Di sekolah ini, rumor menyebar lebih cepat daripada wabah flu burung.
Hanya butuh waktu tiga hari bagi seisi SMA Negeri 1 untuk menyadari bahwa aku—Anjas, si penghuni kasta terendah—menghabiskan waktu setiap sore di ruang kelas yang tertutup bersama Pak Ikbal. Probabilitas namaku disebut dalam percakapan rahasia di koridor meningkat drastis hingga 99,9%.
"Njas, kamu tahu nggak? Di grup WhatsApp angkatan, mereka mulai panggil kamu 'Cinderella Matematika'," Hani berbisik sambil menyedot es jeruknya dengan brutal.
Kami sedang duduk di bangku taman belakang sekolah, tempat persembunyian paling aman dari mata-mata Ben. Rian di sampingku sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Cinderella? Yang benar saja," gumamku sambil mencoret-coret buku sketsa. "Emangnya aku ada ninggalin sepatu kaca di kelas Pak Ikbal?"
"Bukan sepatu kaca, tapi nilai ulangan yang jeblok merah!" Hani memekik gemas. "Adegan kamu balik ke kelas pakai kemeja Pak Ikbal tempo hari itu sudah jadi urban legend di sekolah ini, Njas! Bahkan anak kelas sepuluh ada yang bikin teori kalau kamu itu sebenarnya keponakan rahasia Pak Ikbal yang lagi nyamar jadi rakyat jelata."
"Atau teori yang lebih gelap," Rian menimpali tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Ben mulai nyebarin omongan kalau lo... ya, lo tahu lah, 'nyogok' Pak Ikbal pakai cara-cara nggak bener supaya dapet nilai bagus."
Aku terdiam. Perutku mendadak mulas. Inilah alasan kenapa aku benci jadi pusat perhatian. Sekali saja kamu keluar dari kegelapan, orang-orang akan mencoba menyilaukanmu dengan lampu sorot paling terang yang menyakitkan.
***
Sore itu, sesi mentoring terasa berbeda. Suasana di kelas tidak hanya diisi oleh suara kapur dan penjelasan tentang logaritma, tapi juga oleh kehadiran orang ketiga.
Bu Sari. Guru Bahasa Inggris muda yang kecantikannya selalu jadi bahan rebutan para guru pria lainnya. Termasuk beberapa murid cowok yang kebanyakan nonton dua enam.
Dia masuk ke kelas dengan alasan ‘meminjam stapler’, tapi sudah sepuluh menit berlalu dan dia masih berdiri di samping meja Pak Ikbal, tertawa-tawa kecil sambil memilin ujung rambutnya. Seperti gadis remaja yang minta ‘disemprot’.
"Duh, Pak Ikbal rajin banget sih, sore-sore masih mau ngajar privat begini," suara Bu Sari terdengar sangat manis, tipe suara yang sengaja dibuat-buat untuk menarik perhatian. "Nggak capek? Kita tadi rencana mau cari makan sore bareng sama guru-guru lain, lho."
Aku menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat fokus pada soal fungsi kuadrat. Padahal, telingaku berdiri tajam seperti antena parabola.
"Terima kasih tawarannya, Bu Sari. Tapi saya sudah janji pada Anjas untuk menyelesaikan bab ini hari ini," jawab Pak Ikbal. Suaranya profesional, tapi tetap terdengar sopan.
"Anjas ini murid yang spesial ya sampai harus diprioritaskan banget?" Bu Sari melirikku sekilas. Tatapannya tidak ramah. Ada kilatan persaingan di matanya—persaingan yang menurutku sangat konyol karena... ya ampun, aku ini kan cuma murid!
"Semua murid saya spesial, Bu," Pak Ikbal menjawab pendek sambil kembali melihat ke arah kertas kerjaku.
Bu Sari akhirnya pergi dengan wajah masam, tapi aroma parfum bunga-bunganya yang menyengat masih tertinggal di ruangan, mencoba mengalahkan aroma sandalwood favoritku.
Aku masih diam, memelototi angka-angka yang mulai kabur di mataku. Entah kenapa, dadaku terasa sesak. Ada rasa panas yang aneh menjalar dari ulu hati. Apakah ini yang namanya cemburu? Masa aku cemburu pada Bu Sari? Gila. Aku pasti sudah gila.
"Anjas."
Aku tidak menyahut.
"Anjas, lihat saya."
Aku mendongak perlahan. Pak Ikbal sudah berdiri tepat di depanku. Dia tidak duduk di kursinya lagi. Dia menumpukan kedua tangannya di mejaku, mengurungku lagi dalam jarak yang sangat intim.
"Kenapa soal nomor lima kamu coret-coret sampai kertasnya bolong begitu?" tanyanya, suaranya sedikit geli.
"Nggak apa-apa, Pak. Cuma... parfum Bu Sari bikin saya pusing," jawabku ketus. Aku sendiri kaget mendengar nada bicaraku.
Pak Ikbal terdiam sejenak. Lalu, sebuah senyum miring muncul di sudut bibirnya—jenis senyum yang menunjukkan kalau dia tahu persis apa yang sedang terjadi di otak kecilku yang berantakan ini.
Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya di keningku.
"Jangan khawatir soal parfum bunga itu," bisiknya sangat rendah, hampir seperti rahasia di antara kami berdua. "Saya lebih suka wangi sabun mandi yang ada di kemeja saya kemarin. Wangi kamu."
BLAARRR!
Otakku resmi meledak. Seluruh saraf di tubuhku rasanya seperti sedang merayakan pesta kembang api. Pak Ikbal baru saja bilang... dia suka wangiku? Dia membandingkan aku dengan Bu Sari?
Aku tarik kembali kata-kataku soal Bu Sari. Kalau perempuan gatal itu ingin kompetisi, maka akan aku berikan, dan aku pastikan kemenangan hanya ada untukku seorang.
"Sekarang fokus lagi," dia menepuk puncak kepalaku pelan, kali ini bukan diacak, tapi dielus lembut. "Kalau besok kamu bisa mengerjakan soal latihan di papan tulis dan mengalahkan nilai Ben, saya akan kasih kamu hadiah."
"Hadiah apa, Pak?" tanyaku dengan suara bergetar.
Pak Ikbal hanya mengedipkan sebelah matanya, lalu kembali ke mejanya seolah-olah dia tidak baru saja menghancurkan kewarasanku. "Sesuatu yang lebih baik daripada sekadar pinjam kemeja. Sekarang, kerjakan nomor enam."
Aku memegang penaku dengan semangat baru. Kalau hadiahnya adalah Pak Ikbal, aku bersumpah akan menaklukkan seluruh buku matematika ini sampai ke akar-akarnya.
Ben, Bu Sari, atau siapa pun... silakan antre. Karena di koordinat kartesian ini, aku adalah satu-satunya titik yang punya akses langsung ke pusat grafik Pak Ikbal.
Komentar
Posting Komentar