Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 4: Nilai Mutlak

Kalau ada yang bilang tatapan mata bisa membunuh, maka aku seharusnya sudah mati berkali-kali saat melangkah masuk ke kelas.

Aku berjalan dengan kepala tertunduk, tapi itu justru bikin aku makin mencium aroma sandalwood yang menguap dari serat kain kemeja yang kupakai. Ukurannya terlalu besar di tubuhku. Bahunya jatuh, dan aku harus menggulung lengannya sampai tiga kali supaya tanganku tidak tenggelam.

"Anjas..." Anita memanggil dengan suara yang terdengar seperti orang sesak napas. Dia menunjuk kemejaku dengan jari gemetar. "Itu... kancingnya... jenis jahitan kerahnya... itu kan..."

"Nggak usah dibahas, Nit. Please," bisikku, lalu duduk di singgasanaku, barisan paling belakang.

Ben menoleh dari mejanya. Wajahnya yang tadinya sombong mendadak berubah jadi pucat, lalu merah padam. Dia bukan orang bodoh. Dia tahu persis siapa pemilik kemeja putih mahal yang sekarang membungkus tubuh ‘si pecundang’ Anjas. Dia ingin bicara, tapi suaranya tertahan di tenggorokan saat melihat Pak Ikbal masuk ke kelas hanya dengan kaos dalam hitam ketat yang dibalut jaket tipis.

Suasana kelas hari itu lebih tegang daripada ujian nasional.

***

"Anjas, tetap di sini setelah bel pulang. Kita perlu bicara soal nilaimu."

Kalimat itu diucapkan Pak Ikbal tepat saat bel terakhir berbunyi. Teman-temanku bersorak "Cieee" dengan nada iri, sementara aku hanya bisa mengangguk pasrah. Lima menit kemudian, ruang kelas itu kosong. Hanya ada aku, Pak Ikbal, dan suara kipas angin yang berputar malas di langit-langit.

"Sini, duduk di depan," perintahnya tanpa menoleh, sambil sibuk mengoreksi tumpukan kertas.

Aku bangkit, menyeret tas dan kakiku menuju meja paling depan—meja Anita yang biasanya wangi parfum stroberi, tapi sekarang sudah digantikan dominasi aroma Pak Ikbal. Aku duduk dengan kaku, seperti terdakwa yang menunggu vonis.

Pak Ikbal meletakkan kertas ujianku di meja. Angka 45 tertulis besar dengan spidol merah di pojok kanan atas.

"Jelaskan pada saya, Anjas," dia menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangan di depan dada. Otot bisepnya tercetak jelas di balik kaos hitamnya. "Bagaimana bisa siswa yang bisa membaca algoritma pemikiran saya di lorong tadi, gagal mengerjakan soal sesederhana ini?"

"Saya... saya pusing, Pak. Angkanya kayak lagi nari-nari di kertas," jawabku jujur. Sejujurnya, aku terlalu sibuk mikirin gimana cara balikin kemeja ini daripada mikirin nilai X dan Y.

Pak Ikbal terdiam. Dia menatapku cukup lama, membuatku merasa seolah-olah seluruh rahasia hidupku sedang dipindai oleh sinar laser. Tiba-tiba, dia menarik kursinya lebih dekat ke mejaku. Sangat dekat.

"Kamu tahu apa itu nilai mutlak?" tanyanya lembut.

"Nilai yang selalu positif?"

"Tepat. Tidak peduli seberapa negatif angka di dalamnya, setelah keluar dari garis mutlak, dia akan menjadi positif," Pak Ikbal mengambil pulpen, lalu menggambar dua garis tegak di kertas ujianku. "Anggap saja garis ini adalah saya, Anjas."

Aku mengerutkan kening. "Maksud Bapak?"

"Di sekolah ini, banyak hal negatif yang mungkin terjadi padamu. Ben, kuah bakso, atau rasa percaya dirimu yang nol besar," dia berhenti bicara, menatapku tepat di mata. "Tapi selama kamu ada di dalam 'garis' saya, saya tidak akan membiarkan hasil akhirnya jadi negatif. Kamu paham?"

Jantungku berhenti berdetak selama satu detik penuh. Ini bukan lagi soal matematika. Ini adalah deklarasi perlindungan. Inner gay-ku di dalam sana bukan cuma tepuk tangan lagi, dia sudah mulai pingsan berjamaah.

"Saya akan berikan kamu tugas tambahan setiap sore," lanjutnya, suaranya kembali profesional tapi dengan nada yang lebih dalam. "Kita akan belajar di sini, hanya berdua. Sampai kamu bisa membuktikan pada Ben—dan pada diri kamu sendiri—bahwa kamu bukan angka nol yang bisa mereka injak."

Dia bangkit dari kursinya, berdiri menjulang di depanku. Tiba-tiba, dia mengulurkan tangannya, tapi kali ini bukan untuk mengacak rambutku. Dia merapikan kerah kemeja (miliknya) yang kupakai dengan gerakan yang sangat perlahan.

Ujung jarinya sempat menyentuh kulit leherku. Dingin, tapi memicu api di sekujur tubuhku.

"Kemejanya cocok di kamu," bisiknya sambil tersenyum—senyuman pertama yang kulihat benar-benar tulus dan... nakal? Sepertinya aku mulai berhalusinasi. "Tapi besok dikembalikan ya. Saya tidak bawa banyak stok kemeja bagus."

Aku hanya bisa mengangguk bodoh, wajahku pasti sudah semerah tomat busuk. Saat aku berjalan keluar kelas yang mulai temaram karena senja, aku sadar satu hal: Pak Ikbal baru saja memberikan ‘Nilai Mutlak’ pada hidupku.

Dan aku? Aku mulai menikmati setiap variabel berbahaya yang dia berikan.

Komentar