Kantor pagi itu gempar. Bukan karena server mati, bukan karena target penjualan tidak tercapai, tapi karena satu hal: Rafael Winata tidak masuk kerja.
"Sakit?" Riko membelalakkan matanya saat membaca status WhatsApp Rafa. "Perasaan kemarin dia sehat walafiat. Masih sempet ngatain gue bego pas benerin kabel LAN."
Mas Bayu, senior IT, hanya mengedikkan bahu sambil mengunyah roti. "Katanya sih demam tinggi sama badan ngilu-ngilu. Radang sendi mungkin, kebanyakan minum yang manis-manis. Udah gue approve cuti sakitnya buat dua hari."
"Bohong gak sih? Masih muda kok jompo," cibir Riko.
Di lantai 12, suasana justru berbanding terbalik. Jika biasanya lantai para eksekutif itu tegang dan hening, pagi ini terasa... cerah.
Penyebabnya adalah Damar Aryasaty.
Sang Senior Manager melangkah keluar dari lift dengan aura yang membuat resepsionis dan Mbak Sarah melongo. Damar, yang biasanya berwajah kaku, stoik, dan hemat senyum, hari ini terlihat bersinar. Kulit sawo matangnya tampak segar, rambutnya ditata rapi dengan pomade, dan langkah kakinya ringan penuh energi.
Dan yang paling aneh: Dia bersiul pelan.
"Pagi, Sarah," sapa Damar ramah saat melewati meja sekretarisnya.
Sarah hampir menjatuhkan kikir kukunya. "P-pagi, Pak. Bapak... kelihatan seneng banget hari ini?"
Damar berhenti sejenak, membetulkan letak dasinya. Dia tersenyum—bukan senyum sopan biasa, tapi senyum puas seorang pria yang baru saja memenangkan lotre (atau dalam kasus ini, baru saja mengosongkan tangki setelah dua tahun mampet).
"Saya merasa sangat sehat hari ini, Sar. Refreshed," jawab Damar mantap. "Oh iya, tolong jangan jadwalkan meeting di atas jam 4 sore ya. Saya mau pulang tenggo."
"Tumben, Pak? Biasanya lembur sampai malam," Sarah memicingkan mata curiga.
"Mau jenguk orang sakit," jawab Damar singkat, lalu mengedipkan sebelah matanya sebelum masuk ke ruangannya.
Sarah terpaku di kursinya. Otaknya yang cerdas langsung menghubungkan titik-titik informasi.
- Rafa IT tidak masuk. Alasan : sakit, demam, badan ngilu.
- Damar terlihat sangat puas dan bahagia setelah semalam pergi berdua dengan Rafa.
- Damar mau pulang cepat buat jenguk orang sakit.
"Anjir," bisik Sarah pelan, menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi si Rafa beneran 'diterkam' pak bos?"
Dua hari kemudian, Rafa akhirnya kembali ke kantor.
Penampilannya sedikit berbeda. Dia mengenakan celana bahan yang potongannya lebih longgar dari biasanya (terutama di bagian pinggul dan paha), dan jalannya agak pelan. Sedikit mengangkang, seperti orang yang baru selesai sunat atau kebanyakan naik kuda.
Setiap kali berpapasan dengan orang, Rafa akan menunduk, menghindari kontak mata. Dia parno. Dia takut ada tulisan "HABIS DIGEMPUR PAK DAMAR" tercetak di jidatnya.
"Raf! Udah sembuh?" teriak Riko dari ujung lorong.
Rafa meringis kaget. "U-udah, Ko. Lumayan."
"Sakit apaan sih lo? Tifus?"
"Iya... kecapekan aja. Sama salah urat," jawab Rafa asal, lalu buru-buru masuk ke ruangan IT sebelum ditanya lebih detail. Salah urat adalah eufemisme paling sopan untuk menggambarkan kondisi lubang keramatnya yang bengkak karena ulah monster di balik celana Pak Damar.
Baru saja Rafa duduk dan menyalakan PC, telepon mejanya berdering.
Tring.
Jantung Rafa copot. Dia hafal nomor ekstensi yang muncul di layar telepon.
Ext. 1201 - Damar Aryasaty.
Rafa mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar. Dia menoleh ke kanan-kiri, memastikan Mas Bayu sedang sibuk pakai headset.
"H-halo?" bisik Rafa.
"Udah sampai kantor, sayang?"
Suara berat di seberang sana terdengar begitu intim, membuat bulu kuduk Rafa meremang seketika.
"Pak! Jangan panggil gitu di telepon kantor! Nanti disadap!" desis Rafa panik.
Terdengar tawa renyah Damar. "Nggak ada yang nyadap. Ke ruangan saya sekarang ya?"
"Ngapain lagi? Laptop Bapak kan nggak rusak!"
"Kangen. Lagian saya butuh 'charger'. Baterai saya udah mulai abis nih, butuh sentuhan lima detik kamu biar semangat kerja."
Wajah Rafa memerah padam. "Bapak mah modus! Saya masih sakit tahu!"
"Iya, janji nggak diapa-apain. Cuma pegangan tangan. Sekalian saya pesenin makan siang enak buat kamu. Bubur lagi mau? Atau sop buntut biar kuat?"
Rafa menggigit bibir bawahnya, menahan senyum. Sialan, kenapa duda satu ini jadi bucin dan perhatian banget sih?
"Yaudah. Lima menit lagi saya naik. Jangan kunci pintu, nanti dikira ngapa-ngapain."
"Siap, Bos."
Di ruangan Damar, dinamika itu sudah berubah total.
Rafa tidak lagi berdiri kaku di depan meja. Dia kini duduk di sofa tamu, menyantap sop buntut premium yang dipesan khusus oleh Damar, sementara sang manajer duduk di sebelahnya, menyesap kopi sambil memandangi Rafa makan.
"Enak?" tanya Damar lembut, tangannya terulur mengusap sudut bibir Rafa yang berminyak.
"Enak, Pak," jawab Rafa malu-malu.
Damar menggeser duduknya, merapatkan pahanya ke paha Rafa. Sentuhan kulit terjadi (karena celana Rafa tersingkap sedikit saat duduk).
"Pak..." Rafa memberi peringatan.
"Sstt. Belum lima detik," goda Damar.
Damar meraih tangan kiri Rafa, menggenggamnya erat di atas paha. Dia memejamkan mata sejenak, menikmati sensasi ‘sengatan listrik’ khas kutukan Rafa yang langsung mengirim sinyal hangat ke sekujur tubuhnya. Bagi Damar, ini lebih ampuh daripada kopi atau minuman energi manapun.
"Raf," ucap Damar tiba-tiba, matanya menatap serius.
"Ya?"
"Makasih ya."
"Buat apa?"
"Buat hadir di hidup saya. Kamu tahu... saya sempet mikir hidup saya sebagai laki-laki udah selesai. Tapi ternyata, saya cuma butuh 'kunci' yang pas buat nyalain mesinnya lagi." Damar terkekeh pelan. "Meskipun kuncinya agak... meledak-ledak."
Rafa tertawa kecil. "Bapak nggak takut? Kalau tiap sentuhan kita berakhir... basah?"
"Nggak," jawab Damar mantap. Dia mendekatkan wajahnya, mencium pipi Rafa singkat. "Justru itu serunya. Kita jadi harus pinter-pinter cari waktu. Dan kalaupun 'kecelakaan' lagi... ya tinggal mandi bareng, kan?"
Rafa memukul lengan Damar pelan. "Dasar mesum!"
Damar tertawa, lalu menarik Rafa ke dalam pelukannya. Kali ini dia tidak peduli soal aturan lima detik. Dia membiarkan tubuh mereka menempel, membiarkan reaksi alamiah itu terjadi.
Karena sekarang Damar tahu, dia tidak rusak. Dia tidak mandul. Dia adalah laki-laki utuh yang jatuh cinta pada seorang staf IT yang punya sentuhan ajaib.
Dan Rafa, di dalam pelukan hangat pria maskulin yang dulu hanya bisa dia kagumi dari jauh, akhirnya sadar bahwa kutukannya bukanlah bencana. Itu adalah radar jodoh. Radar yang menuntunnya pada duda seksi yang ternyata sangat manja dan possesive.
"Pak..." bisik Rafa saat merasakan ‘sesuatu’ mulai mengeras di pinggangnya. "Udah lebih dari lima detik lho..."
Damar menyeringai, berbisik di telinga Rafa dengan suara ngebass-nya yang mematikan.
"Biarin. Kunci pintunya, Raf. Saya mau update software lagi sebentar."
Di luar ruangan, kantor berjalan seperti biasa. Tapi di dalam, hubungan mereka sudah masuk level baru—rahasia manis yang bikin Damar semakin hidup dan Rafa semakin... lemes tapi bahagia.
SELESAI.
Thank you sudah temenin Rafa kerja lembur, guys! Semoga kalian enjoy ya baca cerita ini. Anyway, sebenarnya ada adegan extra juga di part ini yang bisa kalian baca di versi ebook yang ada di halaman depan cerita ini. Jangan lupa cek, ya! Love you, ketemu lagi di cerita lain <3
Komentar
Posting Komentar