besok pagi satu gedung akan gempar dengan berita: "Senior Manager Ngompol di Lift Karena Ketakutan" atau yang lebih parah, "Senior Manager Crot di Celana Bareng Staff IT".

Insting bertahan hidup Rafa menyala.

"JANGAN MENDEKAT!" teriak Rafa sambil merentangkan tangan, menghalangi pandangan orang-orang ke tubuh bagian bawah Damar.

Langkah Pak Satpam terhenti mendadak. "Lho? Kenapa, Mas? Ada yang luka?"

"Pak Damar... Pak Damar syok berat! Kakinya kram! Jangan dilihat, beliau malu!" seru Rafa asal. Otaknya berputar cepat.

Rafa berbalik badan, membelakangi satpam, lalu berbisik cepat dan tajam pada Damar yang masih mematung dengan wajah pucat pasi. "Pak, jas Bapak. Ikat di pinggang. Sekarang."

Damar mengerjap, seolah baru bangun dari koma. "Hah?"

"Jas Bapak! Tutupin celana Bapak! Cepetan, Pak, keburu mereka liat!" desis Rafa gemas sambil menyambar jas biru dongker yang masih dicengkeram lemas di tangan Damar.

Dengan gerakan kasar tapi cekatan, Rafa melilitkan lengan jas mahal itu ke pinggang Damar, menutupi area depan dan belakang bokong pria itu. Simpulnya dia ikat kencang di perut. Penampilan Damar yang biasanya rapi berwibawa kini terlihat konyol, seperti anak SD yang menutupi celana sobek saat upacara.

"Ayo jalan, Pak. Saya papah," perintah Rafa.

Damar menurut seperti kerbau dicocok hidung. Dia masih terlalu shook untuk protes. Kakinya gemetar—bukan karena kram, tapi karena sisa orgasme intens yang menguras tenaganya. Lengket. Basah. Hangat. Sensasi di dalam celananya sungguh menjijikkan sekaligus... memuaskan.

Rafa memapah tubuh besar Damar keluar dari lift, melewati satpam yang menatap bingung.

"Bapak mau ke klinik?" tanya satpam.

"Nggak usah, Pak! Saya langsung antar ke mobil aja. Beliau butuh udara segar. Minggir, minggir!" Rafa mengibaskan tangan, menggiring bosnya keluar gedung secepat kilat.


Suasana di dalam mobil SUV hitam milik Damar hening. Mencekam.

Rafa duduk di kursi pengemudi. Dia yang memaksa menyetir karena tangan Damar gemetar terlalu parah untuk memegang setir. Mesin sudah dinyalakan, AC menderu pelan, tapi mereka belum bergerak dari parkiran basement.

Damar duduk di kursi penumpang, kepalanya menunduk dalam, kedua tangannya meremas paha. Jasnya masih terikat di pinggang. Bau khas sperma samar-samar tercium di ruang kabin yang tertutup, bercampur dengan aroma pewangi mobil.

"Rafa..." suara Damar memecah keheningan. Rendah, serak, dan penuh rasa malu.

"Y-ya, Pak?" Rafa mencengkeram setir erat-erat, matanya menatap lurus ke tembok parkiran.

"Saya..." Damar menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun. "Saya nggak tahu kenapa bisa begitu. Saya bukan... saya nggak sakit jiwa."

"Saya tahu, Pak. Itu... itu efek panik. Adrenalin," potong Rafa cepat. Dia berusaha menyelamatkan harga diri pria di sebelahnya. "Saya pernah baca, Pak. Kadang kalau orang dalam situasi bahaya ekstrim, saraf parasimpatik bisa error. Bisa... ya, keluar sendiri. Reaksi biologis wajar kok."

Bohong besar. Rafa mengarang bebas. Tapi Damar tampak sedikit lega mendengarnya, atau setidaknya dia berusaha mempercayainya.

"Maaf," bisik Damar. "Maaf kamu harus lihat itu. Maaf kena baju kamu."

Rafa melirik kemejanya. Ada sedikit noda di bagian bawah, tempat 'itu'-nya Damar menempel tadi. Wajah Rafa memanas lagi.

"Nggak apa-apa, Pak. Nanti saya laundry. Yang penting Bapak aman. Nggak ada yang liat selain saya."

Damar menoleh, menatap profil samping wajah Rafa. Ada tatapan aneh di mata elangnya itu. Tatapan orang yang kebingungan, tapi juga lapar.

"Antar saya pulang, Raf. Saya nggak sanggup nyetir."


Apartemen Damar di kawasan Kuningan sangat mewah, tipikal tempat tinggal eksekutif bujangan. Minimalis, dominan warna abu-abu dan hitam, dingin, dan sepi.

Begitu pintu tertutup, Damar langsung berjalan cepat menuju kamar mandi di kamar utamanya, meninggalkan Rafa yang berdiri canggung di ruang tamu.

Di dalam kamar mandi, Damar menyalakan shower dengan air dingin. Dia tidak melepas pakaiannya. Dia berdiri di bawah guyuran air, membiarkan kemeja dan celananya basah kuyup, berharap dinginnya air bisa membekukan otaknya yang mendidih.

Dia membuka ikatan jas di pinggangnya, lalu membuka resleting celananya.

Damar menunduk, menatap ‘adiknya’. Benda itu sudah layu sekarang, kembali ke ukuran normalnya yang masih besar dan tertidur di antara rimbun bulu hitam yang lebat. Tapi sisa-sisa bukti ledakan tadi masih menempel lengket di paha dalam dan perut bawahnya.

"Gila..." gumam Damar, menyugar rambutnya yang basah ke belakang.

Selama dua tahun terakhir, sejak perceraiannya, Damar merasa dirinya rusak. Mantan istrinya selalu mengeluh dia "susah bangun", atau kalaupun bangun, tidak bisa tahan lama. Dokter bilang itu stres. Istrinya bilang dia mandul dan impoten. Damar percaya itu. Dia merasa kejantanannya sudah mati.

Tapi tadi...

Di lift itu. Hanya dengan pelukan canggung dari seorang anak laki-laki berusia 23 tahun. Tanpa sentuhan langsung ke alat vital. Tanpa stimulasi visual.

Dia meledak seperti remaja puber yang baru pertama kali mimpi basah. Keras, tebal, menyakitkan, dan volumenya... Tuhan, Damar tidak pernah mengeluarkan sperma sebanyak itu seumur hidupnya.

"Kenapa sama cowok?" batin Damar berteriak.

Dia membayangkan wajah Rafa. Mata sipitnya yang panik, bibir merahnya yang gemetar, wangi tubuhnya yang segar meski berkeringat.

Damar meraba dadanya sendiri, jantungnya berdegup kencang lagi hanya dengan mengingat kejadian itu.

"Gue bukan gay," Damar mensugesti dirinya sendiri di depan cermin wastafel. "Gue suka toket. Gue suka cewek. Ini cuma... glitch. Kesalahan sistem."

Tapi jauh di lubuk hatinya, Damar tahu ada update software yang baru saja terinstal paksa di otaknya: Rafa is the trigger.


Keesokan harinya di kantor adalah neraka dunia bagi Rafa.

Dia datang sangat pagi, berharap bisa sembunyi di ruang server sebelum jam masuk kantor. Tapi sialnya, Mbak Sarah sudah ada di lobi, membawa dua gelas kopi Starbucks.

"Pagi, Raf! Kok mukanya kusut amat? Kayak abis digulung ombak," sapa Sarah ceria.

"Kurang tidur, Mbak," jawab Rafa singkat, berusaha kabur.

"Eh, denger-denger semalam lift mati ya? Kamu terjebak sama Pak Damar?" tanya Sarah, matanya berkilat penuh radar gosip.

Rafa membeku. Cepet banget info nyebar.

"I-iya. Cuma bentar kok. 15 menit."

"Terus? Terus?" Sarah mendekat, antusias. "Pak Damar gimana? Dia gentleman nggak ngelindungin kamu? Atau malah panik?"

"Biasa aja kok. Diem doang," bohong Rafa. Kalau dia tau Pak Damar crot di celana, bisa geger satu gedung.

"Yah, kirain ada adegan romantis kayak di drakor," Sarah mencibir kecewa. "Eh tapi hari ini Pak Damar cuti sakit lho. Katanya masuk angin berat. Kamu nggak sakit kan?"

Rafa tertegun. Cuti sakit?

"Oh... enggak, Mbak. Saya sehat."

Damar tidak masuk. Menghindar. Tentu saja.

Rafa merasa lega sekaligus kecewa. Lega karena dia tidak perlu bertatap muka dengan kecanggungan itu hari ini. Kecewa karena... dia khawatir. Apakah Damar baik-baik saja? Apakah Damar jijik padanya?

Siang harinya, Rafa sedang melamun di mejanya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Nomor tidak dikenal. Tidak ada foto profil.

+62 812 xxxx xxxx:

Rafa, ini Damar. Maaf ganggu.

Jas saya ketinggalan di basement atau terbawa saya semalam? Dompet saya ada di kantong dalamnya.

Jantung Rafa melompat.

+62 812 xxxx xxxx:

Eh, siang Pak. Jas Bapak terbawa Bapak semalam kok. Mungkin terselip di keranjang cucian?

Tiga menit berlalu. Rafa menatap layar ponsel tanpa kedip. Typing...

+62 812 xxxx xxxx:

Oh iya, sudah ketemu. Maaf saya linglung.

Rafa...

Typing... lama sekali. Rafa menahan napas.

+62 812 xxxx xxxx:

Nanti malam kalau pulang kantor, bisa mampir ke apartemen saya sebentar? Saya mau bicara soal kejadian semalam. Saya nggak enak kalau belum luruskan.

Sekalian... laptop saya error lagi.

Rafa membanting pelan ponselnya ke meja.

Laptop error lagi? Alasan macam apa itu? Dasar duda ganteng!

Tapi Rafa tahu, dia tidak bisa menolak. Bukan hanya karena Damar adalah bosnya. Tapi karena rasa penasaran Rafa sendiri. Rafa ingin tahu, apakah kejadian semalam itu murni kecelakaan... atau memang kutukannya sudah menemukan ‘mangsa’ yang paling potensial?

Dan yang lebih penting: Apakah Damar akan membiarkan Rafa menyentuhnya lagi?

Rafa mengetik balasan dengan jari gemetar.

Rafa:

Baik, Pak. Saya kesana jam 7.

Sistem pertahanan Rafa sudah jebol. Firewall sudah ditembus. Dan malam ini, sepertinya akan ada sesi troubleshooting yang sangat intens di apartemen sang manajer.

Komentar