Suara derit ban yang beradu dengan aspal basah adalah bunyi terakhir yang diingat Rudi sebelum kegelapan merenggutnya. Malam itu, delapan tahun yang lalu, motor besar yang ia kendarai tergelincir di tikungan tajam daerah Cadas Pangeran. Tubuh raksasanya terlempar belasan meter, menghantam pembatas jalan dengan posisi pinggang dan tulang ekor yang menerima beban paling fatal.
Saat ia terbangun di bangsal rumah sakit dengan bau antiseptik yang menyengat, Rudi mengira ia telah kehilangan kakinya. Namun, rasa sakit yang lebih dalam justru muncul ketika Dokter Andri—yang saat itu masih menjadi dokter muda yang menangani sarafnya—datang membawa papan catatan medis dengan wajah tanpa ekspresi.
"Mas Rudi, ada kerusakan permanen pada saraf di area sacral dan pudendus," ucap dokter itu sambil menunjuk rontgen tulang belakangnya. "Secara fisik, kaki Anda masih bisa dilatih untuk berjalan kembali. Tapi... sinyal dari otak ke area reproduksi Anda telah terputus total."
Vonis itu jatuh lebih berat daripada beban 200 kg yang biasa ia angkat di gym.
"Maksud Dokter?" suara Rudi parau.
"Anda menderita impotensi total, Mas. Organ Anda sehat, aliran darah normal, bahkan ukurannya yang 20 cm itu tetap ada di sana. Tapi secara fungsional, sarafnya mati. Dia tidak akan pernah bisa ereksi lagi, sekeras apapun rangsangannya. Secara medis, itu adalah 'aset mati'."
Sejak hari itu, hidup Rudi adalah sebuah sandiwara besar. Setiap inci otot yang ia bangun setelah sembuh hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kenyataan bahwa di balik celana pendek gym-nya, terdapat sebuah monumen kegagalan. Ia membangun tubuh yang paling maskulin di Bandung hanya untuk menyembunyikan fakta bahwa ia sudah tidak bisa lagi berfungsi sebagai laki-laki.
Ia pikir rahasia itu akan terkubur bersama dirinya suatu saat nanti. Ia tidak pernah menyangka bahwa delapan tahun kemudian, seorang pemuda bernama Andi akan menemukan celah di benteng ototnya, dan menggunakan vonis medis itu sebagai belati untuk menguliti harga dirinya di depan umum.
Malam ini, di bawah lampu ruko yang berkedip, Rudi menatap ponselnya. Sebuah pesan singkat yang merujuk pada rekam medis delapan tahun lalu itu baru saja masuk, meruntuhkan seluruh dunia yang ia bangun dengan susah payah.
Komentar
Posting Komentar