Pustaka Sahawn

04 Tuan Muda Mode On!

Galang Mahendra sedang mengalami krisis eksistensi.

Sudah tiga hari berlalu sejak insiden ‘Obat Nyamuk’ di bengkel. Selama tiga hari itu pula, Galang merasa ada yang salah dengan otaknya. Dia yang biasanya cuma mikirin tawuran, modifikasi motor, dan cara bolos pelajaran Sejarah, sekarang punya tab baru di otaknya yang terbuka 24 jam: Jadwal Kegiatan Bumi Ilalang.

Galang tau jam berapa Ilan datang (jam 6.45, selalu pas-pasan biar gak kelamaan nunggu di parkiran yang banyak kucing). Galang tau Ilan bawa bekal apa (nasi uduk yang sering dicuri lauknya sama kucing kantin). Galang bahkan tau kalau Ilan punya kebiasaan ngomong sendiri sama mesin bubut.

"Bos, ngelamun mulu. Kesambet setan bengkel lo?" tegur Jojo, menyenggol lengan Galang.

Mereka sedang duduk di warung belakang sekolah—markas besar circle mereka. Kopi hitam di depan Galang sudah dingin, puntung rokok di asbak sudah menumpuk.

"Gue gak ngelamun," sangkal Galang cepat. Dia meneguk kopinya yang dingin dengan gaya sok cool, padahal rasanya pait minta ampun. "Gue cuma... memikirkan strategi."

"Strategi apaan? Kita mau nyerang STM sebelah?" tanya Jojo antusias.

"Bukan. Strategi penertiban hama," jawab Galang asal.

Tiba-tiba, HP Jojo bergetar. Dia mengecek grup WhatsApp angkatan. "Eh, Bos. Info A1. Anak-anak bilang si 'Anak Ajaib' lagi kesusahan di parkiran."

Kuping Galang langsung berdiri—secara metafora. "Anak Ajaib? Siapa? Ilan?"

"Yoi. Katanya ban motornya kempes. Kasian, mana udah sore, bengkel sekolah udah dikunci Pak Yudi."

Belum sempat Jojo menyelesaikan kalimatnya, Galang sudah berdiri. Kursi plastik yang didudukinya terdorong ke belakang dengan kasar. Tanpa babibu, Galang menyambar kunci mobilnya di atas meja. (Ya, hari ini dia bawa mobil karena motornya lagi service rutin).

"Lo mau kemana, Bos?!"

"Operasi Penyelamatan," seru Galang sambil berlari keluar warung. "Bilang anak-anak, jangan ada yang bantuin dia! Itu jatah gue!"

"Dih? Jatah apaan?" Jojo garuk-garuk kepala bingung. "Makin gila aja bos gue."

***


Di parkiran yang mulai sepi, Ilan jongkok di samping Honda C70 merah kesayangannya dengan wajah merana.

Bannya bukan cuma bocor halus. Bannya robek.

Penyebabnya? Bukan paku. Bukan kaca. Tapi seekor landak mini (Hedgehog) yang entah kabur dari mana, menggelinding dan menusuk ban depannya saat Ilan mau parkir tadi pagi. Sekarang landak itu sudah hilang entah kemana, meninggalkan Ilan dengan ban yang gepeng tak berdaya.

"Nasib... nasib..." keluh Ilan. Dia mengusap peluh di dahinya.

Ilan sebenarnya bisa nambal ban. Dia ini mekanik, for God's sake. Masalahnya, dia gak bawa alat tambal tubeless ataupun ban dalam cadangan. Dan bengkel sekolah sudah dikunci karena guru produktif pulang cepat ada kondangan.

"Dorong sampai depan, terus cari tukang tambal ban pinggir jalan yang buka," gumam Ilan menyusun rencana. Jarak ke depan sana lumayan, sekitar 500 meter. Belum lagi nyari tukang tambalnya.

Baru saja Ilan berdiri dan memegang stang motor untuk mulai mendorong, sebuah suara klakson mobil yang berat dan mahal mengagetkannya.

TIN!

Sebuah SUV hitam besar—Mitsubishi Pajero Sport Dakar terbaru yang kinclong banget sampai bisa buat ngaca—berhenti tepat di sampingnya. Kaca jendela penumpang turun perlahan secara elektrik.

Di balik kemudi, duduk Galang Mahendra. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya (padahal matahari udah mau terbenam), tangan kanannya memegang setir dengan gaya santai tapi flexing jam tangan mahal.

"Kenapa lo? Mogok?" tanya Galang basa-basi. Padahal dia udah tau.

"Eh, Bang Galang," Ilan nyengir capek. "Bukan mogok mesin, Bang. Ban depan robek. Kena... anu... duri landak."

Galang menurunkan kacamata hitamnya, menatap Ilan tak percaya. "Landak? Di Jakarta? Lo sekolah di hutan lindung apa gimana sih?"

"Ya begitulah, Bang. Takdir," jawab Ilan pasrah. "Duluan aja, Bang. Saya mau dorong ke depan."

"Gila lo?" sentak Galang. "Panas. Jauh. Nanti lo pingsan, nama sekolah tercoreng."

Galang mematikan mesin mobilnya dan turun. Tubuhnya yang tinggi tegap langsung mendominasi space di antara mereka. Dia menendang pelan ban motor Ilan. "Parah ini. Gak bisa didorong. Velg lo peang nanti."

"Terus gimana, Bang? Masa ditinggal?"

Galang tersenyum miring. Senyum yang menyiratkan: 'Tenang, Tuan Muda ada di sini.'

"Minggir. Biar gue urus."

Galang mengeluarkan HP-nya—iPhone seri terbaru yang casingnya aja mungkin seharga ban motor Ilan. Dia menekan speed dial.

"Halo, Pak Ujang? Bawa unit yang gede ke STM Bhirawa sekarang. Iya, emergency. Posisi di parkiran belakang. Bawa flatbed ya, jangan yang ditarik. Lecet dikit saya potong gaji."

Ilan melongo. "Bang? Pak Ujang siapa? Bengkel?"

"Orang gudang bapak gue," jawab Galang santai sambil memasukkan HP ke saku. "Udah, lo masuk mobil gue. Kita tunggu di dalem. Di luar panas, banyak nyamuk."

"Eh, gak usah Bang! Saya tunggu sini aja..."

"Masuk atau gue suruh satpam gembok motor lo di sini selamanya?" ancam Galang.

Ancaman konyol, tapi Ilan yang polos takut juga. Akhirnya dengan ragu-ragu, dia menurut masuk ke dalam ‘tank’ mewah milik Galang.

***


Di dalam mobil Galang, suasananya hening tapi dingin—berkat AC yang disetel maksimal. Wanginya enak, campuran leather jok mobil baru dan parfum mahal Galang. Ilan duduk kaku di kursi penumpang, tangannya diletakkan sopan di pangkuan, takut mengotori jok kulit itu dengan debu bengkel yang nempel di celananya.

Galang duduk di kursi pengemudi, jari-jarinya mengetuk setir mengikuti irama lagu Arctic Monkeys yang diputar pelan. Dia melirik Ilan lewat ekor mata.

Cakep banget kalau diem gini, batin Galang. Bulu matanya panjang. Bibirnya... fokus, Lang! Fokus!

"Lo ngapain duduk kaku gitu? Gue gak gigit," tegur Galang.

"Takut kotor, Bang. Celana saya kena oli tadi," jawab Ilan jujur.

"Halah, mobil bisa dicuci. Santai aja," kata Galang, padahal biasanya kalau Jojo makan keripik di mobil ini langsung dia gampar.

Sepuluh menit kemudian, bantuan datang.

Bukan mobil bak terbuka biasa. Yang datang adalah Truk Towing Hidrolik (Car Carrier) ukuran raksasa yang biasanya dipakai buat ngangkut supercar macam Ferrari atau Lamborghini kalau mogok. Truk itu mundur perlahan masuk ke area parkiran sempit STM, bikin heboh satpam dan sisa murid yang belum pulang.

Mata Ilan mau copot.

"Bang...?" suaranya bergetar. "Itu... buat ngangkut motor butut saya?"

"Yoi," jawab Galang bangga.

Dua orang berseragam rapi turun dari truk, langsung sigap menaikkan Honda C70 kecil milik Ilan ke atas bak truk raksasa itu. Pemandangannya sungguh njomplang. Motor kecil karatan itu berdiri sendirian di tengah bak truk yang luas dan canggih, diikat dengan strap khusus biar nggak goyang.

"Aman, Den Galang!" lapor salah satu petugas.

"Oke. Bawa ke bengkel pusat. Ganti bannya pake yang paling mahal. Tune up sekalian. Kalau perlu ganti mesinnya pake mesin jet," perintah Galang.

"JANGAN BANG!" teriak Ilan panik, refleks memegang lengan Galang (lagi).

Galang tersentak. Sentuhan itu lagi. Hangat.

"Ke-kenapa?" Galang jadi gagap.

"Itu motor warisan kakek saya. Jangan diganti mesinnya. Cukup tambal ban aja, Bang. Tolong..." Ilan menatap Galang dengan mata puppy eyes andalannya—yang dia sendiri nggak sadar kalau itu senjata mematikan.

Galang menelan ludah. Lemah. Gue lemah sama tatapan itu.

"Y-yaudah. Ganti ban aja. Tapi pake ban impor kualitas Jerman!" ralat Galang ke petugasnya. "Jalan sana!"

Truk raksasa itu pun pergi membawa motor kecil Ilan, meninggalkan asap tipis.

"Terus saya pulang naik apa, Bang?" tanya Ilan polos.

Galang menyeringai lebar. Inilah momen yang dia tunggu.

"Ya sama gue lah. Rumah lo di mana? Gue anter."

"Eh, ngerepotin Bang. Saya naik angkot aja..."

KLIK. Galang mengunci pintu mobil dari sisi pengemudi.

"Angkot udah abis jam segini. Udah diem, gue anter. Itung-itung imbalan karena lo udah ngusir capung kemaren," alasan Galang, padahal capung gak ada hubungannya sama bensin mobil 2400cc ini.

Galang menginjak gas. Mobil melaju keluar gerbang sekolah. Jantung Galang berdegup kencang. Ini pertama kalinya dia boncengin (eh, nyupirin) cowok yang dia suka.

Tapi, tentu saja, semesta tidak membiarkan momen romantis ini berjalan mulus tanpa gangguan keajaiban Ilan.

Di tengah perjalanan, saat lampu merah, tiba-tiba seekor kupu-kupu Morpho berwarna biru metalik yang sangat langka (dan entah nyasar dari benua mana) hinggap di kaca depan mobil Galang. Tepat di depan muka Ilan.

"Wah, cantik banget!" seru Ilan, menempelkan wajahnya ke kaca.

Galang mendengus. "Serangga lagi. Lo beneran magnet ya?"

"Dia suka sama mobil Abang kali. Kinclong dan wangi," puji Ilan.

Galang tersenyum tipis, merasa bangga dipuji (walau yang dipuji mobilnya). "Ya jelas. Perawatannya mahal."

Tiba-tiba, kupu-kupu lain datang. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Dalam hitungan detik, kaca depan mobil Galang dikerubungi puluhan kupu-kupu berbagai warna. Mereka menutupi pandangan sopir.

"ANJIR! INI APAAN?!" Galang panik. "Gue gak bisa liat jalan woy!"

"Tenang Bang, tenang! Jangan nyalain wiper! Nanti mereka mati!" Ilan ikutan panik, menahan tangan Galang yang mau neken tuas wiper.

"Terus gue nyetir gimana?! Pake insting?!"

"Buka kacanya dikit, Bang! Biar saya suruh pergi!"

Galang menurunkan kaca jendela sedikit. Ilan mendekatkan wajahnya ke celah jendela, lalu berbisik dengan suara lembut yang anehnya terdengar jelas di tengah klakson kendaraan lain.

"Teman-teman, maaf ya. Kita lagi buru-buru. Nanti main lagi ya. Shhh... shhh..."

Ajaib (lagi). Kupu-kupu itu serentak terbang membubarkan diri, membentuk formasi indah di langit sore Jakarta, meninggalkan kaca mobil Galang yang bersih kembali.

Galang bengong di balik setir. Dia menoleh ke Ilan yang tersenyum lega sambil menutup jendela.

"Lo..." Galang kehilangan kata-kata. "Lo sebenernya Putri Salju versi cowok apa gimana sih?"

Ilan tertawa renyah. Tawa yang bikin perut Galang kerasa geli-geli aneh. "Bukan, Bang. Saya cuma Ilan. Mekanik."

Galang kembali menginjak gas saat lampu hijau menyala. Dia mencoba fokus ke jalan, tapi pikirannya kacau.

Sial, batin Galang. Gue beneran jatuh cinta sama cowok pembawa kupu-kupu ini. Harga diri gue sebagai preman sekolah mau ditaruh di mana?

DING! iPhone Galang berbunyi, tanda e-mail masuk. Struk pembayaran truk towing seharga 5 juta rupiah terasa sangat worth it cuma buat denger tawa itu.