Hari ini adalah hari penghakiman.
Atmosfer kelas Matematika pagi ini terasa berbeda. Kabar tentang ‘Hadiah Misterius’ dari Pak Ikbal ternyata sudah bocor (siapa lagi kalau bukan kerjaan intelijen Hani), dan seisi kelas sudah siap menonton drama. Ben duduk di barisannya, memutar-mutar pulpen dengan gaya arogan, sesekali melirikku dengan tatapan ‘Lo-bakal-mati’.
Pak Ikbal masuk. Dia memakai kemeja hitam hari ini, kancing atas terbuka, dan lengan digulung rapi. Penampilannya benar-benar definisi lethal.
"Pagi semuanya," suaranya membelah keheningan. "Sesuai janji saya, hari ini kita akan mengerjakan satu soal tantangan di papan tulis. Soal ini adalah gabungan dari trigonometri dan sudut elevasi. Siapa pun yang bisa menyelesaikannya dengan langkah paling efisien, akan mendapatkan nilai sempurna untuk satu semester."
Kelas langsung gaduh. Satu semester?! Itu tiket emas!
Pak Ikbal mulai menuliskan soal di papan tulis. Deretan angka dan simbol sin, cos, tan yang rumit menari-nari di atas permukaan hitam itu. Selesai menulis, dia berbalik dan menatap kelas.
"Ada yang berani?"
Ben langsung mengangkat tangan dengan cepat. "Saya, Pak!"
Dia maju dengan langkah penuh percaya diri, sempat-sempatnya menyenggol bahuku saat lewat. Ben mulai mencoret-coret papan tulis. Dia menggunakan rumus yang panjang, bertele-tele, dan terlihat sangat dipaksakan. Lima menit berlalu, dia berhenti. Wajahnya berkeringat.
"Selesai, Pak," ucap Ben bangga.
Pak Ikbal melihat ke papan tulis, lalu ke arahku. Dia tidak berkomentar pada jawaban Ben. "Ada cara lain yang lebih singkat?"
Aku menarik nafas panjang. Aku ingat mentoring sore kemarin. Pak Ikbal pernah mengajariku sebuah logika ‘jalan pintas’ yang tidak ada di buku paket mana pun. Sebuah cara yang hanya bisa dipahami kalau kamu punya chemistry dengan angka—atau dengan gurunya.
Aku berdiri. Seluruh kelas terdiam. Anita memainkan ujung rambutnya gelisah, entah mengkhawatirkan keselamatanku atau mengkhawatirkan kesempatannya bisa dekat dengan pak Ikbal yang kini nyaris nol.
Aku melangkah maju. Saat aku berdiri di samping Pak Ikbal, aroma sandalwood itu menyambutku, memberiku keberanian instan. Aku mengambil kapur dari tangannya. Jari kami bersentuhan sekilas, dan aku bersumpah melihat sudut bibir Pak Ikbal terangkat tipis.
Aku tidak melihat ke arah Ben yang berdiri di samping dengan wajah meremehkan. Aku hanya melihat papan tulis.
Sret. Sret. Sret.
Hanya dalam empat baris langkah kerja, aku menyederhanakan kerumitan Ben yang sepanjang gerbong kereta itu. Aku menggunakan logika sudut elevasi yang terbalik, sebuah metode yang sangat elegan. Begitu selesai, aku meletakkan kapur.
Kelas hening. Ben melongo menatap papan tulis.
"Salah itu, Pak! Masa cuma segitu?!" seru Ben panik.
Pak Ikbal melangkah mendekat ke arahku. Dia memeriksa jawabanku, lalu berbalik menatap Ben dengan tatapan dingin yang sanggup membekukan kuah bakso paling mengepul di dunia.
"Ben, matematika bukan soal seberapa banyak kamu menulis, tapi seberapa tajam kamu berpikir," suara Pak Ikbal terdengar tajam. "Jawaban Anjas bukan cuma benar, tapi sempurna. Dia menemukan variabel yang kamu lewatkan karena kamu terlalu sibuk pamer."
Ben terdiam, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus. Dia kembali ke bangkunya dengan kepala tertunduk, sementara teman-teman yang lain mulai berbisik-bisik kagum.
"Sesuai janji saya," Pak Ikbal berbalik menatapku. Dia berdiri sangat dekat, hingga bayangannya menutupi tubuhku. "Kamu menang, Anjas."
"Hadiahnya, Pak?" tanyaku hampir berbisik.
Pak Ikbal merogoh saku kemeja hitamnya, mengeluarkan sebuah pulpen fountain perak yang terlihat sangat mahal dan kuno. Dia meraih tanganku, lalu meletakkan pulpen itu di telapak tanganku.
"Ini pulpen keberuntungan saya saat kuliah dulu," bisiknya, cukup rendah hingga hanya aku yang dengar. "Tapi hadiah sebenarnya bukan ini."
Dia membungkuk sedikit, seolah hendak membisikkan sesuatu yang sangat rahasia.
"Hadiah sebenarnya adalah... sore ini, saya tidak akan mengajarimu di kelas. Ikut saya ke kafe di depan sekolah. Kita belajar di sana, dan saya yang traktir cokelat panas favoritmu."
Mataku membelalak. Itu... itu kencan?! Eh, maksudku, mentoring di luar sekolah?!
"Dan Anjas," dia menambahkan sambil menepuk bahuku, "Rambutmu berantakan lagi."
Dia mengacak rambutku di depan seluruh kelas, termasuk di depan mata Ben yang sedang merana dan Anita yang sedang gigit jari.
Aku berjalan kembali ke bangkuku dengan langkah ringan. Ben boleh punya otot, tapi aku punya Pak Ikbal. Dan sore ini, sudut elevasi perasaanku baru saja mencapai titik tertinggi yang pernah ada.
Komentar
Posting Komentar