Pustaka Sahawn

05 THE GOLDEN CAGE

Beberapa hari setelah sesi di area parkir, hidup Rudi Wijaya berubah total menjadi neraka yang nyata. Ponselnya terus berdering dengan panggilan dari Andi, berisi perintah-perintah dan ancaman. Kontrakannya di Dago Atas, yang dulu menjadi benteng pribadinya, kini terasa seperti sangkar yang siap runtuh. Hingga suatu sore, Andi datang bersama Fajar dan Dika, mengangkut barang-barang penting Rudi ke dalam sebuah van hitam.

"Mas Rudi, mulai hari ini, kamu nggak perlu repot-repot bayar sewa lagi," kata Andi dengan seringai lebar. "Aku sudah siapkan tempat yang jauh lebih nyaman untuk 'peliharaan' kesayanganku. Di gudang ini, kamu akan jadi 'anjing penjaga' kami. Jangan khawatir, makan dan minum akan kami sediakan."

Rudi hanya bisa menatap nanar. Mereka tidak peduli dengan penolakannya. Dengan kekuatan paksa, ia digiring ke dalam van, meninggalkan rumah yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya tempat ia bisa merasakan sedikit kedamaian. Sekarang, ia adalah tawanan di gudang keluarga Andi, sebuah kandang baja yang dingin dan hampa.

Andi membawa Rudi ke sebuah ruangan kecil di sudut gudang, jauh dari area utama. Ruangan itu hanya berisi sebuah kasur lipat tipis, seember air, dan sebuah ember kosong untuk buang air. Tidak ada cermin, tidak ada jendela. Hanya dinding beton dan penerangan minim dari sebuah bohlam telanjang.

"Selamat datang di kamar barumu, Anjing," ejek Dika sambil melempar sebuah kalung anjing kulit yang lebih tebal dan kokoh dari yang sebelumnya. "Pakai ini. Setiap kali kami datang, kamu harus sudah memakai ini dan dalam keadaan telanjang."

Rudi dipaksa menghabiskan hari-harinya di ruangan sempit itu. Ia tidak lagi bisa melatih orang, tidak bisa menjaga tubuhnya, dan yang paling parah, ia tidak punya privasi sama sekali. Setiap hari, mereka akan datang, memanggilnya keluar dengan rantai, dan memaksanya melakukan hal-hal yang makin merendahkan.

***

Malam itu, Andi, Rian, dan Fajar datang. Suara langkah kaki mereka di lantai beton sudah cukup membuat jantung Rudi berdegup kencang. Ia sudah menanggalkan pakaiannya, hanya menyisakan kalung anjing di lehernya, menunggu dengan rasa malu yang membakar.

"Keluar, Anjing," perintah Andi.

Rudi merangkak keluar dari 'sangkar'-nya, lutut dan tangannya menapak di lantai beton yang dingin. Kontol 20 cm-nya yang lemas menjuntai di antara pahanya, sebuah pemandangan yang makin familiar bagi para penyiksanya.

"Malam ini, kita mau mengajarkan beberapa trik baru," kata Rian, yang kini memegang sebuah cemeti kulit tipis. "Pertama, kamu harus tahu siapa 'Tuan'-mu. Tunjukkan pada kami, siapa Tuanmu?"

Rudi hanya bisa menatap kosong. Fajar, yang berdiri di belakangnya, langsung menjambak rambut tebal Rudi dengan kasar hingga kepala pria itu mendongak.

"Tuanmu adalah kami, Anjing. Dan kamu hanya peliharaan. Mengerti?" Fajar menggeram.

Rian mulai mengibas-ngibaskan cemeti itu. SRET! Suara cemeti memecah kesunyian gudang, mengenai punggung Rudi yang berotot. Rudi tersentak, rasa perih menjalar di kulitnya.

"Setiap kali kami menyentuhmu, kamu harus menggonggong. GONGGONG!" perintah Rian.

Rudi mencoba menolak, tapi Andi datang mendekat, mencengkeram rahang Rudi dengan keras. "Gonggong, atau aku akan mengikat kontolmu itu ke pilar, lalu kami akan menendangnya sampai putus, bagaimana?"

Ketakutan itu mengalahkan harga diri Rudi. Ia mengeluarkan suara parau, mencoba meniru gonggongan anjing. 'Guk... Guk...'

"Bagus! Anjing penurut," Andi tertawa puas.

Sesi itu berlanjut dengan permainan 'Anjing'. Mereka melemparkan makanan anjing kering ke lantai, memaksa Rudi untuk memakannya dengan mulut tanpa menggunakan tangan, berlutut sambil terus menggonggong setiap kali Rian mengibas cemetinya. Andi bahkan sengaja menyiramkan air kotor ke arah wajah Rudi, lalu menendang bokongnya agar Rudi menjilati lantai yang basah dan kotor.

Setelah puas dengan permainan itu, Fajar kembali mengambil alih. Ia menarik rantai di leher Rudi, menyeretnya ke tengah gudang, ke sebuah tiang besi yang kokoh. "Malam ini, kita mau lihat seberapa setia anjing kami ini. Kamu akan melayani kami di depan umum, tanpa malu, di tempat terbuka."

Rudi diikat ke tiang itu, tangannya dibentangkan dan diikat ke belakang, tubuhnya yang berotot terpajang telanjang. Kakinya juga diikat, membuatnya tidak bisa bergerak. Fajar melumuri alat kelaminnya dengan pelumas, lalu tanpa peringatan, ia menghantam lubang Rudi dengan keras.

"AAAKH! FAJARR!" Rudi berteriak.

"Namaku Tuan Fajar, Anjing! Ulangi!" bentak Fajar sambil menghantam lebih dalam.

"TUAN FAJAR!" Rudi menjerit, suaranya sudah serak.

Sesi pemerkosaan itu berlangsung brutal. Fajar menghantam Rudi dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, membuat tubuh berotot Rudi bergetar hebat setiap kali ia didorong. Kontol lemas Rudi yang panjang terayun-ayun di depan, terpukul-pukul ke tiang besi, sebuah pemandangan yang menyedihkan. Rian dan Dika tidak hanya menonton. Dika sibuk menampar pantat Rudi yang berotot dan sudah memerah, sementara Rian mengambil sebuah botol semprotan air, menyemprotkan air ke seluruh wajah dan tubuh Rudi setiap kali ia merasa kurang puas.

"Gila, Jar! Lubangnya makin empuk ya sekarang!" Dika berteriak sambil tertawa.

Fajar terus menghujam, mengerang-erang di belakang Rudi, memenuhi seluruh lubang pria berotot itu dengan kejantanannya. Hampir satu jam, ia tidak berhenti. Setelah mencapai puncaknya dengan satu dorongan terakhir yang sangat dalam, Fajar mencabut dirinya dengan kasar, membuat Rudi ambruk bersandar di tiang, tubuhnya lemas dan bersimbah keringat.

Namun, mereka belum selesai. Andi mendekat, melepas ikatan tangan Rudi. Ia lalu memaksa Rudi untuk berlutut di depannya, menatap wajah Andi yang menyeringai.

"Malam ini aku mau lihat seberapa patuh anjingku ini. Kamu akan membersihkan Tuan Fajar dan Tuan Rian," perintah Andi. Ia mengarahkan kejantanan Fajar yang masih basah ke mulut Rudi, memaksa Rudi untuk menjilati setiap tetesnya. Setelah Fajar, giliran Rian yang menampakkan dirinya.

Air mata membasahi wajah Rudi, bercampur dengan ludah dan cairan kotor. Ia menuruti setiap perintah, menjilati, menghisap, bahkan menelan. Ketika semua selesai, Andi kembali melakukan aksi favoritnya. Ia kencing di wajah Rudi, membasahi brewok dan otot dada pria itu, lalu menendang kepala Rudi agar ia menjilati lantai yang basah.

"Kamu anjing yang patuh, Rudi. Selamat malam, Anjing," kata Andi sebelum mereka pergi, meninggalkan Rudi yang terikat lagi di tiang, telanjang, dan hancur di tengah gudang yang dingin. Ia hanya bisa menangis dalam diam, tubuhnya yang dulu gagah kini hanyalah boneka yang pasrah.