Baca Novel Online Gratis

07 Cemburu itu Buta

Rumor di STM Bhirawa menyebar lebih cepat daripada api yang menyambar bensin tumpah.

Topik minggu ini: Galang Mahendra punya ‘Peliharaan’ Baru.

Bukan anjing pitbull, bukan iguana impor, tapi seorang siswa kelas 11 jurusan TKR bernama Bumi Ilalang.

Setiap pagi, mobil Pajero hitam Galang berhenti di depan gerbang. Galang turun, membukakan pintu untuk Ilan (yang mukanya merah nahan malu), lalu menyerahkan tas Ilan. Kadang kalau lagi kumat bucinnya, Galang nekat mau bawain tas Ilan sampai kelas, tapi Ilan selalu menolak dengan alasan: "Tas gue isinya kunci inggris Bang, berat. Nanti tangan Abang lecet, nggak bisa tanda tangan kontrak perusahaan."

Siang ini, jam istirahat. Ilan sedang duduk di kantin pojok, makan siomay sambil dikelilingi tiga ekor kucing yang menatap piringnya penuh harap.

"Bagi dikit napa, Lan," kata Bowo yang duduk di sebelahnya. "Kucing mulu yang dikasih."

"Lo beli sendiri, Wo. Oyen belum makan dari pagi," jawab Ilan sambil menyuwir ikan tenggiri buat si Oyen.

Tiba-tiba, bayangan besar menutupi meja mereka. Galang datang, membawa nampan berisi dua mangkok bakso urat super pedas dan dua es jeruk.

"Minggir," perintah Galang dingin ke Bowo.

Bowo langsung keselek ludah. "Siap, Bang!" Dia pindah meja secepat kilat, membawa mangkok sotonya lari.

Galang duduk di samping Ilan, menggeser mangkok bakso ke depan cowok itu. "Makan. Lo kurus banget. Nanti kebawa angin pas naik motor gue."

"Makasih, Bang. Tapi gue udah makan siomay..."

"Siomay itu camilan. Bakso itu nutrisi. Makan," paksa Galang, tapi tangannya sibuk ngambil tisu buat ngelap keringat di dahi Ilan.

Ilan cuma bisa nurut. Dia mulai memakan baksonya.

"Nanti pulang sekolah gue ada sparring basket lawan SMA Pelita," kata Galang. "Lo nonton ya. Bawa anduk gue."

"Yah, Bang... gue mau ke toko sparepart di Pasar Asem Reges. Mau nyari piston buat motor. Kan motor gue belum jadi."

Mata Galang menyipit. "Sendirian?"

"Iya. Udah biasa kok."

"Gak bisa," potong Galang. "Pasar Asem Reges itu wilayah kekuasaan STM Basis 13. Musuh bebuyutan kita. Lo kesana pake seragam Bhirawa sama aja nyetor nyawa."

"Gue pake jaket kok, Bang. Lagian cuma beli piston, bukan beli masalah."

Galang meletakkan sendoknya kasar. Ting!

"Lo itu gak ngerti, Lan. Muka lo itu..." Galang menahan kalimatnya. Muka lo itu terlalu polos dan mancing nafsu orang jahat. "...pokoknya bahaya. Tunggu gue kelar basket, kita kesana bareng."

"Kelamaan, Bang. Tokonya tutup jam 4. Basket Abang kelar jam 5." Ilan bersikeras. Mekanik kalau udah butuh sparepart, emang suka keras kepala. "Gue bisa jaga diri. Serius."

Galang menghela napas frustasi. Dia mau marah, tapi liat Ilan lagi nguyah bakso dengan pipi gembung kayak tupai, marahnya langsung luntur.

"Oke. Tapi HP harus aktif. Kalau ada apa-apa, misscall gue sekali. Gue langsung cabut dari lapangan."

"Siap, Bos," Ilan hormat, bikin Galang gemes pengen gigit pipinya.

***

Galang benar. Ilan salah. 100% salah.

Pasar Asem Reges sore itu panas dan padat. Ilan berhasil mendapatkan piston yang dia cari. Dia berjalan keluar dari gang sempit toko sparepart dengan senyum puas, menenteng kresek hitam. Dia memakai jaket denim belel untuk menutupi seragam STM Bhirawa-nya.

Tapi sialnya, resleting jaketnya macet di tengah. Dan logo ‘BHIRAWA’ di dada kirinya mengintip sedikit.

Di ujung gang yang sepi dan agak kumuh (karena ini jalan pintas ke halte), lima orang remaja berseragam abu-abu dengan badge ‘STM 13’ sedang nongkrong sambil merokok.

Salah satu dari mereka, cowok berambut mohawk merah bernama Riko, melihat Ilan.

"Woy," panggil Riko. "Anak Bhirawa ya lo?"

Ilan berhenti. Dia menoleh, melihat lima orang itu bangkit dan memblokir jalan. Ilan menghela napas. Hadeuh, drama lagi, batinnya.

"Bukan, Bang. Saya anak bengkel biasa," jawab Ilan santai.

"Halah, bohong. Itu logo di dada lo apaan?" Riko mendekat, mendorong bahu Ilan pelan. "Lo anak buahnya Galang kan? Gue sering liat lo dibonceng dia."

Ah, ternyata ini soal Galang. Ilan paham sekarang. Dia jadi target karena dia dekat sama Raja Bhirawa.

"Kalau iya kenapa, kalau bukan kenapa?" tanya Ilan, mulai mundur perlahan. Matanya menyapu sekeliling. Bukan mencari jalan kabur, tapi mencari ‘bantuan’.

Dia melihat ada sarang lebah madu yang cukup besar menggantung di dahan pohon kersen  yang menaungi tempat mereka berdiri. Lebah-lebah itu berdengung gelisah karena asap rokok Riko dan kawan-kawannya.

"Songong amat lo," Riko meludah ke tanah. "Telpon bos lo. Suruh dia kesini. Bilang 'pacar' kesayangannya kita sandera. Kita mau kasih pelajaran buat si Galang."

Teman-teman Riko tertawa, mulai mengepung Ilan.

Ilan mengangkat tangan, tenang banget. "Bang, saran saya, jangan teriak-teriak di sini. Dan tolong rokoknya dimatiin."

"Ngatur lo?! HUSH!" Riko makin nyolot. Dia malah sengaja meniupkan asap rokok ke muka Ilan.

Ilan batuk-batuk. "Bukan gitu, Bang. Itu di atas..." Ilan menunjuk dahan pohon. "Mereka gak suka asep. Mereka lagi jagain Ratu baru."

"Hah? Siapa? Temen lo ngumpet di atas?" Riko mendongak.

Yang dia lihat bukan teman Ilan. Tapi ribuan pasukan loreng kuning-hitam yang sudah dalam mode tempur karena merasa terancam oleh asap.

"Maaf ya, Bang," bisik Ilan pelan sambil menutup kepalanya pake jaket denimnya. "Serang!" (Dalam hati sih, tapi kayaknya lebahnya denger).

BZZZZT! DRRRRTTTTTT! NGGGGGGUUUUIIIIINGGGG!

Sarang lebah itu seolah meledak. Ribuan lebah turun seperti awan hitam yang marah. Target mereka jelas: sumber asap dan kebisingan. Riko dan gengnya.

"ANJIIIIIR! LEBAH! LEBAH! KABUR!"

Jeritan maskulin berganti jadi jeritan histeris. Riko lari terbirit-birit sambil nepuk-nepuk kepalanya yang dikerubungi lebah. Teman-temannya kocar-kacir, ada yang nabrak tembok, ada yang kejeblos got.

Sementara Ilan? Dia jongkok anteng di pojokan tembok. Lebah-lebah itu terbang melewatinya begitu saja, seolah Ilan adalah tiang listrik yang tidak menarik. Ada satu lebah yang hinggap di hidung Ilan sebentar, kayak mau lapor: "Misi selesai, Komandan." lalu terbang lagi ngejar Riko.

"Makasih, kawan," gumam Ilan.

Sepuluh menit kemudian, suara deru motor sport dan klakson mobil membahana. Galang datang dengan masih pakai jersey basket, keringetan, panik setengah mati. Di belakangnya ada Jojo dan dua lusin anak Bhirawa yang siap tawuran.

Galang mendapat sinyal batin (atau mungkin karena Ilan telat ngabarin) kalau Ilan dalam bahaya.

"MANA?! MANA ANAK BASIS 13 YANG NYENTUH ILAN?!" teriak Galang sambil melompat turun dari mobil, tangannya mengepal. Matanya nyalang mencari musuh.

Tapi yang dia temukan cuma gang sepi. Dan Ilan yang lagi jongkok di bawah pohon kersen, melempar buahnya yang merah ke udara buat dimakan.

Galang lari nyamperin Ilan, langsung ngecek badan cowok itu. Memutar tubuh Ilan ke kanan-kiri.

"Lan! Lo gak apa-apa?! Mana yang luka?! Siapa yang mukul?! Biar gue patahin tangannya sekarang!" Galang histeris, napasnya memburu.

Ilan kaget karena diputer-puter kayak gasing. "Eh, Bang, pusing! Gue nggak apa-apa. Nggak ada yang mukul."

"Terus Riko?! Tadi anak-anak bilang Riko nyegat lo di sini!"

"Oh, Bang Riko..." Ilan menunjuk ke arah ujung jalan. "Tadi lari ke sana. Katanya mau cari apotek. Mukanya bengkak."

"Bengkak? Lo pukul?" Galang bingung. Ilan badannya segini, Riko itu preman pasar. Tidak mungkin Ilan bisa menang tanpa luka lawan dia. Minimal pincang atau terkilir (amit-amit!) kalau pun selamat.

"Nggak. Disengat lebah," jawab Ilan polos sambil menunjuk sisa-sisa pasukan lebah yang mulai balik ke sarang. "Tadi mereka ngerokok di bawah sarang lebah. Ya diamuk sama penghuninya."

Galang diam. Anak-anak Bhirawa di belakangnya juga diam. Jojo menurunkan balok kayu yang udah dia bawa.

"Jadi..." Galang menatap Ilan tak percaya. "Gue bawa pasukan satu kompi, siap tempur, siap masuk penjara demi lo... tapi lo udah diselamatin sama lebah?"

Ilan nyengir, menawarkan buah kersen di tangannya ke Galang. "Mau kersen, Bang? Manis loh."

Galang menepis pelan tangan Ilan, tapi langsung menarik tubuh Ilan ke dalam pelukannya. Pelukan erat yang bau keringat basket, tapi bikin Ilan merasa aman.

"Bego," bisik Galang di telinga Ilan. Suaranya getar. "Lo bikin gue jantungan. Gue pikir lo udah dimakan Riko."

Ilan terdiam di pelukan itu. Dia bisa merasakan detak jantung Galang yang nembus ke dadanya. Kencang banget.

"Maaf, Bang," cicit Ilan.

Galang melepaskan pelukan, menatap mata Ilan tajam.

"Gue cemburu," kata Galang tiba-tiba.

"Hah? Cemburu sama siapa? Sama Bang Riko?" Ilan bingung.

"Sama lebah," jawab Galang serius, mukanya nggak ada bercandanya sama sekali. "Harusnya gue yang nyelamatin lo. Harusnya gue yang bikin Riko bengkak. Kenapa giliran gue mau jadi pahlawan, selalu keduluan sama hewan-hewan sialan itu sih?!"

Ilan melongo. Lalu meledak tertawa. "Ya ampun Bang... masa cemburu sama serangga? Mereka kan bodyguard shift pagi. Abang bodyguard shift malem."

Galang mendengus, tapi akhirnya senyum tipis juga. "Shift malem ya? Berarti malem ini lo jatah gue."

"Maksudnya?"

"Ayo makan. Gue laper abis panik. Dan lo..." Galang ngambil jaket varsity-nya dari mobil, lalu memakaikannya ke badan Ilan (yang kelelep banget kayak pakai selimut). "...pake ini. Jangan sampe ada yang liat lo pake seragam Bhirawa di sini lagi."

Galang merangkul bahu Ilan, posesif banget, membawanya pergi dari gang itu.

"Jo! Bubar! Musuh udah KO sama alam!" teriak Galang ke pasukannya.

Sore itu, Ilan belajar satu hal: Galang mungkin bukan superhero yang punya kekuatan super, tapi Galang adalah orang yang bakal dateng paling depan kalau Ilan kenapa-napa—walaupun akhirnya cuma kebagian peran finishing.

Dan Galang belajar satu hal: Saingan terberatnya buat dapetin hati Ilan bukan cowok lain, tapi Mother Nature sendiri.