08 Study Tour
Bus pariwisata ber-AC dingin itu akhirnya berhenti di area perkemahan kaki Gunung Pancar. Rombongan kelas 11 dan 12 STM Bhirawa turun dengan rusuh. Ada yang muntah karena mabuk darat, ada yang langsung nyebat rokok, ada yang teriak-teriak "BEBAS DARI MATEMATIKA!".
Galang turun dari bus paling depan (kelas 12) dengan gaya cool andalannya. Kacamata hitam, jaket bomber mahal, sepatu hiking bermerek yang belum pernah kena tanah.
"Anjir, bau tanah," keluh Galang sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung. "Jo, sinyal gue ilang. Gak bisa update story nih."
"Yaelah Bos, namanya juga gunung. Nikmatin aja," sahut Jojo sambil manggul tenda pleton.
Sementara itu, dari bus kedua (kelas 11), Ilan turun.
Saat kaki Ilan menyentuh tanah basah perkemahan, suasana mendadak berubah. Angin gunung yang tadinya bertiup kencang tak tentu arah, tiba-tiba berhembus lembut menerpa wajah Ilan, menerbangkan rambutnya dengan gaya slow motion estetik. Aroma pinus dan tanah basah menguat, seolah hutan sedang menarik nafas panjang lega: "Akhirnya, anak kesayangan ibu pulang."
"Enak banget udaranya," gumam Ilan sambil merentangkan tangan.
Kresek... Kresek...
Semak-semak di pinggir area parkir bergoyang hebat.
Anak-anak STM lain langsung waspada. "Woy! Ada babi hutan gak tuh? Siapin batu!"
Tapi yang keluar bukan babi hutan.
Seekor Rusa Jantan dengan tanduk bercabang yang gagah melangkah keluar dengan anggun. Di belakangnya, diikuti tiga ekor rusa betina dan dua kijang kecil. Mereka berjalan membelah kerumunan siswa STM yang melongo ketakutan.
Galang yang berdiri di dekat situ langsung pasang badan. "Minggir lo semua! Biar gue usir! Hush! Sana!" Galang menghentak-hentakkan kakinya sok galak.
Rusa Jantan itu menoleh ke Galang. Menatapnya dengan tatapan datar, lalu mendengus bosan. 'Siapa sih manusia berisik ini? Gue seruduk abis lu!'
Rusa itu cuek bebek melewati Galang, nyaris nyenggol bahu Galang sampai si Raja Sekolah itu terhuyung. Rusa itu berjalan lurus ke arah Ilan.
Anak-anak lain panik. "LAN! AWAS LAN! DISERUDUK!"
Ilan cuma senyum. Dia berjongkok.
Rusa Jantan itu menundukkan kepalanya yang bertanduk besar, lalu... menggesekkan pipinya ke pipi Ilan. Manja banget. Kayak kucing versi jumbo.
"Halo, Ganteng," sapa Ilan lembut, menggaruk dagu rusa itu. "Udah makan belum? Temen-temen gue berisik ya? Maaf ya."
Rusa-rusa lain ikut mengerubungi Ilan. Ada kijang kecil yang ndusel di kaki Ilan, ada yang ngendus saku celananya nyari recehan.
Galang berdiri kaku di belakang, mulutnya nganga lebar sampai bisa kemasukan lalat.
"Bos..." bisik Jojo. "Itu Ilan... dia pangeran hutan apa gimana? Kok rusa sungkem sama dia?"
Galang membetulkan kacamata hitamnya yang miring. Hatinya campur aduk. Antara kagum liat Ilan yang kelihatan glowing banget di tengah hutan, sama kesel karena dia dikacangin sama rusa.
"Cih," decih Galang gengsi. "Itu rusa pasti betina semua. Terpesona sama kegantengan Ilan. Wajar. Saingan gue emang berat, lintas spesies."
Padahal jelas-jelas yang ndusel itu Rusa Jantan.
***
Malam harinya, tenda-tenda sudah berdiri. Api unggun besar dinyalakan di tengah lapangan.
Sesuai dugaan, Galang memanipulasi data pembagian tenda lagi. Dia satu tenda sama Ilan (dan Bowo + Jojo sebagai obat nyamuk terpaksa).
"Aduh! Nyamuk sialan!" Galang menabok pipinya sendiri. Plak!
Sudah lima kali Galang digigit nyamuk gunung yang ukurannya kayak mutan. Kulitnya yang biasa kena AC langsung bentol-bentol merah. Dia gelisah, bolak-balik di dalam sleeping bag.
"Panas banget lagi, padahal di luar dingin. Ini tenda sirkulasi udaranya jelek," omel Galang.
Galang menoleh ke samping. Ilan tidur dengan tenang, napasnya teratur. Dan pemandangan di sekitar Ilan bikin Galang pengen nangis darah.
Di sekitar kepala Ilan, tidak ada satu pun nyamuk. Justru ada aroma bunga melati samar-samar (yang entah dateng dari mana) yang bikin tidur nyenyak.
Dan yang paling bikin Galang iri: Seekor kelinci hutan liar yang gemuk dan berbulu tebal, masuk ke tenda (lewat mana coba?! Masa teleport!), dan sekarang sedang tidur melingkar di samping kepala Ilan, berfungsi jadi bantal tambahan yang empuk dan hangat.
"Curang..." bisik Galang merana. "Gue digigitin nyamuk, dia dapet fasilitas VIP bintang lima plus bantal hidup."
Galang mencoba mendekat ke arah Ilan. Modusnya mau nebeng area bebas nyamuk.
Galang menggeser badannya pelan-pelan. Semakin dekat ke Ilan, semakin dingin udaranya, semakin wangi, dan nyamuk-nyamuk langsung pergi.
Akhirnya, batin Galang lega.
Tapi baru saja Galang mau memejamkan mata di sebelah bahu Ilan, si Kelinci Hutan membuka mata. Matanya merah menyala dalam gelap. Dia menatap Galang, lalu menggeram pelan. Grrr...
Galang kicep. "Iya, iya, gue nggak nyentuh dia. Gue cuma numpang napas. Pelit amat lo, Kelinci."
Galang akhirnya tidur dengan posisi miring menghadap Ilan, menjaga jarak aman 5 cm dari ‘Zona Suci’ biar nggak diamuk kelinci. Tapi ngeliat wajah damai Ilan dari jarak sedekat ini, semua gatal bentol di tangan Galang rasanya sembuh seketika.
***
Jam 2 pagi. Galang terbangun. Bukan karena nyamuk, tapi karena suara langkah kaki keluar tenda.
Tempat tidur Ilan kosong. Si kelinci juga udah nggak ada.
Galang panik. Anak itu kemana? Diculik Wewe Gombel?
Galang buru-buru pake jaket, ambil senter, dan keluar tenda. Udara dingin langsung menusuk tulang. Kabut tebal turun. Galang melihat bayangan seseorang duduk di batang pohon tumbang di pinggir tebing, agak jauh dari perkemahan.
Itu Ilan.
Ilan duduk sendirian, menatap langit malam yang penuh bintang. Di bahunya ada Burung Hantu yang diam anteng. Di kakinya ada musang.
"Lan?" panggil Galang pelan, takut ngagetin hewan-hewan itu.
Ilan menoleh. Burung hantu itu terbang pergi karena merasa privasi tuannya terganggu.
"Eh, Bang Galang. Kebangun ya?"
Galang mendekat, duduk di samping Ilan. "Lo ngapain di sini? Bahaya, banyak setan."
"Setan nggak ganggu gue, Bang. Paling cuma numpang lewat," jawab Ilan santai. "Gue cuma... kangen suasana ini. Di kota berisik. Di sini sepi. Tenang."
Galang diam, ikut menatap langit.
"Gue justru benci sepi," kata Galang tiba-tiba. Nadanya beda. Bukan nada sombong, tapi nada capek.
Ilan menoleh, menatap profil samping wajah Galang. Bekas luka di alisnya terlihat jelas di bawah sinar bulan.
"Kenapa, Bang?"
Galang menghela napas, uap putih keluar dari mulutnya. "Di rumah gue... sepi itu artinya tekanan, Lan. Kalau rumah sepi, berarti Bapak gue lagi di rumah, lagi kerja di ruang kerjanya. Nggak boleh ada suara. Nggak boleh ada kesalahan. Gue harus jadi patung porselen yang sempurna."
Galang menunduk, memainkan ranting pohon. "Orang-orang liat gue berandalan, Raja Sekolah. Padahal aslinya gue cuma cari perhatian. Gue bikin ribut di sekolah biar rumah gue nggak kerasa terlalu sepi. Biar gue ngerasa hidup."
Ini pertama kalinya Galang ngomong jujur soal perasaannya. Tanpa filter gengsi.
Ilan mendengarkan dengan seksama. Dia tidak memotong, tidak menghakimi. Perlahan, tangan Ilan bergerak. Dia menyentuh punggung tangan Galang yang dingin.
"Abang nggak perlu jadi berisik buat didenger," kata Ilan lembut. "Dan Abang nggak perlu jadi sempurna buat dihargai."
Ilan menunjuk ke arah hutan gelap di depan mereka.
"Liat pohon-pohon itu, Bang. Nggak ada yang lurus sempurna. Ada yang bengkok, ada yang patah, ada yang lumutan. Tapi mereka tetep kuat. Hutan nerima mereka apa adanya."
Ilan menatap mata Galang. "Gue juga gitu. Gue nggak peduli Abang pewaris kaya atau preman pasar. Gue nyaman sama Galang yang takut tawon tapi nekat nyewa truk towing buat motor butut gue."
Galang tertawa kecil, matanya terasa panas.
"Sialan lo, Lan. Lo ngerusak momen sedih gue."
Tiba-tiba, dari semak-semak di sekitar mereka, muncul cahaya-cahaya kecil. Bukan kunang-kunang. Tapi jamur-jamur kecil di tanah yang memancarkan cahaya fosfor redup (bioluminescence). Hutan merespon emosi Ilan yang tulus. Tanah di sekitar kaki mereka bersinar kebiruan, indah banget kayak di film Avatar.
Galang terperangah. "Lan... ini..."
"Mereka suka sama kejujuran Abang," kata Ilan tersenyum. "Ini cara Ibu Pertiwi bilang kalau Abang diterima di sini. Abang nggak sendirian kok di dunia. Ada.. gue juga, kok."
Di tengah cahaya magis jamur hutan dan dinginnya angin gunung, Galang merasa dinding pertahanannya runtuh total.
Dia menatap Ilan. Cowok dengan kekuatan aneh ini, yang selalu dikelilingi keajaiban, baru saja memberikan keajaiban terbesar buat Galang: Rasa Diterima.
"Lan," panggil Galang serak.
"Ya, Bang?"
Tanpa aba-aba, Galang menarik tengkuk Ilan dan mendaratkan keningnya di kening Ilan. Mata mereka terpejam. Napas mereka bersatu jadi uap putih di udara.
"Makasih," bisik Galang. "Makasih udah jadi glitch terindah di hidup gue yang ngebosenin."
Ilan tidak menjauh. Dia justru memejamkan mata, menikmati momen itu. Jantungnya berdetak kencang, menyaingi suara jangkrik hutan.
"Sama-sama, Tuan Muda," bisik Ilan balik.
Mereka bertahan di posisi itu beberapa saat. Sampai...
Huk! Huk!
Seekor Kijang muncul dari balik pohon, batuk (atau bersin?) dengan keras, merusak suasana romantis itu. Kijang itu menatap mereka dengan tatapan: "Woy, jangan mesum di ruang tamu gue."
Galang menjauhkan wajahnya sambil ketawa. "Anjir. Bener-bener ya. Gak di sekolah, gak di hutan, ada aja yang jadi satpam."
Ilan ikut tertawa. "Kan udah dibilang, Bang. Mereka protektif."
Malam itu, di bawah langit berbintang dan restu alam semesta (walau diganggu kijang), Galang dan Ilan sadar kalau hubungan mereka udah lebih dari sekadar senior-junior atau teman satu proyek.
Mereka udah terikat. Satu benang merah yang ditarik oleh takdir, dan dijaga oleh seluruh ekosistem hutan.