Kafe di seberang sekolah itu bernama The Equation. Nama yang sangat klise, tapi suasana di dalamnya sangat jauh dari kesan sekolah. Lampu kuning temaram, alunan musik jazz pelan, dan sofa-sofa kulit yang terlihat sangat nyaman untuk diduduki berjam-jam.
Aku duduk di sudut paling pojok, mencoba bersembunyi di balik daftar menu. Di depanku, Pak Ikbal sedang melepas jaketnya, menyisakan kaos hitam ketat yang membuat beberapa pengunjung cewek (dan mungkin cowok) di meja lain menoleh dua kali.
"Sudah pesan?" tanya Pak Ikbal.
"Belum, Pak. Eh, maksudnya... Kak?" aku mendadak bingung harus memanggilnya apa di luar sekolah.
Pak Ikbal terkekeh, suara baritonnya beradu dengan denting sendok kafe. "Di sini panggil Kak Ikbal saja. Atau kalau kamu merasa aneh, tetap panggil ‘Pak’ juga tidak apa-apa. Saya tidak akan memberimu detensi karena tidak sopan di luar jam pelajaran."
Pelayan datang, dan Pak Ikbal memesankan satu cokelat panas dengan extra marshmallow untukku—persis seperti yang dia katakan di kelas—dan long black tanpa gula untuk dirinya sendiri.
"Anjas," panggilnya setelah pelayan pergi. Dia menopang dagu dengan satu tangan, menatapku lurus. "Kenapa kamu kaku sekali? Saya tidak sedang membawakan soal ujian di sini."
"Saya cuma... belum terbiasa, Pak. Eh, Kak," aku meremas ujung kemejaku. "Seumur hidup, saya nggak pernah diajak keluar sama guru. Apalagi guru yang... kayak Kakak."
"Kayak saya?" Dia menaikkan alisnya. "Maksudnya guru yang suka mengacak rambutmu dan meminjamkan kemejanya?"
Wajahku meledak panas. Aku pura-pura sibuk melihat ke arah jendela yang berembun. "Maksudnya... guru yang terlalu pintar buat ngajar di sekolah kecil kayak punya kami. Kenapa Kakak milih di sini? Kakak kan bisa jadi model, atau kerja di perusahaan besar di Jakarta, atau malah di luar negeri."
Pertanyaanku membuat suasana mendadak hening. Pak Ikbal mengambil cangkir kopinya, menyesapnya perlahan. Matanya menatap uap yang mengepul, seolah sedang melihat memori yang jauh.
"Kamu tahu, Anjas? Di dunia modeling atau korporat, semua orang melihat saya sebagai ‘produk’. Mereka menghitung nilai saya dari sudut rahang saya, lebar bahu saya, atau seberapa cepat saya bisa menghasilkan uang buat mereka," dia menjeda, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat dalam—lebih dalam dari biasanya. Rasanya seperti aku mau tenggelam di sana.
"Tapi di sekolah, di depan papan tulis... saya merasa menjadi manusia. Terutama saat saya melihat murid seperti kamu. Kamu itu seperti variabel yang belum terpecahkan, Anjas. Punya potensi besar tapi terkubur di balik rasa minder yang luar biasa. Saya ingin melihatmu ‘selesai’. Saya ingin melihatmu percaya diri."
Aku terdiam. Dadaku rasanya seperti penuh sesak oleh sesuatu yang manis tapi juga menyesakkan. Selama ini aku pikir dia hanya iseng, tapi ternyata dia melihat sesuatu dalam diriku yang bahkan aku sendiri tidak tahu itu ada.
"Kak..." suaraku hampir hilang.
"Anjas," dia memotong, tangannya tiba-tiba bergerak menyeberangi meja dan menggenggam jemariku yang ada di atas meja.
Dunia seolah berhenti berputar. Sentuhan tangannya hangat, kokoh, dan penuh keyakinan.
"Jangan pernah merasa kecil lagi. Ben itu hanya angka kecil yang tidak akan berarti apa-apa kalau kamu sudah tahu nilai mutlak dirimu sendiri," dia mengusap ibu jarinya di punggung tanganku. Gerakannya sangat perlahan, sangat intim, hingga aku bisa merasakan aliran listrik statis merambat ke seluruh tubuhku.
Sesaat, aku lupa kalau aku adalah siswa SMA yang seharusnya belajar trigonometri. Di bawah lampu kafe ini, aku hanya Anjas, dan di depanku adalah Ikbal. Bukan guru, bukan model, tapi seorang laki-laki yang membuatku sadar bahwa pencarian jati diriku selama ini mungkin sudah berakhir di sini.
Inner gay-ku? Dia sudah tidak pingsan lagi. Dia sedang menangis terharu sambil memegang bendera kemenangan.
Tapi, tepat saat suasana makin intens, ponsel Pak Ikbal bergetar di atas meja. Sebuah nama muncul di layar: "Sari (Guru B. Inggris)".
Wajah Pak Ikbal mendadak berubah datar. Dia melepaskan genggaman tangannya—membuatku merasa kehilangan seketika—dan mematikan ponselnya tanpa menjawab.
"Maaf," ucapnya singkat. "Ada gangguan variabel yang tidak penting."
Dia kembali menatapku, tapi kali ini ada kilatan protektif di matanya. "Malam ini, jangan pikirkan soal sekolah. Cukup pikirkan cokelat panasmu... dan mungkin, sedikit tentang saya."
Aku menyeruput cokelat panasku yang manis, tapi hatiku jauh lebih manis. Aku sadar, ini bukan lagi sekadar naksir guru. Ini sudah masuk ke ranah yang jauh lebih berbahaya. Dan aku? Aku tidak ingin diselamatkan.
Komentar
Posting Komentar