07 THE BETRAYAL OF TRUST
Sudah hampir dua minggu Rudi mendekam di gudang. Tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan kronis; otot-ototnya yang dulu kencang kini tampak sedikit menyusut karena asupan nutrisi yang buruk, namun tetap terlihat masif dan menonjol. Bekas-bekas penyiksaan, lebam, dan sisa make-up yang sulit dibersihkan menghiasi kulit sawo matangnya.
Suatu sore, Andi datang tidak hanya dengan gengnya, tapi dengan seorang pria berkacamata yang sangat dikenal Rudi: Dokter Andri, spesialis andrologi yang dulu pernah menangani kasus sarafnya di rumah sakit.
"Mas Rudi? Kamu... di sini?" Dokter Andri bertanya, berpura-pura terkejut, namun matanya yang berkilat di balik kacamata tidak bisa menyembunyikan rasa lapar saat melihat Rudi yang hanya mengenakan kalung anjing dan sisa lingerie robek dari malam sebelumnya.
"Dokter... tolong saya, Dok... mereka gila," bisik Rudi, merangkak ke arah kaki sang dokter dengan harapan terakhir.
Andi tertawa keras sambil merangkul pundak Dokter Andri. "Tenang, Rud. Dokter Andri ini teman lama keluarga saya. Saya undang dia ke sini bukan buat menyembuhkanmu, tapi buat melakukan 'audit medis' pada aset mati yang kamu punya."
Dokter Andri meletakkan tas medisnya di atas meja. "Andi benar, Rudi. Sebagai doktermu, aku merasa penelitian kita dulu belum selesai. Aku ingin melihat bagaimana reaksi sarafmu jika dirangsang dengan alat-alat klinis... tentu saja dengan pengawasan Andi."
Rudi diseret ke atas sebuah meja kayu panjang yang dialasi plastik bening. Tangan dan kakinya diikat kuat ke empat sudut meja, membuatnya dalam posisi terlentang sepenuhnya. Tubuh raksasanya terpajang di bawah lampu operasi portabel yang dibawa Dokter Andri.
"Mari kita mulai pemeriksaan fisik," ucap Dokter Andri dengan nada dingin yang profesional namun menyeramkan.
Ia mengenakan sarung tangan latex. Suara krek saat karet itu terpasang di tangannya terdengar seperti lonceng kematian bagi Rudi. Sang dokter mulai meraba otot-otot dada Rudi, lalu turun ke arah perut six-pack-nya, dan akhirnya tangannya berhenti di alat vital Rudi yang sepanjang 20 cm itu.
"Sangat impresif secara anatomi, tapi secara fungsional... benar-benar nol," Dokter Andri berkomentar sambil menarik-narik batang lemas itu dengan kasar. Ia mengeluarkan sebuah alat bernama penile plethysmograph dan beberapa elektroda kecil. "Aku akan memasang ini. Kita akan lihat apakah ada aliran darah sedikit pun saat kita beri kejutan saraf."
Dokter Andri memasang elektroda-elektroda itu langsung ke kepala penis dan buah zakar Rudi. Sementara itu, Dika dan Rian memegangi kepala Rudi agar ia tidak bisa berpaling.
"Sekarang, dosis adrenalin dan stimulan saraf dosis tinggi," Dokter Andri menyuntikkan cairan bening langsung ke pangkal kemaluan Rudi.
Rudi mengerang hebat, otot-otot pahanya berkedut-kedut, tapi alat vitalnya tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan—ia hanya membengkak sedikit karena iritasi kimia, namun tetap menggantung layu.
"Gagal juga? Payah banget Dokter," ejek Fajar yang menonton dari samping sambil meremas bahu Rudi.
"Tunggu, kita belum coba stimulan mekanis," jawab Dokter Andri. Ia mengeluarkan sebuah alat pompa vakum medis yang sangat kuat. Ia memasukkan kontol raksasa Rudi ke dalam tabung bening itu dan mulai memompa.
Di bawah tekanan vakum yang ekstrem, alat vital Rudi dipaksa membesar. Darah ditarik paksa ke sana hingga warnanya berubah menjadi ungu gelap dan urat-uratnya menonjol mengerikan. Rudi berteriak kesakitan, merasa seolah-olah kulitnya akan robek.
"Lihat! Dia ngaceng!" teriak Dika kegirangan melihat pemandangan itu.
"Ini bukan ereksi sejati, ini hanya pendarahan jaringan karena vakum," jelas Dokter Andri sambil terus memompa hingga batas maksimal. "Tapi... secara visual, ini sangat memuaskan, bukan? Bayangkan jika binaragawan ini kita biarkan begini sambil dilayani."
Andi tersenyum licik. "Ide bagus, Dok. Biarkan dia di dalam tabung itu."
Mereka melepas tali pengikat Rudi, kemudian Andi menyuruh Fajar untuk membalikkan tubuh Rudi yang alat vitalnya masih dalam keadaan terjepit di dalam pompa vakum yang menyakitkan. Kejantanannya semakin menjuntai dengan beban baru di batangnya. Dalam posisi menungging yang sangat dipaksakan itu, Dokter Andri sendiri yang mengambil alih ‘pemeriksaan’ bagian belakang.
Sang dokter melumuri jarinya dengan ultrasound gel yang dingin. "Aku perlu memeriksa prostatmu, Rudi. Untuk memastikan tidak ada penyumbatan." Tanpa peringatan, ia menusukkan jarinya sangat dalam, mengaduk-aduk bagian dalam Rudi dengan gerakan yang lebih mirip pemerkosaan daripada pemeriksaan medis.
"AAAKHHH! DOKTER, BERHENTI! SAKIT!" Rudi meraung, tubuhnya yang terikat berguncang hebat di atas meja.
"Diam, Pasien! Ini demi ilmu pengetahuan," bisik Dokter Andri di telinga Rudi. Setelah puas dengan jarinya, ia memberikan isyarat pada Fajar untuk menggantikannya dengan kejantanan aslinya.
Fajar menghantam Rudi dari belakang sementara alat vakum di depan masih terus menyedot darah ke kemaluan Rudi. Rasa sakit ganda—tarikan vakum di depan dan tusukan brutal di belakang—membuat Rudi hampir kehilangan kesadaran. Dokter Andri tetap berdiri di sana, mencatat reaksi tubuh Rudi di tabletnya seolah-olah sedang mengamati spesimen laboratorium.
Sesi itu berlangsung berjam-jam. Setiap kali Fajar mulai lelah, Rian atau Dika menggantikannya. Bahkan Dokter Andri sesekali ikut menampar bokong Rudi yang berotot, memberikan komentar-komentar medis yang menghina tentang betapa submisif jaringan otot Rudi saat ini.
Setelah semuanya puas, Dokter Andri mencabut pompa vakum itu dengan kasar. Alat vital Rudi yang tadinya ungu besar langsung mengecil kembali dengan cepat, meninggalkan memar-memar biru di seluruh batangnya.
"Terima kasih atas datanya, Andi. Dia benar-benar spesimen yang unik," ucap Dokter Andri sambil merapikan tasnya. Ia menatap Rudi yang tergeletak lemas dengan mata kosong. "Sampai jumpa di sesi konsultasi berikutnya, Rud. Jangan lupa minum vitaminmu."
Mereka pergi, meninggalkan Rudi dalam kondisi hancur di meja operasi darurat itu. Di dalam kegelapan gudang, Rudi menyadari satu hal: di dunia ini, tidak ada lagi tempat baginya untuk meminta tolong. Bahkan mereka yang bersumpah untuk menyembuhkan, justru lebih suka melihatnya hancur.