01 Salah Server
Bumi Ilalang benci pagi hari. Bukan karena dia harus bangun pagi, bukan karena dia malas sekolah, tapi karena pagi hari adalah waktu di mana ‘mereka’ paling aktif.
Jam dinding di kamarnya baru menunjukkan pukul lima lewat sepuluh. Cahaya matahari pagi yang malu-malu mulai merayap masuk lewat celah ventilasi, membawa serta debu-debu halus yang menari dalam bias cahaya. Ilan—panggilan akrab remaja itu—masih menggulung tubuhnya di balik selimut tebal bermotif garis-garis abu-abu. Dia berusaha mencuri waktu lima menit lagi untuk menikmati kedamaian sebelum kekacauan dimulai.
Tok. Tok. Tok.
Bukan suara ketukan pintu dari ibunya. Itu suara paruh yang menghantam kaca jendela.
Ilan menghela napas panjang, berat, dan penuh penderitaan. Dia menyibakkan selimut, memperlihatkan rambut hitamnya yang mencuat ke segala arah, wajah bantal yang entah kenapa masih terlihat estetik, dan kaos oblong putih yang sudah agak melar di bagian leher.
Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju jendela kamarnya di lantai dua. Di sana, seekor burung merpati pos gemuk dengan bulu abu-abu mengkilap sudah menunggu. Burung itu menatap Ilan dengan mata bulatnya yang seolah menghakimi, "Bangun, woy. Udah siang."
"Iya, bawel. Gue udah bangun," gerutu Ilan dengan suara serak khas bangun tidur.
Begitu dia membuka kunci jendela dan mendorongnya keluar, merpati itu tidak terbang menjauh. Justru, dia melompat masuk ke dalam kamar, bertengger di bingkai foto wisuda TK Ilan di atas meja belajar, lalu mulai merapikan bulunya dengan santai seolah dia yang membayar cicilan rumah itu.
Ilan membiarkannya. Percuma diusir. Kemarin dia mencoba mengusir seekor kucing garong yang masuk lewat pintu dapur, hasilnya si kucing malah membawa serta tiga anaknya dan satu tikus mati sebagai ‘upeti’ agar diizinkan tinggal. Ilan tidak mau ambil risiko merpati ini memanggil satu skuadron burung gereja untuk berak berjamaah di kasurnya.
"Jangan boker di meja belajar gue," ancam Ilan sambil berjalan ke kamar mandi. Merpati itu hanya berkedip, seolah mengerti bahasa manusia—atau setidaknya, mengerti nada ancaman Ilan.
Kehidupan Ilan memang tidak pernah normal. Sejak bayi, ada glitch di semesta yang membuat hewan-hewan tertarik padanya secara tidak wajar. Bukan tipe ketertarikan manis ala putri dongeng yang bernyanyi bersama burung biru. Tidak. Ini lebih ke arah hewan-hewan yang merasa Ilan adalah tempat nongkrong paling asik, tiang panjat tebing gratis, atau pemimpin kultus yang harus diikuti ke mana-mana.
Pernah suatu kali saat SMP, Ilan sedang dihukum hormat bendera di lapangan. Tiba-tiba, seekor anjing kampung liar masuk ke lapangan, duduk di samping kakinya, dan ikut melolong setiap kali lagu Indonesia Raya diputar. Guru BK mengira Ilan bawa peliharaan ke sekolah dan hukumannya ditambah membersihkan toilet. Padahal kenal anjingnya saja tidak.
Sekarang, Ilan akan menghadapi tantangan baru. Sekolah baru.
STM Bhirawa.
Nama itu saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding. Sekolah kejuruan khusus laki-laki yang terkenal dengan tawurannya, lulusan yang jadi preman pasar, dan mesin-mesin tua yang lebih sering memakan korban jari siswa daripada menghasilkan sparepart berguna.
Ilan menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. Seragam putih abu-abu itu masih kaku dan licin, tanda baru disetrika dengan penuh cinta (dan kekhawatiran berlebih) oleh ibunya. Emblem 'SMK TEKNIK BHIRAWA' terjahit rapi di lengan kanan.
"Oke, Ilan. Low profile," bisiknya pada diri sendiri. Dia membasuh wajah, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari—yang sialnya malah membuatnya terlihat seperti model iklan sampo motor—lalu menatap tajam ke cermin. "Lo cuma mau belajar mesin. Lo mau buka bengkel. Jangan cari masalah. Jangan bikin hewan-hewan aneh nempel."
Dia keluar dari kamar mandi, menyambar tas ransel hitamnya yang berat berisi buku-buku teknik dasar dan satu set kunci pas kesayangannya. Si merpati masih di sana, kini tertidur di atas tumpukan buku PR matematikanya.
"Minggir, Burhan," kata Ilan asal memberi nama, lalu mengusir burung itu keluar jendela dengan kibasan tangan pelan.
Di lantai bawah, suasana dapur sudah riuh. Bukan riuh karena suara penggorengan, tapi suara Bapaknya yang sedang bernegosiasi.
"Hush! Pergi! Ilan mau sekolah! Jangan ngalangin pintu!"
Ilan menuruni tangga dan melihat pemandangan yang sudah jadi makanan sehari-hari. Bapaknya, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan sarung yang ditarik sampai dada, sedang mengacung-acungkan sapu lidi ke arah teras depan. Di sana, duduk dengan manis tiga ekor kucing liar berbeda warna (oren, hitam, dan belang telon) yang menatap pintu rumah dengan penuh harap.
"Pagi, Pak. Pagi, Bu," sapa Ilan datar, menarik kursi meja makan.
"Pagi, Sayang," sahut Ibunya yang sedang menuangkan nasi goreng ke piring. Wajah wanita itu tampak lelah tapi penuh kasih sayang. "Makan yang banyak. Hari pertama di sekolah baru butuh tenaga ekstra. Apalagi sekolah yang isinya... ya begitulah."
"Bapak udah bilang kan, kenapa nggak masuk SMA Negeri aja?" omel Bapaknya sambil menutup pintu depan rapat-rapat, lalu berbalik menatap Ilan. "STM Bhirawa itu ngeri, Lan. Isinya macan semua. Kamu itu..." Bapaknya menatap Ilan dari ujung rambut sampai ujung kaki. "...kamu itu terlalu 'wangi' buat masuk kandang macan."
"Bapak kira aku pewangi ruangan?" Ilan menyuap nasi gorengnya. "Aku mau jadi mekanik, Pak. SMA Negeri nggak ada praktek bongkar mesin diesel."
"Ya tapi kan..."
"Udah, Pak," potong Ibu. "Yang penting Ilan hati-hati. Dan... itu-nya dijaga." Ibu menunjuk samar ke arah udara di sekitar Ilan.
"Aman, Bu. Aku bawa semprotan anti-serangga di tas," jawab Ilan asal.
Sarapan berlangsung cepat. Ilan tahu orang tuanya cemas. Bukan karena dia tidak bisa membela diri—Ilan cukup kuat secara fisik karena sering bantu angkat-angkat barang berat—tapi karena keanehannya. Apa jadinya kalau preman sekolah melihat Ilan diikuti kawanan kupu-kupu saat jam istirahat? Pasti habis dia jadi bahan bulian seumur hidup.
"Aku berangkat," pamit Ilan setelah menghabiskan suapan terakhir. Dia menyalim tangan kedua orang tuanya.
"Helm dipake! Masker dipake! Jangan buka jaket!" teriak Bapaknya saat Ilan mengeluarkan motor cub klasik warisan kakeknya—Honda C70 warna merah yang sudah dimodifikasi mesinnya jadi lebih gahar tapi luarnya tetap vintage.
Ilan menyalakan mesin. Suaranya halus namun bertenaga. Brum... brum...
Saat dia membuka gerbang rumah, ketiga kucing yang tadi diusir bapaknya serentak berdiri. Ekor mereka tegak lurus.
"Nggak," kata Ilan tegas pada kucing-kucing itu dari balik helm. "Gue sekolah. Lo pada jaga rumah. Awas kalau ngikutin."
Ajaibnya, kucing-kucing itu duduk kembali. Ilan menghela napas lega. Setidaknya pagi ini dia bisa berangkat tanpa konvoi hewan. Dia memutar gas, motor tuanya melaju membelah jalanan aspal kompleks yang masih agak basah sisa embun.
Tujuannya: Kandang Macan.
***
Jarak rumah Ilan ke STM Bhirawa sekitar tiga puluh menit. Semakin dekat ke lokasi sekolah, pemandangan di jalanan mulai berubah. Kalau di daerah rumahnya banyak terlihat anak SMA berseragam rapi dan wangi, di radius dua kilometer dari Bhirawa, populasi jalanan didominasi oleh motor-motor sport dengan knalpot racing yang suaranya memekakkan telinga, atau motor butut yang dimodifikasi telanjang tanpa body.
Asap rokok mengepul di warung-warung pinggir jalan tempat para siswa nongkrong sebelum bel masuk. Seragam mereka? Jangan harap rapi. Baju dikeluarkan, celana dikecilkan sampai nyaris jadi legging (atau justru kedodoran ala baggy pants), dan rambut... oh, rambut adalah seni tersendiri di sini. Mulai dari gondrong tanggung, cepak tentara, sampai model mohawk yang disisir rapi kalau ada guru.
Ilan memelankan laju C70-nya saat melihat gerbang hitam raksasa yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Di atas gapura gerbang, ada tulisan besi berkarat: YAYASAN PENDIDIKAN TEKNIK BHIRAWA.
Di depan gerbang, berjejer para senior—kemungkinan kelas 12—yang bertugas sebagai ‘satpam tidak resmi’. Mereka duduk di atas motor-motor mereka, memindai setiap siswa baru atau siswa asing yang masuk. Tatapan mereka tajam, mencari mangsa, mencari yang lemah, atau sekadar mencari hiburan.
Jantung Ilan berdetak sedikit lebih kencang. Bukan takut, tapi waspada. Dia mengencangkan tali helmnya. Oke, lewat aja. Jangan kontak mata. Jangan cari gara-gara.
Dia melajukan motornya melewati gerombolan itu.
"Woy! C70 merah!" teriak salah satu dari mereka. Suaranya berat.
Ilan tidak berhenti. Dia pura-pura tuli.
"Buset, sombong amat tuh anak baru," terdengar celetukan lain.
"Motornya boleh juga. Klasik, Cuk."
Ilan berhasil lolos masuk ke area parkiran dalam yang luasnya minta ampun tapi atapnya cuma seng bolong-bolong. Bau oli, bensin, dan debu langsung menyergap indra penciumannya. Bagi Ilan, ini bau surga. Bau mesin.
Dia memarkirkan motornya di sudut yang agak sepi, di bawah pohon mangga besar yang rimbun di pojok parkiran. Dia pikir tempat itu strategis karena teduh.
Kesalahan besar.
Baru saja Ilan mematikan mesin dan membuka helm, dia merasakan sesuatu jatuh di bahunya. Bukan daun kering. Bukan ranting.
Pluk.
Ilan menoleh pelan ke bahu kirinya.
Seekor tupai. Tupai kecil dengan garis hitam di punggungnya, sedang memegang biji kenari, menatap Ilan dengan mata berbinar.
"Jangan sekarang," bisik Ilan putus asa. "Gue mohon, jangan sekarang."
Tupai itu tidak peduli. Dia malah merambat naik ke leher Ilan, merasa kerah kemeja Ilan adalah tempat yang nyaman untuk sarapan.
Di saat bersamaan, suara deru motor yang jauh lebih berisik, lebih berat, dan lebih mendominasi daripada motor lainnya terdengar memasuki area parkiran. Suara khas mesin 2-tak yang melengking tapi padat. RX King. Sang Raja Jalanan.
Seluruh parkiran sekolah hening sejenak. Siswa-siswa lain minggir, memberi jalan.
Sebuah Yamaha RX King hitam legam dengan aksen emas berhenti tepat di tengah jalur utama parkiran. Pengendaranya mematikan mesin, lalu dengan gerakan slow motion—yang entah kenapa terlihat keren banget—membuka helm full face-nya.
Rambut agak gondrong yang sedikit basah karena keringat. Kulit sawo matang yang eksotis. Rahang tegas. Dan di alis kirinya, ada bekas luka goresan vertikal yang memutus jalur alis tebal itu.
Itu dia. Galang Mahendra. Raja Sekolah Bhirawa.
Galang menyugar rambutnya ke belakang, lalu matanya menyapu area parkiran, mengecek ‘wilayah kekuasaannya’. Tatapannya berhenti tepat di pojok parkiran. Di bawah pohon mangga.
Di sana, dia melihat seorang cowok asing, berkulit putih bersih yang kontras dengan lingkungan kumuh sekitarnya, sedang... berdebat dengan seekor tupai di bahunya?
Galang menyipitkan mata. Dia menoleh ke arah teman di boncengannya, si wakil ketua geng yang badannya kayak kulkas dua pintu.
"Jo," panggil Galang.
"Yo, Bos?" sahut Paijo (panggilan lapangannya Jojo biar keren dikit).
"Mata gue siwer apa gimana?" Galang menunjuk dengan dagunya ke arah Ilan. "Itu anak baru kenapa ada tupai nangkring di lehernya? Sekolah kita kapan buka jurusan Kehutanan?"