Pustaka Sahawn

05 Proyek Kolaborasi

Seminggu setelah insiden mobil towing, Galang resmi menobatkan dirinya sebagai ‘Bayangan Ilan’. Di mana ada Ilan, di radius lima meter pasti ada Galang yang lagi pura-pura ngecek HP atau marahin tembok.

Hari ini, Pak Yudi mengumumkan berita besar di aula bengkel.

"Dengarkan!" suara Pak Yudi menggelegar tanpa mic. "Bulan depan ada pameran inovasi teknologi tingkat provinsi. Sekolah kita harus kirim wakil. Tugas kalian adalah bikin modifikasi mesin berbahan bakar alternatif."

Murid-murid bersorak malas. Tugas lagi, lembur lagi.

"Bapak sudah bagi kelompok. Satu kelompok dua orang. Pasangan ditentukan berdasarkan absen dan skill. Campuran kelas 11 dan 12 biar ada bimbingan!"

Pak Yudi mulai membacakan daftar. "Kelompok 1: Bowo sama Asep. Kelompok 2: Udin sama Jojo..."

Sampai di pertengahan, Pak Yudi berhenti sebentar, membetulkan kacamatanya. "Kelompok 5: Bumi Ilalang sama..."

Jantung Galang berdegup kencang di barisan belakang. Dia sudah melakukan lobi tingkat dewa (baca: nyogok Pak Yudi pake martabak spesial tadi malam) biar skenario ini berjalan mulus.

"...sama Galang Mahendra," lanjut Pak Yudi.

"YES!" seru Galang refleks. Kencang banget.

Satu aula hening. Semua menoleh ke Galang. Si Raja Sekolah yang biasanya anti-tugas, sekarang bersorak girang karena dapet tugas kelompok?

Galang langsung sadar posisinya. Dia berdehem keras, memasang wajah garang lagi. "Maksud gue... Yes, akhirnya gue bisa menggembleng junior. Awas lo pada kalau males-malesan!"

Ilan yang berdiri di barisan depan cuma berkedip bingung. Dia menoleh ke Bowo. "Wo, gue sama Bang Galang? Emang dia ngerti mesin ramah lingkungan? Bukannya motor dia asepnya paling tebel se-kecamatan?"

"Udah, Lan. Terima nasib aja," bisik Bowo prihatin. "Lo tumbal proyek."

Sesi pembagian kelompok selesai. Galang langsung berjalan membelah kerumunan siswa, menuju ke arah Ilan dengan langkah lebar dan senyum kemenangan yang berusaha ditahan.

"Woy, partner," sapa Galang, menepuk bahu Ilan (kali ini pelan-pelan, takut ada tupai lagi).

"Eh, Bang Galang. Mohon bimbingannya ya, Bang," Ilan tersenyum sopan.

"Tenang. Gue bakal bimbing lo... ke jalan yang benar," kata Galang, matanya menatap intens. "Mulai hari ini, tiap pulang sekolah kita lembur di bengkel. Proyek kita harus jadi juara satu. Gue nggak terima juara dua."

"Siap, Bang. Tapi..." Ilan ragu-ragu.

"Apa? Takut pulang malem?"

"Bukan. Itu... di bahu Abang ada belalang sembah lagi kawin."

Galang menoleh patah-patah ke bahu kirinya. Benar saja. Dua ekor belalang hijau besar sedang asyik memadu kasih di atas epaulette seragamnya.

"ILAN!!!" Galang menjerit tertahan, mengibaskan bahunya panik. Ilan cuma ketawa kecil sambil memindahkan belalang itu ke pot bunga terdekat. Galang menghela napas. Sabar, Lang. Cinta butuh pengorbanan. Jadi tempat maksiat serangga termasuk salah satunya.

***


Tiga hari berturut-turut, mereka lembur di bengkel sekolah.

Sore ini, langit Jakarta sedang tidak bersahabat. Awan hitam pekat menggantung rendah, disusul hujan deras yang turun seolah langit bocor. Suara hujan menghantam atap seng bengkel menimbulkan kebisingan yang menenangkan.

Di pojok bengkel, hanya diterangi lampu neon panjang yang berkedip-kedip, Ilan dan Galang sedang sibuk.

Lebih tepatnya: Ilan sibuk bekerja, Galang sibuk memandangi Ilan.

Ilan sedang berbaring di atas creeper, masuk ke kolong rangka mobil gokart rakitan yang sedang mereka bangun. Hanya kakinya yang terlihat.

"Bang, tolong ambilin kunci pas ukuran 12 dong," suara Ilan menggema dari kolong mobil.

"Oke," Galang dengan sigap mengambil kunci yang diminta dari toolbox. Dia mengulurkannya ke tangan Ilan yang menjulur keluar.

Saat kulit mereka bersentuhan, Galang merasakan sengatan kecil itu lagi. Dia buru-buru menarik tangannya.

Ilan meluncur keluar dari kolong mobil, wajahnya belepotan sedikit oli, rambutnya lepek karena keringat. Dia duduk bersila, menyeka dahinya dengan lengan baju. Napasnya terengah pelan.

"Panas banget ya, Bang. Padahal hujan," keluh Ilan, mengipas-ngipas lehernya.

Galang menelan ludah susah payah. Pemandangan di depannya ini bahaya buat kesehatan jantung. Ilan dengan wearpack yang diturunkan sepinggang (jadi cuma pake kaos oblong putih yang mulai transparan karena keringat), leher jenjang yang basah, dan tatapan mata sayu karena capek.

Ya Tuhan, kuatkan iman hamba, batin Galang. Ini cobaan terberat selain Ujian Nasional Matematika.

"Mi-minum dulu, Lan," Galang menyodorkan botol air mineral dingin yang dia beli tadi.

"Makasih, Bang." Ilan meneguk air itu rakus. Jakunnya naik turun. Galang memperhatikannya lekat-lekat, sampai lupa kalau dia megang obeng.

"Bang Galang?" panggil Ilan, menyadarkan lamunan Galang.

"Hah? Ya?"

"Abang ngeliatin saya terus. Ada yang aneh ya? Ada ulet bulu di muka saya?" Ilan meraba-raba wajahnya panik.

"Enggak," jawab Galang cepat. "Gue cuma... lagi mikir. Lo jago banget ngoprek mesin. Tangan lo stabil."

Ilan tersenyum lebar, matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Bapak saya bilang, tangan saya stabil karena sering nangkepin lalat pake sumpit di rumah."

Galang tertawa. "Bapak lo kocak juga. Kapan-kapan kenalin lah."

"Jangan deh, Bang. Bapak galak. Anjingnya lebih galak."

"Gue nggak takut anjing," sombong Galang. "Gue takutnya kalau lo kecapekan. Istirahat dulu gih."

Suasana mendadak soft. Hujan di luar makin deras, menciptakan dinding suara yang mengisolasi mereka berdua dari dunia luar. Hanya ada Galang, Ilan, dan gokart setengah jadi.

Tiba-tiba...

ZZZAAAPPPP! DHUAR!

Suara petir menggelegar dahsyat, disusul suara trafo meledak di tiang listrik depan sekolah.

PEP.

Lampu neon di bengkel mati total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti mereka. Benar-benar gelap gulita karena ini sudah jam enam sore dan mendung tebal.

"Anjir!" seru Galang kaget. "Mati lampu!"

Hening sejenak. Galang meraba-raba saku celananya mencari HP untuk menyalakan senter. Dia khawatir Ilan takut gelap. Biasanya cowok manis kayak Ilan takut hantu atau gelap, kan? Ini kesempatan Galang buat jadi pahlawan pelindung dan melancarkan sedikit siasat ‘baik’-nya.

"Lan? Lo gak apa-apa? Jangan gerak, banyak besi tajem. Gue nyalain senter..."

"Ssst... Bang. Jangan nyalain senter," suara Ilan terdengar tenang, justru terdengar antusias. "Liat deh."

"Liat apaan? Gelap begini kayak masa depan gue."

"Tunggu sebentar. Matanya adaptasi dulu."

Galang menurut. Perlahan, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan. Dan saat itulah dia melihatnya.

Dari ventilasi udara di atas, titik-titik cahaya kecil mulai masuk. Satu... dua... sepuluh... ratusan.

Berkelip-kelip. Hijau kekuningan.

Kunang-kunang. 

Serangga bercahaya itu terbang masuk, menghindari hujan di luar, seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata di tengah bengke l: Bumi Ilalang.

Ratusan kunang-kunang itu terbang berputar mengelilingi Ilan, menciptakan pencahayaan alami yang magis. Bengkel yang tadinya seram dan bau oli, mendadak berubah jadi hutan fantasi. Cahaya lembut kunang-kunang itu memantul di mata Ilan, membuat wajahnya bersinar redup.

Galang terpaku. Mulutnya sedikit terbuka. Dia belum pernah melihat yang seindah ini. Bukan kunang-kunangnya, tapi Ilan di tengah-tengah mereka.

Seekor kunang-kunang hinggap di ujung hidung Ilan. Ilan tertawa kecil, suara tawanya memecah keheningan hujan.

"Mereka neduh, Bang," bisik Ilan lembut. Dia menadahkan tangannya, dan beberapa kunang-kunang hinggap di telapak tangannya. "Sini, Bang. Mereka nggak gigit."

Kaki Galang bergerak sendiri mendekati Ilan. Dia duduk di samping Ilan di lantai bengkel yang dingin. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Cahaya kunang-kunang cukup untuk memperlihatkan wajah satu sama lain dalam remang-remang romantis.

"Kok bisa...?" bisik Galang, suaranya parau.

"Udah biasa," jawab Ilan sambil menatap kunang-kunang di jarinya. "Kalau gelap, mereka suka dateng nemenin saya. Mungkin mereka kira saya lampu taman."

Ilan menoleh ke Galang. Jarak wajah mereka cuma sejengkal. Cahaya hijau redup memantul di wajah keras Galang, melembutkan garis rahangnya yang tegas.

Untuk pertama kalinya, Ilan melihat Galang bukan sebagai senior preman yang menyebalkan atau bos yang suka maksa. Dia melihat Galang sebagai cowok yang... ganteng. Tatapan mata Galang yang biasanya tajam, sekarang terlihat vulnerable dan hangat.

"Lo bukan lampu taman, Lan," kata Galang pelan, nyaris berbisik. Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu memberanikan diri menyentuh rambut Ilan, menyingkirkan seekor kunang-kunang yang tersesat di sana.

"Terus apa?" tanya Ilan polos, suaranya bergetar sedikit karena sentuhan itu.

Galang menatap bibir Ilan, lalu kembali ke matanya. Jantungnya berdegup gila-gilaan. Dia ingin menciumnya. Di sini. Sekarang. Di tengah pesta kunang-kunang ini.

"Lo..." Galang mencondongkan wajahnya mendekat. Ilan tidak mundur. Mata Ilan melebar sedikit, nafasnya tertahan.

Kriet... BRAK!

Pintu bengkel didobrak paksa dari luar. Senter menyilaukan menembus kegelapan, merusak momen magis itu seketika. Kunang-kunang langsung bubar berhamburan terbang ke atas langit-langit.

"SIAPA DI DALEM?! PACARAN YA?!"

Suara cempreng Pak Satpam terdengar, diikuti gonggongan anjing penjaga sekolah (yang anehnya malah langsung duduk manis pas liat Ilan).

Galang dan Ilan melompat menjauh satu sama lain kayak pegas.

"Enggak Pak! Kita lagi ngerjain tugas!" teriak Galang panik, mukanya merah padam—untung gelap.

"Oh, Den Galang..." Pak Satpam menurunkan senternya. "Kirain maling atau anak pacaran. Udah malem Den, listrik padam se-kelurahan. Pulang gih, besok lagi."

Galang mengusap wajahnya kasar. Bangsat. Momen gue. Momen seumur hidup gue hancur gara-gara Pak Satpam.

Dia menoleh ke Ilan. Ilan sedang sibuk membereskan alat-alat dengan gerakan kikuk, telinganya terlihat memerah walau samar.

"Ayo pulang, Lan," ajak Galang, suaranya kembali normal walau hatinya masih ambyar. "Gue anter."

"I-iya, Bang."

Malam itu, di dalam mobil Galang yang membelah hujan Jakarta, tidak ada musik yang diputar. Keduanya diam seribu bahasa. Tapi udaranya terasa beda. Ada ketegangan manis yang menggantung.

Galang menyetir sambil sesekali melirik tangan Ilan di pangkuan. Dia berjanji dalam hati: Lain kali, nggak bakal ada yang ganggu. Gue bakal dapetin lo, Bumi Ilalang. Bakal gue lahap sampe puas.

Sementara Ilan menatap keluar jendela, memegang dadanya yang berdetak aneh. Kenapa tadi gue nggak ngehindar? pikirnya bingung. Dan kenapa... gue kecewa pas Pak Satpam dateng?