Gak dibolehin sama Rambu dan Bara! 😈
Sahawn's Vault
Penulis Cerita BL

Part 9: Hitung Mundur

Kalender di dinding kelas seolah bergerak dua kali lebih cepat. Angka-angka tanggal yang dicoret dengan spidol merah menandakan semakin dekatnya hari penghakiman: Ujian Nasional.

Suasana sekolah yang biasanya bising dengan tawa, kini berubah menjadi hening yang mencekam. Lorong-lorong dipenuhi murid yang duduk lesehan dengan buku tebal, termasuk aku. Tapi fokusku bukan lagi sekadar lulus, melainkan fakta bahwa setiap detik yang berlalu adalah detik yang membawaku menjauh dari Pak Ikbal.

"Njas, kamu sudah tahu mau lanjut kuliah ke mana?" Rian bertanya saat kami sedang duduk di tribun lapangan basket yang sepi.

"Nggak tahu, Yan. Mungkin ambil teknik atau matematika. Entahlah," jawabku sambil menatap kosong ke arah lapangan.

"Matematika? Wah, fiks ini mah. Ikbal Effect emang gila," Rian terkekeh, meski ada nada sedih di suaranya. "Hani bilang dia mau ke Jakarta. Aku mungkin ke Bandung. Kita bakal mencar-mencar ya?"

Aku hanya mengangguk. Mencari jati diri ternyata harus dibayar dengan perpisahan.

***

Sesi mentoring terakhir.

Sore itu langit berwarna ungu kemerahan, menyelinap masuk lewat jendela kelas. Pak Ikbal duduk di mejanya, tidak lagi mengoreksi soal, tapi hanya menatap papan tulis yang sudah bersih dari kapur.

"Ini latihan terakhir untukmu, Anjas," ucapnya saat aku meletakkan lembar jawabanku.

Dia tidak memeriksanya. Dia hanya melipat tangannya di atas meja dan menatapku. Tidak ada lagi jarak ‘guru dan murid’ yang kaku. Hanya ada dua orang manusia yang tahu bahwa waktu mereka hampir habis.

"Kamu sudah siap menghadapi dunia luar?" tanyanya lembut.

"Saya takut, Pak," jawabku jujur. "Di luar sana nggak ada 'garis mutlak' yang bakal jagain saya."

Pak Ikbal tersenyum—senyuman yang paling manis sekaligus paling sedih yang pernah kulihat. Dia bangkit dari kursinya, berjalan mendekat, lalu duduk di pinggiran mejaku. Posisi yang sangat santai.

"Anjas, kamu ingat apa yang saya katakan soal variabel?"

Aku mengangguk pelan.

"Kamu bukan lagi variabel yang tersembunyi. Kamu sudah menemukan nilaimu sendiri," dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah amplop kecil berwarna biru tua. "Saya punya sesuatu untukmu. Jangan dibuka sekarang. Buka saat kamu sudah menerima ijazahmu nanti."

Aku menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Pak... Bapak bakal tetap di sini?"

Pak Ikbal menatap ke arah jendela, ke arah pohon mahoni yang bergoyang ditiup angin sore. "Keinginan saya di sini sudah tercapai, Anjas. Saya datang untuk mencari ketenangan, dan saya menemukannya lewat kamu. Tapi seorang guru tidak boleh terus memegang tangan muridnya, atau murid itu tidak akan pernah bisa berlari."

"Maksud Bapak?"

"Saya juga akan pergi," bisiknya. "Saya akan kembali ke dunia saya yang lama, tapi kali ini bukan sebagai 'produk'. Saya akan membangun agensi saya sendiri, tempat di mana tidak ada orang yang akan dieksploitasi lagi."

Dadaku rasanya seperti dihantam godam besar. Dia pergi. Aku pergi. Kami semua pergi. Tidak ada yang tersisa.

"Tapi sebelum kita berpisah..." Pak Ikbal meraih pundakku, menarikku mendekat sampai dahi kami bersentuhan.

Aroma sandalwood itu menyerangku untuk yang kesekian kalinya, begitu akrab, begitu menyesakkan. Aku memejamkan mata, merasakan nafasnya yang hangat.

"Terima kasih sudah menjadi satu-satunya orang yang memanggil nama saya dengan tulus, Anjas. Di luar sana, jadilah angka yang tidak bisa diabaikan."

Dia tidak menciumku. Dia hanya memberikan kecupan singkat dan hangat di keningku—sebuah restu, sebuah pelepasan, dan sebuah janji tak terucap.

Aku keluar dari kelas itu dengan air mata yang tidak bisa lagi kutahan. Aku berjalan melewati koridor yang sudah gelap, memeluk amplop biru itu erat-erat.

Hitung mundurnya sudah berakhir. Dan besok, aku bukan lagi muridnya.

Komentar