Pustaka Sahawn

10 EPILOG: THE BROKEN SHELL

Seminggu telah berlalu sejak malam penobatan di kursi binaraga itu. Gudang keluarga Andi kini telah berubah fungsi sepenuhnya bagi Rudi Wijaya. Bukan lagi tempat ia mencoba melawan atau memohon, melainkan satu-satunya dunia yang ia kenal. Luka bakar inisial A di pangkal pahanya telah mengering, meninggalkan bekas luka parut menonjol yang akan selalu mengingatkannya bahwa ia bukan lagi pemilik atas tubuhnya sendiri.

Pagi itu, rintik hujan kembali membasahi Bandung. Rudi duduk bersimpuh di lantai selnya yang sempit, telanjang bulat. Tubuh raksasanya yang dulu ia banggakan kini tampak seperti kanvas yang penuh dengan noda: lebam-lebam yang mulai menguning, bekas cakaran, dan kulit yang menghitam di area sensitifnya akibat siksaan listrik dan kimia.

Pintu sel berdenting terbuka. Andi masuk dengan setelan rapi, tampak kontras dengan Rudi yang kotor. Di belakangnya, Dio menyusul sambil membawa sebuah nampan berisi makanan sisa dan air minum yang keruh.

"Selamat pagi, Rudi," sapa Andi lembut, tapi nada suaranya lebih mengerikan daripada bentakan. Ia mengelus kepala Rudi seperti mengelus anjing peliharaan. "Hari ini ada jadwal besar. Kamu harus terlihat 'prima' sebelum teman-teman bisnis papaku datang malam nanti."

Rudi tidak menjawab. Sorot matanya kosong, menatap lurus ke arah sepatu kulit mahal milik Andi. Ia sudah tidak punya lagi kemarahan. Jiwa militernya telah dipatahkan berkali-kali sampai menjadi debu.

"Dio, bersihkan dia. Mandikan dengan selang di area parkir, lalu pastikan dia memakai kalung yang paling baru," perintah Andi.

Dio menarik rantai leher Rudi, memaksa pria raksasa itu merangkak keluar. Di area parkir yang dingin, Dio menyemprot tubuh Rudi dengan air bertekanan tinggi seolah sedang mencuci kendaraan. Rudi hanya bisa memejamkan mata saat air dingin itu menghantam luka-lukanya. Dio, yang dulu sangat menghormati Rudi, sekarang justru yang paling rajin melontarkan hinaan verbal.

"Bangun, rongsokan! Jangan manja!" teriak Dio sambil menendang paha Rudi agar ia berdiri tegak untuk disemprot.

Setelah dianggap cukup bersih, Rudi dibawa kembali ke dalam. Kali ini ia tidak dimasukkan ke sel, melainkan ke sebuah panggung kecil yang sudah disiapkan di tengah gudang. Andi telah memasang cermin-cermin di sekeliling panggung itu agar Rudi bisa melihat kehancurannya dari segala sudut.

Andi kemudian memanggil Rian dan Dika. Mereka membawa sebuah kotak berisi koleksi baru.

"Karena kamu sudah resmi menjadi milikku, aku ingin kamu selalu membawa tanda ini," ucap Andi. Rian mengeluarkan sebuah internal plug yang sangat besar dan berat, berbahan baja tahan karat. Tanpa pelumas yang cukup, Dika memaksa benda itu masuk ke dalam lubang Rudi yang sudah sangat longgar namun tetap terasa perih.

Rudi melenguh, otot-otot perutnya berkontraksi hebat menahan benda asing yang berat itu di dalam tubuhnya. "Bagus. Itu akan membuat jalanmu lebih 'cantik' malam nanti," ejek Dika.

Sebagai sentuhan akhir untuk menutup buku pertama ini, Andi memerintahkan Rudi untuk melakukan pose binaraga terakhir di atas panggung tersebut. "Ayo, Rudi. Lakukan Most Muscular."

Rudi berdiri di tengah panggung. Di bawah sorot lampu, ia mengepalkan tangannya, mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk menonjolkan otot-otot dada, bahu, dan lengannya yang masif. Urat-urat di sekujur tubuhnya menonjol seperti kawat baja, menunjukkan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun, di tengah semua kemegahan otot itu, kontol 20 cm-nya yang lemas menggantung pucat dan menyedihkan, terayun-ayun mengikuti setiap kontraksi ototnya.

Pemandangan itu adalah sebuah ironi yang sempurna: seorang raksasa yang tampak tak terkalahkan di permukaan, namun hancur dan mati di akarnya.

Andi, Dio, Rian, dan Dika berdiri di depan panggung, bertepuk tangan dengan nada mengejek. Mereka mengambil foto terakhir untuk koleksi pribadi mereka—sebuah foto yang merangkum keseluruhan cerita: The Fallen Hero.

"Sempurna," bisik Andi. "Buku sejarahmu sebagai laki-laki resmi tertutup malam ini, Rudi. Mulai besok, kita akan menulis buku baru... buku tentang bagaimana kamu akan melayani orang-orang paling berkuasa di kota ini sebagai mainan paling berharga."

Andi mematikan lampu sorot utama, meninggalkan Rudi dalam kegelapan di atas panggung, masih dalam posisi pose binaraga yang menyiksa, dengan beban baja di dalam tubuhnya dan kehampaan di dalam jiwanya. Hujan di luar semakin deras, seolah ikut mengubur sisa-sisa martabat Rudi Wijaya untuk selamanya.