Pustaka Sahawn

09 The Villain Arrives

STM Bhirawa sedang punya hajatan besar: BHIRAWA FEST (B-FEST).

Ini adalah acara tahunan gabungan Pensi (Pentas Seni) dan Pameran Teknik. Lapangan sekolah disulap jadi panggung konser rock, sementara aula bengkel disulap jadi showroom hasil karya siswa.

Di stand Jurusan TKR (Teknik Kendaraan Ringan), Ilan menjadi primadona. Bukan karena dia nyanyi, tapi karena dia membuka jasa ‘Service Gratis & Konsultasi Mesin’.

"Antri woy, antri! Jangan dorong-dorongan!" teriak Bowo pake toa, mengatur barisan pengunjung (yang kebanyakan cewek-cewek dari SMA sebelah yang sebenernya motornya nggak kenapa-napa, cuma pengen liat mekanik ganteng).

Ilan sibuk di balik meja service. Dia memakai kaos hitam polos pas badan, celana jeans belel, dan topi dibalik. Tangannya kotor kena oli, ada coretan gemuk (grease) di pipinya, tapi justru itu yang bikin damage-nya nambah 1000%.

"Ini cuma businya kotor, Mbak," kata Ilan ramah ke seorang siswi SMA, sambil membersihkan busi motor matic cewek itu.

"Oh gitu ya, Kak? Kalau hati aku yang kotor bisa dibersihin nggak?" goda cewek itu.

Ilan cuma ketawa canggung. "Itu ke Pak Ustad, Mbak. Saya cuma megang kunci pas."

Sementara itu, Galang Mahendra memantau dari kejauhan—tepatnya dari atas panggung utama di mana dia baru aja selesai check sound sama band-nya. Mata elangnya tajam mengawasi antrian di stand Ilan.

"Laris manis tanjung kimpul," sindir Jojo di sebelah Galang. "Saingan lo banyak, Bos. Cewek SMA Pelita pada ngantri minta nomor WA Ilan."

"Biarin," jawab Galang sok tenang, padahal tangannya meremas botol air mineral sampai penyok. "Ilan nggak suka cewek. Dia sukanya... mesin." (Galang hampir keceplosan bilang 'suka gue').

Tiba-tiba, suasana gerbang sekolah heboh. Sebuah mobil sedan mewah berwarna merah menyala—Mercedes Benz C-Class Cabriolet—masuk ke area sekolah dengan angkuh, membelah kerumunan motor-motor butut siswa STM.

Mobil itu berhenti tepat di depan area VIP. Seorang cewek turun.

Cantik, modis, rambut badai hasil salon mahal, tas branded di lengan, dan kacamata hitam oversized. Dia memandang sekeliling STM Bhirawa dengan tatapan jijik, seolah takut udaranya mengandung virus kemiskinan.

"Siapa tuh, Bos? Artis?" tanya Jojo.

Muka Galang langsung pucat. "Mampus. Bencana alam dateng."

Itu Clarissa. Anak rekan bisnis bapaknya Galang. Cewek yang dari kecil dijodoh-jodohin sama Galang (sepihak) dan ngerasa dia adalah Ratu yang pantas bersanding sama Galang.

***


Clarissa berjalan dengan hak tinggi stiletto-nya yang menancap di tanah lapangan yang agak becek. Dia dikawal dua temannya yang juga sosialita nyasar.

"Galang!" panggil Clarissa dengan suara manja yang cempreng. Dia melambai ke arah panggung.

Galang mau kabur, tapi telat. Clarissa udah naik ke panggung dan langsung meluk lengan Galang.

"Kamu kok nggak bilang ada acara sekolah? Tante Sri bilang kamu di sini, makanya aku susul. Panas banget sih tempatnya, banyak debu," keluh Clarissa sambil ngipasin muka pake tangan.

"Ngapain lo ke sini, Cla? Ini bukan mall," ketus Galang, berusaha ngelepasin tangannya.

"Ih, kok gitu? Aku kan mau support calon pacar aku," Clarissa mengeratkan pelukannya.

Mata Galang melirik panik ke arah stand TKR. Dan benar saja. Ilan sedang menatap ke arah panggung.

Ilan memegang kunci T, diam mematung melihat Galang dipeluk cewek cantik yang ‘selevel’ sama Galang. Mobil mewah, baju mahal, kulit mulus. Ilan menunduk, menatap tangannya sendiri yang hitam penuh oli.

Ada rasa nyeri yang aneh di dada Ilan. Oh, pikir Ilan. Dunia kita emang beda ya, Bang.

"Cla, lepasin. Gue lagi kerja," Galang akhirnya nyentak kasar, bikin Clarissa kaget.

"Kerja apaan? Nge-band nggak jelas gini? Mending kamu temenin aku ke lounge, aku haus."

"Gue sibuk. Lo pulang aja."

Galang turun dari panggung, mengabaikan Clarissa, dan berjalan cepat menuju stand Ilan. Dia harus jelasin. Dia nggak mau Ilan salah paham.

Tapi Clarissa nggak terima dicuekin. Dia ngejar Galang.

"Galang! Tunggu! Kamu mau kemana sih?!"

Clarissa mengikuti Galang sampai ke depan stand TKR yang penuh oli dan sparepart bekas. Dia melihat Galang berhenti di depan seorang cowok dekil (menurut Clarissa) yang lagi ngelap tangan pake majun (kain perca) kotor.

"Lan," panggil Galang lembut. Beda banget nadanya sama pas ngomong ke Clarissa.

Ilan mendongak, tersenyum tipis. "Eh, Bang Galang. Pacarnya cantik, Bang. Cocok."

"Bukan pacar!" potong Galang cepat.

Clarissa yang berdiri di belakang Galang menatap Ilan dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.

"Oh... jadi ini alesan kamu nyuekin aku?" Clarissa ketawa sinis. "Kamu main sama... montir? Seriously, Lang? Level kamu turun jauh banget."

Clarissa maju selangkah, menutupi hidungnya dengan tisu wangi. "Heh, Mas Montir. Minggir dong, bau oli kamu nyengat banget. Bikin mual."

Suasana hening. Anak-anak bengkel yang lain langsung berdiri, siap ngebela Ilan. Beberapa cewek fans Ilan yang sedang konsultasi saling pandang khawatir. Tapi reaksi Galang lebih cepat.

"Jaga mulut lo, Cla," geram Galang, matanya kilat marah.

"Apaan sih? Aku cuma jujur," Clarissa menunjuk Ilan dengan jari telunjuknya yang berkutek merah. "Liat tuh tangannya. Hitam, kotor, jorok. Kamu itu pewaris Mahendra Group, Lang. Nggak pantes temenan sama orang yang tangannya kayak... sampah."

Ilan mundur selangkah, menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Kata-kata itu sakit, tapi Ilan sudah biasa dianggap remeh. Dia cuma diam, nggak mau bikin Galang malu.

Tapi, alam semesta tidak terima Ilan dihina.

Dari arah kantin belakang stand TKR, terdengar suara gemerisik.

Seseorang lupa menutup pagar kandang ternak (STM Bhirawa punya jurusan Peternakan di belakang).

Seekor Kambing Etawa jantan berukuran besar, dengan jenggot panjang dan tanduk melengkung, berjalan santai masuk ke area stand. Namanya Mbah Brontoseno (maskot jurusan peternakan yang terkenal galak).

Mbah Brontoseno biasanya nyeruduk siapa aja yang lewat. Tapi begitu dia melihat Ilan yang lagi sedih, insting pelindungnya aktif.

Si Kambing menatap Clarissa. Dia melihat tas Hermes (atau KW super) yang dijinjing Clarissa. Tas itu terbuat dari kulit buaya sintetis yang mengkilap.

Mbah Brontoseno mendengus. 'Bau plastik mahal. Nggak suka.'

"Lang, ayo pergi. Tempat ini nggak sehat buat paru-paru aku," rengek Clarissa, menarik lengan Galang lagi.

Galang menepis tangan Clarissa kasar. Dia melangkah maju, berdiri di depan Ilan, menjadi tameng hidup.

"Denger ya, Cla," suara Galang rendah tapi menggema, bikin semua orang di sekitar situ diem. "Tangan yang lo bilang kotor dan kayak sampah ini..."

Galang meraih tangan Ilan dari belakang punggungnya. Galang menggenggam tangan Ilan yang hitam penuh oli itu dengan erat, tanpa jijik sedikitpun. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi.

"...tangan ini lebih berharga daripada semua barang branded yang lo pake. Tangan ini bisa benerin mesin mati, bisa bikin karya, bisa kerja keras. Tangan ini tangan laki-laki sejati. Bukan tangan manja yang bisanya cuma gesek kartu kredit bapaknya kayak lo."

Ilan terbelalak. Dia menatap Galang, jantungnya mau meledak. Galang nggak peduli tangannya kotor kena oli. Galang justru bangga.

Clarissa merah padam karena malu. "Ka-kamu belain dia?! Demi cowok kampung ini?!"

"Iya. Dan asal lo tau," Galang menatap Ilan lekat-lekat. "Gue lebih suka bau oli di baju dia daripada parfum mahal lo yang bikin pusing."

Skakmat. Penonton bersorak dalam hati.

Clarissa menghentakkan kakinya. "FINE! AKU ADUIN KE TANTE SRI! LIAT AJA!"

Clarissa berbalik badan dengan dramatis, berniat pergi dengan gaya catwalk.

Tapi dia lupa satu hal. Mbah Brontoseno si Kambing sudah ada di belakangnya.

Saat Clarissa berbalik, tas mahalnya berayun... dan HAP!

Mbah Brontoseno menggigit ujung tas itu.

"AAAAA! TAS AKU! LEPASIN! DASAR KAMBING GILA!" jerit Clarissa histeris. Dia tarik-menarik tas sama kambing.

KREK!

Tali tas itu putus. Mbah Brontoseno berhasil merebut tas itu, lalu dengan santai mengunyah gantungan kuncinya yang berbulu, sambil menatap Clarissa dengan tatapan: 'Enak juga, rasa duit.'

"TAS GUUUUUEEEE!" Clarissa nangis kejer di tengah lapangan. Make-up nya luntur kena keringat dan air mata. Citra sosialita hancur lebur oleh seekor kambing etawa.

Teman-teman Clarissa berusaha ngusir kambing itu, tapi Mbah Brontoseno malah mengembik keras, memanggil pasukannya. Tiga ekor bebek entah dari mana lari menyerbu, mematuki sepatu hak tinggi mereka.

"Mampus," bisik Jojo sambil ngakak. "Azab menghina Ilan: Diserang Hewan Ternak!"

Ilan yang tadi sedih, sekarang nggak bisa nahan tawa. Dia mendekati Mbah Brontoseno, menepuk kepala kambing itu pelan.

"Mbah, jangan dimakan tasnya. Itu plastik, nanti sakit perut. Sini balikin," bujuk Ilan lembut.

Ajaib. Mbah Brontoseno langsung menjatuhkan tas (yang udah penuh air liur kambing) itu ke tanah, lalu ndusel ke kaki Ilan minta dielus.

Ilan memungut tas yang sudah zonk itu dan menyerahkannya ke Clarissa yang masih sesenggukan.

"Nih, Mbak. Maafin Mbah Brontoseno ya. Dia emang suka yang branded," kata Ilan polos.

Clarissa menatap tasnya yang basah dan bau prengus kambing, lalu menatap Ilan yang dikawal kambing dan bebek, lalu menatap Galang yang ngerangkul Ilan posesif.

"KALIAN SEMUA GILA!" jerit Clarissa, lalu lari kabur menuju mobilnya tanpa menoleh lagi, diikuti dua temannya yang pincang dipatok bebek.

Suasana hening sejenak. Lalu...

PROK PROK PROK!

Satu sekolah tepuk tangan. Galang tersenyum bangga. Dia mengambil tisu basah dari saku celananya, lalu dengan telaten membersihkan sisa oli di tangan Ilan.

"Udah gue bilang kan," kata Galang pelan sambil ngelap jari-jari Ilan. "Jangan dengerin nenek sihir itu. Tangan lo bagus. Gue suka."

Ilan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah padam—lebih merah dari mobil Clarissa tadi.

"Makasih, Bang. Dan... maaf tangan Abang jadi kotor kena oli dari tangan gue."

Galang mengangkat tangan Ilan yang masih setengah bersih itu, lalu mengecup punggung tangannya sekilas. (Bikin satu sekolah histeris massal, cewek-cewek saling dorong salting).

"Gue nggak peduli. Mau kotor, mau bersih, ini tangan favorit gue."