Pustaka Sahawn

06 THE FRAGILE MASK

Suasana di gudang malam ini terasa berbeda. Tidak ada suara dentuman beban atau teriakan kasar Fajar. Hanya ada musik pop mendayu yang diputar pelan dari speaker Bluetooth milik Andi. Di tengah ruangan, sebuah meja rias lipat telah disiapkan lengkap dengan cermin besar dan tumpukan kain berbahan renda yang sangat kontras dengan lingkungan industrial yang kasar itu.

Rudi, yang masih dalam status ‘anjing penjaga’, merangkak keluar dari selnya dengan kalung kulit yang masih melingkar di leher. Tubuhnya yang cokelat sawo matang dan penuh otot tampak kusam. Namun, langkahnya terhenti saat melihat apa yang ada di atas meja.

"Sini, Rud. Malam ini kita nggak akan main kasar... setidaknya belum," Andi tersenyum, duduk di kursi sambil memegang segelas wine. "Aku bosan melihatmu jadi anjing yang kotor. Aku ingin lihat sisi 'cantik' dari instruktur kebanggaan kita ini."

Dika dan Rian segera memegang lengan raksasa Rudi, memaksanya duduk di kursi depan cermin. Rudi mencoba melawan, tapi cengkeraman mereka pada titik-titik lebam di bahunya membuatnya mengerang dan menyerah.

"Cukur brewoknya, Dik. Aku mau wajahnya mulus seperti pantatnya yang sering kita pakai," perintah Andi.

Dika mulai mengoleskan busa cukur ke wajah Rudi yang tegas. Dengan pisau cukur yang tajam, ia membuang helai demi helai brewok dan kumis tipis yang selama ini menjadi simbol kemachoan Rudi. Setiap tarikan pisau itu terasa seperti menguliti jati diri Rudi. Setelah wajahnya bersih dan tampak lebih muda namun sangat rentan, Rian mengambil alih. Ia mulai memulas eyeliner tebal di mata Rudi dan memberikan gincu merah menyala di bibir pria malang itu.

"Gila... makin cantik aja Mas Rudi kita," ejek Rian sambil mencubit pipi Rudi yang sudah dirias.

Puncak penghinaan dimulai saat Andi melemparkan sebuah bungkusan. Isinya adalah satu set lingerie renda hitam ukuran paling besar, lengkap dengan stocking jaring dan sepatu hak tinggi (high heels) yang sudah dimodifikasi untuk ukuran kaki pria.

"Pakai. Sekarang," perintah Andi mutlak.

Rudi gemetar. Membayangkan tubuh 105 kg-nya yang penuh otot dibalut kain tipis itu membuatnya ingin mati. Dengan tangan yang sangat lambat, ia mulai mengenakan lingerie tersebut. Kain renda itu tampak sesak menutupi dada bidangnya yang berotot tebal; putingnya yang sudah lecet karena klip menonjol di balik kain transparan. Saat ia menarik stocking jaring ke paha raksasanya, otot quadriceps-nya yang menonjol seolah mau merobek kain tipis itu.

Dan yang paling menjijikkan bagi Rudi, kontol 20 cm-nya yang lemas itu kini terbungkus paksa di balik celana dalam G-string renda yang sangat kecil, membuatnya menjuntai keluar dari samping kain karena tidak muat tertampung.

"Berdiri!" bentak Dika.

Rudi berdiri dengan gemetar di atas high heels. Tingginya yang hampir 190 cm dengan sepatu itu membuatnya tampak seperti monster yang aneh dan menjijikkan. Ia menatap pantulannya di cermin: wajah yang dirias menor dengan bibir merah merona, tubuh binaragawan yang dibalut renda hitam, dan alat vital raksasa yang tetap lemas tak berdaya.

"Lihat dirimu, Rud. Kamu bukan laki-laki lagi. Kamu cuma 'boneka' cantik kami," bisik Andi di telinganya.

Sesi pemuasan dimulai. Andi memerintahkan Rudi untuk menari di depan mereka. Rudi dipaksa berlenggak-lenggok di atas sepatu hak tingginya sambil menggoyangkan bokongnya yang berotot ke arah mereka. Setiap kali gerakannya tidak cukup feminin untuk selera penonton, Rian akan mencambuk paha Rudi dengan sabuk kulit.

"Ayo, goyang terus! Mana desahan cantiknya?" teriak Dika sambil tertawa terbahak-bahak.

Fajar masuk ke dalam ruangan, matanya membelalak melihat penampilan Rudi. "Wah, ini baru beda! Sini, boneka cantik, layani aku dalam keadaan begini."

Fajar tidak menunggu lama. Ia membalikkan tubuh Rudi, memaksa wajah cantik Rudi menghantam meja rias hingga alat-alat make-up berhamburan. Ia mengangkat gaun renda pendek itu, memperlihatkan lubang Rudi yang kini dibalut G-string hitam yang ditarik paksa ke samping.

Fajar menghantam Rudi dari belakang dengan kekuatan penuh. Suara kulit yang beradu dengan kain renda menciptakan bunyi yang sangat aneh. Rudi merintih, bibir merahnya terbuka lebar, mengeluarkan suara parau yang kini terdengar lebih menyedihkan karena riasan wajahnya yang mulai luntur terkena air mata dan keringat.

"Tatap cerminnya, Rudi! Lihat gimana lubang binaragawan ini dimakan sama aku!" geram Fajar sambil memacu gerakannya.

Rudi terpaksa menatap pantulan dirinya sendiri. Ia melihat bagaimana tubuh kekar yang ia bangun selama puluhan tahun di gym kini diguncang-guncang oleh Fajar dalam balutan pakaian wanita. Ia melihat kontol raksasanya yang lemas terayun-ayun menghantam botol parfum di meja, benar-benar tidak berguna selain menjadi penghias kemaluannya yang kini terasa seperti lubang sampah.

Setelah Fajar puas, Andi memberikan finishing touch. Ia memaksa Rudi tetap memakai pakaian itu dan melakukan catwalk mengelilingi seluruh area gudang yang gelap, sementara Dika dan Rian melempari tubuhnya dengan air es dan sisa-sisa minuman mereka.

"Kamu bakal tidur dengan pakaian ini, Rudi. Jangan dilepas sampai aku datang besok pagi," kata Andi sebelum meninggalkan gudang.

Rudi kembali ke sel kecilnya, meringkuk di atas kasur tipis dengan lingerie yang sudah robek di beberapa bagian dan riasan wajah yang berantakan. Ia memeluk tubuhnya sendiri, merasakan dinginnya malam yang menembus kain renda itu, menyadari bahwa maskulinitasnya benar-benar sudah berakhir.