Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 5: Administrator Acces

Pintu apartemen nomor 205 terbuka sebelum Rafa sempat menekan bel untuk kedua kalinya.

Damar berdiri di sana. Penampilannya santai, jauh berbeda dari mode ‘Pak Manajer’ di kantor. Dia mengenakan kaos oblong polos warna abu-abu gelap yang mencetak jelas bidang dadanya, dan celana pendek selutut yang memperlihatkan betisnya yang kokoh dan berbulu lebat. Rambutnya turun menutupi dahi, membuatnya terlihat lima tahun lebih muda.

"Masuk, Raf," suaranya rendah, terdengar sedikit serak.

Rafa melangkah masuk dengan canggung. Apartemen itu dingin, wangi diffuser aroma sandalwood menguar lembut.

"Mau minum apa? Air putih? Soda? Atau bir?" tawar Damar sambil berjalan ke dapur bersih yang menyatu dengan ruang tamu.

"Air putih aja, Pak."

Damar mengambilkan botol air dingin dari kulkas, lalu menyerahkannya pada Rafa. Jari mereka tidak bersentuhan. Damar sangat berhati-hati kali ini.

"Duduk," Damar menunjuk sofa kulit hitam yang terlihat empuk dan mahal.

Rafa duduk di ujung sofa, meletakkan tas ranselnya di pangkuan sebagai benteng pertahanan. Damar duduk di single sofa di seberangnya, memberikan jarak aman sekitar satu meter.

Hening sejenak. Damar menatap botol bir di tangannya, mengelupasi labelnya dengan gugup.

"Laptop Bapak... beneran rusak?" tanya Rafa memecah kesunyian, meski dia sudah tahu jawabannya.

Damar terkekeh pelan, tawa yang terdengar getir. "Enggak. Itu cuma alasan klise orang tua buat ngundang anak muda ke apartemennya."

Rafa menelan ludah. Kejujuran itu justru membuatnya makin deg-degan.

"Raf," Damar menegakkan duduknya, menatap lurus ke mata Rafa. Wajahnya serius, memancarkan aura dominan yang sempat hilang di lift kemarin. "Saya mau ngomong jujur. Soal kejadian di lift."

"Lupain aja, Pak. Saya ngerti kok, itu kan refleks..."

"Bukan. Dengerin saya dulu," potong Damar tegas.

Damar menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian untuk menelanjangi aibnya sendiri.

"Dua tahun lalu, mantan istri saya minta cerai. Alasannya... saya nggak bisa memuaskan dia. Dokter bilang fisik saya sehat, tapi psikis saya mungkin bermasalah. Saya nggak bisa ereksi maksimal. Dan kalaupun bisa, nggak ada rasanya. Mati rasa."

Mata Rafa membelalak. Dia menatap selangkangan Damar yang tertutup celana pendek itu—terlihat tenang dan tidak berbahaya. Masa sih? Padahal kemarin kan...

"Saya udah pasrah. Saya pikir 'masa jaya' saya udah habis di usia 30," lanjut Damar. "Sampai kamu datang."

Damar mencondongkan tubuhnya ke depan, sikunya bertumpu pada lutut. Tatapannya intens, mengunci Rafa.

"Waktu tangan kita bersentuhan di ruangan saya dua minggu lalu... ada percikan aneh. Saya kaget. Tapi saya pikir itu cuma kebetulan. Tapi semalam... di lift..." Damar menggeleng tak percaya. "Itu bukan cuma ejakulasi, Raf. Itu ledakan. Saya belum pernah ngerasain sensasi seintens itu seumur hidup saya. Bahkan waktu malam pertama saya dulu."

Wajah Rafa memanas. Dia meremas tas ranselnya. "Terus... Bapak mau apa sekarang?"

Damar berdiri. Dia berjalan pelan mendekati Rafa. Jantung Rafa berpacu gila-gilaan.

"Saya butuh pembuktian. Saya mau tahu, apa saya beneran sembuh... atau cuma kamu pemicunya," bisik Damar. Dia berhenti tepat di depan Rafa yang masih duduk.

"Berdiri, Raf."

Itu bukan permintaan. Itu perintah.

Rafa meletakkan tasnya ke lantai dan berdiri dengan kaki gemetar. Tinggi mereka berbeda sekitar 10 cm, memaksa Rafa mendongak menatap wajah maskulin itu.

"Boleh saya pegang tangan kamu?" tanya Damar. Suaranya lembut, tapi matanya lapar.

Rafa mengangguk pelan. "Ta-tapi Pak... kutukan... eh, maksud saya, kalau lebih dari lima detik..."

"Saya tahu. Kemarin saya hitung dalam hati. Pas hitungan kelima, saya tumpah," potong Damar. "Saya mau coba lagi. Saya mau tahu rasanya kalau... kita nggak berhenti di detik kelima."

"Bapak yakin? Nanti celana Bapak kotor lagi."

Damar menyeringai tipis—seringai nakal yang membuat perut Rafa mulas. "Saya punya banyak celana ganti di sini. Atau nggak usah pakai celana sekalian."

Deg.

Tanpa aba-aba lagi, Damar meraih tangan kanan Rafa.

Dia tidak menjabatnya. Dia menggenggamnya. Telapak tangan Damar yang besar, kasar, dan hangat membungkus tangan Rafa yang halus. Kulit bertemu kulit.

Satu detik.

Mata Damar langsung terpejam. Rafa melihat rahang pria itu mengeras.

Di bawah sana, di balik celana pendek kain yang longgar itu, Rafa melihat pergerakan. Sesuatu yang besar dan berat menggeliat bangun. Tenda di celana Damar naik drastis, mencetak bentuk silinder tebal yang menakutkan.

Dua detik.

Napas Damar mulai memburu. Cengkeramannya di tangan Rafa menguat.

"Fffkk..." desis Damar.

Tiga detik.

Rafa merasakan efeknya juga. Bukan cuma Damar yang terangsang, Rafa juga lututnya lemas melihat betapa responsifnya tubuh alpha male di depannya ini. Pria yang dibilang mandul itu kini berdiri tegak dengan ‘senjata’ yang siap bertempur.

Empat detik.

"Raf..." panggil Damar parau. Dia menarik tangan Rafa, membawa tubuh anak itu menabrak tubuhnya.

Lima detik.

BOOM.

Tubuh Damar tersentak hebat.

Rafa memejamkan mata, siap menerima kenyataan kalau bosnya bakal crot lagi detik ini juga karena ulahnya.

Tapi kali ini berbeda.

Damar tidak membiarkan dirinya pasrah. Dengan sisa kewarasan terakhir sebelum meledak, Damar melepaskan genggaman tangannya sejenak—memutus kontak kulit—lalu dengan gerakan brutal dia mencium bibir Rafa.

"Mmphh!"

Ciuman itu kasar, menuntut, dan penuh kelaparan. Lidah Damar menerobos masuk, menguasai rongga mulut Rafa. Rasa mint dan tembakau menyapa lidah Rafa.

Damar memutus arus listrik kutukan itu tepat sebelum klimaks, menahannya di ujung tanduk. Dia ingin lebih. Dia tidak mau selesai dalam 5 detik.

"Buka..." perintah Damar di sela ciuman mereka, tangannya yang gemetar sibuk menarik kaos Rafa ke atas.

Rafa menurut. Dia mengangkat tangannya, membiarkan kaosnya dilepas dan dilempar entah ke mana. Tubuh atas Rafa yang putih mulus dan lean kini terpampang nyata di bawah lampu ruang tamu yang remang.

Mata Damar menggelap melihatnya. "Indah banget..."

Damar tidak tahan. Dia menabrakkan tubuhnya lagi, kulit dada ketemu kulit dada. Puting mereka bersentuhan. Bulu dada Damar yang kasar menggesek kulit dada Rafa yang halus.

Kontak kulit massive terjadi.

"AAKH!" Damar mengerang panjang, kepalanya mendongak.

Kali ini dia tidak bisa menahannya. Luas permukaan kulit yang bersentuhan terlalu banyak. Sinyal kenikmatan itu menghantam otaknya seperti tsunami.

Di dalam celana pendeknya, tanpa disentuh tangan, batang kemaluannya berkedut keras dan memuntahkan isinya. Damar ejakulasi sambil berdiri, sambil memeluk Rafa erat-erat.

Cairan hangat itu merembes keluar celana, menetes ke lantai.

Rafa bisa merasakan getaran tubuh Damar saat orgasme itu terjadi. Sangat intens. Sangat powerful.

"Pak..." bisik Rafa khawatir. "Udah?"

Damar terengah-engah, menyandarkan dagunya di bahu Rafa. "Belum... belum selesai."

Rafa bingung. "Tapi Bapak udah keluar..."

Damar menegakkan tubuhnya. Wajahnya merah, matanya sayu karena mabuk kepayang, tapi seringainya liar. Dia mendorong Rafa pelan hingga jatuh terduduk kembali ke sofa.

"Kutukan kamu aneh, Raf," bisik Damar sambil meloloskan celana pendeknya yang basah kuyup beserta celana dalamnya, menendangnya jauh-jauh.

Rafa menahan napas melihat pemandangan di depannya.

Benda itu.

Meskipun baru saja ejakulasi, adik Damar tidak tidur. Dia masih berdiri tegak, tebal, merah padam, dan berurat-urat mengerikan. Cairan putih kental masih menetes dari ujungnya yang merekah lebar, membasahi pangkalnya yang rimbun oleh bulu hitam lebat.

Sangat jantan. Sangat primitif. Laki banget!

"Biasanya abis keluar, saya langsung tidur. Lemas," ujar Damar, melangkah maju mendekati Rafa, mengangkang di antara kaki Rafa. "Tapi sama kamu... rasanya malah makin keras. Makin sakit kalau nggak dipake."

Damar menarik tangan Rafa, menempelkannya langsung ke batangnya yang licin dan keras itu.

Srett.

"ARGH!" Damar berteriak nikmat saat kulit tangan Rafa menyentuh kulit sensitif kejantanannya.

Tanpa basa-basi, Damar menekan bahu Rafa, memaksanya berbaring di sofa.

"Saya mau ngerasain kamu, Raf. Inside out," bisik Damar parau. "Saya nggak peduli kalau saya harus keluar seratus kali malam ini. Saya mau balas dendam sama dua tahun yang sepi ini."

Damar menekan Rafa lebih dalam ke sofa kulit yang dingin itu, tubuhnya yang besar dan berat menindih Rafa seperti gelombang yang tak terbendung. Rafa merasakan setiap inci kulit Damar yang panas menyatu dengan kulitnya sendiri—dada berbulu yang kasar menggesek putingnya yang mengeras, perut six-pack yang tegang menekan perutnya yang rata, dan yang paling utama, kejantanannya yang masih tegang dan basah itu menggesek paha dalam Rafa dengan sengaja, meninggalkan jejak licin dari sisa cairan tadi.

Rafa megap-megap, nafasnya tersengal. Dia belum pernah sejauh ini dengan siapa pun. Biasanya, cowok-cowok yang dia sentuh langsung meledak dalam hitungan detik, bahkan sebelum baju lepas. Tapi Damar... Damar ini beda. Pria ini seperti binatang yang baru dibebaskan dari kandang setelah dua tahun kelaparan.

"Pak... tunggu... pelan-pelan..." bisik Rafa lemah, tangannya mendorong dada Damar sekedarnya, tapi sebenarnya dia nggak mau berhenti. Sensasi itu terlalu enak—terlalu berbahaya enaknya.

Damar nggak jawab dengan kata-kata. Dia cuma geram pelan, suaranya seperti singa yang lagi menguasai mangsa. Mulutnya kembali menyerang bibir Rafa, ciumannya lebih ganas kali ini, giginya menggigit bibir bawah Rafa sampai sedikit nyeri, lidahnya menari liar di dalam mulut anak muda itu. Sambil begitu, tangan Damar yang besar merayap ke bawah, meremas bokong Rafa melalui kain celana yang ketat.

"Sret... sret..." suara gesekan kain terdengar saat Damar membuka kancing dan resleting celana Rafa dengan kasar, nggak sabar. Rafa mengangkat pinggulnya secara refleks, membantu Damar menarik celana beserta boxer-nya ke bawah sampai lepas total, dilempar ke lantai seperti sampah.

Sekarang Rafa telanjang bulat di bawah Damar. Tubuhnya yang putih mulus, lean dari olahraga ringan dan mungkin stress, kini terpampang tanpa penghalang. Adiknya sendiri sudah berdiri tegak sejak tadi, lebih kecil dibanding milik Damar tapi sama-sama keras, ujungnya sudah basah karena precum.

Damar mundur sebentar, matanya menyapu tubuh Rafa dari atas sampai bawah seperti lagi menilai harta karun. "Cantik banget kamu, Raf... tubuh kamu kayak dibuat buat saya giniin," gumamnya parau, suaranya bergetar karena nafsu yang tertahan.

Dia berlutut di antara kaki Rafa yang terbuka lebar, tangannya meraih botol lotion yang entah dari mana muncul—mungkin dari laci meja samping sofa. Damar menuang lotion dingin itu ke telapak tangannya, lalu tanpa basa-basi, jari telunjuknya yang tebal mulai mengolesi lubang Rafa yang masih rapat dan polos.

"Ahh!" Rafa tersentak, punggungnya melengkung. Sensasi dingin lotion bertemu dengan jari kasar Damar bikin dia merinding dari ujung kaki sampai ubun-ubun.

"Pelan ya, Pak... saya... saya belum pernah..." aku Rafa pelan, wajahnya merah padam karena malu.

Damar berhenti sejenak, matanya melebar kaget. "Belum pernah? Serius? Kamu virgin?"

Rafa mengangguk kecil, matanya menghindar. "Iya... biasanya cowok langsung keluar sebelum... sebelum sampe sini."

Damar menyeringai lebar, seringai predator yang baru sadar mangsanya masih segar. "Bagus. Berarti malam ini kamu milik saya sepenuhnya. Saya yang pertama."

Dia kembali bergerak, jarinya lebih lembut sekarang, mengolesi dan memijat lubang itu dengan sabar, masuk pelan-pelan sampai satu ruas. Rafa mengerang, rasanya aneh tapi enak, campur aduk. Damar tambah jari kedua, menggunting pelan, membuka Rafa sedikit demi sedikit sambil mulutnya sibuk menjilat puting Rafa bergantian, menggigit ringan sampai Rafa menggeliat nggak karuan.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam bagi Rafa, Damar merasa cukup. Dia angkat tubuhnya, posisi mengangkang di atas Rafa, kejantanannya yang tebal itu sudah mengkilap karena lotion dan sisa sperma tadi, siap menyerbu.

"Liat saya, Raf," perintah Damar tegas. Rafa memaksa matanya terbuka, menatap wajah Damar yang penuh keringat, rahangnya mengeras, matanya liar.

Damar pegang batangnya sendiri, arahkan ujungnya ke lubang Rafa yang sudah licin. Tekan pelan... masuk sedikit.

"AAHHH!" Rafa berteriak kecil, tangannya mencengkeram lengan Damar kuat-kuat. Rasanya sakit, penuh, tapi ada kenikmatan aneh yang menyusup.

Damar nggak langsung dorong dalam. Dia tahan diri, napasnya memburu. Kontak kulit massive ini bikin kutukan Rafa langsung bekerja—dia merasakan batangnya berkedut di dalam lubang Rafa yang rapat itu, hampir meledak lagi.

"Fuck... rapet banget... enak banget..." geram Damar, keringat menetes dari dahinya.

Dia dorong lagi, pelan tapi pasti, sampai setengah masuk. Tubuhnya gemetar hebat.

"Raf... saya... mau keluar lagi..." bisiknya parau.

Rafa panik sebentar, tapi dia malah dorong pinggulnya ke atas, menyambut lebih dalam. "Keluar aja, Pak... di dalem... nggak apa-apa..."

Itu pemicu terakhir. Damar dorong brutal sekali hentak sampai full masuk, pangkalnya menabrak bokong Rafa. Oksigen seperti ditendang paksa dari paru-paru Rafa, mulutnya terbuka, matanya membulat seperti mau lepas. Pekik tertahannya lebur dimakan erangan Damar.

"ARRGHHH!!!" Damar mengerang keras, tubuhnya mengejang. Orgasme kedua malam itu datang seperti badai—dia ngerasain sperma panas memuntah deras di dalam Rafa, mengisi sampai penuh.

Rafa merasakan semuanya—kedutan batang Damar di dalamnya, cairan hangat yang membanjiri, getaran tubuh pria alpha itu yang menindihnya. Enak banget, sampai adik Rafa sendiri ikut muncrat tanpa disentuh, nyiprat ke perut mereka berdua.

Damar ambruk sebentar di atas Rafa, napasnya tersengal. Tapi anehnya... batangnya nggak lemas. Malah makin keras, seperti kutukan Rafa bikin dia recharge instan.

"Belum… lagi.. belum selesai..." gumam Damar, matanya merah karena nafsu. Dia bangun lagi, tarik pinggulnya pelan, lalu hantam lagi dalam-dalam.

Plak! Plak! Plak!

Suara benturan kulit mulai mengisi ruangan. Damar mulai pompa dengan ritme ganas, keluar-masuk full stroke, nggak kasih Rafa napas.

Rafa cuma bisa mengerang panjang, kakinya melingkar di pinggang Damar, tangannya mencakar punggung pria itu. Setiap dorongan Damar bikin dia merasakan kenikmatan yang nggak pernah dia bayangkan—prostate-nya kena terus, bikin matanya berkaca-kaca.

"Pak... enak... lebih keras..." Rafa nggak sadar sudah ngomong gitu.

Damar makin liar mendengarnya. Dia angkat kaki Rafa ke bahunya, posisi jadi lebih dalam, lalu hajar tanpa ampun.

Orgasme ketiga datang cepat. Damar mengerang lagi, dorong dalam-dalam dan tahan di situ, muncrat lagi di dalam Rafa yang sudah banjir sperma. Tapi dia nggak berhenti gerak. Malah lanjut pompa sambil keluar, bikin sensasi overstimulasi yang gila.

"AAKH! Raf! Kamu... bikin saya gila!" teriak Damar, wajahnya penuh keringat, otot-ototnya menonjol semua karena tegang.

Rafa sudah nggak bisa ngomong. Dia cuma bisa mengerang dan mengangguk, tubuhnya digoyang-goyang seperti boneka di bawah tubuh Damar yang gagah perkasa itu.

Mereka ganti posisi berkali-kali. Damar angkat Rafa seperti boneka ringan, bawa ke dinding, hajar dari belakang sambil berdiri—orgasme keempat, muncrat di dalam lagi sambil gigit pundak Rafa.

Lalu ke lantai, Rafa naik atas, naik-turun sendiri sambil Damar dorong dari bawah—oragasme kelima, Damar pegang pinggul Rafa kuat-kuat, muncrat ke atas sampai meluap keluar.

Kemudian doggy di karpet, Damar dari belakang seperti binatang—orgasme keenam, ketujuh, Rafa sudah kehilangan hitungan.

Setiap kali Damar keluar, batangnya tetap keras, malah makin tebal karena kutukan itu seperti suntik steroid nafsu. Rafa sendiri orgasme berkali-kali tanpa disentuh, cuma dari gesekan dalam dan dominasi Damar.

"Pak… ampun.. saya... nggak kuat..." akhirnya Rafa merintih lemah setelah entah berapa ronde, tubuhnya lemas basah keringat dan cairan mereka berdua.

Damar cuma terkekeh serak, tarik Rafa ke pelukannya, cium keningnya kasar. "Kamu kuat, Raf. Kamu yang bikin saya kayak gini. Jangan nyerah dulu, ya."

Dia bawa Rafa ke kamar tidur, lempar ke kasur king size yang empuk, lalu lanjut lagi. Kali ini lebih pelan tapi dalam, missionary, mata mereka saling tatap.

"Saya cinta sensasi ini, Raf... kamu bikin saya hidup lagi," bisik Damar sambil dorong pelan tapi pasti, orgasme kedelapan datang pelan tapi panjang, dia muncrat sambil cium Rafa dalam-dalam.

Rafa balas ciumannya, tangannya memeluk leher Damar. "Saya juga, Pak... saya suka liat Bapak kayak gini... gagah... kuat..."

Mereka lanjut sampai tengah malam, sampai Rafa benar-benar pasrah dan pantatnya merah membengkak, sampai Damar akhirnya puas setelah orgasme kesekian yang entah nomor berapa.

Malam itu, Rafa belajar satu hal: Kutukannya memang membuat cowok orgasme cepat. Tapi bagi Damar, kutukan itu justru menjadi infinite fuel. Setiap sentuhan Rafa adalah bensin. Dan Damar Aryasaty adalah mesin V8 yang baru saja di-overhaul.

Rafa pasrah saat tubuh besar dan berat itu menindihnya, saat kulit kasar Damar menggesek kulit halusnya, menciptakan simfoni erangan dan desahan yang mengisi seluruh sudut apartemen mewah itu.

"Kamu punya saya, Raf," geram Damar di telinga Rafa saat mereka menyatu untuk terakhir kali malam itu. "Kamu yang bikin monster ini bangun, kamu yang harus tanggung jawab."

Dan Rafa, dengan senang hati, menerima tanggung jawab itu semalaman suntuk. Bahkan kalau pantatnya harus berteriak minta ampun.


#PeduliLindungiRafa guys!

Komentar