09 TOTAL SUBJUGATION
Malam puncak itu tiba. Gudang utama keluarga Andi disulap menjadi sebuah arena yang mengerikan. Di tengah ruangan, sebuah kursi binaraga yang biasanya digunakan untuk latihan shoulder press diletakkan di bawah lampu sorot yang sangat terang. Rudi Wijaya sudah berada di sana, dalam kondisi yang benar-benar hancur. Tubuhnya yang penuh otot kini dipenuhi tanda kepemilikan: tato temporer bertuliskan "PROPERTY OF ANDI CS" di dada bidangnya, memar di sekujur paha, dan lubang hidungnya dipasangi cincin pengait yang dihubungkan ke kalung lehernya.
Di sudut ruangan, Andi, Rian, Dika, dan Fajar sudah menunggu. Namun, malam ini ada sosok lain. Dio (19), anak didik kesayangan Rudi di gym yang dulu ia anggap seperti adik sendiri, berdiri di sana dengan wajah yang tak lagi polos. Ada juga Dokter Andri yang datang membawa peralatan medisnya.
"Malam ini bukan cuma sesi latihan, Rud," Andi berkata sambil menyesap minumannya. "Malam ini adalah perayaan. Perayaan atas matinya maskulinitasmu. Dio, sini. Kamu mau lihat instruktur kebanggaanmu yang katanya 'pria sejati' ini, kan?"
Dio mendekat, matanya menatap liar ke arah tubuh telanjang Rudi. "Ternyata benar kata Kak Andi... gede doang tapi mati. Sampah," ucap Dio sambil meludah ke arah perut six-pack Rudi.
Rudi hanya bisa memejamkan mata. Dikhianati oleh Dio adalah luka yang lebih perih dari semua siksaan fisik.
"Ayo, kita mulai marathon-nya!" teriak Rian.
Rudi dipaksa duduk di kursi binaraga itu dengan posisi kaki terbuka lebar, diikat ke pilar kursi. Tangannya diborgol ke belakang sandaran. Dokter Andri segera maju. Ia menyuntikkan stimulan otot ke bisep dan dada Rudi agar otot-otot itu menonjol maksimal secara statis—ia ingin Rudi terlihat "paling jantan" saat sedang dipermalukan paling dalam.
"Tamu pertama kita... Dio," perintah Andi.
Dio, yang ingin membuktikan kegarangannya, maju dengan kasar. Ia menampar wajah Rudi berulang kali hingga sudut bibir Rudi berdarah. Ia kemudian menggunakan sabuk angkat beban milik Rudi sendiri untuk memukul-mukul kontol lemas 20 cm milik sang instruktur. PLAK! PLAK! Suara kulit beradu dengan kulit bergema. Rudi mengerang, tubuh raksasanya berguncang hebat, otot-ototnya yang sudah disuntik stimulan menegang ngeri, namun bawahnya tetap saja bergoyang tak berdaya.
Setelah Dio puas menghina mental Rudi, Fajar dan Rian maju bersamaan. Ini adalah sesi gangbang yang paling brutal. Fajar mengambil posisi di belakang kursi, menarik tubuh Rudi agar menungging, sementara Rian berdiri di depan wajah Rudi.
Fajar menghujam lubang Rudi tanpa sedikit pun belas kasihan. Hentakannya begitu kuat hingga kursi besi itu berderit nyaring di lantai beton. Di saat yang sama, Rian memaksa Rudi untuk melayaninya. Rudi terjepit di antara dua pria besar, tubuhnya yang masif menjadi medan tempur bagi nafsu mereka.
"Lihat ini, Andi! Instruktur kita lagi 'latihan' intensif!" teriak Fajar sambil memacu gerakannya hingga mencapai titik maksimal.
Dika tidak mau ketinggalan. Ia membawa sebuah alat pijat elektrik bertekanan tinggi yang biasanya digunakan untuk terapi otot. Namun, ia tidak menggunakannya di otot punggung Rudi. Ia menempelkan alat itu langsung ke testis dan pangkal kontol Rudi yang sedang disiksa. Getaran yang sangat kuat itu membuat saraf Rudi kacau; ia merasa sakit, panas, dan geli yang menyiksa sekaligus, namun tetap tidak bisa ereksi.
"Masih mati? Wah, beneran sudah jadi bangkai ini burungnya!" tawa Dika.
Sesi marathon ini berlangsung selama hampir tiga jam tanpa henti. Mereka bergantian memakai tubuh Rudi. Dari Dio yang masih amatir namun sadis, hingga Dokter Andri yang sesekali ikut menusukkan alat-alat medis ke dalam lubang Rudi saat Fajar sedang beristirahat. Rudi sudah tidak lagi mengerang; suaranya sudah hilang, hanya menyisakan nafas yang tersengal-sengal dan air mata yang terus membasahi pipi brewoknya yang kini sudah bersih dicukur.
Puncaknya, Andi memerintahkan mereka semua untuk berdiri mengelilingi Rudi yang sudah lemas tak berdaya di kursi.
"Keluarkan semua di sini. Di atas piala binaraga kita ini," perintah Andi.
Satu per satu, mulai dari Fajar, Rian, Dika, Dio, hingga Dokter Andri, mereka mengeluarkan seluruh cairan mereka ke arah tubuh Rudi. Cairan-cairan itu membasahi dada bidangnya, perutnya yang kencang, wajahnya yang hancur, dan kontol raksasanya yang tetap lemas. Rudi terlihat seperti sebuah patung marmer yang dikotori oleh noda-noda penghinaan.
Terakhir, Andi maju. Ia tidak mengeluarkan cairannya seperti yang lain. Ia mengambil sebuah alat branding (besi panas) yang sudah dipanaskan hingga membara. Di ujung besi itu terdapat inisial "A" (Andi).
Tanpa peringatan, Andi menempelkan besi panas itu ke pangkal paha dalam Rudi, tepat di samping kemaluannya yang panjang.
TSSSSTTTTT!
Bau daging terbakar memenuhi gudang. Rudi menjerit sejadi-jadinya, tubuhnya mengejang hebat hingga borgol di tangannya hampir putus. Itu adalah tanda permanen bahwa ia bukan lagi manusia bebas.
"Malam ini, kamu sudah lulus sebagai budak sejati, Rudi," bisik Andi sambil mengusap keringat di dahi Rudi dengan kain kotor. "Besok, kita akan mulai bab baru. Kamu bukan lagi instruktur gym. Kamu adalah 'objek' yang akan aku sewakan ke teman-teman bisnisku."
Mereka meninggalkan Rudi yang masih terikat di kursi binaraga itu, berselimut cairan kotor dan luka bakar yang masih berasap. Di dalam kegelapan yang menyiksa, Rudi menatap ke bawah, ke arah kontolnya yang tetap diam membeku, menyadari bahwa mulai malam ini, jiwanya telah benar-benar meninggalkan tubuh raksasanya.