02 Salah Server
Jojo menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya ke arah pohon mangga yang ditunjuk bosnya. "Tupai? Ah, palingan gantungan kunci, Bos. Anak jaman sekarang kan suka aneh-aneh gayanya."
"Gantungan kunci mata lo katarak," dengus Galang. "Itu buntutnya gerak-gerak."
Rasa penasaran Galang terusik. Di STM Bhirawa, hierarki itu jelas. Kelas 10 adalah kerikil, kelas 11 adalah semen, dan kelas 12 adalah aspal yang menggilas semuanya. Dan dia, Galang Mahendra, adalah stoomwalls-nya. Biasanya, anak baru yang melihat dia turun dari RX King legendaris itu bakal langsung menunduk atau pura-pura sibuk main HP.
Tapi cowok di bawah pohon itu beda. Dia bahkan nggak noleh sedikitpun ke arah Galang. Dia sibuk sendiri, terlihat... kerepotan?
"Bawain kuncinya," perintah Galang sambil turun dari motor, melempar kunci motornya ke Jojo. "Gue mau nyapa warga baru dulu."
Galang melangkah santai tapi pasti. Bunyi sepatu boots kulitnya (yang sebenarnya melanggar aturan sekolah karena bukan sepatu kets hitam polos, tapi siapa yang berani negur coba?) beradu dengan kerikil parkiran. Krak. Krak. Setiap langkahnya memancarkan aura intimidasi yang sudah dilatih selama dua tahun terakhir. Beberapa siswa kelas 10 yang kebetulan lewat langsung minggir, memberi jalan bak Nabi Musa membelah Laut Merah.
Sementara itu, di bawah pohon mangga, Ilan sedang dalam negosiasi alot tingkat tinggi.
"Heh, Alvin," bisik Ilan tajam pada tupai di bahunya—iya, dia refleks memberi nama tupai itu Alvin. "Turun sekarang atau gue jadiin sate tupai. Ini sekolah, bukan Taman Safari. Nanti lo keinjek, bego!"
Si tupai, Alvin, malah mencicit pelan dan menyusupkan kepalanya ke balik kerah kemeja Ilan, mencari kehangatan di tengkuk pemuda itu. Geli. Ilan merinding disko.
"Anjir, geli! Keluar nggak!" Ilan menggeliat-geliat aneh, berusaha meraih tupai itu tanpa menyakitinya. Gerakannya terlihat konyol, seperti orang yang sedang kesurupan tapi versi lite.
"Ekhem."
Suara dehem yang berat dan disengaja terdengar dari belakang punggung Ilan.
Ilan membeku. Mampus, pikirnya. Ada guru? Atau satpam?
Dengan gerakan patah-patah, Ilan menoleh. Namun, yang dia temukan bukan guru botak berperut buncit, melainkan dada bidang yang terbalut kemeja seragam yang dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan kaos dalam hitam. Ilan mendongak sedikit.
Wajah itu! Wajah yang tadi dia lihat sekilas saat masuk parkiran. Si pengendara RX King. Si Raja Sekolah.
Jarak mereka terlalu dekat. Ilan bisa mencium aroma parfum mahal yang bercampur samar dengan bau rokok mint. Wangi yang maskulin dan mengintimidasi. Galang menatapnya dengan satu alis terangkat—alis yang normal, bukan yang ada bekas lukanya.
"Anak baru?" tanya Galang. Suaranya rendah, tipe suara bassist band yang bikin cewek-cewek histeris.
Ilan menelan ludah. Di dalam kerah bajunya, Alvin si tupai bergerak gelisah karena merasakan ketegangan otot Ilan.
"I-iya, Bang," jawab Ilan, berusaha terdengar senormal mungkin. Tangannya diam-diam menahan tengkuknya dari luar, mencegah Alvin melompat keluar dan bikin heboh.
Galang memiringkan kepala, mengamati Ilan dari atas ke bawah. Lumayan, batin Galang. Bersih. Terlalu bersih malah. Mukanya kayak anak boyband Korea yang salah masuk casting film The Raid.
"Lo tau aturan parkir di sini?" tanya Galang lagi, melangkah maju satu langkah. Sengaja. Menekan mental. "Spot bawah pohon mangga ini... spot VIP. Khusus gue dan anak-anak inner circle."
Dia bohong. Parkiran bebas untuk siapa saja. Galang cuma lagi iseng.
"Oh," Ilan berkedip polos. "Maaf, Bang. Nggak ada tulisannya. Yaudah, saya pindahin motornya."
Ilan hendak berbalik untuk memindahkan motornya, tapi Galang menahan bahu Ilan dengan tangannya yang besar dan berat. Cengkeramannya kuat.
"Eits, buru-buru amat. Kenalan dulu lah," kata Galang, menyeringai tipis. Seringai yang biasanya bikin anak kelas 10 gemetar lututnya. "Nama lo siapa? Jurusan apa?"
Situasi makin gawat. Alvin di dalam baju Ilan mulai panik karena tekanan tangan Galang di bahu Ilan membuat ruang geraknya sempit. Cakar-cakar kecil tupai itu mulai menggores kulit punggung Ilan.
Sakit, woy! jerit Ilan dalam hati.
"Ilan, Bang. Jurusan Teknik Kendaraan Ringan," jawab Ilan cepat, wajahnya mulai meringis menahan perih di punggung. "Bang, bisa lepasin tangannya? Sa-sakit."
Galang mengerutkan kening. Dia nggak ngerasa ngeremes kenceng-kenceng amat. Kok anak ini manja banget? Baru dipegang dikit udah kesakitan.
"Lemah banget lo," cibir Galang, tapi dia melonggarkan cengkeramannya sedikit. Namun, dia tidak menarik tangannya. Dia justru menyadari sesuatu. Ada yang bergerak di balik kemeja bagian belakang leher anak baru ini. Sesuatu yang... hidup?
Mata Galang membelalak. "Heh, lo bawa apaan di punggung lo? Narkoba? Senjata tajam?"
"Bukan, Bang! Bukan apa-apa!" Ilan panik. Dia mundur selangkah, melepaskan diri dari tangan Galang.
Gerakan tiba-tiba itu membuat Alvin si tupai kaget setengah mati. Merasa terancam, insting hewan liar itu mengambil alih. Tupai itu melesat keluar dari kerah baju Ilan, melompat ke udara dengan lincah, dan mendarat tepat di...
Wajah Galang.
HAP!
Suasana parkiran hening seketika.
Waktu seolah berhenti. Jojo yang baru sampai di belakang Galang sambil membawa helm, menjatuhkan helmnya. Brak.
Di sana, Sang Raja Jalanan, Galang Mahendra, berdiri kaku dengan seekor tupai yang menempel di wajahnya laksana masker wajah organik yang hidup. Ekor tupai itu melintang di hidung Galang, sementara kaki-kakinya mencengkeram rambut badai sang penguasa sekolah.
"ANJ—?!" Galang berteriak kaget, suaranya naik tiga oktaf, kehilangan seluruh wibawa alpha male-nya dalam sepersekian detik. Dia mengibas-ngibaskan tangan di depan muka dengan panik. "APAAN NIH?! WOY LEPASIN! SETAN!"
"Alvin! Jangan dicakar!" teriak Ilan, refleks maju mau nolongin.
"ALVIN SIAPA BANGSAT?!" Galang mundur-mundur sambil terus berusaha menarik tupai itu, tapi si tupai malah makin erat memeluk kepala Galang karena takut.
"Itu tupainya! Diem dulu Bang, jangan gerak! Nanti dia gigit!" Ilan berusaha meraih si tupai. Tangan Ilan menyentuh pipi Galang, wajah mereka berjarak cuma beberapa senti. Galang bisa melihat mata Ilan yang cokelat terang dan bulu matanya yang lentik—sial, kenapa dia malah fokus ke situ pas lagi diserang hewan pengerat?
Dengan gerakan selembut sutra tapi secepat kilat, Ilan berhasil menyambar tengkuk tupai itu dan menariknya lepas dari wajah Galang.
"Dapet!" seru Ilan lega. Dia mendekap tupai itu di dadanya dengan protektif. "Maaf, Bang! Dia kaget karena Abang teriak-teriak."
Galang terengah-engah. Rambutnya yang tadi rapi kayak habis keluar dari barbershop, sekarang acak-acakan kayak sarang burung—literally bekas diinjek tupai. Ada sedikit goresan merah tipis di pipi kanannya.
Jojo dan beberapa anak buah Galang lainnya melongo. Mereka bingung harus ketawa atau ikut panik. Bos mereka baru saja dikalahkan oleh seekor tupai dalam ronde satu detik.
Galang menatap Ilan dengan tatapan tak percaya. Lalu tatapannya turun ke tupai di pelukan Ilan yang sekarang—anehnya—tampak tenang dan menatap Galang dengan tatapan innocent.
"Lo..." Galang menunjuk Ilan dengan jari telunjuk yang gemetar menahan emosi dan malu. "Lo bawa tupai ke sekolah?"
"Nggak bawa, Bang. Dia ngikut," jawab Ilan jujur, wajahnya polos banget tanpa dosa. "Tadi jatuh dari pohon, terus nyangkut di baju saya. Pas Abang nepuk bahu, dia kaget."
Galang menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang berserakan di aspal parkiran. Dia menyisir rambutnya kasar ke belakang. Perih di pipinya mulai terasa.
"Nama lo Ilan, kan?" geram Galang.
"Iya, Bang."
"Urusan kita belum kelar," ancam Galang, berusaha kembali ke mode sangar walau agak gagal karena pipinya merah baret. "Kalau gue liat tuh tikus pohon lagi, gue jadiin gantungan kunci beneran. Minggir!"
Galang menabrak bahu Ilan dengan keras saat dia berjalan melewatinya, diikuti Jojo yang memungut helmnya sambil menahan tawa mati-matian.
"Gila, Bos. Headshot," bisik Jojo saat mereka sudah agak jauh.
"Diem lo," desis Galang, wajahnya memerah sampai ke telinga. Bukan cuma karena marah, tapi karena... sialan, tangan anak baru tadi pas megang pipi gue kenapa halus banget?
Sementara itu, Ilan menghela napas panjang melihat punggung lebar Galang menjauh. Dia menatap tupai di tangannya.
"Puas lo?" omel Ilan pada Alvin. "Baru lima menit di sekolah, gue udah cari masalah sama preman sekolah. Karir gue tamat, Vin. Tamat."
Ilan meletakkan tupai itu kembali ke batang pohon mangga. "Dah, sana pergi. Jangan balik lagi."
Tupai itu menurut, berlari naik ke atas pohon. Ilan merapikan seragamnya yang kusut, lalu berjalan menuju gedung utama dengan perasaan was-was. Dia tidak tahu, bahwa kejadian barusan justru membuat namanya langsung masuk ke dalam radar prioritas Galang Mahendra. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai anomali yang menarik.
***
Suara bel masuk berbunyi nyaring, memecah keriuhan pagi di STM Bhirawa. Ilan mempercepat langkahnya mencari ruang kelas XI TKR 2. Lorong-lorong sekolah itu penuh dengan poster-poster keselamatan kerja yang gambarnya sudah pudar, dan dinding-dindingnya penuh coretan spidol permanen.
XI TKR 2.
Itu dia. Pintu kelasnya terbuka lebar. Suara gaduh terdengar dari dalam. Tipe kegaduhan kelas teknik: suara meja digeser, suara orang ketawa ngakak sambil pukul-pukulan, dan suara knalpot dari video YouTube yang diputar volume maksimal.
Ilan berdiri di ambang pintu, menarik napas dalam-dalam. Bismillah.
Dia melangkah masuk. Seketika, suasana kelas hening sejenak. Tiga puluh pasang mata laki-laki menatap ke arahnya. Tatapan menilai. Tatapan menguliti.
"Wuidih, ada murid baru, Cuy!" teriak salah satu siswa yang duduk di atas meja guru.
"Cerah amat mukanya, pake sabun apa lo?" sahut yang lain disambut tawa satu kelas.
Ilan tersenyum canggung. Dia berjalan menuju meja guru yang kosong, hendak menunggu wali kelas. Namun, matanya menangkap sesuatu di pojok kelas dekat jendela.
Seekor kucing belang tiga sedang tidur pulas di atas tumpukan buku LKS.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini, batin Ilan merana. Dia berdoa semoga kucing itu tidak sadar akan kehadirannya.
Namun, doa Ilan tidak terkabul. Hidung kucing itu berkedut. Telinganya bergerak. Dan perlahan, mata kucing itu terbuka. Pupil matanya melebar saat menangkap sosok Ilan yang berdiri di depan kelas.
Meong~ (Terjemahan: "Akhirnya, Paduka Raja datang juga!")
Si kucing langsung bangun, melompat turun dari meja, dan berlari kecil menghampiri Ilan dengan ekor tegak lurus bergetar. Dia langsung menggesekkan badannya ke kaki celana abu-abu Ilan dengan manja, meninggalkan bulu-bulu halus di sana.
"Wah, Si Belang langsung demen!" seru ketua kelas takjub. "Biasanya tuh kucing nyakar kalau dideketin."
Ilan cuma bisa pasrah, berdiri kaku di depan kelas sambil dikerubungi kucing sekolah, sementara teman-teman barunya menatap dia seolah dia adalah dukun penakluk hewan.
Hari pertama di STM Bhirawa, dan Ilan sudah resmi dinobatkan sebagai: Princess-nya Hewan Liar.