06 Meet the Parents (and the Beast)
Mobil Pajero Sport hitam milik Galang berhenti perlahan di depan sebuah pagar rumah sederhana di kawasan perumahan padat penduduk. Hujan sudah reda, menyisakan aspal basah dan aroma tanah basah yang kuat.
Tapi bagi Galang, aroma yang lebih kuat saat ini adalah aroma keringat dinginnya sendiri.
"Ini rumah lo, Lan?" tanya Galang, mematikan mesin mobil tapi belum berani buka sabuk pengaman.
"Iya, Bang. Yang pagarnya warna hijau lumut itu," jawab Ilan sambil melepas seatbelt. "Makasih ya, Bang, udah nganterin sampai depan rumah banget. Biasanya ojol cuma mau sampai gang depan soalnya takut dicegat soang tetangga."
Galang menelan ludah. Dia melihat ke arah rumah itu. Rumah tipe 45 yang asri banget—terlalu asri malah. Halamannya penuh tanaman liar yang terawat, pohon mangga besar, dan... apakah itu kandang burung merpati raksasa di atas genteng?
"Gue turun dulu ya, Bang," pamit Ilan.
"Tunggu!" cegah Galang cepat. "Gue... gue mau mampir bentar. Numpang kencing. Kebelet dari tadi di bengkel."
Alasan klasik. Padahal Galang cuma mau memastikan Ilan masuk rumah dengan selamat (dan modus pengen kenalan sama camer). Galang melirik ke jok belakang. Di sana sudah tergeletak manis dua kotak Martabak Sultan (satu manis spesial keju-coklat-kacang-wijen, satu telur bebek istimewa 5 butir) yang dia beli tadi di jalan. Senjata diplomasi nomor satu di Indonesia.
"Oh, boleh Bang. Tapi hati-hati ya," kata Ilan ragu.
"Hati-hati kenapa? Bapak lo galak banget?" Galang menyugar rambutnya, mencoba menata penampilannya di kaca spion. Bekas luka di alisnya memang bikin tampang sangar, tapi dia yakin senyum manisnya bisa meluluhkan hati orang tua manapun.
"Bukan cuma Bapak..." Ilan menggantung kalimatnya. "Pokoknya Abang jangan kaget aja."
Mereka turun dari mobil. Galang menenteng kresek martabak dengan gaya seolah itu tas branded. Dia berjalan di belakang Ilan menuju pagar.
Baru saja Ilan membuka pagar besi yang berdecit itu, suara riuh rendah langsung menyambut.
Kwek! Kwek! Guk! Meong! Cit-cit! RawRrr!
Galang terlonjak kaget. Halaman rumah Ilan di malam hari ternyata lebih mirip night safari.
Seekor anjing Golden Retriever tua tapi besar langsung berlari menyongsong Ilan, ekornya kibas-kibas heboh. Di belakangnya, ada barisan kucing kampung yang duduk rapi di teras kayak panitia penyambutan. Di pohon mangga, sepasang mata burung hantu menyala menatap Galang tajam.
"Sori, Bang. Mereka emang heboh kalau aku pulang," kata Ilan sambil mengusap kepala anjingnya. "Jack, duduk. Ini tamu. Jangan digigit."
Si anjing, Jack, menatap Galang. Dia mengendus sepatu boots kulit mahal Galang, lalu mendengus meremehkan seolah bilang: 'Bau oli campur parfum mahal. Nggak enak.'
"Ayo masuk, Bang," ajak Ilan.
Galang melangkah masuk ke teras dengan waspada. Dia merasa diawasi oleh ribuan mata. Cicak di dinding, tokek di balik talang air, bahkan nyamuk-nyamuk sepertinya terbang dalam formasi tempur di sekitar kepalanya.
Tok. Tok.
"Assalamualaikum! Pak, Bu, Ilan pulang!"
Pintu kayu jati itu terbuka.
Sosok yang muncul bukan monster, tapi pria paruh baya bertubuh gempal, memakai kaos partai yang sudah pudar dan sarung kotak-kotak. Kumisnya tebal melintang, matanya melotot tajam di balik kacamata baca yang melorot. Di tangannya, dia memegang... kemoceng bulu ayam.
Ini dia. Pak Tejo. Bapaknya Ilan. Final Boss.
Pak Tejo menatap Ilan, lalu tatapannya beralih ke sosok tinggi besar di belakang Ilan. Galang Mahendra. Dengan tampang preman, alis codet, rambut sedikit berantakan, dan baju seragam yang dikeluarkan.
Mata Pak Tejo menyipit curiga. Radar ‘Anti-Buaya’ miliknya langsung berbunyi nyaring. Wiu wiu wiu. Wut wut.
"Waalaikumsalam," jawab Pak Tejo berat. "Siapa ini, Lan? Tukang tagih kredit panci Ibu?"
Galang tersedak ludahnya sendiri. Anjir, dikira debt collector.
***
"Bukan, Pak!" Ilan buru-buru klarifikasi. "Ini Kakak Kelas Ilan. Bang Galang. Tadi nganterin Ilan pulang soalnya motor Ilan bannya pecah ditinggal di bengkel."
Galang langsung memasang mode menantu idaman. Dia membungkuk sopan, menyalami tangan Pak Tejo dan mencium punggung tangannya (taktik jitu).
"Malam, Om. Saya Galang. Teman satu proyek Ilan di sekolah," ucap Galang dengan suara diberat-beratin biar wibawa. "Ini ada sedikit martabak buat nemenin ngeteh, Om."
Pak Tejo melirik kresek martabak itu, lalu melirik wajah Galang. "Martabak..." gumamnya. "Nyogok kamu?"
"Eh, bukan Om! Oleh-oleh aja," Galang panik. "Tadi kebetulan lewat..."
"Lewat mana? Martabak Bangka di simpang lima itu ngantrinya dua jam. Kamu niat banget nganter anak saya sampai bela-belain ngantri?" selidik Pak Tejo tajam. Detektif Conan pun kalah deduksinya.
Galang skakmat. Busyet, Bapaknya tau peta kuliner.
"Udah, Pak. Kasian Bang Galang, dia capek nyetir. Ayo masuk, Bang," Ilan menyelamatkan situasi.
Mereka masuk ke ruang tamu. Ruang tamunya kecil tapi hangat, penuh dengan foto-foto keluarga dan... tentu saja, hewan. Ada akuarium besar berisi ikan lohan yang jenongnya minta ampun, sangkar burung kenari yang berkicau merdu, dan kucing persia gemuk yang tidur di atas televisi tabung.
"Duduk," perintah Pak Tejo. Dia menunjuk sofa tunggal yang sudah agak reyot busanya.
Galang duduk tegak, lutut rapat, tangan di paha. Persis kayak mau wawancara kerja tapi pelamarnya mirip kriminal.
Ilan pamit ke belakang mau ganti baju dan bikin minum. Meninggalkan Galang berdua saja dengan Sang Penjaga Gerbang.
Hening.
Pak Tejo duduk di sofa panjang di depan Galang, meletakkan kemocengnya di meja seolah itu adalah gada perang. Dia menatap Galang dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kamu..." Pak Tejo memulai interogasi. "Alis kamu kenapa itu? Kena celurit?"
"Bukan, Om," jawab Galang cepat. "Jatuh dari sepeda waktu kecil." (Bohong dikit biar aman).
"Hmph. Tampang kamu kayak preman terminal," komentar Pak Tejo pedas, jujur, dan tanpa filter. "Kamu ngerokok?"
"Dikit, Om. Eh—maksudnya, jarang. Kalau lagi pusing aja."
"Minum?"
"Air putih, Om. Galon."
"Jangan bercanda kamu!" Pak Tejo memukul meja pelan pake kemoceng. "Saya ini bapaknya Ilan. Saya tau anak saya itu... spesial. Dia itu magnet masalah. Dan kamu..." Pak Tejo menunjuk dada Galang dengan ujung kemoceng. "...kamu kelihatan kayak sumber masalah terbesar yang pernah mampir ke rumah ini."
Galang merasa kerdil. Padahal di sekolah dia ditakuti satu angkatan, tapi di depan bapak-bapak pakai sarung ini, nyalinya ciut.
"Saya niat baik, Om. Saya cuma mau temenan sama Ilan. Ilan anak baik, pinter mesin..."
"Saya tau dia pinter!" potong Pak Tejo. "Yang saya tanya, apa motivasi kamu deketin dia? Kamu mau manfaatin dia buat benerin motor gratismu? Atau kamu mau jadiin dia bahan taruhan temen-temen geng motormu?"
Jleb. Galang tertohok. Prasangka orang tua emang sadis.
"Demi Tuhan nggak, Om!" Galang menegakkan badannya, menatap mata Pak Tejo berani. "Saya... saya kagum sama Ilan. Dia beda. Saya justru mau jagain dia, Om. Di sekolah banyak yang jail."
Pak Tejo terdiam sejenak, menatap mata Galang mencari kebohongan. Lalu dia mendengus. "Jagain? Ilan gak butuh dijagain manusia. Dia punya pasukannya sendiri."
Seolah mengkonfirmasi ucapan Pak Tejo, tiba-tiba seekor monyet kecil (jenis Monyet Pantai) muncul dari balik gorden jendela. Monyet itu memakai popok bayi (biar gak ngompol sembarangan) dan kalung lonceng.
Monyet itu melompat ke meja tamu, menatap Galang, lalu dengan cepat menyambar kunci mobil Pajero Galang yang tergeletak di meja.
"Eh!" Galang kaget.
Si monyet, namanya Kliwon, membawa kunci itu ke atas lemari pajangan tinggi, lalu menjulurkan lidah ke arah Galang. Melet.
"Kliwon! Balikin!" bentak Pak Tejo, tapi nadanya santai banget, kayak udah biasa. "Tuh, liat. Kliwon aja gak suka sama kamu. Dia tau mana orang yang hatinya bersih mana yang banyak modus."
Galang menatap nanar ke kunci mobilnya di atas lemari. Harga diri gue diinjek-injek monyet pake popok, batinnya miris.
***
Ilan kembali membawa nampan berisi dua gelas teh manis hangat dan piring berisi martabak yang sudah dipotong. Dia sudah ganti baju pakai kaos rumahan yang longgar dan celana pendek, bikin dia kelihatan makin boyish dan adorable di mata Galang.
"Loh, Kliwon ngapain di atas lemari?" tanya Ilan.
"Ngebajak kunci mobil tamu kita," jawab Pak Tejo santai sambil nyomot martabak. "Enak juga martabaknya. Mahal ini pasti. Kamu nyuri duit bapakmu ya?"
"Enak aja Om, itu uang jajan saya sendiri!" bela Galang, meski dalam hati mengakui sumber uang jajannya ya dari bapaknya juga sih.
"Kliwon, sini kuncinya," bujuk Ilan. Dia mengulurkan tangan.
Si monyet Kliwon langsung luluh. Dia melompat turun ke bahu Ilan, menyerahkan kunci mobil itu dengan patuh, lalu mencium pipi Ilan.
"Tuh kan," kata Ilan sambil menyerahkan kunci ke Galang. "Dia cuma mau main kok, Bang. Maafin ya."
Galang menerima kunci itu dengan tangan gemetar. "Iya, Lan. Santai. Lucu kok monyetnya. Lucu banget pengen gue karungin."
Tiba-tiba, dari arah dapur muncul sosok wanita paruh baya yang wajahnya mirip banget sama Ilan versi tua dan berhijab. Ibu Sri. Senyumnya ramah, beda 180 derajat sama suaminya.
"Eh, ada Nak Galang ya? Maaf Ibu baru selesai sholat Isya," sapa Bu Sri hangat.
"Malam, Tante," Galang langsung berdiri lagi, salim lagi. Kali ini dia merasa sedikit lega. Setidaknya ada satu manusia normal di rumah ini.
"Duduk, duduk. Wah, ganteng ya aslinya. Ilan sering cerita soal Kakak Kelasnya yang 'Raja Sekolah' itu," kata Bu Sri polos.
Muka Ilan langsung merah padam. "Ibu ih! Ilan gak pernah cerita!"
"Loh, kemarin pas makan malam kamu bilang 'Ada kakak kelas namanya Galang, mukanya serem tapi takut tawon'. Itu kan?"
Galang menoleh ke Ilan sambil menyeringai lebar. "Oh... jadi gue diomongin di meja makan? Serem tapi takut tawon?"
Ilan rasanya pengen berubah jadi kecoa biar bisa nyelip di bawah sofa. "Itu... itu kan fakta, Bang."
Suasana jadi sedikit mencair berkat Bu Sri. Pak Tejo masih masam, tapi dia menikmati martabak telurnya dengan lahap, jadi level bahayanya turun dari Siaga 1 ke Siaga 2.
Tapi ujian Galang belum selesai.
Saat mereka sedang ngobrol santai (di mana Galang berusaha pamer prestasi akademiknya yang pas-pasan biar kelihatan pinter), seekor kucing kampung besar berwarna oren melompat ke pangkuan Galang.
Galang kaget, tapi dia mencoba sok asik. "Halo, pus..." Dia mau mengelus kepala kucing itu.
Tapi si Kucing Oren bukan mau dimanja. Dia menganggap paha Galang yang berotot dan celana bahan sekolahnya yang mahal itu sebagai... Scratching Post (Papan Cakar).
Sreeet! Sreeet!
Kuku-kuku tajam menancap di celana Galang, menembus sampai ke kulit paha.
"ADUH!" Galang refleks teriak, tapi langsung ditahan jadi ringisan. "Ssshhh... aduh, sakit, Pus. Jangan dicakar dong."
"Oyen! Turun!" seru Ilan.
Tapi Si Oyen malah menatap Galang tajam, lalu PLAK! Dia menabok tangan Galang yang mau mindahin dia.
Pak Tejo tertawa. Tawa jahat. "Hahaha! Oyen itu tau barang bagus. Celanamu bahannya mahal, enak buat asah kuku. Ikhlasin aja, Ang." (Dia manggil Galang jadi 'Ang', entah singkatan Abang atau Galang, sedikit plenger kayaknya).
Galang menahan air mata. Pahanya perih, celananya benang-benangnya keluar, harga dirinya hancur dimarahi monyet dan dicakar kucing, di depan gebetan dan calon mertua.
"Gak apa-apa, Om. Saya... saya ikhlas. Kucing adalah raja," kata Galang dramatis, mencoba mengambil hati Pak Tejo yang sepertinya pecinta hewan.
Strategi berhasil. Pak Tejo mengangguk apresiasi. "Bagus. Kamu punya mental babu. Cocok jadi temen Ilan. Ilan ini babunya satu kebun binatang."
***
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Galang harus pamit sebelum Pak Tejo berubah pikiran dan menyuruh anjing herder tetangga buat ngusir dia.
"Saya pamit dulu, Om, Tante. Besok sekolah," kata Galang berdiri. Kakinya agak pincang dikit gara-gara cakaran Oyen.
"Iya, hati-hati Nak Galang. Makasih martabaknya ya. Sering-sering main sini, biar Oyen ada temen main," kata Bu Sri ramah.
"Makasih, Tante," Galang tersenyum tulus ke ibunya Ilan. Target satu: Ibu (Succes). Target dua: Bapak (On Process).
Ilan mengantar Galang sampai ke mobil. Halaman sudah agak sepi, hewan-hewan sudah pada tidur, kecuali jangkrik yang mengerik nyaring.
Di samping pintu mobil Pajero-nya, Galang berbalik menghadap Ilan.
"Sori ya, Bang. Keluarga gue emang aneh. Bapak galak, hewan-hewan pada kurang ajar," kata Ilan menunduk, memainkan ujung kaosnya. Dia merasa gak enak banget sama Galang yang udah ‘disiksa’ di rumahnya.
Galang menatap Ilan. Lampu teras yang kuning menyinari wajah Ilan separuh.
"Gak aneh kok, Lan," kata Galang lembut. "Seru. Rumah lo... hangat. Beda sama rumah gue yang gede tapi isinya cuma guci keramik dingin."
Ilan mendongak. "Masa sih, Bang? Rumah orang kaya kan enak, ada AC, ada kolam renang."
"Enakan di sini. Ada lo," celetuk Galang. Keceplosan.
Hening sejenak. Angin malam berhembus, bikin daun mangga bergesekan. Kresek kresek.
Muka Ilan memerah lagi. Galang buru-buru ralat. "Maksud gue... ada lo, ada martabak, ada monyet pake popok. Hiburan lengkap."
Ilan tertawa kecil. "Bang Galang bisa aja. Yaudah, ati-ati di jalan ya Bang. Pahanya nanti dikasih obat merah."
"Siap, Bos."
Galang membuka pintu mobil, tapi sebelum masuk, dia menoleh lagi.
"Lan."
"Ya, Bang?"
"Besok gue jemput. Jangan bawa motor dulu."
"Eh, gak usah Bang! Gue naik angkot..."
"Gue jemput jam 6.30. Kalau lo nolak, gue apelin tiap malem."
Sebelum Ilan sempat protes, Galang sudah masuk mobil, menyalakan mesin, dan membunyikan klakson pelan. Tin.
Mobil besar itu melaju pergi, meninggalkan Ilan yang berdiri di depan pagar dengan senyum tipis di bibir.
Di balik jendela, Pak Tejo mengintip dari balik gorden sambil memegang Kliwon si monyet.
"Gimana menurutmu, Won? Itu anak preman kayaknya beneran naksir Ilan," gumam Pak Tejo.
Kliwon cuma menguap lebar.
"Yaudah, kita pantau dulu. Kalau dia macem-macem bikin Ilan nangis, kita suruh tawon satu sarang nyerang rumahnya," putus Pak Tejo, lalu menutup gorden.