3.2 Peringatan Gion dan Mimpi Sang Paku
Kamar utama itu terasa seperti sebuah kotak kayu yang kedap udara. Cahaya dari lampu minyak kecil di sudut ruangan menciptakan bayangan yang meliuk-liuk di dinding, membuat ukiran pada pilar-pilar ranjang jati kuno itu tampak seolah-olah bernapas. Bau kayu tua, debu, dan aroma cendana yang semakin tajam memenuhi indra penciuman, menindih dada siapa pun yang berada di dalamnya. Satria melangkah masuk dengan perasaan waswas yang tak bisa ia jelaskan. Di depannya, Bram sudah berdiri di sisi ranjang, membelakanginya. Punggung Bram yang lebar dan otot bahunya yang kokoh terlihat sangat dominan di bawah cahaya remang. Tanpa berkata apa-apa, Bram melepas kaus kutangnya, memperlihatkan raga maskulin yang bersimbah peluh. Kulitnya yang sawo matang tampak mengkilap, memantulkan cahaya jingga dari lampu minyak. "Tidur, Sat. Jangan bengong terus di pintu," suara Bram terdengar dalam, bergetar di udara yang berat. Satria menelan ludah. Ia perlahan mendekati ranjang, gerakannya terasa kaku...
3.1 Peringatan Gion dan Mimpi Sang Paku
Aroma menyengat khas balsem otot seketika mendominasi ruang tengah posko, mengalahkan bau kayu lapuk dan debu yang sedari kemarin mengendap di udara. Di atas karpet plastik yang digelar seadanya, Raka terbaring tengkurap hanya dengan mengenakan celana pendek. Pemuda itu terus mengerang panjang, wajahnya terbenam di antara kedua lengannya. "Aduh, pelan dikit dong, Din! Kulit gue rasanya kayak mau melepuh ini. Lu pake balsem apa sambel terasi sih?!" protes Raka dengan suara teredam. Dina yang duduk bersimpuh di sampingnya sama sekali tidak mengendurkan tenaga. Tangannya justru menekan punggung bawah Raka lebih keras, membuat mahasiswa Komunikasi itu menjerit tertahan. "Bawel lu ah. Udah syukur gue mau ngurutin. Lagian siapa suruh gaya-gayaan mau ngangkat batu segede mesin cuci sendirian? Lu kira lu kuli pelabuhan? Otot lu tuh cuma setebal sedotan pop es, Rak, sadar diri makanya," omel Dina panjang lebar sambil membalurkan lebih banyak balsem ke pinggang Raka. Tingkah ...
10 EPILOG: THE BROKEN SHELL
Seminggu telah berlalu sejak malam penobatan di kursi binaraga itu. Gudang keluarga Andi kini telah berubah fungsi sepenuhnya bagi Rudi Wijaya. Bukan lagi tempat ia mencoba melawan atau memohon, melainkan satu-satunya dunia yang ia kenal. Luka bakar inisial A di pangkal pahanya telah mengering, meninggalkan bekas luka parut menonjol yang akan selalu mengingatkannya bahwa ia bukan lagi pemilik atas tubuhnya sendiri. Pagi itu, rintik hujan kembali membasahi Bandung. Rudi duduk bersimpuh di lantai selnya yang sempit, telanjang bulat. Tubuh raksasanya yang dulu ia banggakan kini tampak seperti kanvas yang penuh dengan noda: lebam-lebam yang mulai menguning, bekas cakaran, dan kulit yang menghitam di area sensitifnya akibat siksaan listrik dan kimia. Pintu sel berdenting terbuka. Andi masuk dengan setelan rapi, tampak kontras dengan Rudi yang kotor. Di belakangnya, Dio menyusul sambil membawa sebuah nampan berisi makanan sisa dan air minum yang keruh. "Selamat pagi, Rudi," sapa An...
09 TOTAL SUBJUGATION
Malam puncak itu tiba. Gudang utama keluarga Andi disulap menjadi sebuah arena yang mengerikan. Di tengah ruangan, sebuah kursi binaraga yang biasanya digunakan untuk latihan shoulder press diletakkan di bawah lampu sorot yang sangat terang. Rudi Wijaya sudah berada di sana, dalam kondisi yang benar-benar hancur. Tubuhnya yang penuh otot kini dipenuhi tanda kepemilikan: tato temporer bertuliskan "PROPERTY OF ANDI CS" di dada bidangnya, memar di sekujur paha, dan lubang hidungnya dipasangi cincin pengait yang dihubungkan ke kalung lehernya. Di sudut ruangan, Andi, Rian, Dika, dan Fajar sudah menunggu. Namun, malam ini ada sosok lain. Dio (19), anak didik kesayangan Rudi di gym yang dulu ia anggap seperti adik sendiri, berdiri di sana dengan wajah yang tak lagi polos. Ada juga Dokter Andri yang datang membawa peralatan medisnya. "Malam ini bukan cuma sesi latihan, Rud," Andi berkata sambil menyesap minumannya. "Malam ini adalah perayaan. Perayaan atas matinya m...
08 THE PUBLIC TOY
Malam itu, udara di kawasan Lembang terasa membeku. Kabut turun begitu tebal, menyelimuti sebuah motel melati yang bangunannya sudah kusam. Di bagian belakang, dekat deretan tangki air dan jemuran tua, van hitam Andi terparkir. Pintu belakang terbuka, menyingkap sesosok raksasa yang meringkuk di dalamnya dalam kondisi telanjang bulat, hanya terikat rantai di lehernya. Rudi Wijaya. Tubuhnya yang masif tampak gemetar hebat terkena terpaan angin gunung. Memar keunguan bekas pompa vakum Dokter Andri masih tercetak jelas di batang kemaluannya yang 20 cm itu, yang kini menggantung pucat di antara paha berototnya. "Turun, Anjing!" bentak Dika sambil menarik rantai leher Rudi hingga pria itu terjatuh ke aspal kasar tempat parkir. Andi turun dari van sambil membawa kamera DSLR dengan lensa panjang. Di belakangnya, Fajar dan Rian sudah siap dengan botol-botol minuman keras. Mereka sengaja memilih tempat ini karena ada celah di pagar seng yang menghadap ke jalan setapak yang sesekali di...
07 THE BETRAYAL OF TRUST
Sudah hampir dua minggu Rudi mendekam di gudang. Tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan kronis; otot-ototnya yang dulu kencang kini tampak sedikit menyusut karena asupan nutrisi yang buruk, namun tetap terlihat masif dan menonjol. Bekas-bekas penyiksaan, lebam, dan sisa make-up yang sulit dibersihkan menghiasi kulit sawo matangnya. Suatu sore, Andi datang tidak hanya dengan gengnya, tapi dengan seorang pria berkacamata yang sangat dikenal Rudi: Dokter Andri, spesialis andrologi yang dulu pernah menangani kasus sarafnya di rumah sakit. "Mas Rudi? Kamu... di sini?" Dokter Andri bertanya, berpura-pura terkejut, namun matanya yang berkilat di balik kacamata tidak bisa menyembunyikan rasa lapar saat melihat Rudi yang hanya mengenakan kalung anjing dan sisa lingerie robek dari malam sebelumnya. "Dokter... tolong saya, Dok... mereka gila," bisik Rudi, merangkak ke arah kaki sang dokter dengan harapan terakhir. Andi tertawa keras sambil merangkul pundak Dokter A...
06 THE FRAGILE MASK
Suasana di gudang malam ini terasa berbeda. Tidak ada suara dentuman beban atau teriakan kasar Fajar. Hanya ada musik pop mendayu yang diputar pelan dari speaker Bluetooth milik Andi. Di tengah ruangan, sebuah meja rias lipat telah disiapkan lengkap dengan cermin besar dan tumpukan kain berbahan renda yang sangat kontras dengan lingkungan industrial yang kasar itu. Rudi, yang masih dalam status ‘anjing penjaga’, merangkak keluar dari selnya dengan kalung kulit yang masih melingkar di leher. Tubuhnya yang cokelat sawo matang dan penuh otot tampak kusam. Namun, langkahnya terhenti saat melihat apa yang ada di atas meja. "Sini, Rud. Malam ini kita nggak akan main kasar... setidaknya belum," Andi tersenyum, duduk di kursi sambil memegang segelas wine . "Aku bosan melihatmu jadi anjing yang kotor. Aku ingin lihat sisi 'cantik' dari instruktur kebanggaan kita ini." Dika dan Rian segera memegang lengan raksasa Rudi, memaksanya duduk di kursi depan cermin. Rudi men...