Arman berdiri di pinggir jalur rintis, kedua tangannya bertumpu di pinggang. Seragam mandornya yang berwarna hijau lumut nampak ketat, membungkus bahu lebar dan otot lengannya yang solid hasil latihan beban yang tak pernah absen ia lakukan di mess. Wajahnya yang garang, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang selalu menyipit tajam, sudah cukup untuk membuat kuli-kuli di sana enggan mencari gara-gara.
"Woy! Jaka! Lambat banget gerak kau! Makan apa kau tadi pagi, hah?" Teriakannya menggelegar, membelah kesunyian perkebunan yang hanya diisi bunyi gesekan pelepah.
Jaka, yang sedang memikul dua janjang sawit seberat puluhan kilogram, hanya bisa menunduk. Keringat mengucur deras dari keningnya, membasahi kaos oblongnya yang kumal dan melekat di kulitnya yang legam. Di belakangnya, Bahrul dan Dedi juga tampak kepayahan, namun mata mereka sesekali melirik ke arah Arman dengan kilat yang sulit diartikan.
"Maaf, Pak Mandor. Ini janjangnya besar-besar, medannya juga agak licin di bawah," sahut Jaka pelan, berusaha menjaga napasnya tetap teratur.
Arman melangkah mendekat. Sepatu botnya yang berat menginjak ranting kering dengan bunyi krak yang intimidatif. Ia berhenti tepat di depan Jaka, badannya yang lebih tinggi dan berisi membuat Jaka tampak kecil di bawah bayang-bayangnya. Arman mengendus sinis, seolah mencium bau keringat kuli di depannya sebagai sesuatu yang menjijikkan.
"Alasan saja kau. Kalau kerjamu kayak siput begini, sampai kiamat pun ini blok nggak akan selesai dipanen! Mau aku potong gajimu bulan ini?" Arman sengaja mengeraskan suaranya agar kuli lain mendengar. Ia menikmati posisi ini—menjadi yang paling kuat, yang paling berkuasa.
Ia kemudian beralih ke Dedi, kuli paling muda yang sedang berusaha menaikkan sawit ke atas truk. Dengan kasar, Arman menepuk pundak Dedi—bukan tepukan akrab, melainkan tekanan yang sengaja disalurkan untuk menunjukkan dominasi fisik.
"Kau juga, anak muda. Badan saja yang kering kencang, tapi tenaga lembek. Malu sama ototmu itu!" Arman tertawa meremehkan, tawa yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga mereka yang sudah bekerja sejak fajar.
Arman tidak sadar, saat ia berbalik untuk berjalan menuju motor trailnya, Jaka dan Bahrul saling bertukar pandang. Bahrul meludah ke tanah, matanya mengikuti gerak-gerik bokong Arman yang padat di balik celana kainnya yang ketat.
"Sombong sekali si brengsek ini," bisik Dedi, suaranya parau karena emosi.
"Biarkan saja dulu," sahut Jaka dengan senyum tipis yang dingin. Ia meraba saku celananya, memastikan ponselnya masih ada di sana. "Tunggu saja nanti sore. Kita lihat apa dia masih bisa teriak-teriak begini setelah kita jinakkan di belakang gudang."
Arman menghidupkan mesin motornya, deru mesin 150cc itu memekakkan telinga. Ia melesat pergi, meninggalkan debu merah yang beterbangan menutupi wajah para kuli, tanpa menyadari bahwa itu adalah saat terakhir ia bisa berdiri dengan kepala tegak di depan mereka.
𓂺 𓂺 𓂺 𓂺 𓂺
Semburat oranye mulai membelah langit Kalimantan, menandakan sif siang segera berakhir. Arman baru saja selesai memarkir motor trailnya di depan kantor divisi ketika Jaka menghampirinya. Langkah Jaka tampak terburu-buru, wajahnya diset sedemikian rupa agar terlihat cemas.
"Pak Mandor! Pak, gawat!" seru Jaka sambil mengatur napas.
Arman yang sedang membuka helm, menoleh dengan dahi berkerut. "Apa lagi, Jak? Nggak bisa apa sehari saja nggak bikin pusing?"
"Itu, Pak... kunci gudang alat yang di belakang rusak. Sepertinya ada yang coba congkel tadi sore. Saya nggak berani buka sendiri, takut dituduh macam-macam. Bahrul sama Dedi sudah di sana nungguin Bapak," lapor Jaka teliti.
Arman mendengus kasar. "Sialan. Siapa pula yang berani main-main sama gudang saya." Tanpa curiga, ia menyampirkan kembali kunci motornya ke sabuk kulitnya. "Ayo. Awas kalau kalian cuma mau malas-malasan buat lembur."
Mereka berjalan membelah jalur semak menuju area belakang gudang yang sudah mulai remang. Lokasi itu memang terisolasi, jauh dari pemukiman buruh dan tertutup rimbun pelepah sawit tua.
Begitu sampai, Arman melihat Bahrul dan Dedi berdiri mematung di depan pintu gubuk kecil yang menempel pada gudang utama. Gubuk itu biasanya hanya digunakan untuk menyimpan karung-karung pupuk bekas dan peralatan yang sudah afkir.
"Mana yang rusak?" tanya Arman ketus, melangkah maju melintasi mereka.
Begitu Arman berada tepat di ambang pintu, suasana berubah seketika. Tidak ada kunci yang rusak. Bahrul dengan cepat mendorong punggung tegap Arman hingga ia tersungkur masuk ke dalam ruangan yang pengap dan gelap itu.
BRAK!
Pintu dibanting tertutup. Jaka segera memutar kunci dari dalam.
"Apa-apaan ini?! Kalian gila?!" Arman berteriak, suaranya bergema di ruangan sempit yang hanya diterangi cahaya remang dari celah-celah papan kayu. Ia mencoba bangkit, namun Dedi dan Bahrul sudah lebih dulu menerjangnya.
"Sabar, Pak Mandor... suaranya dijaga. Nanti kalau ada yang dengar, malah Bapak yang malu," bisik Bahrul di dekat telinga Arman. Suaranya yang berat mengandung ancaman yang nyata.
Arman meronta, otot-otot lengannya menegang berusaha melepaskan diri dari pitingan Bahrul yang ternyata jauh lebih kuat dari dugaannya. Tenaga kuli yang terbiasa memikul beban berat setiap hari itu membuat Arman kewalahan.
"Lepasin! Saya pecat kalian semua besok!" Arman menggeram, wajah sangarnya memerah padam karena amarah dan ego yang mulai terusik.
Jaka melangkah maju dengan tenang. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menyalakan lampu flash yang langsung menyorot tepat ke wajah Arman yang sedang dipaksa berlutut oleh Bahrul dan Dedi.
"Pecat? Silakan saja, Pak," Jaka tertawa kecil, nada suaranya terdengar sangat puas. "Tapi sebelum itu... kami mau main sebentar. Bapak sudah terlalu sering 'menindas' kami di lapangan. Sekarang, gantian kami yang mau lihat Mandor besar ini berlutut di bawah kaki kuli-kuli 'lembek' ini."
Jaka mendekat, tangan kasarnya meraih dagu Arman dan menekannya kuat. "Buka seragam gagahmu ini sekarang, atau kami yang robek paksa?"
𓂺 𓂺 𓂺 𓂺 𓂺
Lampu flash dari ponsel Jaka bergoyang-goyang liar, menciptakan bayangan raksasa yang menari-nari di dinding kayu gubuk. Aroma pupuk kimia dan debu pengap seolah mencekik kerongkongan Arman saat ia merasakan tangan-tangan kasar mulai menjamah tubuhnya.
"Lepas! Bajingan kalian!" Arman menggeram. Ia menyentakkan bahunya yang lebar, mencoba melepaskan diri dari himpitan Bahrul. Sebagai pria yang rutin melatih ototnya, tenaga Arman tidak main-main. Satu sikutan keras darinya sempat mendarat di tulang rusuk Dedi hingga pemuda itu meringis.
Namun, ini bukan gym. Ini adalah pertarungan kotor di atas lantai tanah.
"Pegang kakinya, Ded! Jangan kasih lepas!" teriak Bahrul yang kini mengunci leher Arman dengan lengannya yang berurat.
Dedi yang emosinya tersulut karena sikutan tadi, langsung menerjang kaki Arman. Sementara itu, Jaka meletakkan ponselnya di atas tumpukan karung bekas agar cahayanya tetap menyorot ke tengah ruangan. Dengan seringai licik, Jaka mendekat dan mulai menarik paksa seragam mandor Arman.
Kancing-kancing kemeja hijau itu terlepas satu per satu, mencuat jatuh ke tanah. Arman meronta hebat, dadanya yang bidang dan kecokelatan kini terekspos, naik-turun karena napas yang memburu.
"Kalian bakal mati membusuk di penjara!" ancam Arman, suaranya parau namun tetap berusaha mengintimidasi.
"Banyak bicara kau, Bos," gumam Bahrul.
Saat Arman hampir berhasil menendang perut Jaka, sebuah tinju mentah melesat cepat. BUK! Pukulan keras dari Bahrul mendarat telak di perut sixpack Arman yang keras dan proporsional. Arman tersentak, seluruh udara di paru-parunya seolah terpompa keluar seketika. Tubuhnya yang kekar itu mendadak lemas, menekuk menahan perih yang luar biasa di ulu hati.
"Uhuk... k-kurang ajar..." Arman terbatuk, wajah garangnya kini memucat, matanya berair menahan rasa mual yang melilit perutnya.
Kesempatan itu tak disia-siakan. Dengan gerakan cepat, Jaka dan Dedi mempreteli sisa pakaian sang mandor. Celana kainnya ditarik paksa hingga menyisakan hanya celana dalam yang membungkus bagian intimnya. Tak butuh waktu lama, pakaian terakhir itu pun ditarik kasar ke bawah kaki.
Kini, sang mandor besar yang tadinya berdiri angkuh di lapangan, terkapar telanjang bulat di atas karung-karung kumal. Kulitnya yang tan dan sedikit berbulu di bagian dada serta betis nampak berkilat karena keringat di bawah cahaya lampu ponsel. Otot-ototnya masih tampak menonjol, namun kini ia tak lebih dari sekadar mangsa yang terpojok.
Jaka berjongkok di depan Arman yang masih terengah, lalu menjambak rambut cepaknya agar pria itu mendongak.
"Lihat ini, Ded, Rul... Mandor besar kita ternyata badannya bagus juga ya? Sayang, sekarang cuma jadi mainan kuli," ejek Jaka sambil mengarahkan kamera ponselnya tepat ke arah kejantanan Arman yang mulai mengerut karena ketakutan.
Arman memejamkan mata rapat-rapat, dadanya bergetar hebat. Rasa malu yang lebih menyakitkan dari pukulan di perutnya mulai merayap naik saat ia menyadari bahwa mulai malam ini, harga dirinya sudah habis tak bersisa.
𓂺 𓂺 𓂺 𓂺 𓂺
Ponsel di atas tumpukan karung itu terus merekam, lensanya seolah menjadi mata dingin yang menguliti harga diri Arman. Dalam kondisi telanjang bulat, tubuh kekar sang mandor nampak bergetar—bukan karena dinginnya malam, melainkan karena syok yang menghantam logikanya.
"Waduh, Pak Mandor... ternyata aslinya begini ya?" Dedi mulai meraba dada Arman yang bidang, jemarinya sengaja mempermainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sana. "Tadi siang galak banget, sekarang kok gemetaran kayak ayam sayur?"
Arman mencoba memalingkan wajah, tapi Jaka segera mencengkeram rahangnya dengan kasar. "Jangan buang muka, Bos. Liat kamera. Biar semua orang di kantor pusat tau kalau mandor kebanggaan mereka ini sebenarnya suka dipreteli begini."
Bahrul, yang sejak tadi lebih banyak diam namun memiliki aura yang paling mengancam, melangkah ke belakang tubuh Arman. Ia memaksa Arman untuk nungging, menekan punggung tegap itu hingga wajah Arman hampir mencium tanah yang berdebu.
"Pegang tangannya, Ded," perintah Bahrul.
Dedi dengan sigap menarik kedua tangan Arman ke belakang, mengikatnya dengan tali nilon kasar yang biasanya dipakai untuk mengikat bibit sawit. Arman merintih saat tali itu menggores kulit pergelangan tangannya.
"Sakit, Pak? Baru segini kok," gumam Bahrul. Ia mulai mengelus bokong Arman yang bulat dan padat. Tekstur kulit Arman yang terawat sangat kontras dengan telapak tangan Bahrul yang kapalan dan kasar.
Tiba-tiba, Arman merasakan sesuatu yang dingin dan asing menyentuh lipatan rahasianya. Jari tengah Bahrul mulai menekan lubang anusnya yang masih sangat rapat dan berbulu halus.
"Ah! J-jangan... berenti!" Arman mengerang, tubuhnya tersentak ke depan, namun pitingan Dedi pada tangannya membuatnya tak bisa bergerak.
"Jangan apa, Bos? Jangan berhenti?" Jaka tertawa, suaranya terdengar sangat jahat di ruangan sempit itu. Ia mendekatkan ponselnya, menyorot tepat ke arah jari Bahrul yang mulai memaksa masuk. "Tuh, liat. Masih rapat banget. Belum pernah 'dipakai' ya, Pak Mandor?"
Bahrul tidak menggunakan pelumas. Ia membiarkan jari kasarnya bergesekan dengan lubang Arman yang kering. Dengan sekali sentakan, satu jarinya amblas masuk hingga ke pangkal.
"Nngghhh! Argh!" Arman melenguh tertahan, kepalanya membentur lantai gubuk. Rasa perih yang menyengat seolah membelah tubuhnya. Ia bisa merasakan lubangnya dipaksa melebar secara kasar.
"Duh, sempitnya..." Bahrul menggumam dengan napas yang mulai memberat. Ia mulai menggerakkan jarinya masuk-keluar secara ritmis, sengaja memutar-mutar di dalam seolah sedang mencari celah untuk menghancurkan pertahanan terakhir Arman.
Air mata mulai menggenang di sudut mata sang mandor. Pria yang biasanya ditakuti itu kini hanya bisa mengerang pasrah, merasakan lubangnya dikoyak pelan-pelan oleh jari kuli yang selama ini ia hina.
𓂺 𓂺 𓂺 𓂺 𓂺
Jaka menarik jarinya keluar dengan sentakan kasar, menimbulkan bunyi plok basah yang menggema di keheningan gubuk. Arman terjerembap, dadanya menghantam lantai kayu yang kotor, napasnya tersengal-sengal seperti binatang buruan yang sekarat.
Bahrul melepaskan pitingannya. Ia berdiri, lalu dengan santai meludahi punggung Arman yang berkeringat. "Puas aku lihat kau begini, Bos. Ternyata lubangmu nggak segalak mulutmu," ejeknya sambil merapikan ritsleting celananya sendiri.
Dedi tak mau ketinggalan. Sebelum beranjak, ia melangkah ke depan wajah Arman yang masih meringis di lantai. Dengan ujung sepatu botnya yang berlumur lumpur perkebunan, ia menyenggol kejantanan Arman yang terkulai lemas di antara paha kekarnya. Bukan tendangan keras yang mematikan, melainkan dorongan pelan, berulang kali, seolah sedang mempermainkan bangkai tikus di jalanan.
"Lihat nih... Mandor besar kita. Punya barang tapi nggak ada gunanya," Dedi tertawa, ujung sepatunya yang kasar menggesek ujung sensitif Arman dengan cara yang sangat merendahkan. Arman hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan debu dari sepatu kuli itu mengotori kulitnya.
Jaka berjongkok sekali lagi, mendekatkan layar ponselnya ke wajah Arman yang hancur secara mental.
"Dengar baik-baik, Pak Mandor," bisik Jaka, suaranya kini dingin dan tanpa tawa. "Besok pagi, Bapak tetap kerja seperti biasa. Tetap jadi mandor galak, tetap maki-maki kami di depan orang kantor. Jangan sampai ada yang curiga."
Jaka menjeda, jarinya mengetuk layar ponsel yang memutar rekaman video saat Arman merintih kesakitan ditelanjangi. "Tapi... begitu matahari tenggelam dan gudang ini dibuka, Bapak tahu posisi Bapak di mana. Kalau Bapak telat sedetik saja, atau coba-coba lapor polisi... video ini bakal sampai ke grup WhatsApp kantor pusat dalam hitungan detik. Mengerti?"
Arman hanya bisa mengangguk lemah. Tenggorokannya terasa tersumbat, tak mampu mengeluarkan kata-kata.
"Jawab, Anjing!" bentak Bahrul sambil menendang pinggul Arman sekali lagi.
"I-iya... saya... saya mengerti," bisik Arman parau.
"Bagus," Jaka berdiri, mengantongi ponselnya dengan puas. "Ayo cabut. Biarkan dia menikmati bau pupuk di sini sebentar lagi."
Ketiga kuli itu melangkah keluar. Suara pintu kayu yang berderit diikuti bunyi gembok yang dikunci dari luar membuat gubuk itu mendadak sunyi senyap. Arman ditinggalkan sendirian dalam kegelapan, telanjang bulat, dengan rasa perih di anusnya dan sisa ludah yang mengering di kulitnya.
Ia meringkuk di atas karung pupuk, memeluk tubuh kekarnya sendiri yang kini terasa asing dan kotor. Di luar, suara jangkrik mulai bersahutan, menertawakan sang mandor yang baru saja kehilangan segalanya dalam satu malam. Besok, ia harus memakai topengnya kembali, sementara ia tahu bahwa di bawah seragam hijaunya, ia hanyalah milik para kuli itu.
Gerah banget
BalasHapus