Pustaka Sahawn

03 Preman vs Dongeng Disney

Minggu pertama di STM Bhirawa berjalan lebih lancar dari dugaan Ilan—jika standar lancar adalah tidak ada tawuran masal atau gedung sekolah yang meledak.

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu anak-anak Jurusan Teknik Kendaraan Ringan: Praktek Bengkel.

Ruang praktek 1 adalah sebuah hanggar luas dengan atap tinggi yang terbuat dari seng. Udaranya panas, pengap, dan beraroma jantan: campuran bensin oktan tinggi, oli bekas, keringat remaja, dan sedikit bau rokok yang disembunyikan. Bagi siswa biasa, ini neraka. Bagi siswa STM, ini firdaus mini.

Ilan sudah mengenakan wearpack warna biru dongker yang sedikit kebesaran di badannya. Lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan lengannya yang putih tapi berotot kencang saat dia mengangkat blok mesin motor bebek 110cc.

"Woy, Lan! Berat tuh! Sini gue bantuin!" seru Bowo, teman sebangkunya yang badannya bongsor tapi hatinya kiyowo.

"Aman, Wo. Enteng ini mah," jawab Ilan santai. Dia meletakkan blok mesin itu di meja kerja dengan mulus tanpa suara gedebuk yang kasar.

Anak-anak satu kelompoknya melongo. Ilan memang punya fisik yang menipu. Mukanya boleh kayak trainee idol yang gagal debut karena terlalu kalem, tapi tenaganya kaya kuli pelabuhan.

"Oke, tugas kalian bongkar karburator, bersihkan spuyer-nya, terus pasang lagi sampai stasioner mesinnya stabil," instruksi Pak Yudi, guru produktif yang kumisnya tebal seperti aspal jalanan. "Kerjakan! Jangan malah mainan oli!"

"Siap, Pak!"

Suasana langsung riuh. Suara kunci pas beradu dengan baut, suara obeng mengetuk logam, dan tawa-tawa pecah di sana-sini. Ilan masuk ke dalam zonanya. Saat dia memegang alat bengkel, tatapan matanya berubah. Fokus, tajam, dan serius. Tidak ada lagi Ilan yang ceroboh.

Dia mulai memutar baut mangkuk karburator. Tangannya cekatan, jari-jarinya yang panjang menari di antara komponen-komponen kecil yang berminyak. Ada noda oli hitam tercoreng di pipi kirinya karena dia tak sengaja mengusap keringat, tapi itu justru membuatnya terlihat... seksi?

Wusss...

Angin berhembus masuk dari ventilasi besar di sisi atas bengkel. Dan bersamaan dengan angin itu, tamu tak diundang mulai berdatangan.

Awalnya cuma satu. Seekor kupu-kupu kuning belerang (Eurema hecabe) yang nyasar masuk.

Kupu-kupu itu terbang rendah, melintasi kepala Bowo yang sedang misuh-misuh karena bautnya slek, lalu dengan anggun mendarat tepat di ujung obeng min yang sedang dipegang Ilan.

Ilan berhenti bekerja. Dia menghela napas pelan. "Misi, Neng. Gue lagi kerja. Jangan di situ, bahaya," bisik Ilan pada kupu-kupu itu.

Teman sekelompoknya, Udin, yang lagi ngupil pake kunci L, mendelik. "Lan, lo ngomong sama obeng?"

"Sama kupu-kupu," jawab Ilan tanpa menoleh. Dia menggoyangkan obengnya pelan. Kupu-kupu itu terbang, berputar sebentar di sekitar kepala Ilan seolah membentuk halo kuning, lalu hinggap tenang di bahu wearpack Ilan. Memperhatikan tangan Ilan bekerja.

Tapi itu baru permulaan.

Lima menit kemudian, seekor capung merah (capung jarum) masuk. Terbang meliuk-liuk menghindari cipratan bensin dari kelompok sebelah, lalu mendarat manis di rambut hitam Ilan. Diam di sana seperti jepit rambut alami yang estetik.

Sepuluh menit kemudian, dua ekor kepik (ladybug) warna oranye dengan totol hitam merayap di meja kerja Ilan. Mereka berjalan beriringan di antara baut-baut dan per karburator yang berserakan, seolah sedang inspeksi proyek.

"Anjir," bisik Bowo, matanya mau keluar. "Meja lo kenapa jadi kayak taman Teletubbies, Lan?"

Pemandangan itu sungguh absurd. Di meja lain suasananya keras, kotor, dan maskulin. Di meja Ilan? Karburatornya bersih mengkilap, dan ada ekosistem serangga cantik yang sedang chill di sekitarnya. Ilan sendiri tampak pasrah, tetap fokus menyetel jarum skep meski di kepalanya ada capung dan di bahunya ada kupu-kupu.

"Jangan tanya," gumam Ilan sambil meniup lubang pilot jet. "Anggap aja mereka asisten gue."

Ilan tidak sadar, bahwa dari lantai dua—di balkon ruang osis yang menghadap langsung ke area bengkel bawah—ada sepasang mata elang yang sedang mengawasi.

***

Galang Mahendra seharusnya ada di kelas Matematika sekarang, mendengarkan Bu Susi menjelaskan tentang integral yang memusingkan. Tapi sebagai Raja Sekolah, dia punya privilege (baca: bolos lewat jendela) untuk nongkrong di balkon belakang gedung lama.

Dia sedang merokok (jangan ditiru!) sambil menyandarkan dagu di pagar besi, menatap ke bawah, ke arah bengkel terbuka tempat anak kelas 11 praktek.

Tujuannya cuma satu: Mengawasi si ‘Anak Tupai’.

Sejak insiden di parkiran kemarin, harga diri Galang tercoreng. Dia merasa perlu mencari celah, kelemahan, atau aib Ilan untuk dijadikan bahan counter-attack.

"Bos, ngapain liatin bengkel? Bau gosong," keluh Jojo yang ikut bolos sambil makan cilok.

"Diem. Gue lagi observasi target," jawab Galang tanpa menoleh.

Mata Galang terkunci pada sosok Ilan di bawah sana. Dari kejauhan, Ilan terlihat mencolok. Bukan karena wearpack-nya beda, tapi karena vibe-nya.

Di mata Galang, Ilan itu aneh. Cara dia megang kunci pas itu luwes banget, kayak udah temenan sama mesin dari orok. Dan yang bikin Galang makin mengerutkan kening adalah titik-titik warna-warni di sekitar cowok itu.

"Jo," panggil Galang.

"Hah?"

"Itu di kepala si Ilan apaan? Merah-merah?"

Jojo menyipitkan mata, mengunyah ciloknya lebih lambat. "Capung, Bos? Atau jepit rambut?"

"Mana ada cowok STM pake jepit rambut!" sembur Galang.

Galang menegakkan badannya. Dia melihat dengan jelas sekarang. Ada kupu-kupu kuning yang terbang berputar di sekitar Ilan saat cowok itu berdiri mau ngambil bensin pembersih. Cahaya matahari yang menerobos masuk lewat celah atap seng menyorot tepat ke arah Ilan, membuat debu-debu dan serangga di sekitarnya bersinar.

Untuk sesaat, bengkel yang kumuh itu terlihat seperti stage video klip. Ilan menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, membuat rambut depannya sedikit tersibak. Capung di kepalanya terbang sebentar, lalu hinggap lagi.

Deg.

Jantung Galang berdetak satu ketukan lebih cepat.

Bukan. Bukan karena jatuh cinta. No way. Galang yakin ini aritmia atau efek kebanyakan minum kopi kantin.

"Gila," gumam Galang tanpa sadar. "Itu anak pake susuk apaan? Kenapa serangga pada nempel? Dia manusia apa taman bunga berjalan?"

"Mungkin dia wangi kali, Bos," celetuk Jojo polos. "Lo kan bilang kemarin pas di parkiran dia wangi."

Galang langsung menabok lengan Jojo. "Gue nggak bilang dia wangi! Gue bilang dia nggak bau matahari! Beda!"

"Yaelah, sama aja, Bos."

Rasa penasaran Galang berubah jadi iritasi. Dia nggak suka ada hal yang nggak bisa dijelaskan dengan logika premanisme. Di kamus Galang, cowok itu harusnya dikerubungi cewek, bukan dikerubungi serangga taman.

"Cabut," perintah Galang tiba-tiba, mematikan rokoknya.

"Kemana Bos? Kantin?"

"Ke bengkel. Gue mau inspeksi. Gue curiga dia pake parfum pemikat yang melanggar aturan sekolah."

Alasan yang dicari-cari. Padahal Galang cuma pengen liat muka Ilan dari dekat lagi. Kali ini tanpa si tupai.

***

Ilan baru saja selesai merakit kembali karburatornya. Dia sedang melakukan finishing, mengelap sisa oli di meja kerjanya. Si kupu-kupu kuning sudah pindah ke hidung teman sekelompoknya yang sekarang lagi jerit-jerit banci, sementara dua kepik oren masih setia merayap di lengan baju Ilan.

"Bisa diem gak sih?" Ilan menegur kepik di lengannya. "Geli tau."

Tiba-tiba, bayangan gelap menutupi meja kerjanya. Suasana bengkel yang tadinya riuh mendadak turun volumenya. Aura mendung datang.

Ilan mendongak.

Di depannya, terhalang meja kerja, berdiri Galang Mahendra. Kancing seragam atas terbuka, tangan di saku celana, dagu diangkat tinggi. Di belakangnya ada Jojo yang sibuk menelan sisa cilok.

"Eh, Kak Galang," sapa Bowo dan Udin barengan, langsung kicep dan pura-pura sibuk gosok mesin.

Ilan berdiri tegak, memandang seniornya itu. "Ada apa, Bang? Motornya rusak?"

Galang tidak menjawab. Matanya tajam menatap lengan Ilan. Dia menunjuk dengan dagunya. "Itu apaan?"

Ilan mengikuti arah pandang Galang ke lengannya. "Oh, ini. Kepik, Bang. Ladybug. Anak biologi bilang namanya Coccinellidae."

"Gue nggak nanya nama latinnya, bego," dengus Galang. Dia maju selangkah, menumpu tangannya di meja kerja Ilan, mengikis jarak di antara mereka. Bau oli di bengkel itu mendadak kalah sama bau parfum Galang yang woody dan maskulin.

"Gue nanya," suara Galang merendah, "Lo sebenernya siapa? Dukun? Pawang hujan? Atau siluman pohon?"

Ilan menghela nafas lelah. "Saya manusia, Bang. Sumpah. Cek aja KTP saya kalau nanti udah jadi."

Galang mendengus geli, sudut bibirnya terangkat sedikit. Senyum yang... damn, ganteng banget sebenarnya kalau nggak nyebelin.

Tangan Galang terulur. Ilan refleks mundur sedikit, trauma kejadian tupai kemarin. Tapi Galang tidak menyentuh Ilan. Jari telunjuk Galang yang kasar dan ada bekas oli sedikit, bergerak pelan ke arah bahu Ilan.

Sasarannya adalah si capung merah yang masih nangkring di kerah Ilan.

"Minggir," usir Galang ke capung itu. "Lo ngalangin pemandangan."

Ajaib. Capung yang biasanya liar dan susah ditangkap itu, seolah takut sama aura dominan Galang, langsung terbang kabur. Begitu juga kupu-kupu dan kepik lainnya. Meja Ilan bersih seketika.

Ilan melongo. Seumur hidup, susah banget mengusir mereka. Galang cuma ngomong satu kata, mereka bubar.

"Wah..." Ilan bergumam takjub, matanya berbinar menatap Galang. "Bang, lo hebat banget! Kok bisa?!"

Galang yang tadinya mau bullying (dikit), malah kaget dapet reaksi kagum yang tulus banget. Mata Ilan yang cokelat terang itu natap dia penuh binar kekaguman.

"Hah? Apanya?" Galang jadi salting.

"Mereka pergi!" Ilan tersenyum lebar, senyum pertamanya yang ditunjukkan ke Galang. Manis. Banget. Ada lesung pipi samar di sebelah kiri. "Biasanya mereka nempel seharian. Bang Galang punya aura pengusir hama ya? Keren!"

Hening.

Jojo di belakang batuk-batuk nahan ketawa. "Pengusir hama katanya, Bos."

Muka Galang memerah padam. Niat mau jadi cool guy yang mengintimidasi, malah dianggap obat nyamuk hidup. Tapi di sisi lain... sial, kenapa jantungnya deg-degan liat senyum itu?

"Sembarangan lo!" Galang membentak, tapi nadanya kurang galak. "Gue ini punya aura King, makanya rakyat jelata kayak serangga itu takut!"

"Iya, iya, aura King," Ilan mengangguk-angguk setuju, masih dengan wajah kagum. Dia refleks memegang lengan Galang. "Bang, sering-sering main ke sini dong pas gue praktek. Biar gue nggak diganggu tawon."

Zap.

Sentuhan tangan Ilan di lengan Galang rasanya kayak nyetrum. Galang menatap tangan putih itu yang kontras banget sama seragamnya yang urakan.

Galang menarik tangannya cepat, seolah habis kesengat listrik.

"Dih, ogah! Gue sibuk!" Galang berbalik badan dengan kaku. "Awas lo, jangan bikin bengkel jadi kebun raya lagi!"

Galang jalan cepat keluar bengkel, langkahnya lebar-lebar.

"Bos! Tunggu, Bos!" Jojo lari ngejar.

Ilan menatap kepergian seniornya itu dengan bingung, lalu mengangkat bahu. "Aneh. Galak, tapi bermanfaat."

Di lorong luar bengkel, Galang bersandar di tembok, memegangi dadanya. Nafasnya agak nggak beraturan.

"Bangsat," umpat Galang pelan. "Kenapa gue malah mau bilang 'iya nanti gue jagain' tadi? Sadar, Lang. Dia cowok. Mekanik. Pembawa hama."

Tapi bayangan Ilan yang senyum dengan lesung pipi, di tengah cahaya matahari dan debu bengkel, udah terlanjur terunduh permanen di otak Galang. Virus sudah masuk. Efeknya sudah mulai terasa.