Kamar tidur utama itu hening, hanya terdengar deru halus AC dan isak tangis pelan dari atas ranjang yang spreinya sudah berantakan tak berbentuk.
Rafa meringkuk di tengah kasur king size itu, memeluk guling erat-erat dengan tubuh gemetar. Dia menangis. Bukan karena sakit hati, bukan karena sedih, dan bukan karena menyesal. Dia menangis karena sistem sarafnya mengalami overload. Sensasi nikmat yang bertubi-tubi selama dua jam terakhir terlalu intens untuk ditampung oleh tubuh mudanya.
Air matanya meleleh membasahi bantal. Nafasnya masih tersengal pendek-pendek.
Di bagian bawah tubuhnya, rasanya... kacau. Perih, berantakan, sekaligus nikmat.
Rafa bisa merasakan cairan hangat dan lengket yang memenuhi celah bokongnya, merembes keluar membasahi paha bagian dalam dan sprei di bawahnya. Itu adalah jejak ‘bencana alam’ yang ditinggalkan Damar. Bukan cuma sekali, tapi entah berapa kali. Rafa sudah kehilangan hitungan setelah ronde ketiga.
Setiap kali kulit mereka bersentuhan lebih dari lima detik, Damar akan meledak, tapi anehnya, pria itu tidak berhenti. Damar justru semakin garang, seolah kutukan Rafa adalah bensin oktan tinggi yang membuat mesin tuanya meraung kembali.
"Hiks... jahat banget..." gumam Rafa di sela isakannya, suaranya serak dan manja.
Di sudut ruangan, dekat jendela kaca besar yang menampilkan lampu-lampu kota Jakarta di malam hari, Damar berdiri santai.
Pria itu sedang merokok. Asap putih mengepul tipis dari bibirnya, berbaur dengan aroma musk dan bau seks yang kental di udara.
Penampilan Damar jauh dari kata rapi. Rambutnya acak-acakan, tubuhnya berkeringat dan mengkilap di bawah lampu tidur yang remang. Dia bertelanjang dada, memamerkan bulu dadanya yang basah oleh keringat. Satu-satunya benang yang menempel di tubuhnya hanyalah celana kolor tipis berbahan katun.
Dan kolor itu... basah kuyup di bagian depan.
Noda gelap yang lebar tercetak jelas di sana, bukti betapa produktifnya dia malam ini.
Damar menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya sambil tersenyum lebar. Senyum penuh kemenangan. Senyum seorang raja yang baru saja merebut kembali tahtanya.
Dia merasa hidup.
Dia merasa gagah.
Dia merasa... muda kembali.
Rasa minder yang menghantuinya selama dua tahun terakhir hilang tak berbekas. Siapa bilang dia mandul? Siapa bilang dia impoten? Malam ini dia membuktikan bahwa dengan trigger yang tepat—yaitu bocah manis yang sedang menangis di kasurnya itu—dia adalah pejantan tangguh.
"Masih nangis, hm?"
Damar mematikan rokoknya di asbak, lalu berjalan mendekati ranjang. Langkah kakinya terdengar berat dan puas.
Rafa menyembunyikan wajahnya di bantal saat merasakan kasur bergerak turun karena berat tubuh Damar yang duduk di tepi ranjang.
"Bapak jahat..." rengek Rafa lagi, kali ini sambil memukul pelan paha Damar dengan kepalan tangannya yang lemah. "Saya gemeteran semua ini... kaki saya nggak bisa gerak..."
Damar tertawa. Tawa yang berat, dalam, dan renyah. Dia menangkap tangan Rafa, lalu mengecup punggung tangannya yang lemas.
"Maaf, Raf. Maaf," kata Damar, meski nadanya sama sekali tidak terdengar menyesal. "Saya khilaf. Habisnya kamu... nagih banget. Saya kayak orang puasa setahun dikasih buffet all you can eat."
"Tapi nggak digempur terus-terusan juga kali, Pak! Itu... itu Bapak keluar banyak banget. Perut saya penuh..." Rafa mengadu, wajahnya merah padam karena malu sekaligus sisa kenikmatan.
Damar menyeringai, tangannya bergerak mengusap punggung Rafa yang telanjang dan berkeringat. Usapannya lembut, kontras dengan perlakuan brutalnya tadi.
"Saya juga kaget, Raf. Serius," aku Damar jujur. "Saya nggak nyangka stok saya sebanyak itu. Rasanya kayak... kran yang mampet tiba-tiba jebol. Lega banget. Enak. Puas banget."
Damar mencondongkan tubuhnya, berbisik di telinga Rafa. "Makasih ya. Kamu bikin saya ngerasa jadi laki-laki lagi."
Rafa berhenti menangis. Dia menoleh sedikit, menatap wajah Damar yang terlihat lelah tapi berseri-seri. Ada binar kebahagiaan di mata elang itu yang belum pernah Rafa lihat di kantor.
"Bapak nggak marah kan? Karena kutukan saya bikin Bapak jadi... cepet keluar?" tanya Rafa ragu.
"Marah?" Damar tertawa lagi, kali ini sambil mengacak-acak rambut Rafa gemas. "Justru saya suka. Sensasinya gila, Raf. Tanpa digesek aja udah nikmat, apalagi pas kamu jepit saya tadi. Rasanya kayak meledak tanpa henti."
Damar merebahkan dirinya di sebelah Rafa, menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Kulit bertemu kulit lagi.
Rafa tersentak kaget, sedikit trauma. Mengkhawatirkan keselamatan lubang belakangnya yang masih terasa tebal dan perih. "Pak! Jangan nempel lama-lama! Nanti... nanti ‘dia’ bangun lagi!"
Damar terkekeh, mengeratkan pelukannya. Dia membiarkan paha mereka bersentuhan. Dan benar saja, Rafa bisa merasakan sesuatu yang keras mulai menekan pinggulnya dari balik kolor basah Damar.
"Ya kalau bangun lagi, tinggal dikeluarin lagi, kan?" goda Damar santai.
"PAK! PLEASE, SAYA MINTA AMPUN BENERAN!" pekik Rafa horor, berusaha menjauh tapi tenaganya sudah habis.
"Bercanda, sayang. Bercanda," Damar mencium puncak kepala Rafa menenangkan. "Istirahat dulu. Besok saya atur izin cuti kamu. Nggak usah masuk kantor. Jalan kamu pasti aneh besok kalau maksa kerja."
Rafa cemberut, membenamkan wajahnya di dada bidang Damar yang hangat dan berbulu. "Tanggung jawab. Besok beliin bubur ayam spesial. Diantar ke tempat tidur."
"Siap, Bos," jawab Damar sambil tersenyum, mengelus punggung Rafa sampai napas anak itu teratur dan tertidur.
Malam itu, Damar tidur dengan nyenyak tanpa beban untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Dan Rafa, meski tubuhnya remuk redam, merasa aman dalam dekapan monster yang baru saja dia jinakkan.
Dear Readers
Ada extra part adegan pagi Damar dan Rafa kalau kamu beli versi pdf lewat link yang ada di halaman depan cerita ini. Boleh dibeli atau tidak, soalnya tidak begitu berpengaruh ke plot yang sudah ada. Tapi beli aja sih biar aku bisa beli laptop baru ðĪŠ (becanda, wkwkwkwk)
Enjoy, guys! Sisa satu part lagi sebagai ending perjalanan Damar dan Rafa. ð
Komentar
Posting Komentar