08 THE PUBLIC TOY
Malam itu, udara di kawasan Lembang terasa membeku. Kabut turun begitu tebal, menyelimuti sebuah motel melati yang bangunannya sudah kusam. Di bagian belakang, dekat deretan tangki air dan jemuran tua, van hitam Andi terparkir. Pintu belakang terbuka, menyingkap sesosok raksasa yang meringkuk di dalamnya dalam kondisi telanjang bulat, hanya terikat rantai di lehernya.
Rudi Wijaya. Tubuhnya yang masif tampak gemetar hebat terkena terpaan angin gunung. Memar keunguan bekas pompa vakum Dokter Andri masih tercetak jelas di batang kemaluannya yang 20 cm itu, yang kini menggantung pucat di antara paha berototnya.
"Turun, Anjing!" bentak Dika sambil menarik rantai leher Rudi hingga pria itu terjatuh ke aspal kasar tempat parkir.
Andi turun dari van sambil membawa kamera DSLR dengan lensa panjang. Di belakangnya, Fajar dan Rian sudah siap dengan botol-botol minuman keras. Mereka sengaja memilih tempat ini karena ada celah di pagar seng yang menghadap ke jalan setapak yang sesekali dilewati orang.
"Malam ini, seluruh dunia harus tahu kalau binaragawan kebanggaan kita ini cuma seonggok daging pemuas," Andi menyeringai. "Rian, pasang perlengkapannya."
Rian mendekat dengan sebuah tas berisi peralatan watersports. Ia memasang sebuah selang karet kecil yang dimasukkan paksa ke dalam lubang kencing Rudi—sebuah proses yang sangat menyakitkan karena kemaluan Rudi yang besar dan sensitif. Ujung selang itu dihubungkan ke sebuah kantong cairan yang sudah mereka isi dengan air seni kolektif mereka sejak tadi sore.
"Ayo, Mas. Berdiri tegak di dekat pagar itu. Biar orang yang lewat bisa lihat 'instruktur ganteng' lagi mandi," perintah Rian.
Rudi dipaksa berdiri bersandar pada pagar seng yang dingin. Tangannya diborgol ke atas, ke sebuah pipa besi, membuat otot-otot latissimus dan pectoral-nya meregang sempurna—sebuah pose binaraga yang biasanya ia pamerkan dengan bangga di atas panggung, namun kini terasa seperti pajangan di pasar daging.
Andi mulai menyalakan lampu flash kameranya. BLITZ! BLITZ! Cahaya putih yang menyilaukan menghantam wajah Rudi yang sudah basah oleh keringat dingin dan air mata.
"Dika, buka kerannya," perintah Andi.
Dika memutar katup pada kantong cairan itu. Perlahan, cairan hangat dan berbau pesing mulai mengalir melalui selang, masuk ke dalam tubuh Rudi, dan kemudian keluar lagi, membasahi seluruh batang kontol besarnya yang lemas dan menetes ke pahanya. Rudi merintih, tubuhnya yang berotot berkedut hebat menahan sensasi terbakar dan hinaan yang luar biasa.
"Gila! Lihat itu, air seninya ngalir di sepanjang barangnya yang gede! Fotogenik banget, Rud!" tawa Andi sambil terus mengambil foto dari berbagai sudut.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari balik pagar seng. Seseorang sedang berjalan di jalan setapak. Rudi menegang, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik otot bisepnya yang besar.
"Sstt... diam, Anjing. Kalau kamu suara, aku bakal tarik rantai ini sampai lehermu patah," ancam Fajar yang kini berdiri tepat di belakang Rudi.
Fajar tidak mau melewatkan kesempatan. Di tempat terbuka itu, di bawah resiko terlihat orang asing, ia melepaskan celananya. Ia melumuri tangannya dengan sisa minuman keras yang dingin, lalu tanpa ampun, ia menghantam lubang belakang Rudi.
"AAAKKKH!" Rudi berteriak tertahan, suaranya teredam oleh tangan Rian yang membekap mulutnya.
Tujahan Fajar di area terbuka ini jauh lebih liar. Ia menghantam tubuh Rudi hingga punggung raksasa itu berulang kali menabrak pagar seng, menimbulkan suara gaduh 'klang... klang...' yang menggema di kesunyian motel. Setiap kali tubuh Rudi terdorong ke depan, selang watersports di depannya bergoyang-goyang liar, menyemprotkan cairan kotor itu ke mana-mana, termasuk ke dada bidang dan perut six-pack-nya.
"Gila, Jar! Gede banget suaranya, ntar ada yang lihat!" bisik Dika kegirangan sambil sesekali mengintip lewat celah pagar, berharap ada orang yang menonton penghinaan ini.
Rudi sudah tidak sanggup lagi berpikir. Rasa perih di saluran kencingnya akibat selang, tusukan brutal Fajar di belakang, dan hawa dingin Lembang yang menggigit kulit telanjangnya membuat kesadarannya mulai menipis. Ia hanya bisa melihat cahaya flash kamera Andi yang terus menerus membakar retinanya, mendokumentasikan setiap inci kehancurannya.
Fajar mencapai puncaknya dengan sangat cepat karena adrenalin dari resiko ketahuan. Ia menyemburkan cairannya ke dalam lubang Rudi yang sudah sangat longgar dan lecet, lalu mencabut dirinya dengan suara 'plop' yang menjijikkan.
Andi mendekat, mematikan kamera, lalu melihat hasilnya dengan puas. "Foto-foto ini... kalau sampai masuk ke grup alumni tentaramu, Mas... habis sudah sejarahmu."
Sebagai penutup, Rian mencabut selang dari kemaluan Rudi dengan satu tarikan kasar. Rudi melenguh kesakitan, tetesan darah bercampur urin keluar dari ujung kemaluannya. Mereka tidak langsung membawa Rudi kembali ke van. Mereka membiarkannya terborgol di pagar itu selama tiga puluh menit lagi, membiarkan tubuh berototnya membeku di udara malam, sementara mereka asik merokok dan menertawakan betapa menyedihkannya ‘meriam raksasa’ yang tidak bisa menyalak itu.
"Besok adalah puncaknya, Rud," bisik Andi sebelum akhirnya melepaskan borgol Rudi dan menyeretnya kembali ke dalam van seperti seonggok sampah. "Kita bakal ada tamu spesial. Kamu harus dalam kondisi 'siap pakai'."