Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 8: Logaritma Rahasia

Sesi mentoring sore itu tidak dilakukan di kelas, melainkan di perpustakaan karena kelas sedang dicat ulang. Perpustakaan sekolah kami di jam segini adalah tempat paling sunyi di dunia, hanya ada aroma kertas tua dan debu yang menari di sela cahaya matahari senja.

Pak Ikbal sedang dipanggil ke ruang Kepala Sekolah, meninggalkan tas kulitnya yang bermerek itu di atas meja kayu tempat kami belajar. Aku seharusnya fokus pada soal turunan implisit, tapi mataku terus melirik ke arah tas itu.

Tiba-tiba, tas itu terjatuh karena tersenggol sikuku. Beberapa isinya berhamburan.

"Sial," umpatku pelan sambil berlutut untuk memungutinya.

Ada buku agenda, pulpen, dan sebuah map plastik transparan. Di dalamnya, aku melihat beberapa lembar foto dan dokumen resmi berbahasa Inggris. Tanganku gemetar saat membukanya. Itu bukan materi matematika.

Itu adalah kontrak modeling dari sebuah agensi besar di Milan. Ada foto-foto Pak Ikbal—atau di sana tertulis 'Ikbal B.'—yang berpose sangat... berani. Tanpa baju, hanya memakai celana denim, menatap kamera dengan tatapan kosong yang menyakitkan.

Tapi yang paling membuat jantungku berhenti adalah sebuah surat medis dan potongan berita koran luar negeri yang sudah agak lecek. Judulnya: "The Fallen Muse: Top Model Ikbal B. and the Dark Side of the Industry."

Ada catatan tentang depresi klinis dan gangguan kecemasan akibat eksploitasi. Di sana tertulis bagaimana dia dipaksa menjadi sesuatu yang bukan dirinya, hingga dia hampir kehilangan nyawanya sendiri.

"Anjas."

Suara itu dingin. Dingin sekali.

Aku tersentak dan menjatuhkan map itu. Pak Ikbal berdiri di ambang rak buku, bayangannya memanjang menyentuh kakiku. Wajahnya tidak lagi hangat seperti di kafe kemarin. Matanya memancarkan luka yang selama ini dia tutup rapat dengan rumus-rumus dan angka.

"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Pak Ikbal, suaranya datar tapi bergetar.

"Maaf, Pak... saya... tadi tasnya jatuh..." suaraku tercekat di tenggorokan.

Pak Ikbal melangkah mendekat, memunguti map itu dengan gerakan cepat. Dia menatap foto-fotonya sendiri dengan tatapan jijik, seolah sedang melihat orang asing yang sangat dia benci.

"Sekarang kamu tahu," ucapnya pahit. "Sekarang kamu tahu kalau gurumu ini bukan pahlawan. Saya cuma produk gagal yang melarikan diri ke sekolah kecil ini supaya tidak ada orang yang mengenali saya lagi."

"Tapi Pak... ini bukan kegagalan," aku memberanikan diri berdiri. Aku menatap matanya yang memerah. "Ini justru kekuatan. Bapak berani pergi dari tempat yang menyakiti Bapak."

Pak Ikbal tertawa sumbang, tertawa yang lebih mirip sebuah rintihan. "Kamu tidak mengerti, Anjas. Di dunia itu, saya hanya seonggok daging. Saya datang ke sini karena saya ingin dianggap pintar, saya ingin dianggap punya otak. Tapi setiap kali orang melihat saya—termasuk kamu, saat pertama kali melihat saya—kalian hanya melihat 'si ganteng' ini, bukan?"

Aku terdiam. Kalimatnya menghujam tepat di jantungku. Memang benar, awalnya aku tertarik padanya karena fisiknya yang tidak manusiawi itu.

"Saya... saya memang naksir Bapak karena Bapak ganteng," kataku jujur, membuat Pak Ikbal sedikit tertegun. "Tapi saya bertahan di sini, belajar matematika sampai mau mati, itu bukan karena wajah Bapak. Tapi karena Bapak orang pertama yang bilang kalau saya berharga. Bapak orang pertama yang melihat 'angka nol' di diri saya sebagai sesuatu yang penting."

Aku melangkah mendekat, membabat habis semua aturan antara guru dan murid. Aku meraih tangannya yang masih memegang map itu.

"Bagi saya, Bapak bukan produk gagal. Bapak adalah variabel paling berharga dalam hidup saya."

Keheningan menyergap perpustakaan itu. Pak Ikbal menatap tanganku yang menggenggam tangannya, lalu dia menatapku. Perlahan, kekakuan di wajahnya runtuh. Dia melepaskan map itu ke meja, dan tiba-tiba dia menarikku ke dalam pelukannya.

Pelukannya sangat erat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat di dadaku. Kepalanya bersandar di bahuku, dan aku bisa merasakan napasnya yang berat.

"Terima kasih, Anjas," bisiknya, sangat lirih. "Terima kasih sudah melihat saya."

Sore itu, di antara rak buku yang berdebu, rahasia itu tidak lagi menjadi beban bagi Pak Ikbal. Dan bagiku, logaritma perasaanku sudah terjawab: Aku tidak hanya mencintai wajahnya. Aku mencintai jiwanya yang terluka, yang entah bagaimana, terasa sangat cocok dengan jiwaku yang juga penuh memar.

Tapi kami berdua tahu... ini adalah awal dari akhir. Karena ujian nasional tinggal sebentar lagi, dan perpisahan sekolah mulai menghitung mundur kehadirannya.

Komentar